Sunday, 15 January 2017

Faktor Internal yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Sekolah Dasar


Faktor Internal yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Sekolah Dasar
Karya : Siti Putri Indriani

faktor internal yang mempengaruhi perkembangan anak sekolah dasar
Setiap individu yang hidup akan mengalami 8 ciri-ciri makhluk hidup, salah satu cirinya adalah perkembangan. Sesuai dengan pandangan Santrock & Yussen, 1992 (dalam Amin Budiamin, dkk., 2006) perkembangan adalah pola perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlangsung sepanjang hayat. Proses perubahan pada perkembangan menyangkut aspek-aspek psikis atau rohaniah yang menunjukkan peningkatan kualitas, yaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi. Sebagai individu yang sedang berkembang maka anak tingkat sekolah dasar dipengaruhi oleh interaksi antara dua faktor yang sangat penting, yaitu faktor keturunan (hereditas) dan lingkungan. Kali ini penulis akan membahas satu faktor terlebih dahulu yaitu faktor keturunan. Faktor keturunan merupakan faktor internal yang bersumber dalam diri manusia.
Keturunan atau dalam bahasa Inggris adalah heredity merupakan segala ciri, sifat dan kemampuan yang dimilki individu karena kelahirannya yang diterima dari kedua orang tuanya. Faktor ini tidak dapat diukur jika orang tua tidak mau anaknya seperti mereka, yang dapat dilakukan adalah memperbaiki atau mengembangkan potensi yang ada. Ada dua jenis sifat yang diturunkan secara hereditas, yaitu sifat intelektual dan sifat temperamen (kepribadian). Setiap anak mewariskan kualitas intelektual dan temperamen yang berbeda.
1.    Potensi Intelektual
Setiap anak memiliki kualitas intelektual yang berbeda-beda, ada yang memiliki kualitas tinggi, sedang, dan rendah. Anak yang memiliki intelektual semakin tinggi maka baginya akan cepat dan mudah menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Sebaliknya jika memiliki intelekual semakin rendah maka baginya semakin lambat tugas-tugas perkembangan tercapai. Bahkan ada anak yang tidak dapat mencapai tugas perkembangannya. Hal ini dapat terlihat dari Intelligence Quotient (IQ) yang dimiliki anak. IQ adalah angka yang menjelaskan tingkat kecerdasan anak.
Lebih jelasnya menurut Setiawati dan Ima Ni’mah Chudari (2007, hlm. 43) tingkat kecerdasan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Kelas Interval Skor IQ
Klasifikasi
140 – ke atas
Genius (Luar Biasa)
120 – 139
Very Superior (Sangat Cerdas)
110 – 119
Superior (Cerdas)
90 – 109
Normal (Average)
80 – 89
Dull (Bodoh)
70 – 79
Border Line (Batas Normal)
50 – 69
Morrons (Debiel)
30 – 49
Embicile (Embisiel)
Dibawah 30
Idiot
Genius merupakan tingkat tertinggi dari kecerdasan manusia, orang genius memiliki kecerdasan luar biasa, umumnya mereka mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menemukan hal baru walaupun ia tidak sekolah. Selanjutnya anak-anak yang very superior atau sangat cerdas mereka lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan yang sangat baik mengenai bilangan, pembendaharaan kata yang luas, dan cepat memahami pengertian yang abstrak. Sedangkan anak cerdas mereka sangat berhasil dalam pekerjaan sekolahnya. Kemudian tingkat kecerdasan normal merupakan tingkat yang sangat banyak populasinya, mereka berada pada tingkat kecerdasan rata-rata. Dibawah tingkat kecerdasan normal adalah manusia dengan tingkat kecerdasan rendah, terdiri dari dull (bodoh) berada dibawah normal yang agak lambat dalam belajarnya sehingga anak ini dapat memasuki sekolah tingkat dasar tetapi memerlukan bimbingan khusus secara terus menerus dari guru. Hal ini mengharuskan guru memiliki jiwa perhatian, ketekunan, kreativitas, dan kesabaran untuk membimbing anak. Selanjutnya border line (batas normal) merupakan tingkat kecerdasan dibawah dull yang masih bisa dibimbing seperti halnya anak pada tingkat dull namun harus lebih intens. Morrons (debiel) anak ini mampu menguasai kemampuan yang bersifat keterampilan yang sedikit kompleks, misalnya melipat dan menyusun, mereka merupakan kelompok yang harus dimasukkan ke sekolah luar biasa. Embicile (embisiel) anak ini paling tinggi hanya mampu dilatih untuk menguasai keterampilan yang sederhana yaitu berkaitan dengan perawatan dirinya sendiri. Terakhir idiot, anak idiot merupakan tingkat kecerdasan yang paling rendah diantara tingkat lain yang dimiliki manusia maka akibatnya anak tidak memiliki kemampuan apa-apa bahkan mengurus dirinya sendiri mereka tidak mampu, juga tidak dapat membedakan mana yang boleh atau tidak boleh dimakan. Sudah tentu anak ini tidak dapat belajar atau dididik. Semua tingkat kecerdasan itu akan guru temui disekolahnya, oleh karena itu perlu pemahaman yang khusus agar dapat menyikapi potensi intelekual anak tersebut, sehingga tidak ada anak emas di kelas atau anak yang dibangga-banggakan, sejatinya semua anak harus mencapai kompetensi yang sama.
2.    Temperamen (Kepribadian)
Kepribadian setiap anak akan mewarnai interaksi di lingkungannya, misalnya saja di sekolah, khususnya di kelas. Guru kelas akan menemukan anak dengan berbagai tingkah laku. Temperamen merupakan sebagian dari kepribadian. Menurut Amin Budiamin, dkk. (2006, hlm. 20) kepribadian adalah sifat-sifat khas seseorang yang menentukan kecenderungan orang itu dalam bertingkah laku. Kepribadian itu diperoleh dari hereditas dan belajar, yaitu melalui pembiasaan-pembiasaan dalam menghadapi lingkungan. Kepribadian ini terkait erat dengan sifat-sifat emosional dan sosial dalam menghadapi lingkungan.
Temperamen merupakan sifat-sifat emosi dan sosial yang sudah dibawa sejak lahir, dan bukan merupakan hasil belajar. Semenjak lahir anak sekolah dasar sudah memiliki sifat emosi dan sosial dalam menghadapi lingkungan. Menurut Yung, 1947 (dalam Amin Budiamin, dkk., 2006, hlm. 20) bahwa ada dua jenis temperamen, yaitu introvert dan ekstrovert. Anak sekolah dasar memiliki temperamen introvert cenderung menampakkan sifat-sifat sebagai berikut:
a.       Pendiam, tertutup dan menunjukkan sifat-sifat dingin atau perasaan sepi.
b.      Sukar bagi mereka untuk memulai hubungan dengan orang lain.
c.   Cenderung melakukan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat subjektif, sehingga sukar untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain dan selalu menuntut pembenaran dari orang lain.
d.      Mudah tersinggung dan mudah mencurigai orang lain sehingga tidak tahan terhadap kritikan.
e.       Emosi yang dingin sehingga teman sebaya kurang senang bergaul dengannya.
Sedangkan anak-anak sekolah dasar yang memiliki temperamen ekstrovert menampakkan tingkah laku sebagai berikut:
1)      Mudah bergaul, banyak berbicara dan ramah.
2)    Mudah membina keakraban dengan anak lain dan memiliki dorongan yang kuat untuk memulai hubungan.
3)   Cenderung melakukan pertimbangan yang bersifat objektif. Mudah memahami pikiran dan perasaan orang lain, sehingga mudah menyesuaikan pikiran atau pertimbangannya dengan pikiran dan pertimbangan orang lain.
4)  Tabah, tidak mudah tersinggung, dan tahan kritikan. Hampir tidak memiliki sifat curiga terhadap orang lain.
5)      Emosi yang hangat, periang, dan impulsif.
Walaupun terdapat dua jenis temperamen, namun bisa jadi ada anak yang tidak dominan disalah satu dan cenderung gabungan antara keduanya, hal ini tidak menjadi masalah. Sehingga diharapkan tingkah laku anak terkontrol dengan baik di sekolah maupun keluarga. Guru perlu memahami sifat-sifat khas anak, sehingga dapat memberikan pelayanan yang sesuai dan pembelajaran menjadi lebih efektif.

Daftar Pustaka
Budiamin, Amin., dkk. (2006). Perkembangan Peserta Didik Edisi Kesatu. Bandung: UPI PRESS.
Setiawati dan Chudari, Ima Nimah. (2007). Bimbingan dan Konseling Edisi Kesatu. Bandung: UPI PRESS.


EmoticonEmoticon