Sunday, 29 January 2017

Proses Inovasi Pendidikan



Proses Inovasi Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

proses inovasi pendidikan
Proses inovasi pendidikan merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan inovasi pendidikan. Proses berarti bahwa aktivitas tersebut dilakukan dengan memakan waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan. Berapa lama waktu yang dipergunakan selama proses itu berlangsung akan berbeda antara orang atau organisasi satu dengan yang lain tergantung pada kepekaan orang atau organisasi terhadap inovasi. Dengan demikian, selama proses inovasi itu berlangsung akan terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai proses itu dinyatakan berakhir.
Dalam mempelajari proses inovasi, para ahli mencoba mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan individu selama proses itu berlansung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi, maka hasilnya ditemukan tahapan proses inovasi. Salah satunya yang dikemukakan oleh Zaltman, Duncan dan Holbek (1973).
Zaltman dkk. membagi proses inovasi menjadi dua tahap yakni tahap permulaan (initiation stage) dan tahap implementasi (implementation stage). Berikut penjelasan selengkapnya:
1. Tahap permulaan (initiation stage)
a. Langkah pengetahuan dan kesadaran
Jika inovasi dipandang sebagai suatu ide, kegiatan, atau material yang diamati baru oleh unit adopsi (penerima inovasi), maka tahu adanya inovasi menjadi masalah yang pokok. Sebelum inovasi dapat diterima calon penerima harus sudah menyadari bahwa ada inovasi dan ada kesempatan untuk menggunakan inovasi.
Jika kita lihat kaitannya dengan organisasi, maka adanya kesenjangan penampilan (performance gaps) mendorong untuk mencari cara-cara baru atau inovasi. Namun juga dapat terjadi sebaliknya karena sadar akan adanya inovasi, maka pimpinan organisasi merasa bahwa dalam organisasinya ada sesuatu yang ketinggalan. Kemudian merubah hasil yang diharapkan, maka terjadi kesenjangan penampilan.
b. Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi
Dalam tahap ini anggota organisasi membentuk sikap terhadap inovasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap inovasi memegang peranan yang penting untuk menimbulkan motivasi untuk ingin berubah atau mau menerima inovasi. Paling tidak ada dua hal dari dimensi sikap yang dapat ditunjukkan anggota organisasi terhadap adanya inovasi, yakni:
1) Sikap terbuka terhadap inovasi
Hal ini ditandai dengan adanya:
a) Kemauan anggota organisasi untuk mempertimbangkan inovasi.
b) Mempertanyakan inovasi.
c) Merasa bahwa inovasi akan dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam menjalankan fungsinya.
2) Memiliki persepsi tentang potensi inovasi
Hal ini ditandai dengan adanya:
a) Bahwa ada kemampuan bagi organisasi untuk menggunakan inovasi.
b) Organisasi telah pernah mengalami keberhasilan pada masa lalu dengan menggunakan inovasi.
c) Adanya komitmen atau kemauan untuk bekerja dengan menggunakan inovasi serta siap untuk menghadapi kemungkinan timbulnya masalah dalam penerapan inovasi.
Dalam mempertimbangkan pengaruh dari sikap anggota organisasi terhadap proses inovasi, maka perlu dipertimbangkan juga perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh organisasi formal. Jika terjadi perbedaan antara sikap individu terhadap inovasi dengan perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh pimpinan organisasi, maka terjadi disonansi inovasi. Ada dua macam disonansi yakni penerima disonan dan penolak disonan.
Empat macam tipe disonan-konsonan berdasarkan sikap individu terhadap inovasi dan perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh organisasi, dapat ditunjukkan pada tabel berikut:
Sikap anggota terhadap inovasi
Perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh organisasi formal
Menolak
Menerima
Tidak menyukai
Penolak disonan
Penerima disonan
Menyukai
Penolak konsonan
Penerima konsonan

Penerima disonan terjadi jika anggota tidak menyukai inovasi, tetapi organisasi mengharapkan menerima inovasi. Sedangkan penolak disonan terjadi jika anggota menyenangi inovasi tetapi organisasi menolak inovasi. Setidaknya disonan dapat terkurangi dengan dua cara, yakni:
1) Anggota organisasi merubah sikapnya menyesuaikan dengan kemauan organisasi.
2) Tidak melanjutkan menerima inovasi, menyalahgunakan inovasi, atau menerapkan inovasi dengan penyimpangan, disesuaikan dengan kemauan anggota organisasi.
Kemauan untuk menerima inovasi ini akan mengarah pada penerapan inovasi jika disertai adanya motivasi yang tinggi untuk mau berbuat serta tersedia bahan atau sumber yang diperlukan. Jika persediaan sumber bahan yang diperlukan (resources) tinggi, maka dampak terhadap motivasi untuk menerapkan inovasi dapat semakin tinggi. Jadi untuk melancarkan proses inovasi, perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang dapat meningkatkan motivasi serta tersedianya sumber bahan pelaksanaan.
c. Langkah pengambilan keputusan
Pada langkah ini segala informasi tentang potensi inovasi dievaluasi. Jika unit pengambil keputusan dalam organisasi menganggap bahwa inovasi itu memang dapat diterima dan ia senang untuk menerimanya, maka inovasi akan diterima dan diterapkan dalam organisasi.
Demikian sebaliknya apabila unit pengambil keputusan tidak menyukai inovasi dan menganggap inovasi tidak bermanfaat maka ia akan menolaknya. Pada saat akan mengambil keputusan peranan komunikasi sangat penting untuk memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya tentang inovasi. Sehingga keputusan yang diambil benar-benar mantap dan tidak terjadi salah pilih yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasi.
2. Tahap implementasi (implementation stage)
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan oleh para anggota organisasi ialah menggunakan inovasi atau menerapkan inovasi. Ada dua langkah, yakni:
a. Langkah awal implementasi
Pada langkah ini organisasi mencoba menerapkan sebagian inovasi. Misalnya setelah kepala sekolah menentukan bahwa semua guru harus membuat persiapan mengajar yang berbasis kinerja, maka pada awal pelaksanaannya setiap guru diwajibkan membuat untuk sata mata pelajaran terlebih dahulu, sebelum nanti akan berlaku untuk semua mata pelajaran.
b. Langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi
Jika pada penerapan awal telah berhasil, para anggota telah mengetahui dan memahami inovasi, serta memperoleh pengalaman dalam menerapkannya, maka tinggal melanjutkan dan menjaga kelangsungannya.

Referensi
Zaltman, G., Duncan, R., & Holbek, J. (1973). Innovations and Organizations. London: Wiley.


EmoticonEmoticon