Thursday, 19 January 2017

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Sekolah Dasar



Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Sekolah Dasar
Karya : Siti Putri Indriani

faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan anak sekolah dasar
Pada tulisan sebelumnya telah dibahas mengenai faktor internal yang mempengaruhi perkembangan anak sekolah dasar, selanjutnya membahas mengenai faktor eksternalnya. Faktor eksternal berasal dari luar diri manusia yaitu segala hal yang diterima manusia dari lingkungannya. “Lingkungan adalah suatu norma, harapan, dan kepercayaan dari personil-personil yang terlibat dalam organisasi tempat belajar, yang dapat memberikan dorongan untuk bertindak dan mengarahkan pada prestasi siwa yang tinggi” (Sulhan, 2006). Kondisi lingkungan menentukan hasil akhir perkembangan anak setelah sebelumnya diketahui faktor internal yang mempengaruhi. Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah lingkungan dapat mengoptimalkan potensi anak yang ada ataukah sebaliknya justru lingkungan yang tidak dapat membantu aktualisasi potensi anak. Proses belajar anak pun dipengaruhi lingkungan sekitarnya, apakah anak belajar dengan baik atau sama sekali tidak belajar apapun. Oleh karena itu, lingkungan berpengaruh juga terhadap perkembangan anak, khususnya anak sekolah dasar. Pengaruh lingkungan terbagi menjadi dua, yaitu lingkungan non sosial dan sosial.
1.        Lingkungan Non Sosial
Lingkungan non sosial adalah suatu hal yang berada di luar diri manusia namun tidak berhubungan dengan manusia lain. Diantaranya adalah :
a.       Gizi
Gizi merupakan bagian dari kebutuhan fisik manusia, anak akan memenuhi tugas perkembangannya dengan baik jika kebutuhan fisiknya terpenuhi. Gizi erat kaitannya dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Menurut Chairinniza K. Graha (diakses dari http://www.seputarpengetahuan.com/2016/06/12-pengertian-gizi-menurut-para-ahli-dan-who-lengkap.html) gizi adalah unsur yang terkandung di dalam makanan, dimana unsur-unsur itu dapat memberikan suatu manfaat bagi tubuh dan ketika mengkonsumsinya tubuh menjadi sehat. Oleh karena itu, anak harus mendapatkan makanan baik dengan gizi seimbang. Sutton-Smith, 1973 (dalam Amin Budiamin, dkk. 2006. hlm. 23) mengemukakan ada beberapa pengaruh buruk terhadap perkembangan mental anak, jika ia kekurangan gizi, diantaranya:
1)      Anak mengalami gangguan emosi
2)      Anak mengalami kemampuan mental rendah dan keabnormalan fisik
3)      Anak mengalami pertumbuhan syaraf otak yang kurang sempurna
4)      Anak mengalami ketegangan psikologis
Dari uraian menurut Sutton-Smith tersebut sudah jelas bahwa makanan yang bergizi pun berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak, terutama anak pada masa pertumbuhan baik masih dalam kandungan sampai dengan tingkat sekolah dasar.
b.      Suasana Lingkungan
Suasana lingkungan yang dimaksudkan disini berhubungan dengan perilaku orang-orang atau kondisi tempat pada lingkungan tertentu. Suasana yang biasa ditemui adalah suasana kondusif atau tenang dan suasana ribut atau bising. Kebanyakan orang lebih menyukai lingkungan dengan suasana kondusif atau tenang untuk belajar namun tidak menutup kemungkinan ada pula yang dapat belajar saat keadaan lingkungannya ribut atau bising. Jika kita perhatikan, suasana ribut atau bising yang terus-menerus menyelimuti kehidupan anak, hal ini dapat mengganggu pendengaran anak. Akibatnya anak sukar belajar berbahasa. Begitu pun jika suasana ribut atau bising ditemui anak di sekolah, akan menyebabkan motivasi anak untuk belajar berkurang. Apalagi anak sekolah dasar, ketika ada kebisingan di luar sekolahnya, misalnya ada kereta lewat karena sekolahnya dekat rel kereta, maka anak akan berjajar dijendela untuk menyaksikan kereta melintas.
