Tuesday, 20 December 2016

Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah



Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah
“Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah” (Sudarwan & Suparno, 2009, hlm. 145). Untuk itu, kepala sekolah merupakan guru yang paling bertanggung jawab terhadap penerapan prinsip-prinsip administrasi pendidikan yang inovatif di sekolah.
Sebagai guru yang mendapat tugas tambahan berarti tugas pokok kepala sekolah yakni sebagai tenaga pengajar atau pendidik. Artinya, kepala sekolah memiliki tugas sebagai seorang guru yang mengajar bidang studi tertentu atau memberikan bimbingan. Dengan kata lain, kepala sekolah menduduki dua fungsi yakni sebagai tenaga pendidik dan tenaga pengelola. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sudarwan (2002, hlm. 18), sebagai berikut
“(1) tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, penguji, pengajar, dan pelatih, (2) tenaga fungsional pendidikan terdiri atas penilik, pengawas, peneliti dan pengembang, serta pustakawan, (3) tenaga teknis kependidikan terdiri atas laboran dan teknisi sumber belajar, serta (4) tenaga pengelola pendidikan terdiri atas kepala sekolah, direktur, ketua, rektor, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah”.
Kemajuan besar dalam bidang pendidikan hanya mungkin dicapai jika administrasi pendidikan dikelola secara inovatif. Hal ini sependapat dengan Sanusi, dkk. (1991, hlm. 132) bahwa “administrasi yang baik menduduki tempat yang sangat menentukan dalam struktur dan artikulasi sistem pendidikan”. Perencanaan, pengelolaan, dan pelaksanaan administrasi di suatu sekolah berada di bawah kendali seorang kepala sekolah. Untuk itu, kepala sekolah harus memiliki kemampuan profesional. Kemampuan tersebut menurut Sanusi, dkk. (1991, hlm. 133) meliputi
“(1) kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab yang diserahkan kepadanya selaku unit kehadiran murid, (2) kemampuan untuk menerapkan keterampilan-keterampilan konseptual, manusiawi, dan teknis, (3) kemampuan untuk memotivasi bawahan untuk bekerja sama secara sukarela dalam mencapai maksud-maksud unit dan organisasi, serta (4) kemampuan untuk memahami implikasi-implikasi dari perubahan sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan.
Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah menyatakan bahwa kepala sekolah harus memiliki kemampuan meliputi “dimensi kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial”. Kompetensi kepribadian berkaitan dengan sikap kepemimpinan yang tergambar dari perilaku. Kompetensi manajerial mengharuskan kepala sekolah selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi masalah yang dihadapi sekolah. Selain itu, kepala sekolah mesti memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik. Di samping itu, kepala sekolah merencanakan, melaksanakan, dan menindaklanjuti hasil supervisi dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Dan terakhir kepala sekolah harus memiliki kompetensi sosial melalui kerja sama dengan pihak lain, memiliki kepekaan sosial, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Seorang kepala sekolah pada hakikatnya adalah pemimpin yang menggerakkan, mempengaruhi, memberi motivasi, dan mengarahkan dalam lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Mulyasa (2005, hlm. 182) secara tersirat menegaskan bahwa “tugas dan tanggung jawab kepala sekolah menyangkut keseluruhan kegiatan sekolah”. Dengan demikian, peran kepala sekolah sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan.
Aspek kunci lain berkaitan dengan peran kepala sekolah dalam melaksanakan upaya perbaikan kualitas pendidikan dengan memberikan bimbingan kepada guru untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar. Ukuran keberhasilan seorang kepala sekolah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya yakni dengan mengukur kemampuan diri dalam menciptakan iklim pembelajaran dengan mempengaruhi, mengajak, dan mendorong guru, siswa, dan staf lainnya untuk menjalankan tugas masing-masing dengan optimal. Dengan demikian, pembinaan intensif yang dilakukan kepala sekolah dapat meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, dapat digarisbawahi bahwa tugas kepala sekolah diklasifikasikan menjadi dua, yakni tugas di bidang administrasi dan tugas di bidang supervisi. Tugas di bidang administrasi berkaitan dengan pengelolaan bidang garapan pendidikan meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana-prasarana, dan hubungan sekolah-masyarakat. Sedangkan tugas di bidang supervisi berkaitan dengan pembinaan guru untuk perbaikan pengajaran.

Referensi
Mulyasa, E. (2005). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.
Sanusi, A., dkk. (1991). Studi Pengembangan Model: Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Bandung: IKIP Bandung.
Sudarwan, D. (2002). Inovasi Pendidikan: Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Sudarwan, D., & Suparno (2009). Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.


EmoticonEmoticon