Wednesday, 11 January 2017

Keselamatan dan Keamanan Anak



Keselamatan dan Keamanan Anak
Karya : Siti Putri Indriani
keselamatan dan keamanan anak
“Anak-anak adalah manusia yang sedang mengalami proses pertumbuhan, baik fisik maupun sosial, serta awal dalam kehidupan manusia” (Nana Djumhana, dkk, 2009 hlm. 421). Menurut Undang-Undang RI Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, menyebutkan bahwa “anak adalah mereka yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah”. Berdasarkan dua definisi di atas, anak adalah manusia dengan usia kurang dari 21 tahun dan sedang mengalami masa pertumbuhan, perkembangan, serta mencari tahu hal baru yang ditemuinya. Namun pada rentang usia tersebut, anak yang sangat diperlukan perhatian khusus adalah anak usia dini yaitu berada pada jenjang sekolah dasar. Hal utama yang harus diperhatikan adalah keselamatan dan keamanan anak, terlebih saat berada di sekolah yang menjadi tanggung jawab sekolah, yaitu guru. Oleh karena itu, guru harus mengetahui dan memahami bagaimana keselamatan dan keamanan anak. Sesungguhnya pada masa ini anak memiliki kelemahan, yaitu:
1.    Kondisi fisik masih lemah, tenaga tergolong kecil, dan belum terlalu mengenal kondisi lingkungannya.
2.    Terlalu dini dalam menghadapi permasalahan dirinya sendiri dan menghadapi suatu kecelakaan, misalnya ketika terluka.
3.    Anak usia 4-7 tahun sering mengalami kecelakaan, misalnya terjatuh saat lari-larian atau memanjat pagar/pohon, makan makanan berbahaya, bermain air atau api, dan lain sebagainya.
Dari perjelasan di atas, maka kecelakaan yang terjadi pada anak-anak adalah terjatuh, terkilir, terbakar, terbentur, keracunan, tenggelam, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, untuk melindungi keselamatan dan keamanan anak maka yang harus dilakukan adalah guru harus bisa dan mengerti mengenai Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) adalah pertolongan pertama yang harus segera diberikan kepada seseorang yang menderita kecelakaan dan atau penyakit mendadak di tempat kejadian/sekolah (Nana Djumhana, dkk, 2009 hlm. 421). Hal ini dilakukan sebelum korban mendapat penanganan khusus dari tenaga medis. P3K memiliki beberapa tujuan, yaitu:
1.    Menyelamatkan nyawa korban kecelakaan.
2.    Meringankan beban korban dengan mengurangi rasa nyeri dan cemas.
3.    Menjaga ketenangan fisik dan mental korban.
4.    Mencegah cidera agar tidak tambah parah.
5.    Mencari pertolongan lebih lanjut secepat mungkin.
Selain tujuan, P3K pun mempunyai prinsip pokok, antara lain:
1.    Menjaga pernafasan korban agar normal seperti biasanya.
2.    Melakukan pernafasan buatan dari mulut ke mulut jika terlihat pernafasan berhenti.
3.    Bila terlihat ada darah keluar dari tubuh korban, hentikan dengan segera dan upayakan korban tetap sadar.
4.    Korban yang tidak sadar dan terdapat luka pada perut, tidak diberikan makanan dan minuman.
5.    Korban yang mengalami luka bakar dan keracunan dalamkeadaan sadar,diberikan minuman dalam jumlah yang banyak.
6.    Melakukan tindakan P3K dengan tepat, cepat, dan hati-hati.
7.    Tetaplah waspada akan ancaman bahaya selanjutnya pada korban.
8.    Jika korban terlihat shock, terlentangkan korban dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya.
9.    Apabila korban muntah-muntah dalam keadaan setengah sadar, maka telungkupkan korban dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh lain untuk mencegah tersedak oleh darah, muntahan, atau cairan lain kedalam paru-paru dan korban tidak boleh dipindahkan dari tempat kejadian, sebelumdipastikan tingkat keparahan cidera yang dialaminya.
Sebagai persiapan pengobatan pada kecelakaan, maka kotak P3K yang harus ada berupa peralatan dan obat-obatan diantaranya :
1.    Peralatan P3K:
a.       Buku petujuk P3K
b.      Pembalut segitiga (mitella) minimum 2 buah
c.       Pembalut biasa ukuran 2 cm, 5 cm, dan 10 cm
d.      Kasa steril, 1 dos
e.       Kapas putih. 50-100 gram
f.       Snelverband, 1 buah
g.      Plester, plester cepat (tensoplas dll)
h.      Softratule yaitu obat luka karena panas, bidai (spalk) ukuran untuk paha dan betis
i.        Gunting perban
j.        Pinset
k.      Kertas pembersih (tisu)
l.        Sabun
m.    Lampu senter
n.      Pisau lipat
o.      Pipet
2.    Obat-obatan:
a.       Obat pelawan rasa sakit (asetosal, antalgin, dsb)
b.      Obat sakit perut dan mulas (norit)
c.       Obat antialergi (amoniak cair 25% untuk menyadarkan orang pingsan)
d.      Mercorochroom (obat merah)
e.       Obat tetes mata (salep mata berantibiotika, salep sulfa, salep anti histaminika)
f.       Obat gosok atau balsem
g.      Larutan rivanol 1/1000 sebanyak 500cc
h.      Antiseptika (betadine, dettol, dll)
i.        Tablet garam (garam dapur)

Daftar Pustaka
Djumhana, N, dkk. (2009). Konsep Dasar Biologi Sekolah Dasar. Bandung: UPI PRESS.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.


EmoticonEmoticon