Wednesday, 18 January 2017

Latar Belakang dan Sejarah Sosiologi



Latar Belakang dan Sejarah Sosiologi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Lahirnya sosiologi di latar belakangi oleh perubahan masyarakat di Eropa barat akibat Revolusi Industri (Inggris) dan Revolusi Perancis. Banyak orang pada masa itu berharap bahwa Revolusi Industri dan Revolusi Perancis bakal membawa kemajuan bagi semua anggota masyarakat. Dengan munculnya Revolusi Industri, pola-pola tradisional ditinggalkan dan muncullah teknologi baru yang mempermudah sekaligus meningkatkan produksi masyarakat.
Dengan adanya Revolusi Perancis, semua orang berharap bahwa kesamaan (egalite), persaudaraan (fraternite), dan kebebasan (liberte) yang menjadi semboyan revolusi benar-benar akan terwujud. Ketiga semboyan itu memiliki kaitan yang erat satu sama lain. Kalau pada masa feodalisme sebelum Revolusi Perancis, masyarakat terkotak-kotak dalam lapisan sosial yang sangat membatasi ruang bagi lapisan sosial yang lebih rendah. Setelah revolusi semua orang berharap bahwa akses terhadap semua sumber daya sosial dan ekonomi (misalnya, pendidikan, pekerjaan) harus terbuka lebar bagi semua orang, bukan hanya para raja, bangsawan, dan para klerus. Demikian juga halnya dengan kebebasan dan persaudaraan. Sebelumnya, ruang politik dan sosial masyarakat dikekang lewat berbagai macam peraturan dan kondisi sosial masyarakat yang tidak adil. Setelah revolusi semua orang berharap semua itu tidak akan terjadi lagi. Dengan demikian, terciptalah persaudaraan yang sejati, dalam arti tidak ada lagi yang mengkotak-kotakkan kedudukan, pangkat, kelas sosial, dan kekayaan. Hal tersebut bukan lagi merupakan elemen-elemen pemisah sebab sekarang ini kita semua sama dan bebas.
Namun pada kenyataannya berbeda dengan apa yang diharapkan. Revolusi memang telah mendatangkan perubahan, namun pada saat yang sama juga telah mendatangkan kekhawatiran yang lebih besar. Hal yang terjadi adalah timbulnya anarki (situasi tanpa aturan) dan kekacauan (chaos) yang lebih besar setelah Revolusi Perancis. Di samping itu, sebagai akibat dari Revolusi Industri, timbul kesenjangan sosial yang baru antara yang kaya dengan yang miskin. Kelas-kelas sosial bukannya dihapus tetapi semakin nyata. Kaum buruh semakin ditekan oleh segelintir orang yang memiliki modal dan perusahaan (bourgeoisie). Kaum bourgeoisie ialah kaum yang menguasai alat produksi. Dengan demikian, konflik antar kelas menjadi tidak terhindarkan.
Banyak sekali ketegangan-ketegangan pada saat itu seperti pendiskriminasian terhadap orang miskin. August Comte adalah orang yang pertama kali membuat deskipsi ilmiah atas situasi sosial seperti ini. Dan dialah yang pertama kali menggunakan kata "sosiologi".
Kita mungkin bertanya bagaimana perkembangan sosiologi hingga mencapai bentuknya seperti sekarang. Sosiologi awalnya menjadi bagian dari filsafat sosial. llmu ini membahas tentang masyarakat. Namun saat itu, pembahasan tentang masyarakat hanya berkisar pada hal-hal yang menarik perhatian umum saja, seperti perang, ketegangan atau konflik sosial, dan kekuasaan dalam kelas-kelas penguasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pembahasan tentang masyarakat meningkat pada cakupan yang lebih mendalam yakni menyangkut susunan kehidupan yang diharapkan dan norma-norma yang harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat. Sejak itu, berkembanglah suatu kajian baru tentang masyarakat yang disebut sosiologi.
Sosiologi berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri karena adanya ancaman terhadap tatanan sosial yang selama ini dianggap sudah seharusnya demikian nyata dan benar. Ancaman tersebut meliputi:
1.    Terjadinya dua revolusi, yakni revolusi industri dan Revolusi Perancis.
2.    Tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15.
3.    Perubahan di bidang sosial dan politik.
4.    Perubahan yang terjadi akibat gerakan reformasi yang dicetuskan Martin Luther.
5.    Meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan modern.
6.    Berkembangnva kepercayaan pada diri sendiri.
Ancaman-ancaman tersebut menyebabkan perubuhan-perubahan jangka panjang yang ketika itu sangat mengguncang masyarakat Eropa dan seakan membangunkannya setelah terlena beberapa abad. Auguste Comte, seorang filsuf Prancis. melihat perubahan-perubahan tersebut tidak saja bersifat positif seperti berkembangnva demokratisasi dalam masyarakat, tetapi juga berdampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah terjadinya konflik antar kelas dalam masyarakat. Konflik-konflik tersebut terjadi karena hilangnva norma atau pegangan (normless) bagi masvarakat dalam bertindak. Setelah pecahnva Revolusi Prancis, masyarakat Prancis dilanda konflik antar kelas. Hal itu terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat.
