Tuesday, 17 January 2017

Kewibawaan Pendidikan



Kewibawaan Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
kewibawaan pendidikan

Seorang pendidik harus memiliki kewibawaan. Dengan kewibawaan seorang pendidik akan lebih mudah melaksanakan pendidikan. Kewibawaan pendidikan adalah pengakuan dan penerimaan secara sukerala terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain. Pengakuan dan penerimaan tersebut atas dasar kepercayaan yang penuh. “Jadi barang siapa yang memiliki kewibawaan, akan dipatuhi secara sadar dengan tidak terpaksa, dengan tidak merasa/diharuskan dari luar, dengan penuh kesadaran, keinsyafan, tunduk, patuh, menuruti semua yang dikehendaki oleh pemilik kewibawaan itu” (Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 1991, hlm. 57).
Kewibawaan merupakan syarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan yang sungguh-sungguh baru dapat diberikan setelah anak itu mengenal kewibawaan. kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru. Sejalan dengan pendapat Cece Wijaya, dkk. (1988, hlm. 29) bahwa “guru yang mempunyai kewibawaan berarti mempunyai kesungguhan, suatu kekuatan, sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh.
Terdapat dua tingkatan pengakuan terhadap kewibawaan, sebagai berikut:
1. Pengakuan kewibawaan pasif
Anak mengikuti anjuran pada saat ada pendidik. Anak memandang norma-norma yang disampaikan menyatu dengan yang menyampaikan. Norma-norma tersebut dianggap berlaku apabila pendidik yang menyampaikan ada dan berwibawa, sedangkan apabila pribadi yang menyampaikan itu tidak ada atau tidak berwibawa maka norma tersebut dianggap tidak lagi berlaku.
2. Pengakuan kewibawaan aktif
Anak mengikuti anjuran pendidik karena kesadaran. Baik ada maupun tidak ada pendidik, anak memandang norma itu memang wajib dipatuhi atau ditaati. Kewibawaan aktif ini merupakan kewibawaan yang sebenarnya. Seorang pendidik harus berusaha menimbulkan kewibawaan yang aktif pada diri anak.
Setelah ada pengakuan kewibawaan dari anak terhadap pendidik, maka kewajiban pendidik ialah menggunakan kewibawaan tersebut untuk membawa anak kearah tujuan pendidikan. Selain itu, pendidik yang memiliki wibawa harus menjaga atau memelihara pengakuan kewibawaan anak terhadap pendidik tersebut.
Dalam penggunaan kewibawaan perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Penggunaan kewibawaan didasarkan pada perkembangan anak.
2. Penerapan kewibawaan hendaknya didasarkan rasa cinta kasih kepada anak.
3. Kewibawaan hendaknya digunakan untuk kepentingan anak.
4. Kewibawaan digunakan dalam suasana pergaulan antara pendidik dan anak didik.
Kewibawaan berdasarkan dari daya yang mempengaruhi terbagi menjadi dua, sebagai berikut:
1. Kewibawaan lahir
Kewibawaan lahir merupakan kewibawaan yang timbul karena kesal lahiriah seseorang, seperti bentuk tubuh yang tinggi besar, pakaian lengkap dan rapi, suara yang keras dan lantang. Kondisi fisik tersebut dapat menimbulkan kewibawaan lahir.
2. Kewibawaan batin
Kewibawaan batin didukung oleh keadaan batin seseorang seperti, adanya rasa cinta, adanya kelebihan batin berupa rasa tanggung jawab, dan adanya ketaatan terhadap norma.
Fungsi kewibawaan bagi anak dipaparkan, sebagai berikut:
 1. Membimbing anak menuju kedewasaan.
2. Membantu anak untuk mandiri.
3. Anak mengetahui petunjuk-petunjuk tentang mana yang benar dan salah.
4. Anak mendapatkan nilai-nilai dan norma-norma hidup.
5. Mengembangkan jasmani dan rohani anak.
Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan berdasarkan perwujudan norma-norma dalam diri pendidik itu sendiri. Kewibawaan memiliki tujuan untuk membawa anak menuju kedewasaan. Dalam pendidikan anak harus sepenuhnya menyerahkan kepercayaan kepada pendidik. Anak tersebut mengenal nilai-nilai dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut.
Menurut Langeveld (dalam Wens Tanlain, dkk., 1996, hlm. 79-80) pemilik kewibawaan pendidikan didasarkan pada dua kriteria berikut:
1. Pemangku kewibawaan pendidikan yaitu pemimpin suatu kesatuan hidup bersama. Kewibawaan pendidikan semacam ini disebut kewibawaan atas dasar status sosial.
2. Orang dewasa yang menjadi pendidik memiliki sendiri nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan ini hendak dimiliki oleh anak didik dalam hidupnya. Dalam hubungan dengan anak didik, pendidik memancarkan nilai-nilai kemanusiaan dari dalam dirinya sebagai pribadi dewasa dalam bentuk tingkah laku. Anak didik mengiginkan dan hendak memiliki nilai-nilai tersebut dan karena itu, ia menerima, mengakui, dan percaya pada pendidik. Anak didik ingin menjadi pribadi dewasa sama dengan pendidik, anak didik meniru secara aktif, dan secara aktif membentuk kebiasaan-kebiasaan bertindak.
Sikap anak terhadap kewibawaan pendidikan terbagi menjadi dua, antara lain:
1. Sikap menurut atau mengikut, yakni mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan dan takut.
2. Sikap tunduk atau patuh yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak orang lain untuk memerintah dirinya dan dirinya merasa terikat akan memenuhi perintah tersebut. Dalam hal ini tampak fungsi wibawa pendidikan, yakni membawa anak ke arah perkembangan yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya.


Referensi
Ahmadi, A. & Uhbiyati, N. (1991). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tanlain, W., dkk. (1996). Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wijaya, C., dkk. (1988). Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: Rosda Karya.


EmoticonEmoticon