Tuesday, 13 December 2016

Keterampilan Bertanya



Keterampilan Bertanya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
keterampilan bertanya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) bertanya berasal dari kata tanya yang berarti meminta diberikan keterangan penjelasan. Sedangkan keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti kemampuan dalam menyelesaikan tugas dan cekatan. Menurut Abdul Majid (2012, hlm. 284) “bertanya adalah salah satu teknik untuk menarik perhatian para pendengarnya, khususnya menyangkut hal-hal penting yang menuntut perhatian dan perlu dipertanyakan”. Selanjutnya menurut Hasibuan (2006, hlm. 62) “keterampilan bertanya adalah ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berfikir”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka dapat ditarik garis besar bahwa keterampilan bertanya merupakan salah satu cara guru agar siswa belajar yakni memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respon siswa.
Tujuan guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik menurut Purwiro Harjati (2008) sebagai berikut:
1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi pelajaran.
2. Memusatkan perhatian peserta didik terhadap materi pelajaran atau konsep.
3. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang dialami peserta didik.
4. Mengembangkan cara belajar peserta didik aktif.
5. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengasimilasikan informasi.
6. Mendorong peserta didik mengemukakan dalam diskusi.
7. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa.
8. Mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar.
Menurut Moh. Uzer Usman (2006, hlm. 75) dasar-dasar pertanyaan yang baik yang harus diperhatikan, diantaranya:
1. Jelas dan mudah untuk dimengerti.
2. Diberikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
3. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
4. Membagi pertanyaan secara merata.
Menurut Rusman (2011, hlm. 82) prinsip-prinsip pokok keterampilan bertanya yang harus diperhatikan guru, antara lain:
1. Berikan pertanyaan secara hangat dan antusias kepada siswa di kelas.
2. Berikan waktu berpikir untuk menjawab pertanyaan.
3. Berikan kesempatan kepada yang bersedia menjawab terlebih dahulu.
4. Tunjuk peserta didik untuk menjawab setelah diberikan waktu untuk berpikir.
5. Berikan penghargaan atas jawaban yang diberikan.
Tipe pertanyaan sangat beragam. Penggunaan dalam setiap tipe pertanyaan bergantung pada tujuan yang diharapkan, tipe pertanyaan tersebut, diantaranya:
1. Pertanyaan yang menuntut fakta-fakta, yakni pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih daya ingat siswa terhadap sesuatu yang pernah dipelajarinya.
2. Pertanyaan yang menuntut kemampuan dalam membandingkan, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih daya pikir analisis dan sintesis.
3. Pertanyaan yang menuntut kemampuan untuk memperkirakan, yakni pertanyaan yang mengembangkan atau melatih kemampuan membuat perkiraan.
4. Pertanyaan yang menuntut kemampuan analisis, yaitu pertanyaan yang mengembangkan daya analisis.
5. Pertanyaan yang menuntut pengorganisasian, yakni pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih kemampuan berpikir secara teratur.
6. Pertanyaan yang tidak perlu dikemukakan jawabannya, yakni pertanyaan untuk memberikan penegasan dan meyakinkan tentang sesuatu kepada siswa, pertanyaan ini digolongkan kepada pertanyaan retorika yang tidak perlu mendapat jawaban.
Adapun syarat pertanyaan agar pertanyaan yang diajukan kepada siswa mendapat respon yang baik, sebagai berikut:
1. Pertanyaan yang disampaikan menggunakan kalimat atau bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa.
2. Pertanyaan diajukan secara klasikal, berikan waktu untuk berpikir kemudian baru diajukan salah seorang yang diminta untuk menjawab.
3. Beri kesempatan secara adil dan merata kepada siswa dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan.
4. Penunjukan siswa yang diminta untuk menjawab tidak dilakukan secara berurut, akan tetapi harus diusahakan secara acak agar setiap siswa dapat memusatkan perhatian dan memiliki kesiapan untuk menjawab.
Menurut Ramayulis (2005, hlm. 308) terdapat berbagai macam teknik bertanya, sebagai berikut:
1. The mixed strategy, yakni mengkombinasikan berbagai tipe pertanyaan.
2. The speaks strategy, yakni mengajukan pertanyaan yang saling bertalian satu sama lain.
3. The plateaus strategy, yakni mengajukan pertanyaan yang sama jenisnya terhadap sejumlah peserta didik sebelum beralih kepada jenis pertanyaan yang lain.
4. The inductive strategy, yakni dengan berbagai pertanyaan peserta didik diarahkan untuk dapat menarik generalisasi dari hal-hal khusus kepada hal-hal umum atau dari berbagai fakta kepada hukum-hukum.
5. The deductive strategy, yakni dari suatu generalisasi yang dijadikan sebagai titik tolak, peserta didik diharapkan dapat menyatakan pendapatnya tentang berbagai kasus atau data yang ditanyakan.
Menurut Hasibuan (2006, hlm. 62) “keterampilan bertanya yang perlu dikuasai guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan”. Berikut penjabaran lebih lanjut secara terperinci:
1. Keterampilan bertanya dasar
Komponen-komponen yang termasuk dalam keterampilan bertanya dasar, sebagai berikut:
a. Pengungkapan pertanyaan secara singkat dan jelas.
b. Pemberian acuan agar siswa dapat menjawab dengan tepat, dalam mengajukan pertanyaan guru perlu memberikan informasi-informasi yang menjadi acuan pertanyaan.
c. Pemusatan ke arah jawaban yang diminta, pemusatan dapat dikerjakan dengan cara memberikan pertanyaan yang luas (terbuka) kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan yang sempit.
d. Pemindahan giliran menjawab, hal ini dapat dikerjakan dengan cara meminta siswa yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama.
e. Penyebaran pertanyaan, untuk maksud tertentu guru dapat melemparkan pertanyaan ke seluruh kelas, kepada siswa tertentu, atau menyebarkan respon siswa kepada siswa lain.
f. Pemberian waktu berpikir, guru harus berdiam diri sesaat sebelum menunjuk siswa merespon pertanyaan.
g. Pemberian tuntunan, bagi siswa yang mengalami kesukaran dalam menjawab pertanyaan, strategi pemberian tuntunan perlu dilakukan. Strategi ini meliputi pengungkapan pertanyaan dengan bentuk atau cara yang lain, mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana, atau mengulangi penjelasan-penjelasan sebelumnya.
2. Keterampilan bertanya lanjutan
Komponen-komponen yang termasuk ke dalam keterampilan bertanya lanjutan, yakni:
a. Pengubahan tuntutan tingkatan kognitif pertanyaan, hal ini diperlukan agar kemampuan berpikir siswa dapat berkembang. Tingkat kognitif ini meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Pertanyaan harus memiliki urutan pertanyaan yang logis.
c. Melacak, keterampilan ini diperlukan guru untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa yang berkaitan dengan jawaban yang dikemukakan. Melacak dapat dilakukan dengan meminta siswa memberi penjelasan tentang jawabannya, memberikan alasan, dan memberikan contoh yang relevan.
d. Mendorong terjadinya interaksi antar siswa. Siswa yang bertanya dan siswa lainnya yang menjawab.

Referensi
Majid, A. (2012). Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Harjati, P. (2008). Keterampilan Dasar Mengajar. [Online]. Diakses dari: http://purjatifis.blogspot.com.
Hasibuan, J. J. (2006). Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ramayulis (2005). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Rusman (2011). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Usman, M. U. (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
______. (1997), Kamus Besar Bahasa Indonesia Lengkap. Surabaya: PT Apollo.


EmoticonEmoticon