Tuesday, 6 December 2016

Metode Demonstrasi



Metode Demonstrasi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

metode demonstrasi

Secara bahasa, demonstrasi berasal dari kata bahasa Inggris demonstrate yang berarti mempertunjukkan atau mempertontonkan. Menurut Nana Sudjana (2010, hlm. 121) “metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar memperhatikan bagaimana jalannya suatu proses terjadinya sesuatu". Selanjutnya Syaiful (2007, hlm. 210) menjelaskan bahwa “metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya”. Sementara itu, menurut Winata Putra, dkk. (2004, hlm. 424) “metode demonstrasi adalah cara penyajian materi pelajaran dengan mempertunjukan secara langsung obyek atau cara melakukan sesuatu untuk mempertunjukan proses tertentu”. Hal ini sejalan dengan pendapat Djamarah (2005, hlm. 2) yang menyatakan bahwa “metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran”.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat ditarik garis besar bahwa metode demonstrasi adalah metode pembelajaran dengan cara memperagakan benda, kejadian, aturan, atau urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang dipelajari.
Anak lebih mudah diberikan pelajaran dengan cara menirukan seperti apa yang dilakukan gurunya. Dalam hal ini guru menggunakan metode demonstrasi. Demonstrasi berarti menunjukan, mengerjakan, dan menjelaskan. Dalam penerapannya ketiga hal tersebut dipadukan dengan penemuan sehingga guru memberikan pertanyaan yang mengarahkan. Metode demonstrasi yang dipadukan dengan penemuan, memungkinkan guru membimbing anak untuk menemukan hal-hal yang baru berdasarkan praduga atau hipotesis yang disusun oleh anak. Metode demonstrasi perlu dilakukan dalam rangka pengembangan motivasi anak karena mengingat kecenderungan anak untuk mencontoh atau meniru orang lain.
Tujuan pokok penggunaan metode demonstrasi menurut Winata Putra, dkk. (2004, hlm. 450) “...adalah untuk memperjelas pengertian konsep, dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu proses terjadinya sesuatu”. Sedangkan menurut Syaiful Sagala (2010, hlm. 215) tujuan menggunakan metode demonstrasi adalah “...untuk memperlihatkan proses terjadinya suatu peristiwa sesuai dengan materi ajar agar siswa dengan mudah untuk memahaminya”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka tujuan penggunaan metode demonstrasi adalah untuk memperjelas konsep dan memperlihatkan secara langsung peristiwa yang sesuai dengan materi yang dipelajari.
Ali Muhammad (2010, hlm. 85) mengemukakan langkah-langkah penerapan metode demonstrasi, sebagai berikut:
1. Merumuskan kecakapan atau keterampilan yang hendak dicapai.
2. Mempertimbangkan kesesuaian penggunaan metode untuk mencapai tujuan yang dirumuskan.
3. Melihat alat yang mudah didapat dan mencobanya sebelum didemonstrasikan.
4. Menetapkan langkah-langkah yang akan dilaksanakan.
5. Menghitung waktu yang tersedia.
6. Pelaksanaan demonstrasi.
7. Membuat perencanaan penilaian terhadap kemajuan siswa.
Sedangkan menurut Darwyn Syah (2007, hlm. 152) langkah-langkah penggunaan metode demonstrasi, sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
a. Menetapkan tujuan demonstrasi.
b. Menetapkan langkah-langkah demonstrasi.
c. Menyiapkan alat atau benda yang dibutuhkan untuk demonstrasi.
2. Langkah pelaksanaan demonstrasi
Pada tahap pelaksanaan beberapa hal yang dilakukan, diantaranya:
a. Mendemonstrasikan sesuatu dengan tujuan yang disertai dengan penjelasan lisan.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan tanya jawab.
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan mempraktikan.
3. Tahap mengakhiri demonstrasi
Pada tahap ini beberapa hal yang dilakukan, antara lain:
a. Menugaskan kepada siswa untuk mencoba dan mempraktikan apa yang telah diperagakan.
b. Melakukan penilaian terhadap tugas yang telah diberikan dalam bentuk karya atau perbuatan.
Menurut Hasibuan & Moedjiono (2002, hlm. 30) demonstrasi menjadi tidak efektif apabila “benda yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan jelas oleh siswa, siswa tidak dilibatkan untuk mencoba, dan bila tidak dilakukan di tempat yang sebenarnya”. Agar metode demonstrasi dapat menjadi efektif, maka guru harus
“(1) merumuskan keterampilan yang diharapkan akan dicapai oleh siswa setelah demonstrasi dilakukan, (2) mencoba alat-alat  yang akan digunakan dalam demonstrasi, supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal, (3) memperkirakan jumlah siswa apakah memungkinkan diadakan metode demonstrasi, (4) menetapkan garis besar langkah yang akan dilaksanakan, dan (5) memperhitungkan waktu yang dibutuhkan” (Hasibuan & Moejdiono, 2002, hlm. 31).
Berikut kelebihan penggunaan metode demonstrasi, antara lain:
1. Perhatian siswa dapat dipusatkan dan titik berat yang dianggap penting oleh guru dapat diamati.
2. Perhatian siswa akan lebih terpusat pada apa yang didemonstrasikan.
3. Merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.
4. Menambah pengalaman langsung dari siswa.
5. Membantu siswa mengingat materi lebih lama.
6. Mengurangi miskonsepsi karena pengajaran lebih jelas dan konkret.
7. Menjawab semua masalah yang timbul di benak siswa karena setiap siswa ikut serta berperan langsung dalam pembelajaran.
Sedangkan kelemahan penggunaan metode demonstrasi, diantaranya:
1. Memerlukan waktu yang cukup banyak.
2. Apabila terjadi kekurangan alat atau media, metode ini menjadi kurang efisien.
3. Memerlukan biaya yang cukup mahal terutama untuk membeli bahan.
4. Memerlukan persiapan yang ekstra.
5. Apabila siswa tidak aktif, maka metode demonstrasi menjadi tidak efektif.

Referensi
Djamarah (2005). Langkah-Langkah Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasibuan, J. J. & Moedjiono (2002). Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad, A. (2010). Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Putra, W. dkk. (2004). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sagala, S. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syah, D. (2007). Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Gaung Persada Press.
Syaiful (2007). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.


EmoticonEmoticon