Wednesday, 25 January 2017

Kurikulum Rencana Pendidikan 1964



Kurikulum Rencana Pendidikan 1964
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
kurikulum rencana pendidikan 1964
Menjelang tahun 1964 pemerintah kebali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan Indonesia. Di penghujung era Presiden Soekarno muncul kurikulum yang diberi nama Kurikulum Rencana Pendidikan 1964. Pada kurikulum ini fokus utamanya, yakni konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembelajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem solving).
Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 ini menitikberatkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana. Pancawarhana ini berwujud lima kelompok bidang studi yang terdiri dari:
1. Kelompok pengembangan moral
Pengembangan ini dimaksudkan untuk memberikan kesanggupan pada anak sebagai makhluk Tuhan, sebagai manusia anggota masyarakat, warga negara, dan warga dunia. Pada pengembangan moral nasional, anak dibimbing untuk memperingati perayaan Nasional, mengenal pahlawan yang telah berjasa dalam perjuangan kebangsaan, mengenal hasil karya yang bercorak nasional, mengenal lagu-lagu kebangsaan Indonesia yang dapat dinyanyikan di setiap upacara bendera. Selain itu, dibiasakan pula untuk berbuat sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam lingkungannya, yakni dengan memberikan pengetahuan tentang alam sekitar misalnya, orang-orang, binatang-binatang, tumbuhan-tumbuhan, benda-benda, nilai-nilai, dan norma-norma. Bahan yang digunakan merupakan bahan yang terdapat di lingkungan keluarga, sekolah, dan peristiwa yang dekat dengan tempat anak tinggal. Semua hal tersebut dilakukan dalam bentuk yang sederhana disesuaikan dengan kesanggupan anak.
Sedangkan pengembangan moral internasional dimaksudkan agar anak berkembang perasaannya yang meliputi perkembangan perasaan kemanusiaan, menghargai hak orang lain, menghormati dan menghargai sesama manusia, serta menentang ketidakadilan dan  penindasan.
2. Kelompok pengembangan kecerdasan
Melalui pengembangan kecerdasan diharapkan anak menjadi manusia yang cerdas, sanggup memecahkan persoalan hidup sehari-hari, memahami tugas dan kewajibannya baik sesama manusia, masyarakat, dan bangsa. Perkembangan ini dipupuk dengan memberi berbagai pengalaman dengan membiasakan anak untuk mengamati sendiri serta mengenal persamaan dan perbedaan. Melalui kegiatan pengamatan, anak akan mengembangkan berbagai pengertian/konsep. Anak diberi kesempatan dan kebebasan untuk memecahkan berbagai persoalan sehingga anak akan terbiasa menghadapi permasalahan dan mendapatkan cara untuk memecahkan persoalan tersebut.
3. Kelompok pengembangan emosional/artistik
Pengembangan ini dimaksudkan untuk mengembangkan perasaan anak sehingga anak dapat memiliki keindahan lahir dan batin serta dapat membedakan antara yang indah dan tidak indah, yang baik dan kurang baik. Perasaan keindahan diperhalus melalui ekspresi dan dengan cerita atau nyanyian. Melalui berbagai kegiatan tersebut anak akan dapat menikmati dan menghargai serta menggunakan untuk memperoleh arti keindahan.
4. Kelompok pengembangan keprigelan (keterampilan)
Pengembangan keprigelan pada dasarnya adalah pengembangan motorik halus anak. Pengembangan keprigelan merupakan hasil olahan tangan anak sendiri dalam membuat suatu karya sehingga memupuk kecakapan pada diri anak. Anak dibiasakan mengolah pengalamannya dengan membuat suatu karya, sehingga berkembang pula nilai-nilai ketelitian, kerajinan, ketekunan, rasa tanggung jawab, mengembangkan rasa keindahan, dan daya fantasi. Di samping itu, anak belajar menghargai hasil karyanya dan hasil karya orang lain.
5. Kelompok pengembangan jasmaniah
Pengembangan jasmani berpusat pada usaha-usaha untuk hidup sehat dan terhindar dari penyakit. Selain itu, memperkenalkan anak dan menanamkan pengertian tentang pengaruh makanan serta pakaian kepada anak melalui kehidupan sehari-hari serta memupuk kebiasaan hidup sehat dan bersih. Melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan akan dapat mengembangkan jasmani anak sehingga terjadi pemeliharaan jasmani, untuk memperkenalkan dan menanamkan pengertian tentang manfaat hidup sehat dengan memperhatikan kebersihan makanan, minuman, dan pakaian melalui kehidupan sehari-hari.
Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak.
Konsekuensi Pancawardhana dalam dunia pendidikan sangat jelas. Kurikulum harus diarahkan untuk mengembangkan kualitas yang dinyatakan dalam Pancawardhana dalam semangat Manipol-USDEK (Manifestasi Politik/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang kala itu merupakan haluan negara Republik Indonesia).
Di samping itu, tujuan pendidikan berubah dari menghasilkan manusia yang susila dan demokratis menjadi manusia susila yang sosialis dan pelopor dalam membela Manipol-USDEK. Perubahan yang sangat menonjol dalam kurikulum adalah adanya mata pelajaran yang diarahkan untuk pembentukan warga negara yang bercirikan Manipol-USDEK. Mata pelajaran ini berisikan materi pelajaran yang sangat ditentukan oleh ideologi dan politik.
Pada kurikulum ini cara belajar dilakukan dengan metode yang disebut gotong royong terpimpin. Selain itu, pemerintah menerapkan hari Sabtu sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi kebebasan berlatih kegiatan di bidang kebudayaan, kesenian, olahraga, dan permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 adalah alat untuk membentuk manusia pancasialis yang sosial Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II tahun 1960, meliputi:
1. Pendidikan sebagai pembina Manusia Indonesia Baru yang berakhlak tinggi.
2. Pendidikan sebagai produsen tenaga kerja dalam semua bidang dan tingkatan.
3. Pendidikan sebagai lembaga pengembang Kebudayaan Nasional.
4. Pendidikan sebagai lembaga pengembang ilmu pengetahuan, teknik, dan fisik/mental.
5. Pendidikan sebagai lembaga penggerak seluruh kekuatan rakyat.
Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 mengharuskan anak didik berkembang secara harmonis menjadi manusia Pancasila yang bertanggung jawab atas tercapainya tiga kerangka tujuan Revolusi Nasional.
Penyelenggaraan pendidikan dengan Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 mengubah penilaian di rapor bagi kelas I dan II yang asalnya berupa skor 10-100 menjadi huruf A, B, C, dan D. Sedangkan bagi kelas II hingga VI tetap menggunakan skor 10-100.
Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 bersifat separate subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima kelompok bidang studi (Pancawardhana). Mata pelajaran yang ada pada kurikulum ini, sebagai berikut:
1. Kelompok pengembangan moral
a. Pendidikan kemasyarakatan
b. Pendidikan agama/budi pekerti
2. Kelompok pengembangan kecerdasan
a. Bahasa daerah
b. Bahasa Indonesia
c. Berhitung
d. Pengetahuan alamiah
3. Pengembangan emosional atau artistik
a. Pendidikan kesenian
4. Pengembangan keprigelan
a. Pendidikan keprigelan
5. Pengembangan jasmani
a. Pendidikan jasmani/kesehatan


EmoticonEmoticon