Thursday, 15 December 2016

Model Pembelajaran Inkuiri



Model Pembelajaran Inkuiri
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran inkuiri

Secara etimologis “inkuiri berasal dari kata inquire atau inquiry. Inquiry adalah istilah dalam bahasa Inggris” (Roestiyah, 2001, hlm. 75). Inquire berarti menanyakan, menyelidiki, bertanya. Sedangkan “inquiry berarti penyelidikan” (Cahyani, dkk., 1993, hlm. 121).
Dimayanti dan Mudjiono (2006, hlm. 173) menyatakan bahwa “model inkuiri adalah pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh  pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai”. Andersen dan Koutnik (1972, hlm. 4) menyatakan “inquiry is a set of activities directed toward solving an open number of related problems in which the student has as his principal focus a productive enterprise leading to increased understanding and application.” Sedangkan Kourilsky (dalam Hamalik, 2008, hlm. 220) menyatakan bahwa:
“Pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok siswa inquiry ke dalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktural kelompok”.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model inkuiri berarti suatu pengajaran yang dirancang untuk keseluruhan aktifitas siswa dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menjadi permasalahan, sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dalam upaya meningkatkan pemahaman dan aplikasi siswa terhadap suatu permasalahan.
Model pembelajaran inkuiri pertama kali dikembangkan oleh Richard Suchman (1962) yang memandang hakikat belajar sebagai latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan. Menurut Suchman (dalam Joyce dan Weil, 1972, hlm. 137) sasaran model inkuiri, yaitu:
To develop the cognitive skills of searching and data processing, and the concepts of logic and causality that would enable the individual child to inquire autonomously and productively; to give the children a new approach to learning by which they could build concepts through the analysis of concrete episodes and dicovery of relationships between variables; and to capitalize on two intrinsic sources of motivation, the rewarding experience of discovery and excitement inherent in autonomous searching and data processing. 

Berdasarkan pendapat Suchman tersebut, sasaran dari pembelajaran inkuiri ini tidak hanya untuk melatih kemampuan kognitif siswa dalam mencari dan mengolah data tetapi lebih jauh siswa belajar untuk membangun sendiri konsepnya dengan menganalisa situasi yang konkret dan menemukan hubungan-hubungan antara variabel. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar aktif  dan   dalam   mencari   dan   mengolah   data.  Secara   umum   prinsip   dari
pembelajaran dengan model inkuiri ini (Mulyana, 2009, hlm. 141; Wena, 2009, hlm. 76) adalah sebagai berikut:
a.         Siswa akan bertanya, jika mereka dihadapkan pada masalah yang membingungkan.
b.        Siswa dapat menyadari dan belajar menganalisis strategi berpikir mereka.
c.         Strategi berpikir dapat diajarkan dan ditambahkan kepada siswa
d.        Inkuiri dapat lebih bermakna dan efektif apabila dilakukan dalam konteks kelompok.
Dalam inkuiri, seseorang bertindak sebagai ilmuan (scientist), melakukan eksperimen, dan mampu melakukan proses mental berinkuiri. Proses mental tersebut menurut Hamalik (2008, hlm. 219), yaitu:
“a. mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala alami, b. merumuskan masalah-masalah, c. merumuskan hipotesis-hipotesis, d. merancang pendekatan investigatif yang meliputi eksperimen, e. melaksanakan eksperimen, f. mensintetiskan pengetahuan, g. memiliki sikap ilmiah antara lain sikap obyektif, ingin tahu, keterbukaan, menginginkan dan menghormati model-model teoritis, serta bertanggung jawab”.
Model pembelajaran inkuiri dibentuk atas dasar discovery, sebab seorang siswa harus berupaya menemukan jawaban-jawaban atas topik-topik inkuiri.  Dalam situasi tersebut, para siswa dapat menemukan konsep atau rincian informasi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Sagala (2006, hlm. 89) yang menyatakan bahwa:
“Inkuiri berarti menemukan. Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri”.

Dalam  hal  ini,  pembelajaran  dengan  inkuiri  berarti  siswa aktif  mencari,
menyelidiki, dan memecahkan masalah sendiri. Serangkaian kegiatan yang melibatkan aktivitas siswa secara keseluruhan, tentunya akan menumbuhkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Hal ini akan berdampak pada optimalisasi pencapaian hasil belajar.
Adapun teknik inkuiri ini memiliki keunggulan (Roestiyah, 2001, hlm. 76-77), yaitu: 1) dapat membentuk “self-consept” pada diri siswa, 2) membantu  dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru, 3) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka, 4) mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri, 5) memberi kepuasan yang bersifat intrinsik, 6) dapat mengembangkan bakat atau kecakapan hidup, 7) memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
Keunggulan-keunggulan tersebut tentunya dapat tercapai, apabila ada kerjasama yang baik antara guru dengan siswa. Guru harus mampu mengarahkan dan membimbing siswa menuju suatu penemuan, demikian juga siswa harus memiliki motivasi untuk senantiasa berpikir aktif menemukan sendiri masalahnya. Untuk itu, guru sebagai fasilitator harus mampu membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran dengan model inkuiri ini akan berjalan baik, jika setiap kegiatannya bercermin pada siklus dan langkah-langkah kegiatan dalam model pembelajaran inkuiri. Adapaun siklus inkuiri yang dikemukakan Sagala (2006, hlm. 89), yaitu:
1)        Observasi (Observation)
2)        Bertanya (Questioning)
3)        Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
4)        Pengumpulan data
5)        Penyimpulan (Conclussion)

