Tuesday, 17 January 2017

Soal yang Bermutu



Soal yang Bermutu
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
soal yang bermutu

Soal yang bermutu dapat membantu guru meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi. Salah satu ciri soal yang bermutu adalah soal yang dapat membedakan setiap kemampuan siswa. Semakin tinggi kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran, semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal atau mencapai kompetensi yang ditetapkan. Makin rendah kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran, makin kecil pula peluang menjawab benar soal untuk mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
Dalam Panduan Penulisan Butir Soal (BSNP, 2010, hlm. 3) dijelaskan “syarat soal yang  bermutu, yaitu bahwa soal harus sahih (valid), dan handal”. Suatu soal dikatakan valid apabila soal tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur. Sedangkan yang dimaksud handal adalah bahwa setiap soal harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajeg.
Arikunto (2001, hlm. 57) menyatakan bahwa “sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, obyektivitas, praktikabilitas dan ekonomis”. Berikut penjelasan mengenai hal tersebut.
1. Validitas
Validitas merupakan ketepatan suatu soal dalam mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, penggaris bukanlah alat yang valid untuk mengukur berat suatu benda. Alat yang tepat mengukur berat suatu benda adalah timbangan. Begitupun dengan alat untuk mengukur ketercapaian suatu kompetensi oleh siswa, haruslah alat yang sesuai dengan karakteristik kompetensi yang hendak dicapai. Macam-macam validitas tes menurut Arikunto (2001, hlm. 65-69), diuraikan sebagai berikut.
a. Validitas Logis
Validitas logis yaitu suatu kondisi bagi sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Validitas logis terdiri dari:
1) Validitas isi, merupakan suatu kondisi sebuah instrumen yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi.
2) Validitas konstruk, yaitu suatu kondisi sebuah instrumen yang disusun berdasarkan konstruk yang dievaluasi.
b. Validitas Empiris
Suatu instrumen dikatakan memiliki validitas empiris apabila instrumen tersebut sudah diuji dari pengalaman. Ada dua macam validitas empiris, yaitu:
1) Validitas “ada sekarang” (concurrent validity), atau lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman.
2) Validitas prediksi (predictive validity), yaitu suatu kondisi apabila suatu tes mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
2. Reliabilitas
Reliabilitas berasal dari bahasa Inggris reliability, dari asal kata reliable yang artinya dapat dipercaya. Sebuah tes dikatakan reliable jika tes tersebut memberikan hasil yang tetap atau ajeg (konsisten) apabila digunakan berkali-kali. Ajeg atau tetap tidak mesti selalu sama, tetapi mengikuti perubahan secara konsisten. Jika siswa A mula-mula hasil belajarnya lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa B, maka jika diadakan tes ulang, hasil belajar siswa A akan tetap berada lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa B. Itulah yang dimaksud ajeg atau tetap, yaitu tetap dalam kedudukan siswa di antara anggota kelompok yang lain.
3. Obyektivitas
Obyektif mengandung arti tidak adanya unsur pribadi yang memengaruhinya. Kebalikan dari obyektif adalah subyektif, yaitu adanya unsur pribadi yang memengaruhi. Sebuah tes dikatakan obyektif apabila dalam pelaksanaannya tidak ada faktor subjektif yang memengaruhi, terutama dalam hal penskorannya.
4. Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. Dalam Widoyoko (2010, hlm. 101) dijelaskan kriteria tes yang praktis, antara lain:
a. Mudah dilaksanakan, artinya tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang dianggap mudah oleh siswa.
b. Mudah pemeriksaannya, artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban maupun pedoman skoringnya. Untuk soal objektif, pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.
c. Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk sehingga dapat diberikan oleh orang lain.
5. Ekonomis
 Yang dimaksud dengan ekonomis di sini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama. Sehingga tes mudah untuk digunakan sewaktu-waktu.
Soal yang bermutu berasal dari kisi-kisi yang bermutu pula. Soal yang bermutu biasanya didokumentasikan ke dalam kartu soal. Kartu soal ini berisi keterangan mengenai karakteristik butir soal yang bersangkutan. Selain itu, untuk mengetahui kualitas soal apakah sudah dapat dikategorikan bermutu atau belum, diperlukan tes terstandar yang dijadikan sebagai kriterium. Tes terstandar ini biasanya terdapat pada bank soal yang berisi soal-soal terkalibrasi. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai kisi-kisi soal, kartu soal dan bank soal.
1. Kisi-kisi soal
“Kisi-kisi soal merupakan matriks yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat” (Jihad & Abdul, 2009, hlm. 159). Kisi-kisi ini merupakan acuan bagi peneliti soal, sehingga siapapun yang menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif sama. BSNP (2010, hlm. 14) menjelaskan bahwa “kisi-kisi yang baik harus memenuhi tiga persyaratan, yaitu: (1) kisi-kisi harus harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional, (2) komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami, dan (3) materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya”.
Selain itu, BSNP juga menambahkan bahwa “dalam membuat kisi-kisi soal perlu mempertimbangkan jenis perilaku yang akan diukur” (BSNP, 2010, hlm. 11). Pembuat soal bisa mengambil atau memperhatikan jenis perilaku yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan, misalnya pengklasifikasian jenis perilaku ranah kognitif dari Benjamin S. Bloom, yaitu ingatan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6).
Adapun contoh format kisi-kisi soal diambil BSNP (2010:14), sebagai berikut.
FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL
Jenis Sekolah    : ..........................
Kurikulum        : ..........................
Mata Pelajaran : ...........................
Bentuk soal/tes: ............................
Jumlah soal      : ............................
Alokasi waktu  : ............................
Penyusun        : ..........................

