Tuesday, 17 January 2017

Media Pembelajaran Komik



Media Pembelajaran Komik
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Komik adalah suatu bentuk seni cerita bergambar. Komik menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedimikian rupa sehingga membentuk sebuah cerita. Sejalan dengan Scott McCloud (dalam Waluyanto, 2005, hlm. 51) yang menyatakan bahwa “komik dapat memiliki arti gambar-gambar serta lambang lain yang terjukstaposisi (berdekatan, bersebelahan) dalam urutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan mencapai tanggapan estetis dari pembacanya”.
Komik lebih dari sekedar cerita bergambar yang ringan dan menghibur. Komik merupakan suatu bentuk media komunikasi visual yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan informasi secara popular dan mudah dimengerti. Hal ini disebabkan karena komik memadukan kekuatan gambar dan tulisan. Gambar dan tulisan tersebut kemudian dirangkai dalam suatu alur cerita. Gambar membuat informasi lebih mudah diserap, sedangkan tulisan membuatnya lebih mudah dimengerti, serta alur membuat lebih mudah untuk diikuti dan diingat.
Secara umum, berikut merupakan langkah pembuatan komik:
1. Perumusan ide cerita, pembentukan karakter, dan pembuatan rangkaian cerita.
2. Sketching (pembuatan sketsa), yakni menuangkan ide cerita dalam media gambar secara kasar.
3. Inking (penintaan), yakni penintaan pada goresan pensil sketsa.
4. Coloring (pewarnaan), yakni pemberian warna pada komik baik black and white (hitam dan putih) atau full color (banyak warna).
5. Lattering, yakni pembuatan teks pada komik.
Menurut Susiani (2006, hlm. 5) komik mempunyai bagian-bagian, sebagai berikut:
1. Karakter, yakni sebuah tokoh yang ada di dalam komik.
2. Frame, yakni ruangan yang membatasi cerita yang satu dengan yang lain.
3. Balon kata, yakni ruangan bagi percakapan yang diucapkan oleh karakter.
4. Narasi, yakni merupakan kalimat penjelas yang dikemukakan oleh pembuat komik.
5. Efek suara, yakni efek yang diberikan pada visualisasi kata atau uraian kalimat yang diucapkan oleh karakter.
6. Latar belakang, yakni penggambaran suasana tempat karakter.
Komik dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Komik sebagai media pembelajaran merupakan “media yang mempunyai sifat sederhana, jelas, mudah dipahami, dan lebih bersifat personal sehingga bersifat informatif dan edukatif” (Rohani, 1997, hlm. 21). Selanjutnya Waluyanto (2005, hlm. 51) menyatakan bahwa “komik sebagai media pembelajaran merupakan alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran”. Dalam konteks pembelajaran, hal ini merujuk pada proses komunikasi antara siswa dan sumber belajar. Komunikasi belajar akan berjalan dengan maksimal jika pesan pembelajaran disampaikan secara jelas, runtut, dan menarik.
Komik yang difungsikan sebagai media pembelajaran disebut juga dengan istilah komik pembelajaran. Komik pembelajaran merupakan media yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan dalam memahami suatu materi. Penggambaran cerita dalam kehidupan sehari-hari melalui komik pembelajaran dapat membantu siswa untuk memahami suatu materi. Obyek yang terlalu kecil, terlalu besar, berbahaya, atau tidak dapat dikunjungi oleh siswa dapat dimuat melalui komik pembelajaran.
Secara garis besar menurut Trimo (1997, hlm. 37) “media komik dapat dibedakan menjadi dua yaitu komik strip (comic strip) dan buku komik (comic book)”. Komik strip adalah suatu bentuk komik yang terdiri dari beberapa lembar bingkai kolom yang dimuat dalam suatu harian atau majalah, biasanya cerita bersambung. Sedangkan buku komik adalah komik yang berbentuk buku.
Begitu familiarnya komik di masyarakat, khususnya di kalangan anak-anak. Hal tersebut menjadikan komik sebagai media pembelajaran yang menarik. Anak akan lebih senang membaca komik daripada buku pelajaran. Kecenderungan yang ada, siswa tidak begitu menyukai buku-buku teks apalagi yang tidak disetai gambar dan ilustrasi yang menarik. Penyajian komik mengandung unsur visual dan cerita yang kuat. Ekspresi yang divisualisasikan membuat pembaca terlibat secara emosional sehingga membuat pembaca untuk terus membaca hingga selesai. Komik pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan siswa untuk membaca sehinggap pada akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Komik pembelajaran yang digunakan sesuai dengan tujuan dan materi yang diajarkan. Peranan pokok komik sebagai media pembelajaran menurut Sudjana dan Rivai (2002, hlm. 68) adalah “kemampuannya dalam menciptakan minat belajar siswa. Sebagai media visual, pengembangan komik harus berpegang pada beberapa hal berikut:
1. Bentuk
Pemilihan bentuk penting agar dapat meningkatkan minat dan perhatian siswa.
2. Garis
Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur yang bersifat berurutan. Sehingga unsur garis ini dapat membantu dalam kejelasan cerita.
3. Tekstur
Tekstur menimbulkan kesan kasar atau halus yang dapat menunjukan penekanan.
4. Warna
Penggunaan warna untuk memberikan kesan pemisahan atau penekanan serta membangun keterpaduan dan mempertinggi realitas obyek dan menciptakan respon emosional.
Kelebihan media pembelajaran komik dalam kegiatan pembelajaran menurut Trimo (1997, hlm. 22), diantaranya:
1. Komik menambah pembendaharaan kata bagi siswa.
2. Mempermudah siswa menangkap hal-hal atau rumusan yang abstrak.
3. Mengembangkan minat baca siswa dan mengembangkan bidang studi lainnya.
4. Seluruh jalan cerita komik mengarah pada satu hal kebaikan atau pembelajaran tertentu.
Sedangkan kelemahan media pembelajaran komik menurut Lestari (dalam Wurianto, 2009), sebagai berikut:
1. Komik membatasi bahkan memungkinkan membunuh imajinasi.
2. Penyampaian materi pelajaran melalui media komik terlalu sederhana.
3. Penggunaan media komik hanya efektif diberikan pada siswa yang bergaya visual dalam belajar.
Berikut beberapa contoh komik pembelajaran:

media pembelajaran komik

media pembelajaran komik
media pembelajaran komik


Referensi
Rohani, A. (1997). Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, N. & Rivai, A. (2002). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Susiani, L. (2006). Bikin Komik dengan Adobe Ilustator dan Adobe Photoshop. Yogyakarta: Andi.
Trimo (1997). Media Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Waluyanto, H. D. (2005). Komik sebagai media komunikasi visual pembelajaran. Jurnal Pendidikan. 7 (1), hlm. 51.
Wurianto, E. (2009). Komik sebagai Media Pembelajaran. [Online]. Diakses dari: http://guruindo.blogspot.com/2009/06/komik-sebagai-media-pembelajaran.html.


EmoticonEmoticon