Siklus tersebut secara terperinci, diimplementasikan dalam langkah-langkah pembelajaran dalam inkuiri (Sagala, 2006, hlm. 89), yaitu:
1)      Merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun.
2)      Mengamati atau melakukan observasi.
3)      Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
4)      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audience lainnya.

Ciri dari suatu model adalah adanya sintaks/pemfasean. Dalam hal ini keempat langkah pembelajaran dalam inkuiri, harus muncul pada fase dan model inkuiri. Menurut Joyce dan Weil (1986) dalam Wena (2009, hlm. 77) model pembelajaran inkuiri secara umum terbagi atas lima fase, yaitu sebagai berikut:
1)      Penyajian masalah
Dalam fase ini pengajar menyajikan suatu masalah dan menerangkan prosedur inkuiri pada siswa. Bentuk masalah perlu disesuaikan dengan tingkat pengetahuan siswa.
2)      Pengumpulan data verifikasi
Dalam tahap ini siswa didorong untuk mau berusaha mengumpulkan informasi mengenai kejadian yang mereka lihat atau alami.
3)      Pengumpulan data eksperimentasi
Dalam hal ini siswa melakukan eksperimen dengan memasukkan hal-hal (variabel) baru, untuk melihat apakah akan terjadi perubahan. Selain itu, siswapun dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hampir serupa dengan hipotesis.
4)      Organisasi data formulasi kesimpulan
Dalam   tahap  ini,   siswa  mengoordinasikan  dan  menganalisis  data  untuk
membuat suatu kesimpulan yang dapat menjawab masalah yang telah disajikan.
5)      Analisis proses inkuiri
Dalam tahap ini siswa diminta untuk menganalisis pola inkuiri yang telah mereka jalani, yaitu dengan menentukan pertanyaan mana yang paling produktif (menghasilkan data yang paling relevan) atau tipe informasi yang sebenarnya mereka butuhkan, tetapi tidak mereka dapatkan.
Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran pada setiap fasenya dapat dijabarkan sebagai berikut (Wena, 2009, hlm. 80)

Tabel
Petunjuk Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri

No.
Tahap Pembelajaran
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
1.
Penyajian Masalah
Menyajikan permasalahan
Memahami dan mencermati permaslahan dari berbagai aspek
Menjelaskan prosedur/langkah-langkah inkuiri
Memahami prosedur /langkah-langkah inkuiri


2.
Pengumpulan Data dan Verifikasi
Membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi
Melakukan pengumpulan informasi/data
Membimbing cara-cara mencari/pengumpulan data
Melakukan pengumpulan data

Membimbing cara-cara mentabulasi data
Melakukan tabulasi/penataan data
Membimbing mengklasifikasi data
Mengklasifikasi data sesaui dengan kategorisasi permasalahan

