Monday, 16 January 2017

Persepsi



Persepsi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
persepsi

Persepsi berasal dari kata Latin “percepio, yang berarti menerima, mengumpulkan, tindakan mengambil kepemilikan, ketakutan dengan pikiran atau indera. Goldenson (1984, hlm. 534) menjelaskan
“perception the awareness of object, relationship, and events via the sense, including such activities as recognizing, observing, and discriminating. These activities enable to us to organize and interpret the stimuli we receive into meaningful knowledge of the world.”
Dengan kata lain, persepsi adalah kesadaran obyek, hubungan dan kejadian melalui indera, termasuk kegiatan mengenali, mengamati dan membedakan. Kegiatan ini memungkinkan kita untuk mengatur dan menginterpretasikan rangsangan-rangsangan yang diterima menjadi pengetahuan bermakna mengenai dunia.
Desiderato (dalam Rahmat, 2005, hlm. 51) mengatakan bahwa “persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan”. Sedangkan Slameto (2003, hlm. 102) menyatakan bahwa “persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia melalui inderanya”. Adypato (2011) berpendapat bahwa “Persepsi adalah proses dari seseorang dalam memahami lingkungannya yang melibatkan pengorganisasian  dan penafsiran sebagai rangsangan dalam suatu pengalaman psikologis” Selanjutnya menurut Sarwono (dalam Ming Cien, 2010, hlm. 9)
“persepsi adalah proses kategorisasi. Organisme dirangsang untuk masukan tertentu (obyek-obyek di luar, peristiwa dan lain-lain), dan organisme itu merespon dengan menghubungkan masukan itu dengan salah satu kategori (golongan) obyek-obyek atau peristiwa. Proses menghubungkan ini adalah proses aktif dimana individu yang bersangkutan dengan sengaja mencari kategorisasi yang tepat, sehingga ia dapat mengenali atau memberi arti kepada masukan tersebut”.
Merujuk pada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu hal yang ditangkap oleh indera dan dihubungkan dengan pengalaman, peristiwa, objek, pengetahuan pada diri pemersepsi.  Persepsi setiap individu akan berbeda meskipun obyek persepsiny sama.
Slavin (2009, hlm. 160) menyatakan bahwa “perception of stimuli is not as straightforward as reception of stimuli. Instead, it involves mental interpretation and is influenced by our mental state, past experience, knowledge, motivations, and many other factors. Dari pernyataan Slavin tersebut, persepsi tidak otomatis sama dengan memerima rangsangan. Karena persepsi melibatkan interpretasi mental dan dipengaruhi oleh kondisi mental, pengalaman, pengetahuan, motivasi, serta banyak faktor lainnya.
Rahmat (2005, hlm. 51-62) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi dan turut menentukan terjadinya persepsi sebagai berikut:
1. Perhatian
Andersen (dalam Rahmat, 2005, hlm. 51) mengemukakan”perhatian proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah”. Jadi perhatian ini terjadi ketika kita berkonsentrasi pada salah satu alat indera kita dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indera yang lain.
Perhatian atau apa yang kita perhatikan dipengaruhi oleh faktor situasional dan personal. Faktor situasional juga sering disebut sebagai faktor penarik perhatian. stimuli atau rangsangan diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain: gerakan, intensitas rangsangan, kebaruan dan pengulangan.
Kadang kala kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat, mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan perhatian ini disebabkan oleh faktor internal masing-masing individu. Motif, sikap, kebiasaan dan kemauan dapat mempengaruhi apa yang kita perhatikan.
2. Faktor Fungsional
Faktor fungsional ini berasal dari kebutuhan, pengalaman, masa lalu, dan hal-hal lain yang termasuk dengan apa yang kita sebut sebagai faktor personal, yang menentukan persepsi bukanlah jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli itu.
Krech dan Crutchfield (dalam Rahmat dan Solehudin, 2006, hlm. 56) mengemukakan dalil persepsi yang pertama, yaitu “persepsi bersifat selektif secara fungsional”. Hal ini menunjukan bahwa obyek-obyek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.
3. Faktor Struktural
Faktor struktural semata-mata berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Menurut teori Gestal (dalam Rahmat, 2005, hlm. 58) “jika kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. Kita tidak melihat bagian-bagiannya, lalu menghimpunnya”. Dengan kata lain, jka kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus melihatnya dalam hubungan keseluruhan.
Alex Sobur (dalam Hasanah, 2011, hlm. 8) mengemukakan faktor yang mempengaruhi seleksi persepsi adalah:
a. Faktor intern yang terdiri dari kebutuhan psikologis, latar belakang, pengalaman, kepribadian, sikap dan kepercayaan umum, serta penerimaan diri
b. Faktor ekstern yang terdiri dari intensitas, ukuran, kontras, gerakan, ulangan, keakraban dan sesuatu yang baru.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebuah persepsi terbentuk berdasarkan kondisi individu masing-masing. Oleh karena itu, meskipun stimuli yang diberikan sama persepsi yang terjadi pada setiap individu belum tentu sama, karena kondisi setiap individu berlainan, baik kondisi personal maupun situasional. Sedangkan untuk kedalaman atau keakuratan persepsi, dipengaruhi oleh pengalaman individu itu sendiri.
Menurut Handayani (dalam Achmad, 2011, hlm. 12) dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya “persepsi dapat terjadi apabila ada rangsangan dari luar, sehingga timbulnya persepsi setelah adanya pengamatan terhadap suatu obyek yang dilakukan oleh indera”.
Bimo Walgito (dalam Ming Cien, 2010, hlm. 12) mengemukan tiga komponen utama dalam proses terjadinya persepsi, adalah:
1. Objek yang diamati. Objek akan menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau resepstor. Yang dimaksud dengan stimulus adalah segala sesuatu yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar rangsang mengenai syaraf (reseptor) dan dapat datang dari dalam yang langsung mengenai syaraf penerima (sensory) yang bekerja sebagai reseptor.
