Tuesday, 24 January 2017

Anak Slow Learner (Lamban Belajar)



Anak Slow Learner (Lamban Belajar)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

anak slow learner (lamban belajar)

Anak lamban belajar atau lebih dikenal luas dengan istilah slow learner berbeda dari anak yang mengalami retardasi mental ataupun anak berkesulitan belajar. Menurut Cooter, Cooter Jr., dan Wiley (dalam Nani Triani dan Amir, 2013, hlm. 3) menjelaskan bahwa “anak lamban belajar adalah anak yang memiliki prestasi belajar rendah atau sedikit di bawah rata-rata anak normal pada salah satu atau seluruh area akademik dan mempunyai skor IQ (Intelegent Quetient) antara 70 sampai 90”. Sedangkan menurut Mumpuniarti (2007, hlm. 14) anak lamban belajar merupakan “anak yang mempunyai IQ antara 70 sampai 89”. Berdasarkan skala inteligensi Wechsler (dalam Sugihartono, dkk., 2007, hlm. 41) anak dengan IQ 70 sampai 89 temasuk “borderline (70-79) dan low average atau dull (80-89). Selanjutnya Burt (dalam G. L. Reddy, R. Ramar, dan A. Kusuma, 2006, hlm. 2) berpendapat bahwa istilah “slow learner diberikan untuk anak yang tidak dapat mengerjakan tugas yang seharusnya dapat dikerjakan oleh anak seusianya”.
Dari beberapa pernyataan di atas, disimpulkan bahwa anak lamban belajar adalah anak yang mengalami keterlambatan dan keterbatasan kemampuan belajar serta penyesuaian diri karena memiliki IQ sedikit di bawah normal, yakni berkisar antara 70 sampai 89, sehingga anak tersebut memerlukan waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik.
Jenson (dalam G. L. Reddy, R. Ramar, dan A. Kusuma, 2006, hlm. 2-3) berpendapat “anak lamban belajar dengan IQ 80 sampai 90 lebih lambat dalam menangkap materi pelajaran yang berhubungan dengan simbol, abstrak, atau materi konseptual”. Untuk itu, kebanyakan anak lamban belajar mengalami permasalahan dalam pelajaran membaca dan berhitung.
Berdasarkan perkembangan intelektualnya, Tami Pichla, Jakcie Gracey, dan Karen Currie (2006, hlm. 39) mengemukakan bahwa “anak lamban belajar termasuk anak yang mengalami kelemahan kognitif (cognitive impairment)”. Anak dengan kelamahan kognitif ini membutuhkan pengulangan tambahan untuk mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru, tetapi masih dapat berpartisipasi di sekolah umum dengan bantuan dan modifikasi tertentu. Selain itu, anak dengan kelamahan kognitif dapat mengalami gangguan pemusatan perhatian dan berbicara.
G. L. Reddy, R. Ramar, dan A. Kusuma (2006, hlm. 11-15) mengemukakan empat faktor penyebab anak lamban belajar, sebagai berikut:
1. Kemiskinan
Kemiskinan menciptakan kondisi dan kerentanan yang dapat menyebabkan anak lamban belajar. Misalnya, kemiskinan dapat menganggu kesehatan dan mengurangi kemampuan belajar anak.
2. Kecerdasan orang tua dan jumlah anggota keluarga
Orang tua yang tidak berkesampatan mendapatkan pendidikan yang layak dan jumlah anggota keluarga yang besar dapat menyebabkan anak lamban belajar karena orang tua cenderung kurang memperhatikan perkembangan intelektual anak, tidak memiliki waktu belajar bersama anak, dan memiliki keterbatasan dalam memberikan fasilitas belajar anak, sehingga anak sulit untuk belajar.
3. Faktor emosi
Anak lamban belajar mengalami masalah emosi berat dan berkepanjangan yang menghambat proses belajar anak. Masalah emosi menyebabkan anak lamban belajar memiliki prestasi belajar rendah, hubungan interpersonal yang buruk, dan konsep diri yang rendah.
4. Faktor pribadi
Faktor-faktor pribadi yang dapat menyebabkan anak lamban belajar, meliputi: (1) kelainan fisik, (2) kondisi tubuh yang terserang penyakit, (3) mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, dan berbicara, (4) ketidakhadiran di sekolah, dan (5) kurang percaya diri.
