Saturday, 28 January 2017

Metode Karyawisata



Metode Karyawisata
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

metode karyawisata

Karyawisata menurut Suryobroto (1986, hlm. 51) merupakan “kegiatan belajar mengajar dengan mengunjungi obyek sebenarnya yang ada hubungannya dengan pelajaran tertentu”. Sedangkan Nana Sudjana (2011, hlm. 87) mengemukakan “karyawisata memiliki arti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar”. Selanjutnya Sugihartono, dkk. (2007, hlm. 82) menyatakan bahwa “metode karyawisata merupakan metode penyampaian materi dengan cara membawa anak didik langsung ke obyek di luar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata agar siswa dapat mengamati atau mengalami secara langsung”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik garis besar bahwa metode karyawisata merupakan kegiatan belajar dengan mengunjungi obyek tertentu di luar kelas untuk mengamati obyek secara langsung. Kegiatan karwisata ini disesuaikan dengan mata pelajaran serta pelaksanaannya tidak harus selalu pergi ke tempat yang jauh dan membutuhkan waktu serta biaya yang mahal.
Secara umum tujuan utama penggunaan metode karyawisata yakni pengamatan atau untuk memberikan pengalaman siswa di luar kegiatan sehari-hari mereka. Selain itu, metode karyawisata memiliki tujuan khusus, sebagai berikut:
1. Siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya.
2. Siswa dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang.
3. Siswa dapat bertanya jawab sebanyak mungkin sehingga mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran atau kehidupan sehari-hari.
4. Siswa dapat melihat, mendengar, meneliti, dan mencoba obyek secara langsung sehingga dapat mengambil kesimpulan akan suatu hal.
Metode karyawisata akan dapat digunakan secara optimal, apabila:
1. Pelajaran yang dimaksudkan untuk memberi pengertian lebih jelas dengan obyek langsung.
2. Untuk membangkitkan penghargaan dan cinta terhadap lingkungan dan tanah air, serta menghargai ciptaan Tuhan.
3. Untuk mendorong siswa mengenal suatu lingkungan dengan baik.
Di samping itu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode karyawisata, antara lain:
1. Hendaknya tujuan pembelajaran dirumuskan dengan jelas, sehingga terlihat wajar atau tidaknya metode ini dipergunakan.
2. Hendaknya diselidiki terlebih dahulu obyek yang akan dituju dengan memperhatikan hal-hal yang sekiranya akan menjadi kesulitan.
3. Hendaknya siswa memahami tujuan dari karyawisata yang dilaksanakan dan siapkan pertanyaan-pertanyaan yang harus siswa jawab.
Selanjutnya Ad. Rooijakkers (2010, hlm. 86-87) menyatakan suatu karyawisata akan behasil apabila:
1. Siswa membuat rencana karyawisata dan hal itu dikerjakan bersama guru. Dalam perencanaan ini ditentukan apa saja yang akan dikerjakan siswa selama karyawisata.
2. Selama karyawisata, siswa mendapatkan pengawasan serta bimbingan dari guru. Tugas guru dalam membimbing yakni mendorong siswa untuk melaksanakan rencana yang telah disusun sebelumnya, mengingatkan mereka bilamana ada bagian-bagian yang terlupakan serta memberi petunjuk sejauh itu diperlukan. Guru bertanggungjawab juga terhadap pelaksanaan rencana.
3. Setelah karyawisata selesai siswa harus menyusun laporan tertulis. Penyusunan laporan harus dicantumkan segala hal yang telah mereka kerjakan. Berdasarkan norma apa mereka telah mengerjakan itu semua dan apa yang menjadi alasannya. Selanjutnya guru membandingkan hasil yang telah dicapai siswa dan membandingkannya dengan hal-hal yang telah tercantum dalam pelaksanaannya. Dengan begitu guru dapat mengukur apa yang telah dicapai oleh siswa serta apa yang telah direncanakan.