No.
Standar Kompetensi
    Kompetensi Dasar
     Kls/Smt
      Materi Pokok
       Indikator Soal
      Nomor soal

















2. Kartu Soal
“Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal” (BSNP, 2010, hlm. 19). Kartu soal berisi keterangan atau karakteristik soal.Adapun format kartu soal untuk soal bentuk uraian dan pilihan ganda dapat dilihat pada gambar berikut.




Kartu soal digunakan sebagai pertimbangan ketika merakit soal tes yang akan digunakan sebagai bahan ulangan. Misalnya, untuk merakit tes seleksi siswa berprestasi, maka diperlukan soal tes dengan karakteristik tertentu (umumnya soal yang memiliki tingkat kesukaran soal tinggi). Dengan adanya kartu soal, pembuat soal tes bisa langsung memilih soal-soal yang akan digunakan berdasarkan keterangan yang terdapat pada kartu soal.
3. Bank Soal
Pada umumnya, bank soal berisi soal-soal yang bermutu baik. Puspendik (2007, hlm. 2-3) mendefinisikan bank soal sebagai …kumpulan soal-soal dalam jumlah yang besar, dan mengukur pengetahuan yang sama, disimpan di dalam komputer bersama dengan karakteristik setiap butir soalnya. Bank soal ini perlu dibuat dan harus selalu dikembangkan karena:
a. Dapat menyiapkan tes yang dibutuhkan secara rutin dan lebih dari satu set;
b. Memungkinkan diterapkannya tes melalui komputer (computer adaptive test-cat), sehingga setiap saat peserta tes dapat mengikuti tes kapan saja; dan
c. kualitas tes dapat dipertanggungjawabkan.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hambleton dan Swaminathan (dalam BSNP, 2010, hlm. 50) yang menyatakan bahwa: ‘tujuan utama bank soal adalah untuk merakit/ mengkonstruksi tes dan pengadaan kesesuaian ujian baik untuk tujuan penilaian ulangan harian, maupun untuk tujuan penilaian pada ulangan akhir semester (UAS), sehingga soalnya terjamin’.
 Selain itu, bank soal yang berisi tes terstandar tersebut juga dapat digunakan sebagai kriterium dalam mencari validitas soal. Cara menentukan validitas soal yang menggunakan tes terstandar sebagai kriterium dilakukan dengan mengalikan koefisien validitas yang diperoleh dengan koefisien validitas tes terstandar tersebut.
Kegiatan pengembangan bank soal dimulai dengan: (1) penulisan kisi-kisi, (2) penulisan soal, (3) telaah atau analisis kualitatif soal, (4) uji coba, (5) analisis kuantitatif soal, dan (6) kalibrasi soal. Soal-soal yang terbukti bermutu baik secara kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan dan disimpan dalam bank soal.

Referensi
Arikunto, S. (2001). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
BNSP (2010). Panduan Penulisan Butir Soal. [Online]. Diakses dari: http://smp3bonang.files.wordpress.com/2010/08/panduan-penulisan-butir-soal.pdf.
Jihad, A., & Abdul, H. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Puspendik (2007). Panduan Penulisan Soal Pilihan Ganda. [Online]. Diakses dari:http://download855.mediafire.com/959yujo4d85g/dymimudnyzw/PANDUAN+PENULISAN+SOAL+GANDA.pdf.
Widoyoko, E. P. (2010). Evaluasi Program Pembelajaran Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


EmoticonEmoticon