Lebih rinci, Nani Triani dan Amir (2013, hlm. 4-10) menjelaskan faktor-faktor penyebab anak lamban belajar, sebagai berikut:
1. Faktor prenatal (sebelum lahir) dan genetik
Faktor prenatal dan genetik yang dapat menyebabkan anak lamban belajar meliputi: (1) kelainan kromosom yang menyebabkan kelainan fisik dan fungsi kecerdasan, (2) gangguan biokimia dalam tubuh, seperti galactosemia dan phenylketonuria, dan (3) kelahiran prematur, di mana organ tubuh bayi belum siap berfungsi maksimal, sehingga terjadi keterlambatan proses perkembangan.
2. Faktor biologis non keturunan
Faktor biologis non keturunan yang dapat menyebabkan anak lamban belajar, meliputi: (1) ibu hamil mengonsumsi obat-obatan yang merugikan janin atau ibu alkoholis, pengguna narkotika dan zat aditif dengan dosis berlebih yang dapat mempengaruhi memori jangka pendek anak, (2) keadaan gizi ibu yang buruk saat hamil, (3) radiasi sinar X, dan (4) faktor Rhesus.
3. Faktor natal (saat proses kelahiran)
Faktor natal yang dapat menyebabkan anak lamban belajar adalah kondisi kekurangan oksigen saat proses kelahiran karena proses persalinan yang lama atau bermasalah, sehingga menyebabkan transfer oksigen ke otak bayi terhambat.
4. Faktor postnatal (sesudah lahir) dan lingkungan
Faktor postnatal yang dapat menyebabkan anak lamban belajar meliputi: (1) malnutrisi, (2) trauma fisik akibat jatuh atau kecelakaan, dan (3) beberapa penyakit, seperti meningitis dan enchepalis. Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan anak lamban belajar adalah stimulasi yang salah, sehingga anak tidak dapat berkembang optimal.
G. L. Reddy, R. Ramar, dan A. Kusuma (2006, hlm. 6-18) menjelaskan empat karakteristik anak lamban belajar, ditinjau dari faktor-faktor penyebabnya, sebagai berikut:
1. Keterbatasan kapasitas kognitif
Keterbatasan kapasitas kognitif membuat anak lamban belajar mengalami hambatan dalam proses pembelajaran, meliputi: (1) tidak berhasil mengatasi situasi belajar dan berpikir abstrak, (2) mengalami kesulitan dalam operasi berpikir kompleks, (3) proses pengembangan konsep atau generalisasi ide yang mendasari tugas sekolah, khususnya bahasa dan matematika, dan (4) tidak dapat menggunakan dengan baik strategi kognitif.
2. Memori atau daya ingat rendah
Kurangnya perhatian terhadap informasi yang disampaikan adalah salah satu faktor penyebab anak lamban belajar mempunyai daya ingat rendah. Anak lamban belajar tidak dapat menyimpan informasi dalam jangka panjang dan memanggil kembali ketika dibutuhkan.
3. Gangguan dan kurang konsentrasi
Jangkauan perhatian anak lamban belajar relatif pendek dan daya konsentrasinya rendah. Anak lamban belajar tidak dapat berkonsentrasi dalam pembelajaran yang disampaikan secara verbal lebih dari 30 menit.
4. Ketidakmampuan mengungkapkan ide
Kesulitan dalam menemukan dan mengombinasikan kata, ketidakluwesan emosi, dan sifat pemalu membuat anak lamban belajar tidak mampu berekspresi atau mengungkapkan ide. Anak lamban belajar lebih sering menggunakan bahasa tubuh daripada bahasa lisan. Di samping itu, kemampuan anak lamban belajar dalam mengingat pesan dan mendengarkan instruksi cenderung rendah.
Secara lebih rinci, Oemar Hamalik (2008, hlm. 184) mengungkapkan karakteristik anak lamban belajar yang berimplikasi terhadap pembelajaran, sebagai berikut:
1. Anak belajar dalam unit-unit yang lebih singkat.
2. Anak membutuhkan pemeriksaan kemajuan yang lebih intensif dan membutuhkan banyak perbaikan.
3. Anak memiliki pembendaharaan kata yang lebih terbatas.
4. Anak memerlukan banyak kosakata baru untuk lebih memperjelas suatu pengertian.
5. Anak tidak melihat adanya kesimpulan atau pengertian sesudahnya.
6. Anak kurang memiliki kemampuan kreatif dan merencanakan.
7. Anak lebih lambat memperoleh kemampuan mekanis dan metodis.
8. Anak lebih mudah mengerjakan tugas-tugas rutin, tetapi mengalami kesulitan dalam membaca dan melakukan abstraksi.
9. Anak cepat dalam mengambil kesimpulan, tetapi kurang kritis dan mudah puas dengan jawaban yang dangkal.
10. Anak kurang senang dengan kemajuan orang lain.
11. Anak mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan saat masuk sekolah, sehingga anak menjadi mudah marah, kurang percaya diri, dan lebih berminat pada kehidupan di luar sekolah.