Karyawisata akan berjalan dengan optimal apabila memenuhi beberapa syarat seperti yang dikemukakan oleh Suryobroto (1968, hlm. 52), sebagai berikut:
1. Adanya obyek karyawisata.
2. Adanya pengetahuan yang cukup dari siswa sebagai pengantar pemahaman terhadap apa yang akan diamati.
3. Persiapan yang baik oleh penyelenggara sekolah.
4. Pelaksanaan tindak lanjut karyawisata yang diperhatikan.
Untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan metode karyawisata, tahap-tahap pelaksanaan metode karyawisata menurut Hidayati (2004, hlm. 92) dibagi menjadi tiga, sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan meliputi persiapan materi atau topik karyawisata, persiapan teoritis, persiapan perlengkapan, dan aspek-aspek yang menunjang pelaksanaan karyawisata.
2. Tahap pelaksanaan metode karyawisata di lapangan
Tahap pelaksanaan agar sesuai dengan yang diharapkan maka harus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
3. Tindak lanjut pelaksanaan karyawisata setelah kembali dari tempat
Kegiatan tindak lanjut ini meliputi penyusunan dan membuat laporan hasil karyawisata. Laporan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban dan bentuknya disesuaikan dengan tingkat serta jenjang pendidikan anak. Misal untuk anak Sekolah Dasar (SD) cukup menceritakan kembali kegiatan karyawisata dengan bahasanya sendiri ataupun membuat karangan bebas tentang apa yang mereka alami saat kegiatan karyawisata. Pada tahap ini apabila terpenuhi dengan baik, maka guru telah memenuhi salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan metode karyawisata.
Kegiatan karyawisata merupakan salah satu pembelajaran di luar kelas. Adapun kelebihan pembelajaran di luar kelas menurut Adelia (2012, hlm. 28-51), sebagai berikut:
1. Mendorong motivasi belajar siswa
Dorongan motivasi belajar timbul karena kegiatan belajar menggunakan tempat di ruang tebuka.
2. Suasana belajar yang menyenangkan
Di luar kelas membuat siswa senang, guru dapat bereksplorasi dalam menciptakan suasana belajar, seperti bermain, menjelajah, rekreasi, meneliti, observasi, dan sebagainya.
3. Mengasah aktivitas fisik dan kreativitas
Kegiatan belajar di luar kelas membuat aktivitas fisik, hal ini dikarenakan kegiatan ini berlangsung dengan memperagakan suatu penugasan.
4. Penggunaan media pembelajaran yang konkret
Media yang konkret dapat ditemukan lebih banyak dalam pembelajaran di luar kelas.
5. Penguasaan keterampilan dasar, sikap, dan apresiasi
Bentuk kegiatan belajar di luar kelas, seperti menjelajah atau mengamati lingkungan sekitar sekolah dapat mendorong siswa untuk mempelajari sesuatu yang mereka peroleh melalui benda-benda di lingkungan sekitar mereka.
6. Penggunaan keterampilan sosial
Dalam pembelajaran di luar kelas, siswa dapat mengaplikasikan keterampilan sosial yang telah dipelajari dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial.
7. Keterampilan studi dan budaya kerja
Kegiatan pembelajaran di luar kelas mampu membuat siswa menguasai keterampilan studi, menumbuhkan budaya kerja, dan tidak menjadi pemalas. Keterampilan studi ini akan timbul karena ketika belajar di luar kelas siswa dituntut mencari, meneliti, mengamati, dan menumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan materi pelajaran yang diajarkan dari berbagai sumber di luar kelas.
8. Keterampilan bekerja kelompok
Kegiatan pembelajaran di luar kelas, hampir semua diterapkan dalam kegiatan kelompok, untuk memudahkan guru mengontrol kegiatan siswa.
9. Mengembangkan sikap mandiri
Sikap mandiri dapat ditimbulkan pada saat pembelajaran di luar kelas, yaitu menghilangkan ketergantungan pada orang lain. Ketergantungan pada konteks ini yakni pada guru itu sendiri.
10. Hasil belajar permanen (tidak mudah dilupakan)
