Tuesday, 3 January 2017

Model Pembelajaran Quantum Teaching



Model Pembelajaran Quantum Teaching
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran quantum teaching

Model pembelajaran quantum teaching merupakan model pembelajaran yang interaktif yang dapat mengubah potensi yang dimiliki siswa menjadi sebuah prestasi. DePorter (2011, hlm. 34) mengemukakan bahwa “quantum teaching  adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar.” Interaksi yang terjadi mencakup aspek-aspek untuk belajar secara efektif yang akan mempengaruhi kesuksesan siswa. Maka, interaksi yang terjadi di dalam proses pembelajaran dapat mengubah kemampuan dan bakat siswa menjadi sebuah prestasi yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Model pembelajaran quantum teaching ini lebih menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung kepada siswa, menciptakan lingkungan yang menyenangkan, memperhatikan modalitas belajar siswa, dan melakukan penghargaan atau perayaan pada akhir pembelajaran.
Konteks dalam menata kegiatan pembelajaran pada model Quantum Teching menurut DePorter (2011, hlm. 44-45) mempunyai empat aspek, yaitu “1) suasana, 2) landasan, 3) lingkungan, dan 4) rancangan.” Keempat aspek tersebut dijabarkan, sebagai berikut:
1. Suasana
Dalam menata suasana kelas mencakup bahasa yang digunakan guru, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap terhadap sekolah serta kegiatan belajar. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan serta penuh dengan kegembiraan dan menghindari suasana dingin, kaku, dan menyeramkan.
2. Landasan
Landasan merupakan suatu kerangka kerja yang mencakup tujuan, keyakinan, kesepakatan, prosedur, kebijakan, dan aturan bersama yang memberikan pedoman bagi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Landasan yang berupa kesepakatan kelas yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama akan menjaga ketertiban dan menuntun tindakan yang dilakukan siswa.
3. Lingkungan
Lingkungan merupakan cara guru untuk menata ruang kelas, yaitu meliputi pencahayaan, pengaturan meja dan kursi, warna, hiasan kelas, dan musik serta segala sesuatu yang mendukung terlaksananya suatu proses belajar mengajar. Menurut Dhority (dalam DePorter, 2011, hlm. 103) “Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang memacu atau menghambat belajar.” Berdasarkan pendapat tersebut bahwa segala sesuatu yang ada di dalam kelas dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar baik itu mempercepat siswa dalam belajar ataupun menjadi penghambat. Lingkungan dalam model quantum teaching adalah lingkungan yang akan memacu siswa untuk belajar secara efektif dan bermakna sehingga hasil belajar siswa akan meningkat, diantaranya lingkungan sekeliling, alat bantu, dan pengaturan bangku.
4. Rancangan
Rancangan merupakan suatu ide atau kerangka penciptaan unsur-unsur yang penting untuk menumbuhkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar menukar informasi.
Menurut DePorter (2011, hlm. 34), asas utama dari model quantum teaching adalah “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Dari asas tersebut dapat dipahami bahwa langkah awal yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran adalah memasuki dunia yang dialami oleh siswa.  Cara yang dapat dilakukan untuk memasuki dunia siswa yaitu dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan peristiwa dalam kehidupan siswa  sehari-hari baik di rumah, masyarakat, dan sekolah. Sangat penting melakukan kaitan untuk memasuki dunia siswa karena setelah guru dapat memasuki dunia siswa maka selanjutnya siswa akan memberikan hak mengajar kepada guru sehingga guru dapat dengan mudah memberi pemahaman kepada siswa tentang konsep dan materi yang akan disampaikan.
Quantum teaching memiliki beberapa prinsip. Menurut DePorter (2011, hlm. 36) quantum teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap yaitu “1) segalanya berbicara, 2) segalanya bertujuan, 3) pengalaman sebelum pemberian nama, 4) akui setiap usaha, dan 5) jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.” Penjelasan dari prinsip-prinsip tersebut, sebagai berikut:
1. Segalanya berbicara
Segala dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, media pembelajaran, dan rancangan pembelajaran, semuanya mengirimkan pesan tentang belajar. Segala aspek-aspek dalam pembelajaran mempunyai pesan tentang pembelajaran yang dalakukan.
2. Segalanya bertujuan
Segala sesuatu yang dilakukan guru seperti mengubah lingkungan kelas menjadi menyenangkan memiliki tujuan agar siswa dapat belajar secara optimal sehingga mencapai prestasi yang tinggi. Guru membangun motivasi dan minat siswa untuk belajar dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dengan penuh kasih sayang dan memberikan gambaran mengenai ruang lingkup materi yang akan dipelajari.
3. Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar yang paling baik dan efektif terjadi apabila siswa telah mengalami langsung dan mengetahui informasi sebelum mereka memperoleh nama atau konsep dari apa yang mereka pelajari.
4. Akui setiap usaha
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, setiap perubahan tingkah laku siswa sudah sepantasnya mendapatkan pengakuan atas kecakapan dan keberhasilan yang mereka dapatkan. Mengakui dan menghargai setiap usaha yang dilakukan siswa sangat penting dilakukan oleh seorang guru sekecil apapun usaha itu. Dengan penghargaan dan pengakuan yang diberikan oleh guru kepada siswa akan menumbuhkan motivasi siswa dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa.
5. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Perayaan adalah suatu bentuk penghargaan yang dilakukan atas apa yang telah dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Perayaan atau pemberian penguatan akan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan positif dengan belajar. Penghargaan yang diberikan dapat berupa pujian, acungan jempol, tepuk tangan, hadiah, bonus nilai, dan lain-lain.
Agar proses pembelajaran dengan menggunakan model quantum teaching dapat benar-benar berjalan dengan baik, maka diperlukan adanya langkah-langkah proses pembelajarannya. Menurut DePorter (2011, hlm. 39) “langkah-langkah model quantum teaching kerangka rancangan yang dikenal sebagai TANDUR Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, Rayakan”. Untuk lebih jelas akan dipaparkan, sebagai berikut:
1. Tahap pertama : Tumbuhkan
Tumbuhkan pada model quantum teaching ini yaitu bagaimana cara guru untuk menumbuhkan minat dan perhatian siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini guru harus menumbuhkan minat, motivasi dan semangat siswa untuk mengikuti pembelajaran dan memberitahukan manfaat dalam kehidupan nyata dari apa yang mereka pelajari yang biasannya dikenal dengan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku). Menumbuhkan minat dan perhatian siswa dapat dilakukan dengan cara:
a. Menyampaikan dengan jelas tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan kegiatan yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran.
b. Materi pelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
c. Menghubungkan bahan pelajaran yang akan digunakan dengan kebutuhan siswa.
d. Menggunakan berbagai alat peraga dan media yang menarik.
e. Menciptakan lingkungan fisik, emosional dan sosial yang menyenangkan untuk belajar.
2. Tahap kedua : Alami
Pada tahap alami ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa yaitu membuat siswa mengalami langsung hal-hal yang dipelajari. Pengalaman ini dapat berasal dari kehidupan sehari-hari siswa, dan dirancang sesuai dengan tema pembelajaran. Dalam tahap alami ini, akan membuat isi pelajaran yang tadinya abstrak menjadi konkrit bagi siswa. Siswa dapat mengalami pembelajaran secara langsung sehingga pembelajaran yang di dapatkan oleh siswa akan lebih bermakna.
3. Tahap ketiga: Namai
Setelah minat dan siswa mengalami langsung hal-hal yang dipelajari, kemudian berbagai pertanyaan muncul dalam setiap pikiran siswa, maka pada saat itulah guru memberikan informasi atau konsep yang diinginkan. Tahap ini pada model quantum teaching disebut dengan tahap penamaan. Menurut DePotter (2011, hlm. 131) “penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan.” Penamaan tersebut dibangun atas pengetahuan dan keingintahuan siswa. Disini guru diharapkan mampu merangsang memori siswa sehingga apa yang disajikan dapat bermakna bagi siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran ataupun alat peraga misalnya gambar, peragaan, grafik, video, dan analogi yang menarik bagi siswa.
4. Tahap keempat : Demonstrasikan
Pada tahap selanjutnya setelah mereka mengalami dan sudah tahu namanaya, kemudian guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menunjukkan kemampuannya, sehingga mereka dapat menunjukkan bahwa mereka tahu. Menurut DePorter (2011, hlm. 132) “memberi siswa peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain, dan ke dalam kehidupan mereka.” Guru memberikan keleluasaan waktu yang memadai kepada siswa unruk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan serta mendemonstrasikan pengetahuan yang telah mereka dapatkan. Ketika siswa mendemonstrasikan maka bangunlah kepercayaan diri mereka.
5. Tahap kelima : Ulangi
Pengalaman dan pengetahuan yang selalu diulang-ulang jauh lebih baik daripada pengetahuan yang dialami dan diingat hanya satu kali saja. Pengetahuan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi pengetahuan yang melekat pada pikiran siswa. Dengan pengulangan dapat meningkatkan daya ingat siswa apalagi jika hal ini dilakukan misalnya mengulangi kembali konsep yang telah dipelajari pada setiap akhir pertemuan.
6. Tahap Keenam : Rayakan
Tahap terakhir yang dilakukan pada model quantum teaching adalah penguatan secara psikologis. Sesuatu yang telah dilaksanakan dengan baik, maka layak untuk dirayakan. Dengan penghargaan dapat menjadikan siswa merasa apa yang telah dilakukan dan diperoleh dalam proses pembelajaran tidak sia-sia. Selain itu, pemberian penghargaan juga dapat meningkatkan semangat dan motivasi siswa untuk mengikuti materi selanjutnya. Perayaan dapat dilakukan misalnya dengan memberikan pujian kepada siswa, memberikan hadiah kejutan untuk setiap prestasi dan mengakhiri sebuah keberhasilan dengan keceriaan bersama.
Adapun kelebihan dari penggunaan model pembelajaran quantum teaching, yakni:
1. Membimbing peserta didik ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2. Dapat memusatkan perhatian peserta didik, sehingga hal yang penting dapat lebih teramati secara teliti.
3. Tidak memerlukan banyak keterangan.
4. Proses pembelajaran nyaman dan menyenangkan.
5. Peserta didik dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukan sendiri.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan model pembelajaran quantum teaching, diantaranya:
1. Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang.
2. Memerlukan waktu yang relatif panjang.
3. Memerlukan fasilitas, seperti peralatan dan tempat.
4. Memerlukan keterampilan khusus dari guru.
5. Memerlukan ketelitian dan kesabaran dalam penggunaan model ini.

Referensi
DePorter, B., et al. (2011). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.


EmoticonEmoticon