Friday, 23 December 2016

Efektifitas Belajar di Rumah


Efektifitas Belajar di Rumah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
efektifitas belajar di rumah
Sardiman (dalam Wendi Nugraha, 2011, hlm. 13) menyatakan bahwa dalam pengertian sempit, “belajar adalah sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”. Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa belajar dalam arti sempit hanya terbatas pada perolehan dan penguasaan ilmu pengetahuan saja.
James O. Whittaker menyatakan “belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman” (Djamarah & Syaiful Bahri, 2002, hlm. 12). Pengertian ini sejalan dengan pendapat Howard L. Kingskey yang menyatakan bahwa “learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training (Djamarah & Syaiful Bahri, 2002, hlm. 12) Artinya, belajar juga diartikan sebagai proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. Sedangkan Hamalik (2008, hlm. 27) mengartikan belajar sebagai “modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan, melainkan suatu proses untuk mencapai tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu yaitu mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Seperti yang dikemukakan oleh Goldenson (1984, hlm. 418) dalam Longman Dictionary of Psychology and Psychiatry bahwa “learning is the process of acquiring new and relatively enduring information, behavior patterns, or abilities; modification of behavior as a result of practise, study, or experience”. Artinya, belajar adalah suatu proses untuk memperoleh informasi baru yang relatif permanen, pola perilaku atau kemampuan, modifikasi atau perubahan perilaku merupakan hasil dari latihan, pelajaran dan pengalaman.
Pengertian belajar dalam buku The New Lexicon Webster International Dicrionary of The English Language (1977, hlm. 543) yaitu “learning is knowledge or skill acquired by study in any field; The process of obtaining skill or knowledge”. Artinya, belajar diartikan sebagai pengetahuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu dengan mempelajari di berbagai bidang. Belajar juga diartikan sebagai proses untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan.
Dari beberapa pengertian tersebut, belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan keseluruhan tingkah laku individu yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan dan pengalaman untuk memperoleh keterampilan atau pengetahuan. Pengertian ini dapat dipandang sebagai pengertian belajar secara luas.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003, hlm. 729) mendefinisikan ”belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu tertentu dengan tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan ada daya tarik hasil itu bagi orang bersangkutan”.
Menurut Slameto (2003, hlm. 2) “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dalam pengertian ini belajar mengandaikan dua hal yaitu proses dan hasilnya. Proses diartikan sebagai perubahan internal dalam diri individu, dan  perubahan inilah yang merupakan inti dari kegiatan belajar.
Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian dan tingkah laku manusia dalam bentuk kebiasaan, penguasaan pengetahuan atau keterampilan, dan sikap berdasarkan latihan dan pengalaman dalam mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan untuk mengumpulkan pengetahuan–pengetahuan melalui pemahaman, penguasaan, ingatan, dan pengungkapan kembali di waktu yang akan datang. Belajar berlangsung terus–menerus karena menjadi kebutuhan yang terus meningkat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, diantaranya kesehatan, cacat tubuh, intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan, dll. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu, diantaranya cara orang tua mendidik, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, metode mengajar guru, kurikulum, alat-alat yang digunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial. (Slameto, 2003, hlm. 54-60)
Berikut ini adalah ciri-ciri belajar menurut Djamarah & Syaiful Bahri (2002, hlm. 15-17):
1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Belajar dapat dilakukan kapan dan dimana saja, tanpa terbatas ruang dan waktu, selama ciri-ciri belajar dipenuhi. Belajar dapat dilakukan di sekolah, di rumah, di tempat bimbingan non formal, di tempat bermain, dan lain-lain. Sumber belajar dapat diperoleh dari buku, koran, majalah dan internet yang dapat di akses kapan dan dimana saja. Dimanapun belajar dilakukan, yang terpenting belajar dilakukan dengan efektif.
“Effective is producing the result that is wanted or intended; the most methode”. Dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary (2000, hlm. 134) efektif adalah memperoleh hasil dari apa yang diinginkan dan diharapkan dengan menggunakan metode yang terbaik. Jadi belajar yang efektif yaitu belajar untuk mencapai tujuan belajar dengan menggunakan metode yang terbaik.