2. Alat indera atau reseptor yang cukup baik. Yaitu merupakan alat untuk menerima stimulus, disamping itu harus ada pula syaraf sensori yang cukup baik sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan saraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran dan sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.
3. Untuk menyadari atau untuk mengadakan pengamatan sesuatu diperlukan pula adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Tanpa perhatian tidak akan terjadi pengamatan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi diawali dengan penerimaan rangsangan yang ditentukan oleh faktor dari dalam berupa aspek interen yang sudah disebutkan di atas dan faktor eksteren seperti. Oleh karenanya, persepsi seseorang terhadap suatu obyek berbeda-beda, sehingga perilaku dan kepribadiannya pun berbeda-beda.
Dalam proses pembentukan persepsi, otak melakukan dua macam fungsi pemrosesan, yaitu
1. In bottom-up processing, the system taken in individual elements of the stimulus and then combines them into a unfied.
2. In top-down processing, sensory information is interpreted I the light of exiting knowledge, concept, ideas, and expactations. (tersedia dalam highered.mcgrawhill.com/sites/dl/free/0070985928/621719/Passer3rd_05.pdf)
Teori Bottom-up processing ini merupakan teori dari Gibson (1966), dalam  sistem ini membutuhkan unsur-unsur individual dari stimulus dan kemudian menggabungkan mereka ke dalam persepsi yang utuh. Sistem visual bekerja secara bootm-up ketika membaca. Detektor fitur yang menganalisi setiap elemen dalam setiap huruf dalam setiap kata, kemudian mereka bergabung kembali ke dalam persepsi visual huruf dan kata. Proses dimana persepsi tidak dipengaruhi unsur lain, persepsi terbentuk berdasarkan rangsangan yang itu sendiri.
Sedangkan dalam top-down processing yang diusulkan oleh Gregory (1970), informasi sensorik ditafsirkan dalam pengatahuan, konsep, ide, dan harapan yang ada. Proses ini terjadi ketika menafsirkan kata dan kalimat yang dibangun oleh proses bottom-up. Disini digunakan pengetahuan, termasuk apa yang dipelajari tentang makna kata-kata dan konstruksi kalimat. Kalimat tertentu mungkin dapat memberi makna yang berbeda kepada individu jika dihubungkan dengan pengelaman masing-masing individu. Oleh karena itu proses persepsi top-down ini dipengaruhi oleh unsur yang terlebih dahulu ada pada memori, baik bersifat pengalaman, motif, dan lain-lain.
Dalam persepsi bisa saja terjadi suatu kesalahan atau error. Seperti dijelaskan dalam Psychology: Exploring Behavior hlm. 185 (tersedia dalam dakota.fmpdata.net/PsychAI/PrintFiles/SensPercept.pdf), “errors in perception occur when the constancies fail”. Suatu kesalahan persepsi terjadi ketika adanya ketidakkonsistenan pada stimuli sensori. Ketika intensitas sensori lemah maka peluang kesalahan atau ketidakakuratan persepsi menjadi besar dan menimbulkan kesalahan.
Proses persepsi dapat terjadi apabila terpenuhinya syarat terjadinya proses persepsi. Menurut Ming Cien (2010, hlm. 13) syarat terjadinya persepsi adalah:
1. Syarat fisiologis, dimaksudkan adanya tiga faktor domain yaitu adanya alat indera, saraf sensorik dan otak.
2. Adanya obyek, dimaksudkan yaitu obyek tersebut dapat dirasakan, dicium, diraba, didengar sehingga menimbulkan stimulus
3. Syarat psokologis, dimaksudkan yaitu adanya perhatian dari individu sehingga dapat menyadari apa yang diterima.
Persepsi dapat terjadi apabila syarat-syaratnya terpenuhi. Sensorik dan otak yang akan mempersepsi suatu obyek berjalan dengan baik, serta adanya perhatian dari individu. Apabila perhatian tersebut tidak ada, maka tidak ada masukan pada tiga faktor domain di atas yang merupakan awal dari proses persepsi.
Slameto (2003, hlm. 103) membahas prinsip-prinsip dasar persepsi yang harus diketahui oleh guru. Ringkasan dari penjelasan Slameto adalah:
1. Persepsi itu relatif bukan absolut
Dalam hubungannya dengan kerelatifan persepsi ini, dampak pertama dari suatu perubahan rangsangan dirasakan lebih besar daripada rangsangan yang datang kemudian.
2. Persepsi itu selektif
Seseorang hanya memperhatikan beberapa rangsangan saja dari banyak rangsangan yang ada disekeliling pada saat tertentu. Ini berarti bahwa rangsangan yang diterima akan tergantung pada apa yang pernah dipelajari, apa yang pada suatu saat menarik perhatiannya dan ke arah mana persepsi itu mempunyai kecenderunagn. Ini berarti bahwa ada keterbatasan dalam kemampuan seseorang menerima rangsangan.
3. Persepsi itu mempunyai tatanan
Orang menerima rangsangan tidak dengan cara sembarangan. Ia akan menerimanya dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Jika rangsangan yang datang tidak lengkap, ia akan melengkapinya sendiri sehingga hubungan itu menjadi jelas.
4. Persepsi itu dipengaruhi oleh harapan dan kesiapan (penerimaan rangsangan)
Harapan dan kesiapan penerima pesan akan menentukan pesan mana yang akan dipilih untuk diterima, selanjutnya bagaimana pesan yang dipilih itu akan ditata dan demikian pula bagaimana pesan tersebut akan diinterpretasi.
5. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama
Perbedaan persepsi ini dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individual, perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi.
Berdasarkan uraian di atas, persepsi menjadi suatu bagian dalam proses pembelajaran karena dalam proses tersebut terjadi interaksi antara guru dan siswa, dimana siswa menerima informasi dan rangsangan yang menjadi masukan dan direspon dengan melibatkan informasi yang diketahui oleh siswa sebelumnya. Melalui kemampuan kognisinya, akhirnya siswa akan mengenali, menyimpulkan, memberi penilaian dan pendapat mengenai informasi yang diterimanya dalam pembelajaran termasuk informasi yang berhubungan dengan kinerja guru melaksanakan pembelajaran.