Pengalaman secara langsung membuat siswa lebih lama mengingat pengalaman yang ia lalui.
11. Tidak memerlukan banyak peralatan
Pembelajaran di luar kelas tidak terlalu banyak membutuhkan peralatan, hanya beberapa peralatan untuk menulis. Walaupun membutuhkan sedikit peralatan akan tetapi pembelajaran dapat optimal.
12. Keterampilan intelektual
Keterampilan intelektual dapat diperoleh dalam pembelajaran di luar kelas, sebab dalam kegiatan ini mereka dituntut mendefinisikan dan mengidentifikasi berbagai hal serta persoalan yang berkaitan dengan materi pelajaran.
13. Mendekatkan hubungan emosional antara guru dan siswa
Kedekatan antara guru dan siswa dapat terjalin dengan adanya pembelajaran di luar kelas, karena kedudukan guru dan siswa sama rata. Pembelajaran dilakukan secara kultural, walaupun resmi (formal).
14. Mengarahkan sikap ke arah lingkungan yang lebih baik
Sikap cinta terhadap lingkungan dapat ditanamkan dalam pembelajaran di luar kelas. Rasa cinta terhadap lingkungan dapat timbul dan tertanam pada diri siswa karena mereka berhadapan dengan alam secara langsung sehingga mereka dapat merasakan alam secara langsung.
15. Meaningful learning
Meaningful learning merupakan kegiatan pembelajaran dengan makna lebih bagi siswa. Siswa dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya, dan keberadaan lebih akurat. Dalam kondisi demikian, siswa dapat mempelajari berbagai hal yang tersedia di alam tebuka sehingga memperkaya wawasan siswa.
16. Sangat mudah mengatasi kendala belajar
Kendala dalam pembelajaran pasti selalu ada, namun bila dilaksanakan di luar kelas kendala pembelajaran dapat diatasi dengan mudah oleh guru. Misalnya kendala:
a. Siswa keluyuran kemana-kemana karena belajar di alam bebas.
b. Gangguan konsentrasi.
c. Kurang tepat waktu.
d. Pengelolaan kelas lebih sulit.
Cara mengatasinya:
a. Guru hanya perlu memperhatikan siswa dan dibentuk belajar kelompok, sehingga pengawasannya mudah.
b. Guru harus pandai memilih obyek belajar yang benar-benar menyenangkan bagi siswa.
c. Guru membuat jadwal yang paten dari segi tempat, waktu, dan pelaksanaan. Siswa yang terlambat diberi hukuman yang bersifat mendidik atau menghibur.
d. Guru menentukan area yang boleh dikunjungi dan yang tidak boleh dikunjungi oleh siswa, selain itu guru dapar mengajak guru pendamping sehingga pengelolaan kelas lebih efektif.
Sedangkan Isjoni, dkk. (2007, hlm. 151-153) menyatakan kelemahan metode karyawisata yaitu
“karyawisata biasanya dilaksanakan di luar sekolah sehingga membutuhkan jarak tempuh yang cukup jauh sehingga membutuhkan alat transportasi, membutuhkan biaya untuk transportasi dan tiket masuk, membutuhkan waktu yang tidak sedikit sehingga jangan sampai menganggu kegiatan pembelajaran di sekolah, dan keamanan untuk siswa dan guru”.
Kelemahan ini dapat diminimalisir oleh guru dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik dari sekolah maupun luar sekolah, selain itu memanfaatkan tempat-tempat yang ada di lingkungan sekitar sekolah sebagai tempat karyawisata sehingga tidak membutuhkan waktu dan biaya yang relatif mahal.

Referensi
Adelia (2012). Metode Mengajar Anak di Luar Kelas (Outdoor Study). Yogyakarta: Diva Press.
Ad. Rooijakers (2010). Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Gramedia.
Hidayati (2004). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Yogyakarta: UNY.
Isjoni, dkk. (2007). Pembelajaran Visioner Perpaduan Indonesia-Malaysia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sudjana, N. (2011). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarya: UNY Press.
Suryobroto (1986) Mengenal Metode Pengajaran di Sekolah dan Pendekatan Baru dalam Proses Belajar-Mengajar. Yogyakarta: Amarta.


EmoticonEmoticon