Selanjutnya kondisi tempat anak dalam belajar, jika kondisi tempat menyebabkan anak terserang berbagai penyakit misalnya karena ruangan banyak debu dan sampah maka akan banyak anak yang sakit sehingga mengakibatkan tingkah laku anak dalam belajar terganggu.
2.        Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah hubungan antara manusia dengan manusia dalam suatu tempat. Diantaranya adalah:
a.       Lingkungan keluarga
Keluarga adalah hubungan sosial terdekat bagi anak dan keluarga akan memperkenalkan dunia yang sesungguhnya kepada anak. Oleh karena itu, keluarga sangat berpengaruh besar terhadap perkembangana anak. Utamanya adalah sikap atau tipe pelayanan orang tua kepada anaknya. Menurut Amin Budiamin, dkk. (2006. hlm. 24) ada berbagai tipe pelayanan keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak. Masing-masing tipe pelayanan itu adalah sebagai berikut:
1)      Tipe pelayanan orang tua hangat
2)      Tipe pelayanan orang tua yang mengekang
3)      Tipe pelayanan orang tua yang mengabaikan
4)      Tipe pelayanan orang tua yang bermusuhan
Dengan dipahaminya tipe pelayanan orang tua tersebut, maka menurut Amin Budiamin, dkk (2006. hlm. 25) dapat disimpulkan bahwa bagi anak yang sedang berada pada periode perkembangan setingkat sekolah dasar dibutuhkan situasi sosial keluarga yang menampakkan ciri-ciri:
1)        Melayani dan merangsang dorongan ingin tahu anak
2)        Memberikan kasih sayang dan perhatian yang penuh
b.      Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah tempat dimana anak akan belajar yang dibatasi oleh lingkungan atau tempat, kuantitas dan waktu. Semua direncanakan sebaik-baiknya agar anak dapat belajar dengan baik. Oleh karena itu, agar anak dapat belajar dengan baik, maka suasana sosial-emosional dalam kehidupan akademisi di sekolah pun harus baik karena dapat mempengaruhi proses belajar anak dan sekolah dapat membentuk keterampilan sosial-emosional anak.
Di sekolah guru menjadi contoh nyata kehidupan anak dari mulai penampilan, sikap, hingga hal-hal kecil lainnya. Ketika sikap guru kasar yang tidak disukai anak maka akan berpengaruh kepada perkembangan belajar anak, apalagi berkaitan dengan semangat dalam belajar. Sehingga di sekolah dibutuhkan guru yang dapat berperilaku baik kepada anak-anaknya, mencintai anak-anak, berkomunikasi baik dengan anak juga orang tua, memberikan pelajaran berharga kepada anak, menjadi tokoh inspirasi anak.
c.       Lingkungan Teman Sebaya
Anak sekolah dasar lebih banyak berinteraksi dengan teman sebayanya dibanding orang tua. Teman menjadi kebutuhan penting bagi anak namun tidak semua anak menjunjung tinggi nilai-nilai moral sehingga perlu adanya perhatian khusus bagi orang tua dan guru dalam mengarahkan anak-anaknya sehingga berada dalam koridor yang baik sehingga ia dapat mencapai perkembangannya dengan baik pula.

Daftar Pustaka
N, Sulhan. (2006). Pembangunan Karakter Pada Anak. Surabaya: Intelektual Club.
Graha, Chairinniza k. (Tanpa Tahun). 12 Pengertian Gizi Menurut Para Ahli dan WHO Lengkap. [Online]. Diakses dari http://www.seputarpengetahuan.com/2016/06/12-pengertian-gizi-menurut-para-ahli-dan-who-lengkap.html.


EmoticonEmoticon