Teacher-student relations on the other hand concern the quality of the relationships, which calls for social skills, empathy and mutual respect. Both aspects of the climate within a school are important for effective student learning and development. (U.S Department of Education, 2005, hlm. 109)
Hal yang sangat penting dalam keefektifan perkembangan dan belajar siswa di sekolah adalah hubungan antara guru dan siswa yang berkualitas, yang berkaitan dengan keterampilan bersosialisasi, empati dan saling menghormati. Sedangkan Tim dosen PPN (2010, hlm. 28) mengemukakan bahwa “efektivitas belajar adalah tingkat persesuaian antara tujuan belajar yang ditetapkan sebelumnya dengan hasil belajar siswa”. Jika tingkat persesuaian yang diperoleh tinggi, maka efektivitas belajar yang diperoleh juga tinggi, begitupun sebaliknya.
Abu Ahmadi, dkk. (2004, hlm. 127) dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology, Cronbach menyatakan “Learning is shown by change in behaviour as a result of experience”. Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat inderanya.
Dalam kaitannya dengan belajar di rumah, efektivitas belajar di tempat tersebut diartikan sebagai persesuaian antara tujuan belajar yang ditetapkan sebelumnya dengan hasil belajar siswa yang diperoleh dengan proses belajar yang dilakukan di rumah. Slameto (2003, hlm. 74) menjelaskan bahwa “belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai”.
Boethel (2004, hlm. 14) mengungkapkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan dan kesuksesan siswa di sekolah, antara lain:
Factors that may influence children’s readiness for success in school
1.     Socioeconomic status (which often interacts with race or ethnicity);
2.     The child’s health;
3.  Family background characteristics, particularly the mother’s education, single-parent status, and mental health;
4.    The home and community environment, including risk factors and literacy-related factors; and
5.     Participation in some type of preschool program.
Menurut Boethel (2004, hlm. 14) faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan dan kesuksesan siswa di sekolah adalah status sosial dan ekonomi (yang biasanya berhubungan dengan ras dan suku bangsa), kesehatan, karakteristik latar belakang keluarga, lingkungan keluarga, dan partisipasi dalam beberapa macam program sebelum masuk sekolah seperti playgroup, pendidikan anak usia dini, dan lain-lain. Sedangkan menurut Slameto (2003, hlm. 73-91) untuk meningkatkan efektivitas belajar di rumah yang mempengaruhi prestasi belajar di sekolah perlu memperhatikan faktor-faktor, antara lain:
1. Bimbingan orang tua.
Desforges (2003, hlm. 4) yang menyatakan hasil risetnya tentang keterlibatan orang tua, bahwa:
This research consistently shows that:
“Parental involvement takes many forms including good parenting in the home, including the provision of a secure and stable environment, intellectual stimulation, parent-child discussion, good models of constructive social and educational values and high aspirations relating to personal fulfilment and good citizenship; contact with schools to share information; participation in school events; participation in the work of the school; and participation in school governance”.
Keterlibatan orang tua memberikan banyak pengaruh positif kepada siswa, keterlibatan tersebut berupa hubungan yang baik antara anak dan orang tua di rumah, kestabilan lingkungan, rangsangan intelektual, diskusi antara orang tua dan anak dalam membangun hubungan sosial dan nilai-nilai edukasi, dan juga hubungan orang tua dengan sekolah melalui berbagi informasi dan partisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Desforges (2003, hlm. 4-5) juga menekankan bahwa:
“The most important is that parental involvement in the form of ‘at-home good parenting’ has a significant positive effect on children’s achievement and adjustment even after all other factors shaping attainment have been taken out of the equation. In the primary age range the impact caused by different levels of parental involvement is much bigger than differences associated with variations in the quality of schools”.
Hal yang paling penting adalah keterlibatan orang tua di rumah, yang memberikan efek positif secara signifikan kepada anak untuk mendapatkan prestasi dan penyesuaian bahkan ketika semua faktor yang lain tidak mendukung untuk mencapai suatu tujuan. Bagi anak yang berusia di sekolah dasar, perbedaan tingkatan keterlibatan orang tua memberikan dampak yang lebih besar daripada pertemanan dengan teman sebaya di sekolah.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa keterlibatan orang tua di rumah sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa di sekolah. Bimbingan dan perhatian dari orang tua juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap cara belajar siswa di rumah. Hasil belajar yang baik akan diperoleh dengan kerjasama antara siswa, guru disekolah dan orang tua di rumah. Orang tua dapat melakukan bimbingan pada saat siswa belajar, memberikan dukungan baik secara moril dan materiil, memberi petunjuk-petunjuk tentang cara-cara belajar yang baik, dan mengawasi siswa pada saat belajar.