Referensi

Achmad, W. (2011). Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kegiatan PLP Mahasiswa JPTA-FPTK UPI terhadap Minat Siswa untuk Menjadi Mahasiswa JPTA UPI: Studi Kasus di SMK Negeri 5 Bandung. (Skripsi). Bandung: FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.
Adypato (2011). Perilaku dan Perbedaan Individual. [Online]. Diakses dari: http://adypato.wordpress.com/2011/04/20/perilaku-dan-perbedaan-individual.
Cien, M. (2010). Pengaruh Persepsi Mahasiswa tentang Keterampilan Dasar Mengajar terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa pada Pelaksanaan Program Latihan Profesi. (Skripsi). Bandung: FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.
Goldenson, R. (1984). Longman Dictionary of Psychology. Ney York: Longman.
Hasanah, T. S. (2011). Pengaruh Persepsi Siswa terhadap Prestasi Belajar dalam Mata Pelajaran Akuntansi: Penelitian pada Siswa Kelas XI IPS SMA Pasundan 3 Bandung. (Skripsi). Bandung: FPEB Universitas Pendidikan Indonesia.
Rahmat, C. & Solehudin (2006). Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. Bandung: Andira.
Rahmat, J. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.
Slameto (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Slavin, R. E. (2009). Educational Psychology. Boston: Pearson Education.
_____. (TT). Psychology Exploring Behavior. [Online]. Diakses dari: dakota.fmpdata.net/PsychAI/PrintFiles/SensPercept.pdf.
_____. (TT). Sensation and Perception Chapter 5. [Online]. Diakses dari: highered.mcgrawhill.com/sites/dl/free/0070985928/621719/Passer3rd_05.pdf.


EmoticonEmoticon