Tuesday, 17 January 2017

Filsafat Pendidikan Pragmatisme



Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
filsafat pendidikan pragmatisme
Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan atau tindakan. Sedangkan isme diartikan sebagai ajaran atau paham. Dengan kata lain, pragmatisme berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Sesuai dengan pendapat Suseno (1992, hlm. 122) bahwa pragmatisme “memandang baik dan buruknya tindakan manusia dari segi manfaatnya”. Dengan demikian, pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran.
Aliran ini pertama kali tumbuh di Amerika sekitar abad 19 hingga awal abad 20. Aliran ini melahirkan beberapa nama yang cukup berpengaruh, seperti Charles Sanders Pierce (1839-1914), William James (1842-1910), John Dewey, dan George Herbert Mead (1863-1931).
Filsafat pragmatisme secara umum dipandang berupaya menengahi pertikaian idealisme dan empirisme serta berupaya melakukan sintesis antara keduanya. Sesuai pendapat dari Dewey (dalam Titus, dkk., 1984, hlm. 353) bahwa “filsafat pragmatisme bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi”. Pragmatisme mendasarkan dirinya pada metode filsafat yang memakai sebab-sebab praktis dari pikiran serta kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenaran. Pemikiran ini menunjukkan bahwa pragmatisme sepenuhnya berbasis pendekatan empiris. Apa yang dapat dirasakan itulah yang benar. Artinya, akal, jiwa, dan materi adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Pengalaman menjadi suatu parameter ketika sesuatu dapat diterima kebenarannya. Untuk itu, pengalaman yang pernah dialami akan berubah jika realitas yang dialami pun berubah.
Pragmatisme memiliki corak yang kuat tentang konsep kegunaan. Makna kegunaan dalam pragmatisme lebih ditetapkan pada kebenaran sains. Maka, dalam pragmatisme pengetahuan tidak selalu identik dengan kepercayaan, tetapi kerap sering kali menjadi dua hal yang tidak terpisahkan.
Seiring dengan perkembangan, dunia pendidikan berupaya menyelaraskan antara eksplorasi pikiran manusia dengan solusi tindakan bersama perangkatnya untuk mencapai puncak temuan. Tekanan utama pragmatisme dalam pendidikan selalu dilandaskan bahwa subyek didik bukanlah obyek, melainkan subyek yang memiliki pengalaman. Setiap subyek didik adalah individu yang mengalami sehingga mereka berkembang, serta memiliki inisiatif dalam mengatasi masalah-masalah hidup yang mereka miliki.
Pada pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar subyek didik saat belajar di sekolah tidak berbeda dengan ketika ia berada di luar sekolah. Oleh karena itu, kehidupan di sekolah selalu disadari sebagai bagian dari pengalaman hidup, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup. Peserta didik menghadapi masalah yang menyebabkan lahirnya tindakan penuh dari pemikiran yang relatif. Kecerdasan disadari akan melahirkan pertumbuhan. Sedangkan pertumbuhan akan membawa mereka dalam beradaptasi dengan dunia yang berubah.
Pelaksanaan pragmatisme pendidikan cenderung menganut bahwa anak harus belajar secara berkelompok. Dengan berkelompok anak akan merasa bersama-sama terlibat dalam masalah dan pemecahannya. Anak akan terlatih bertanggung jawab terhadap beban dan kewajiban masing-masing. Sementara guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Pembelajaran ini berupaya membangkitkan hasrat anak untuk terus belajar, serta anak dilatih berpikir secara logis.
Sesuai dengan pendapat Power (dalam Sadulloh, 2003, hlm. 133) bahwa, implikasi dari filsafat pendidikan pragmatisme terhadap pelaksanaan pendidikan mencakup lima hal pokok, yakni:
1. Tujuan pendidikan pragmatisme adalah memberikan pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup secara sosial dan pribadi.
2. Kedudukan siswa dalam pendidikan pragmatisme merupakan suatu organisasi yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh.
3. Kurikulum pendidikan pragmatis berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Demikian pula minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum. Guru menyesuaikan bahan ajar sesuai dengan minat dan kebutuhan anak tersebut.
4. Metode yang digunakan dalam pendidikan pragmatisme adalah metode aktif, yakni learning by doing (belajar sambil mengerjakan), metode pemecahan masalah (problem solving method), dan metode penyelidikan serta penemuan (inquiry and discovery method). Dalam praktiknya, metode ini membutuhkan guru yang memiliki sifat pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing, berpandangan terbuka, antusias, kreatif, sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai.
5. Peran guru dalam pendidikan pragmatisme adalah mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya.
Berdasarkan berbagai poin di atas, ditarik garis besar bahwa pendidikan pragmatisme kerap dianggap sebagai pendidikan yang mencanangkan nilai-nilai demokrasi dalam ruang pembelajaran sekolah. Karena pendidikan bukan ruang yang terpisah dari sosial, setiap orang dalam suatu masyarakat diberi kesempatan untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan pendidikan. Keputusan-keputusan tersebut kemudian mengalami perubahan seiring berdasarkan situasi-situasi sosial yang ada.

Referensi
Sadulloh, U. (2003). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suseno, F. M. (1991). Berfilsafat dari Konteks. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Titus, Harold, H, dkk. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat terjemahan H. M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang.


EmoticonEmoticon