3.
Pengumpulan Data Eksperimentasi
Membimbing siswa melakukan eksperimen
Melakukan eksperimen
Membimbing siswa mengatur data/variabel
Melakukan pengaturan data/pengontrolan variabel yang selanjutnya dilakukan eksperimen/uji coba
Membimbing dan mengarahkan pertanyaan-pertanyaan siswa
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan eksperimen yang dilakukan
Membimbing siswa mengamati perubahan yang terjadi
Mencatat dan menganalisis hasil eksperimen
Menumbuhkan dan meningkatkan interaksi antar siswa
Berinteraksi dan bekerja sama sesama anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran
4.
Organisasi Data dan Formulasi Kesimpulan
Membimbing siswa melakukan penataan data/hasil eksperimen
Melakukan penataan/interpretasi terhadap hasil eksperimen/uji coba
Membimbing siswa untuk membuat suatu kesimpulan
Membuat kesimpulan
5.
Analisis Proses Inkuiri
Membimbing siswa untuk memahami pola-pola penemuan yang telah dilakukan
Memahami atau memperhatikan pola-pola penemuan eksperimen yang telah dilakukan
Membimbing siswa menganalisis tahap-tahap inkuiri yang telah dilaksanakan
Menganalisis tahap-tahap inkuiri yang telah dilaksanakan
Membimbing siswa melihat kelemahan-kelamahan/kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi
Menganalisis kelemahan/kesalahan yang mungkin terjadi dalam proses eksperimen
(Wena, 2009, hlm. 80)
Andersen dan Koutnik (1972, hlm. 4) menyatakan “successful inquiry need not neccessarily be terminated with the attainment of a solution to a problem, nor is the solution neccessarily essential for inquiry to be deemed successful.” Jadi, dikatakan berhasil apabila siswa tidak hanya sekedar mengungkapkan pertanyaan tetapi mampu mengungkapkan pertanyaan-pertanyaaan yang esensial. Agar model pembelajaran inkuiri dapat berjalan lancar dan memberi hasil yang optimal, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
1)        Interaksi pengajar-siswa. Model ini bisa sangat terstuktur, dalam arti bahwa pengajar mengontrol interaksi dalam kelas serta mengarahkan prosedur inkuiri. Namun, proses inkuiri ini harus ditandai dengan kerja sama yang baik antara pengajar-siswa, kebebasan siswa untuk menyatakan pendapat atau mengajukan pertanyaan serta persamaan hak antara pengajar dan siswa dalam mengemukakan pendapat. Secara bertahap pengajar dapat memberikan kewenangan yang lebih banyak pada siswa dalam melaksanakan proses inkuiri (Diptoadi dalam Wena, 2009, hlm. 79).
2)        Peran pengajar, (i) menciptakan suasana bebas berpikir sehingga siswa berani berekspolrasi dalam penemuan dan pemecahan masalah, (ii) fasililtator dalam penelitian, (iii) rekan diskusi dalam klasifikasi dan pencarian alternatif pemecahan masalah, serta (iv) pembimbing penelitian, pendorong keberanian berpikir alternatif dalam pemecahan masalah (Dimayanti dan Mudjiono, 2006, hlm. 173-174).
   Sedangkan evaluasi hasil belajar pada inkuiri (Dimayanti dan Mudjiono, 2006, hlm. 174), meliputi:
“(i) keterampilan pencarian dan perumusan masalah, (ii) keterampilan pengumpulan data atau informasi, (iii) keterampilan meneliti tentang objek, seperti benda, sifat benda, kondisi atau peristiwa dan pelaku, (iv) keterampilan menarik kesimpulan , dan (v) laporan”.
Dalam pembelajaran dengan model inkuiri, dibutuhkan kondisi belajar yang kooperatif dan kelas yang reflektif. Byron Massialas dan Benyamin Cox (dalam Hamalik, 2008, hlm. 62) mengkaji tiga ciri-ciri esensial kelas yang reflektif, yaitu:
“1) model inkuiri memerlukan iklim terbuka dalam diskusi, di mana para siswa mengemukakan gagasannya tentang maslah tertentu, 2) kelas harus menekankan pada jawaban yang bersifat sementara, 3) kelas yang reflektif adalah menggunakan fakta-fakta sebagi bukti”.
Tugas utama guru dalam model pembelajaran inkuiri ini adalah membimbing, mengarahkan dan mendorong siswa agar tetap melakukan kegiatan dengan inkuiri. Cara tersebut dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan dalam model pembelajran inkuiri. Achmad A. Hinduan, dkk. (1990) (dalam Mulyana, 2009, hlm. 142-148) memperkenalkan empat jenis pendekatan untuk mengembangkan model inkuiri, yaitu:
1)        Model Inkuiri Pendekatan Rasional
Dalam pendekatan penemuan rasional, guru mengarahkan siswa menuju suatu generalisasi dengan cara menggunakan penalaran (reasoning) atau membimbing siswa melalui tanya jawab
2)        Model Inkuiri Pendekatan Penemuan Terbimbing
Pendekatan penemuan terbimbing, guru mengarahkan siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang disusun dalam bentuk tugas-tugas yang harus dilakukan   siswa,   dengan    kata   lain   guru   membimbing   siswa   dengan
 menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS)
3)        Model Inkuiri Pendekatan Eksperimental
Pendekatan penemuan eksperimental adalah proses penyusunan pernyataan yang dianggap benar dan mencari cara menguji kebenaran dari pernyataan tersebut, implikasinya dalam pembelajaran guru bercerita tentang konsep dulu kemudian dilakukan pembuktian dengan eksperimen
4)        Model Inkuiri Pendekatan Penemuan Murni
Dalam hal ini guru menyediakan peralatan  dan bahan-bahan yang akan ditangani oleh masing-masing kelompok, dan siswa ditugaskan untuk menemukan sendiri.

Referensi
Andersen, H. O., & Kautnik, P. G. (1972). Toward More Effective Science Intruction in Secondary Education. New York: Mac Millan Publishing Co., Inc.
Cahyani, dkk. (1993). Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris. Surabaya: Bintang Terang.
Dimayanti & Mudjiono (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hamalik, O. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Joyce, B, & Weil, M. (1972). Models of Teaching. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs.
Mulyana, E. H. (2009). Pendidikan dan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar. Tasikmalaya: UPI.
Roestiyah (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: ALFABETA.
Wena, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon