Saturday, 24 December 2016

Pendekatan Kontekstual

Pendekatan Kontekstual
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendekatan kontekstual

Kontekstual memiliki kata dasar konteks atau context dalam bahasa inggris yang berarti hubungan, suasana, dan keadaan. Menurut Suprijono (2009, hlm. 79) pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan
“konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi di dunia nyata, dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat”.
Johnson (2006, hlm. 15) mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah “pembelajaran yang bertujuan menolong siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka”. Hal ini berarti pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan isi materi dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna.
Sanjaya (2006, hlm. 109) mengemukakan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah
“suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh, untuk dapat memahami materi yang dipelajari, dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Muchith (2008, hlm. 86) bahwa pendekatan kontekstual merupakan “pembelajaran yang bermakna dan menganggap tujuan pembelajaran adalah situasi yang ada dalam konteks tersebut, konteks itu membantu siswa dalam belajar bermakna dan juga untuk menyatakan hal-hal yang abstrak”. Selaras dengan pendapat Komalasari (2010, hlm. 7) bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah
“pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya”.
Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan, maka dapat ditarik garis besar bahwa pendekatan kontekstual merupakan pendekatan dengan konsep belajar mengajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan oleh guru dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya di kehidupan nyata. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari, dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat. Sehingga, proses belajar tidak hanya berpengaruh pada hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, namun memberikan kebermaknaan pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat dalam konteks dunia nyata peserta didik.
Pembelajaran kontekstual memiliki karakteristik yang khas. Hal ini yang membedakan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran lainnya. Karakteristik pembelajaran kontekstual menurut Depdiknas (2001, hlm. 11), sebagai berikut:
“(1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan, (4) tidak membosankan, (5) belajar dengan gairah, (6) pembelajaran integrasi, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) menggunakan berbagai sumber, (10) siswa kritis dan guru kreatif, (11) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, dan (12) laporan kepada orang tua bukan rapor, melainkan hasil karya siswa”.
Sedangkan Johnson (2006, hlm. 15) mengidentifikasi delapan karakteristik pendekatan kontekstual, antara lain:
1. Making meaningful conections (membuat hubungan penuh makna).
2. Doing significant work (melakukan kerja signifikan).
3. Self-regulated learning (belajar mengatur sendiri).
4. Collaborating (kerja sama).
5. Critical and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif).
6. Nurturing the individual (memelihara pribadi).
7. Reaching high standard (mencapai standar yang tinggi).
8. Using authentic asessment (penggunaan penilaian autentik).
Sounders (dalam Komalasari, 2010, hlm. 8) menyatakan bahwa “pembelajaran kontekstual difokuskan pada REACT”. Penjabarannya, sebagai berikut:
1. Relating, belajar dalam konteks pengalaman hidup.
2. Experiencing, belajar dalam konteks pencarian dan penemuan.
3. Applying, belajar ketika pengetahuan diperkenalkan dalam konteks penggunaannya.
4. Cooperating, belajar melalui konteks komunikasi interpersonal dan saling berbagi.
5. Transfering, belajar penggunaan pengetahuan dalam suatu konteks atau situasi baru.
Trianto (2011, hlm. 101) menambahkan karakteristik pendekatan kontekstual, sebagai berikut:
1. Kerja sama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan dan mengasikan.
4. Tidak membosankan.
5. Belajar dengan bergairah.
6. Pembelajaran terintegrasi.
7. Menggunakan berbagai sumber siswa aktif.
Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan, maka pendekatan kontekstual memiliki ciri khusus berupa pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi kehidupan nyata, mengarahkan siswa untuk berpikir kritis dengan melakukan eksplorasi terhadap konsep dan informasi yang dipelajari, serta adanya penerapan penilaian autentik untuk menilai pembelajaran secara holistik.
Menurut Muslich (2012, hlm. 44) pendekatan pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen, sebagai berikut:
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan filosofis pendekatan pembelajaran kontekstual, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit melalui sebuah proses. Tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri, serta menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Inkuiri
Inkuiri merupakan bagian inti dari proses pendekatan pembelajaran kontekstual. Inkuiri merupakan proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
3. Bertanya
Bertanya berarti cerminan dalam kondisi berpikir. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya dimaksudkan untuk menggali informasi, mengomunikasikan apa yang telah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
4. Masyarakat belajar
Konsep masyarakat belajar menyarankan bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Ketika menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi ke dalam kelompok yang anggotanya heterogen.
5. Pemodelan
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
6. Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan ketika pembelajaran. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru dipelajari. Nilai hakiki dari kompenen ini yakni semangat untuk perbaikan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
7. Penilaian autentik
Penilaian autentik adalah upaya pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menurut Trianto (2010, hlm. 111), sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih berkmakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan bertanya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Pandangan ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Mulyasa (2013, hlm. 111) bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pendekatan pembelajaran kontekstual, yakni:
1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa.
2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagian khusus.
3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara menyusun konsep sementara, sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain, serta merivisi dan mengembangkan konsep.
4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikan secara langsung apa yang dipelajari.
5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
Dengan demikian, langkah-langkah penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual diawali dengan pengonstruksian pengetahuan yang dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari, dan dikaitkan dengan konteks dunia nyata. Mengembangkan pengetahuan awal siswa dengan bertanya. Adanya model sebagai alat bantu penyampaian materi. Dilanjutkan dengan proses inkuiri melalui kegiatan diskusi antara siswa dengan guru, maupun sesama siswa. Hasil dari proses ini dipresentasikan melalui diskusi kelas dan diakhiri dengan refleksi berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan. Penilaian keseluruhan kegiatan pembelajaran dilakukan menggunakan penilaian autentik.

Referensi
Departemen Pendidikan Nasional (2001). Belajar dan Mengajar Kontekstual. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Johnson, E. B. (2006). Contextual Teaching and Learning. Bandung: MLC.
Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.
Muchith, S. (2008). Pembelajaran Kontekstual. Semarang: Rasail.
Mulyasa (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muslich, M. (2012). Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Suprijono, A. (2009). Cooperative Learning. Surabaya: Pustaka Belajar.
Trianto (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Trianto (2011). Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon