Tuesday, 17 January 2017

Media Pembelajaran Puzzle



Media Pembelajaran Puzzle
Karya :  Rizki Siddiq Nugraha
Siti Putri Indriani

Puzzle berasal dari bahasa Inggris yang artinya membuat bingung atau teka teki. Menurut situs wikipedia (2016) “A puzzle is a game, problem, or toy that tests a person's ingenuity or knowledge, artinya Sebuah teka-teki adalah permainan, masalah, atau mainan yang menguji kecerdikan atau pengetahuan seseorang. Menurut Rokhmat (2006:50) “puzzle adalah permainan konstruksi melalui kegiatan memasang atau menjodohkan kotak-kotak, atau bangun-bangun tertentu sehingga akhirnya membentuk sebuah pola tertentu” Sedangkan menurut Rahmanelli (2007:24) menyebutkan, “puzzle adalah permainan merangkai potongan-potongan gambar yang berantakan menjadi suatu gambar yang utuh.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa puzzle adalah suatu game atau permainan merangkai bagian-bagian terpisah dari sebuah gambar menjadi gambar utuh yang berfungsi menguji pengetahuan seseorang. Jika dikaitkan dalam pembelajaran, maka puzzle adalah sebuah istilah yang tidak asing lagi yaitu belajar sambil bermain. Gambar tersebut berhubungan dengan materi yang harus dikuasai siswa. Melalui pembelajaran menggunakan media puzzle kita mengamati anak yang memang belajar dengan sungguh-sungguh, siswa akan terus mencoba sampai puzzle tersusun dengan benar dan siswa yang tidak belajar sungguh-sungguh ia akan meninggalkan puzzle begitu saja.
Terdapat lima jenis Puzzle menurut Hadfield dalam Rahmanelli (2008:30) yaitu:
1.    Spelling Puzzle
Spelling Puzzle yaitu puzzle yang terdiri dari huruf-huruf acak untuk dijodohkan menjadi kosa kata yang benar sesuai dengan pertanyaan atau pernyataan yang ada.
2.    Jigsaw Puzzle
Puzzle ini berupa beberapa pertanyaan atau pernyataan untuk dijawab kemudian dari jawaban itu diambil huruf-huruf pertama untuk dirangkai menjadi sebuah kata yang merupakan jawaban pertanyaan yang paling akhir.
3.    The Thing Puzzle
Puzzle ini berupa deskripsi kalimat-kalimat yang berhubungan dengan gambar-gambar benda untuk dijodohkan. Pada akhirnya setiap deskripsi kalimat akan berjodoh pada gambar yang telah disediakan secara acak.
4.    The letter(s) readiness puzzle
The letter(s) readiness puzzle adalah puzzle yang berupa gambar-gambar disertai dengan huruf-huruf nama gambar tersebut, tetapi huruf itu belum lengkap.
5.    Crosswords Puzzle
Puzzle yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan cara memasukan jawaban (huruf atau angka) tersebut ke dalam kotak-kotak yang tersedia baik secara horizontal maupun vertikal Puzzle ini sering disebut dengan permainan permainan teka-teki silang atau TTS.
Puzzle dapat dibuat dari berbagai bahan baik elektronik maupun non elektronik. Misalnya menggunakan photoshop, dari kardus, kertas, kayu dan masih banyak lagi sesuai dengan kreativitas masing-masing.
Secara umum, langkah-langkah membuat puzzle adalah:
1. Membuat sketsa gambar atau menggunakan gambar yang sudah ada
2. Membuat pola puzzle
3. Memotong gambar sesuai dengan pola
Setiap media pembelajaran memiiki manfaat masing-masing, Al-Azizy (2010:79) menyebutkan, “Manfaat Puzzle yaitu mengasah otak, melatih koordinasi mata dan tangan, melatih nalar, melatih kesabaran, dan pengetahuan.” Secara garis besar, manfaat puzzle bagi anak dijabarkan sebagai berikut:
1. Meningkatkan keterampilan kognitif
Keterampilan kognitif berkaitan dengan kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah. Puzzle merupakan permainan yang menarik bagi anak karena pada dasarnya anak menyukai gambar dan warna yang menarik. Dengan puzzle, anak akan berusaha memecahkan masalah, yakni menyusun gambar.
2. Meningkatkan keterampilan motorik halus
Keterampilan motorik halus berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan otot-otot kecil khususnya tangan dan jari-jari tangan. Dengan bermain puzzle, anak akan belajar secara aktif menggunakan jari-jari tangannya.
3. Meningkatkan keterampilan sosial
Keterampilan sosial merupakan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Puzzle dapat dimainkan secara perorangan, namun juga dapat pula dimainkan secara kelompok. Cara ini akan meningkatkan interaksi sosial anak. Dalam kelompok anak akan saling menghargai, saling membantu, dan berdiskusi satu sama lain.
4. Melatih koordinasi mata dan tangan
Dengan bermain puzzle anak secara tidak langsung melatih koordinasi mata untuk melihat dengan teliti bagian dari puzzle sekaligus koordinasi tangan dalam menyusun puzzle.
5. Melatih logika
Puzzle juga dapat melatih logika anak. Misalnya puzzle bergambar manusia. Anak dilatih menyimpulkan di mana posisi kepala, tangan, badan, dan kaki sesuai logika.
6. Melatih kesabaran
Bermain puzzle memerlukan ketekunan, kesabaran, dan memerlukan waktu berpikir dalam menyelesaikan puzzle.
7. Memperluas pengetahuan
Anak akan belajar banyak hal dari puzzle, mulai dari warna, bentuk, angka, huruf, hewan, tumbuhan, dan masih banyak lagi. Pengetahuan yang diperoleh dari cara ini biasanya berkesan bagi anak.
Berikut beberapa contoh media pembelajaran puzzle:



media pembelajaran puzzle
media pembelajaran puzzle
Daftar Pustaka
Al-Azizy. 2010. Ragam Latihan Khusus Asah Ketajaman Otak Anak Plus Melejitkan Ingatannya. Jogjakarta: Diva Press.Rahmanelli. 2007. “Efektivitas Pemberian Tugas Media Puzzle dalam Pembelajaran Geografi Regional”. Jurnal Pelangi Pendidikan, 2 (1), hlm. 73-80.
Rahmanelli. 2007. “Efektivitas Pemberian Tugas Media Puzzle dalam Pembelajaran Geografi Regional”. Jurnal Pelangi Pendidikan, 2 (1), hlm. 23-30.
Rokhmat, Joni. 2006. ”Pengembangan Taman Edukatif Berbasis Permainan untuk Permainan di TK dan SD”. Jurnal Dinamika Pendidikan, 2 (1), hlm. 45-52.
____(2016). Puzzle. [Online]. Diakses dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Puzzle.

2 comments

sumber buku untuk media puzzle memang masih terbatas, khususnya yang berbahasa Indonesia


EmoticonEmoticon