2. Kondisi belajar siswa.
a. Kondisi Internal
Kondisi internal adalah kondisi (situasi) yang ada dalam diri siswa itu sendiri. Kondisi internal terdiri dari kesehatan, keamanan, ketentraman dan sebagainya.
b. Kondisi Eksternal
Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada diluar diri pribadi manusia. Untuk dapat belajar dengan efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur seperti kondisi lingkungan, suasana dan kondisi rumah, kebersihan ruangan, cahaya dan sarana untuk belajar.
3. Metode belajar siswa
Metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan, dan keterampilan. Cara-cara yang digunakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan belajar akan mempengaruhi belajar itu sendiri. Penggunaan metode belajar yang tepat akan mempengaruhi efektivitas belajar, dan menentukan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa. Metode belajar yang mempengaruhi efektivitas belajar yaitu:
a. Pembuatan jadwal dan pelaksanaanya
Jadwal adalah pembagian waktu untuk sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh seseorang setiap harinya. Jadwal berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil belajar yang baik akan diperoleh melalui penyusunan jadwal dan pelaksanaan dengan teratur dan disiplin. Cara pembuatan jadwal yang baik adalah sebagai berikut:
(1)  Memperhitungkan waktu untuk keperluan pribadi sehari-hari.
(2)  Menyelidiki dan menentukan waktu-waktu yang tersedia setiap hari.
(3)  Merencanakan urutan-urutan mata pelajaran yang harus dipelajari.
(4)  Menyelidiki waktu yang tepat untuk belajar dengan hasil terbaik.
(5)  Mengefektifkan waktu belajar.
b. Mengulangi Bahan Pelajaran
Mengulangi bahan pelajaran besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena dengan adanya pengulangan, bahan belajar yang belum dikuasai dan mudah terlupakan akan tetap tersimpan dalam otak seseorang. Mengulangi bahan pelajaran dapat dilakukan dengan mempelajari kembali materi yang sudah dipelajari, membuat ringkasan materi dan menghafalkan materi yang sudah dipelajari.
c. Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Dalam belajar, konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran.
d. Mengerjakan Tugas
Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan-latihan. Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ujian yang diberikan oleh guru, dan mengerjakan tugas atau latihan-latihan di rumah dengan baik.
Faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap efektivitas belajar di rumah, dan efektivitas belajar di rumah mempengaruhi hasil belajar penguasaan konsep siswa di sekolah. Sehingga secara tidak langsung faktor-faktor tersebut juga mempengaruhi hasil belajar penguasaan konsep siswa di sekolah.

Referensi
Ahmadi, A., dkk.(2004). Psikologi Belajar Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Boethel, M. (2004). Readiness School, Family, & Community Connections. Texas: National Center for Family & Community Connections with Schools.
Desforges, C. et al. (2006). The Impact of Parental Involvement, Parental Support and Family Education on Pupil Achievements and Adjustment: A Literature Review. Nottingham: Departement for Education and Skills.
Djamarah & Bahri, S. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Goldenson, R. M. (1984). Longman Dictionary of Psychology and Psychiatry. New York: Longman New York & London.
Hamalik, O. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Institute of America (1977). The New Lexicon Webster International Dictionary of The English Language Volume One. America: The English Language Institute of America, Ins.
Nugraha, W. (2011). Skripsi Pengaruh Bimbingan Belajar Nonformal terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA di Kelas V Sekolah Dasar Gugus 3 UPTD Pendidikan Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. (Skripsi). Tasikmalaya: UPI Kampus Tasikmalaya.
Oxford University. (2000). Oxford Learner’s Pocket Dictionary (New Ed.). England: Oxford University Press.
Slameto (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Tim Dosen PPN (2010). Ikhtisar Pengelolaan Pendidikan.Tasikmalaya: UPI Kampus Tasikmalaya.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka.


EmoticonEmoticon