12. Anak mudah terpengaruh oleh saran-saran orang lain.
13. Kesulitan belajar anak berumpuk-tumpuk.
14. Anak memiliki ruang minat yang sempit.
15. Anak cenderung pada kegiatan over konvensasi.
16. Anak mempunyai waktu yang lamban.
17. Anak kurang mampu melihat hasil akhir perbuatannya.
18. Anak tidak dapat melihat unsur-unsur yang bersamaan dalam beberapa situasi yang berbeda.
19. Anak memiliki daerah perhatian yang terbatas.
20. Anak secara khusus memerlukan bukti atas kemajauannya.
Anak lamban belajar mengalami masalah belajar dan tingkah laku karena memiliki keterbatasan kemampuan intelektual dan keterampilan psikologis. Hal ini sejalan dengan pendapat Karande, dkk. (dalam Arjmandnia, Ali Akbar dan Keivan Kakabaraee, 2011, hlm. 88) yang menjelaskan masalah umum anak lamban belajar yang ditemukan guru di kelas diantaranya: “(1) memiliki prestasi rendah di semua mata pelajaran, (2) mengalami kesulitan membaca, menulis, atau matematika, (3) mempunyai daya ingat rendah, dan (4) hiperaktif atau kurang memperhatikan”.
Selain masalah belajar, anak lamban belajar juga menghadapi masalah tingkah laku. Masalah tingkah laku anak lamban belajar disebabkan oleh keterbatasan keterampilan psikologis, meliputi: “(1) keterampilan mekanis yang terbatas, (2) konsep diri yang rendah, (3) hubungan interperssnal yang belum matang, (4) permasalahan komunikasi, dan (5) pemahaman terhadap peran sosial yang tidak tepat” (Malik, Najman Iqbal, dkk., 2012, hlm. 136).
Berdasarkan kesemuaan hal di atas, maka untuk mengatasi anak lamban belajar diperlukan cara belajar yang tepat. Berikut beberapa hal yang diterapkan dalam pembelajaran untuk anak lamban belajar:
1. Pahami bahwa anak membutuhkan lebih banyak pengulangan, 3 sampai 5 kali untuk memahami suatu materi dibandingkan anak lain dengan kemampuan rata-rata.
2. Anak lamban belajar memerlukan privat atau tutor khusus untuk mengoptimalkan pembelajaran.
3. Anak lamban belajar memerlukan kelas yang lebih singkat dan tugas yang lebih sederhana.
4. Bantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep baru daripada menuntut mereka menghafal materi.
5. Gunakan demonstrasi dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Hindari verbalisasi yang berlebihan.
6. Jangan memaksa anak untuk bersaing dengan anak yang memiliki kemampuan jauh lebih tinggi. Sebaliknya belajar dengan bekerja sama dapat mengoptimalkan pembelajaran.
7. Berikan konsep yang sederhana sebagai awalan mempelajari materi yang lebih kompleks.
8. Beri anak tugas secara terstruktur dan konkret.
9. Tekankan beberapa hal setelah belajar, berikan motivasi yang bervariasi untuk anak.
10. Berikan kesempatan lebih luas untuk anak bereksperimen dan mempraktikan konsep baru dengan materi yang konkret atau situasi yang menstimulasi.
11. Sederhanakan petunjuk, sehingga yakin bahwa anak dapat memahami petunjuk tersebut.
Lebih rinci, berikut strategi bimbingan yang dapat guru terapkan untuk anak lamban belajar ditinjau dari permasalahan yang dihadapi, sebagai berikut:
1. Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi
a. Ubahlah cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan
Siswa yang mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu cepat atau jika beban menumpuk dengan materi yang kompleks. Oleh karena itu, akan berguna bagi mereka untuk:
1) Memperlambat laju penyampaian materi.
2) Menjaga agar siswa tetap terlibat dengan memberi pertanyaan berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari.