Oleh karena itu, Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Namun, Comte belum berhasil rnengembangkan hukum-hukum sosial tersebut menjadi sebuah ilmu. Ia hanya memberi istilah bagi ilmu yang akan lahir itu dengan istilah sosiologi. Sosiologi baru berkembang menjadi sebuah ilmu setelah Emile Durkheim mengembangkan metodologi sosiologi melalui bukunya “Rules Of Sosiological Method”. Meskipun demikian, atas jasanya terhadap lahirnya sosiologi, Auguste Comte tetap disebut sebagai Bapak Sosiologi. Meskipun Comte mendapatkan istilah Sosiologi, Herbert Spencer lah yang mempopulerkan istilah tersebut melalui buku “Principles of Sociology. Di dalam buku tersebut, Spencer mengembangkan sistem penelitian tentang masyarakat. Ia menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang evolusi sosial yang diterima secara luas di masyarakat. Menurut Comte, suatu organ akan lebih sempurna jika organ itu bertambah kompleks karena ada diferensiasi (proses pembedaan) di dalam bagian-bagiannya. Spencer melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang tersusun atas bagian-bagian yang saling bergantung sebagaimana pada organisme hidup. Evolusi dan perkembangan sosial pada dasarnya akan berarti jika ada peningkatan diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari homogen ke heterogen dan dari kondisi yang sederhana ke yang kompleks. Setelah buku Spencer tersebut terbit, sosiologi kemudian berkembang dengan pesat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
latar belakang dan sejarah sosiologi
Auguste Comte (Bapak Sosiologi)
Sejak jaman kerajaan di Indonesia sebenarnya para raja dan pemimpin di Indonesia sudah mempraktikkan unsur-unsur sosiologi dalam kebijakannya begitu pula para pujangga Indonesia. Misalnya saja Ajaran Wulang Reh yang diciptakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro dari Surakarta, mengajarkan tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan yang berbeda, banyak mengandung aspek-aspek sosiologi, terutama dalam bidang hubungan antar golongan (intergroup relations).
Ki Hajar Dewantara, pelopor utama pendidikan nasional di Indonesia, memberikan sumbangan di bidang sosiologi terutama mengenai konsep-konsep kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia yang dengan nyata dipraktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.
Pada masa penjajahan Belanda ada beberapa karya tulis orang berkebangsaan Belanda yang mengambil masyarakat Indonesai sebagai perhatiannya seperti Snouck Hurgronje, C. Van Vollenhoven, Ter Haar, Duyvendak, dll. Dalam karya mereka tampak unsur-unsur sosiologi di dalamnya yang dikupas secara ilmiah tetapi kesemuanya hanya dikupas dalam kerangka non sosiologis dan tidak sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Sosiologi pada waktu itu dianggap sebagai Ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain, sosiologi ketika itu belum dianggap cukup penting dan cukup dewasa untuk dipelajari dan dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan, terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Kuliah-kuliah sosiologi mulai diberikan sebelum Perang Dunia ke dua diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta. Inipun kuliah sosiologi masih sebagai pelengkap bagi pelajaran ilmu hukum. sosiologi yang dikuliahkan sebagian besar bersifat filsafat sosial dan teoritis, berdasarkan hasil karya Alfred Vierkandt, Leopold Von Wiese, Bierens de Haan, Steinmetz, dan sebagainya.
Pada tahun 1934-1935 kuliah-kuliah sosiologi pada sekolah tinggi hukum tersebut malah ditiadakan. Para guru besar yang bertaggung jawab menyusun daftar kuliah berpendapat bahwa pengetahuan dan bentuk susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam pelajaran hukum.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, seorang sarjana Indonesia yaitu Soenario Kolopaking, untuk pertama kalinya memberi kuliah sosiologi (1948) pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta (kemudian menjadi Fakultas Sosial dan Ilmu Politik UGM). Beliau memberikan kuliah dalam bahasa Indonesia. Hal ini merupakan suatu yang baru, karena sebelum perang dunia ke dua semua perguruan tinggi diberikan dalam bahasa Belanda. Pada Akademi Ilmu Politik tersebut, sosiologi juga dikuliahkan sebagai ilmu pengetahuan dalam Jurusan Pemerintahan dalam Negeri, Hubungan Luar Negeri dan Publisistik. Kemudian pendidikan mulai dibuka dengan memberikan kesempatan kepada para mahasiswa dan sarjana untuk belajar di luar negeri sejak tahun 1950. Setelah itu, mulailah ada beberapa orang Indonesia yang memperdalam pengetahuan tentang sosiologi.
Buku Sosiologi mulai diterbitkan sejak satu tahun pecahnya revolusi fisik. Buku tersebut berjudul “Sosiologi Indonesia” oleh Djody Gondokusumo, memuat tentang beberapa pengertian elementer dari sosiologi yang teoritis dan bersifat sebagai filsafat.
Selanjutnya buku karangan Hassan Shadily dengan judul “Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia” yang merupakan buku pelajaran pertama yang berbahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi modern. Para pengajar sosiologi teoritis filosofis lebih banyak mempergunakan terjemahan buku-bukunya P.J. Bouman, yaitu Algemene “Maatschapppijleer dan Sociologie” dan buku Lysen yang berjudul “Individu en Maatschapppij”.
Buku-buku sosiologi lainnya adalah “Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas” karya Mayor Polak, seorang warga negara Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda, yang telah mendapat pelajaran sosiologi sebelum perang dunia kedua pada Universitas Leiden di Belanda. Beliau juga menulis buku berjudul “Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum dan Politik” terbit pada tahun 1967. Penulis lainnya Selo Soemardjan menulis buku “Social Changes in Yogyakarta” pada tahun 1962. Selo Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi, menghimpun bagian-bagian terpenting dari beberapa text book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia dirangkum dalam buku “Setangkai Bunga Sosiologi” terbit tahun 1964.
Dewasa ini telah ada sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Sosial dan Politik atau Fakultas Ilmu Sosial. Sampai saat ini belum ada universitas yang mngkhususkan sosiologi dalam suatu fakultas sendiri, namun telah ada Jurusan Sosiologi pada beberapa Fakultas Sosial dan Politik, seperti UGM, UI, UPI, dan UNPAD.
Penelitian-penelitian sosiologi di Indonesa belum mendapat tempat yang sewajarnya, oleh karena masyarakat masih percaya pada angka-angka yang relatif mutlak, sementara sosiologi tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang berlaku mutlak disebabkan masing-masing manusia memiliki kekhususan. Apalagi masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang mencakup berbagai suku.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan perkiraan yang dapat diperiksa secara kritis oleh orang lain maupun umum dan bersifat obyektif. Tidak semua pengetahuan merupakan ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis yg merupakan ilmu pengetahuan artinya pengetahuan tersebut terdiri dari unsur-unsur yang merupakan kebulatan dan menggambarkan garis besar ilmu pengetahuan tersebut.
Sosiologi merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat dan telah mempunyai unsur-unsur ilmu pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi atau pengamatan dan akal sehat yang hasilnya tidak spekulatif atau mengira-ngira.
2.    Bersifat teoritis artinya sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dan hasil observasi.
3.    Bersifat kumulatif artinya teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus.
4.    Bersifat non-etis artinya yang dilakukan sosiologi bukan mencari baik buruknya suatu fakta tetapi bertujuan untuk menjelaskan fakta tersebut melalui penelitian terhadap suatu peristiwa
Seorang tokoh yang pertama kali meletakkan sosiologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan adalah Emile Durkheeim yang menyatakan bahwa sosiologi memiliki sesuatu obyek kajian yang jelas yang disebut dengan fakta sosial.
Kedudukan sosiologi diantara ilmu-ilmu yang lain, dapat dilihat sebagai berikut:
1.    Sosiologi dan Ilmu Politik
Ilmu politik mempelajari daya upaya untuk memperoleh, mempertahankan dan menggunakan kekuasaan. sementara sosiologi memusatkan perhatian pada segi-segi masyarakat yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola yang umum. Sedangkan menurut sosiologi, segala upaya untuk mendapatkan kekuasaan digambarkan sebagai salah satu persaingan, pertikaian dan konflik.
2.    Sosiologi dan Ilmu Sejarah
Sosiologi dan sejarah merupakan ilmu sosial yang mempelajari kejadian dan hubungan yang dialami manusia sebagai individu dan anggota dalam masyarakat. Sejarah hanya menaruh perhatian pada massa silam dan  memperhatikan kejadian unik dari sebuah peristiwa sedangkan  sosiologi memperhatikan peristiwa yang merupakan proses kemasyarakatan yg timbul dari hubungan antar manusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
3.    Sosiologi dan Antroplogi
Antroplogi merupakan ilmu lain yang paling dekat dengan sosiologi. Keduanya memfokuskan diri pada masyarakat, tetapi pada dasarnya antropolgi secara langsung memberikan perhatian yang utama terhadap masyarakat yang belun berbudaya atau tidak beradab yaitu masyarakat yang anggotanya belum dapat membaca, menulis atau masyarakat yang masih primitif.
4.    Sosiologi dan Ilmu-ilmu Pasti
Sosiologi juga memiliki hubungan dengan ilmu pasti terutama ilmu matematika. Dalam suatu penelitian, sosiologi menggunakan angka-angka matematis, misalnya data statistik.
5.    Sosiologi dan Ekonomi
Ekonomi merupakan ilmu yang meneliti usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya, seperti produksi, konsumsi, dan distribusi sumber daya. Ilmu ekonomi membatasi penelitiannya hanya pada peristiwa tertentu. Sedangkan sosiologi mempelajari unsur-unsur dalam masyarakat  secara keseluruhan. Jadi, sosiologi tidak terbatas pada satu peristiwa.


EmoticonEmoticon