3) Gunakan perangkat visual seperti bagan/skema garis besar materi untuk memberikan gambaran pada siswa mengenai langkah-langkah atau bagian-bagian yang diajarkan.
b. Adakan pertemuan dengan siswa
Siswa mungkin kurang menyadari pentingnya peranan perhatian dalam proses pembelajaran. Dalam pertemuan ini guru memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa memberi hukuman dan tanpa ancaman.
c. Bimbing siswa lebih dekat dengan proses pembelajaran
Dengan membawa lebih dekat siswa secara fisik, secara tidak langsung anak lebih dekat kepada proses pembelajaran.
d. Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang
Kontak mata saat pembelajaran berlansung menjadi sangat penting. Berikan penghargaan atas kinerja siswa. Dapat juga dengan penghargaan verbal yang dilakukan dengan tenang dan lembut.
e. Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan tugas
Siswa akan merasa berkecil hati dan tidak diperhatikan bila dihukum karena tidak menyelesaikan tugas secepat orang lain. Membuat penyesuaian dan jumlah tugas yang harus diselesaikan maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas berdasarkan kemampuan individu akan sangat membantu bagi siswa.
f. Ajarkan self-monitoring of attention
Melatih siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri dengan mengajarkan mereka untuk mencatat berbagai interval apakah mereka memberikan perhatian atau tidak pada saat pengajaran. Catatan ini akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan perhatian.
2. Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat
a. Ajarkan menggunakan highlighting atau menggaris bawahi dengan penanda. Untuk membantu memancing ingatan, mereka harus diberi tahu cara memilih tajuk bacaan, kalimat, dan istilah kunci untuk diberi garis bawah atau tanda dengan highlighter. Kemudian mereview dari bacaan yang sudah digaris bawahi tadi.
b. Perbolehkan menggunakan alat bantu memori (memory aid). Yang mana alat-alat itu dapat berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa juga sebagai alat pengajaran.
c. Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas-tugas kelas dan rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.
d. Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan memberikan tes langsung setelah materi pelajaran disampaikan.
3. Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi
a. Berikan materi yang dipelajari dalam konteks high meaning
Ini berguna untuk mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan mereka atau arti suatu pertanyaan mengenai materi baru. Pengertian tersebut dapat diperkokoh dengan menggunakan contoh, analogi, atau kontras.
b. Menunda ujian akhir dan penilaian
Perlu memberikan umpan balik dan dorongan yang lebih sering bagi anak lamban belajar. Evaluasi terhadap tugas mereka sebagai tambahan pengajaran akan cukup membantu. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari mungkin merupakan cara yang terbaik.
c. Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang tidak mengenal kegagalan
Anak lamban belajar sering kali memiliki pengalaman kegagalan di sekolah. Biasanya mereka memiliki perasaan akan gagal dalam berbagai hal yang mereka lakukan. Menciptakan cipta diri baru bagi anak ini merupakan sesuatu yang penting.
4. Bimbingan bagi anak dengan masalah sosial dan emosional
a. Buatlah sistem penghargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses
Anak lamban belajar perlu memahami sistem penghargaan ini di kelas dan merasa ikut serta di dalamnya. Jangan sampai siswa yang berkesulitan merasa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapat penghargaan yang diterima oleh siswa lain.
b. Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain
Anak lamban belajar tidak memiliki kesadaran yang jelas pada sikapnya sendiri serta dampaknya bagi orang lain. Anak lamban belajar perlu dibantu untuk mengenal sikapnya sendiri dan dampaknya pada orang lain. Berbicara terbuka dan penuh perhatian kepada siswa ini mengenai sikapnya dapat menjadi langkah penting dalam membentuk hubungan yang saling percaya.
c. Mengajarkan sikap positif
Ketika anak lamban belajar lebih sadar terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan yang baik dan citra diri yang lebih positif.
d. Minta bantuan
Jika sikap anak lamban belajar sangat tidak layak atau sikap negatifnya tetap ada ketika semua cara telah dicoba, jangan ragu untuk meminta bantuan. Pertolongan ini bisa datang dari psikolog, konselor, orang tua, guru lain, atau teman sejawatnya. Yang terpenting harus dipahami bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan.

Referensi
Arjmandia, Akbar, A. & Kakabaraee, K. (2011). The Investigation of Parents Attitude Toward Inclusive Education for Slow Learners. International Journal on New Trends in Education and Their Implications October, November, December 2011. Vol 2 (4). hlm. 88.
Hamalik, O. (2008). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Malik, Iqbal, N., dkk. (2012). Effect of Academic Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners. Pakistan Journal of Psychological Research, Vol 27 (1). hlm. 136.
Mumpuniarti (2007). Pendekatan Pembelajaran bagi Anak Hambatan Mental. Yogyakarta: Kanwa Publisher.
Pichla, T., Gracey, J., & Currie, K. (2006). Teaching All Students Staff Guide to Accomodations and Modifications. Michigan: Huron Intermediate School District.
Reddy, G. L., Ramar, R., & Kusuma, A. (2006). Slow Learner: Their Psychology and Instruction. New Delhi: Discovery Publishing House.
Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Triani, N., & Amir (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow Learner). Jakarta: Luxima.


EmoticonEmoticon