Tuesday, 31 January 2017

Reliabilitas



Reliabilitas
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

reliabilitas


Secara sederhana reliabilitas (reliability) merupakan keajegan pengukuran. Menurut John M. Echols dan Hasan Shadily (2003, hlm. 475) reliabilitas adalah “hal yang dapat dipercaya”. Sedangkan Popham (1995, hlm. 21) menyatakan bahwa reliabilitas merupakan “...the degree of which test score are free from error measurement”. Artinya, suatu derajat dari nilai tes yang bebas dari kesalahan pengukuran. Selanjutnya menurut Sumadi Suryabrata (2004, hlm. 28) “reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan”. Dalam pandangan Aiken (1987, hlm. 42) “sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang”. Untuk itu, “keandalan sebuah alat ukur dapat dilihat dari dua petunjuk yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas” (Feldt dan Brennan, 1989, hlm. 105).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik garis besar bahwa reliabilitas atau keandalan merupakan konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur. Hal tersebut dapat berupa pengukuran dari alat ukur yang sama (tes dengan tes ulang) yang akan memberikan hasil yang sama atau untuk pengukuran yang lebih subyektif, apakah dua orang penilai memberikan skor yang mirip (reliabilitas antar penilai).
Reliabilitas berbeda dengan validitas. Artinya pengukuran yang dapat diandalkan akan mengukur secara konsisten, namun belum tentu mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam penelitian, reliabilitas merupakan sejauh mana pengukuran dari suatu tes tetap konsisten setelah dilakukan berulang-ulang terhadap subyek dan pada kondisi yang sama. Penelitian dianggap dapat diandalkan apabila memberikan hasil yang konsisten untuk pengukuran yang sama. Dengan demikian, reliabilitas suatu alat ukur penting adanya pada suatu penelitian.
Pengukuran reliabilitas ini dapat dilakukan dengan berbagai alat statistik. Reliabilitas suatu instrumen setidaknya dapat dihitung melalui dua cara, yakni kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas. Kedua statistik tersebut memiliki keterbatasan masing-masing. Kesalahan baku pengukuran merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor. Sedangkan koefisien reliabilitas merupakan kuantifikasi reliabilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) antara beberapa kesalahan pengukuran.
Pada suatu kerangka teori tes, suatu tes dikatakan memiliki reliabilitas tinggi apabila skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. “Interpretasi lainnya adalah seberapa tinggi korelasi antara skor tampak pada dua tes yang paralel” (Saifuddin Azwar, 2006, hlm. 29).
Reliabilitas alat ukur tidak dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diperkirakan. Dalam mengestimasi reliabilitas alat ukur, ada tiga cara yang sering digunakan yakni (1) pendekatan tes ulang, (2) pendekatan dengan tes paralel, dan (3) pendekatan satu kali pengukuran.
Ada dua cara umum untuk mengukur reliabilitas, yakni:
1. Reliabilitas stabilitas
Reliabilitas ini berkaitan dengan penggunaan indikator yang sama, definisi operasional, pengumpulan data setiap saat, dan mengukurnya pada waktu yang berbeda. Untuk dapat memperoleh reliabilitas stabilitas setiap kali unit diukur, skornya harus sama atau hampir sama.
2. Reliabilitas ekuivalen
Reliabilitas ini berkaitan dengan usaha memperoleh nilai relatif yang sama dengan jenis ukuran yang berbeda pada waktu yang sama. Definisi konseptual yang dipakai sama tetapi dengan satu atau lebih indikator yang berbeda, batasan-batasan operasional, peralatan pengumpul data, dan/atau pengamat.
Menguji reliabilitas dengan menggunakan ukuran ekivalen pada waktu yang sama biasa menempuh beberapa bentuk. Bentuk yang paling umum disebut teknik belah tengah. Cara ini seringkali dipakai dalam survei. Apabila satu rangkaian pertanyaan satu variabel dimasukkan dalam kuisioner, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut dibagi dua bagian persis lewat cara tertentu (pengacakan atau pengubahan). Hasil masing-masing bagian pertanyaan diringkas ke dalam skor, lalu skor masing-masing bagian tersebut dibandingkan. Apabila kedua skor tersebut relatif sama, dicapailah reliabilitas ekuivalen.
Setidaknya terdapat tiga teknik pengujian reliabilitas instrumen, diantaranya:
1. Teknik paralel (paralel form atau alternate form)
Teknik paralel atau dikenal juga dengan istilah teknik double test double trial. Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrumen yang paralel (ekuivalen), yakni dua buah intrumen yang disusun berdasarkan satu buah kisi-kisi. Setiap butir soal dari instrumen yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut diujicobakan semua. Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan rumus product moment (korelasi Pearson).
2. Teknik ulang (test re-test)
Teknik ini disebut juga teknik single test double trial. Teknik ini menggunakan sebuah instrumen, namun di test dua kali. Hasil atau skor pertama dan kedua kemudian dikorelasikan untuk mengetahui untuk mengetahui besarnya indeks reliabilitas. Teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang digunakan pada teknik paralel, yakni rumus korelasi Pearson.
3. Teknik belah dua (split halve method)
Teknik ini disebut juga teknik single test single trial. Peneliti boleh hanya memiliki seperangkat instrumen saja dan hanya diujicobakan sekali, kemudian hasilnya dianalisis, yakni dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama besar. Teknik ini diukur dengan menentukan hubungan antara skor dua paruh ekuivalen suatu tes yang disajikan kepada seluruh kelompok pada satu kali tes. Reliabilitas dari teknik belah dua mewakili reliabilitas hanya separuh tes yang sebenarnya, rumus Spearman-Brown dapat digunakan untuk mengoreksi koefisien yang didapat.
Ada beberapa sumber ketidakandalan (unreability), sebagai berikut:
1. Orang atau unit yang diukur mungkin telah berubah sejak pengukuran pertama dan kedua.
2. Selama wawancara unit yang sedang diukur berubah, karena:
a. Pewawancara memperoleh pengalaman.
b. Kelelahan pewawancara.
c. Subyek mengalami hal-hal yang menyebabkan penafsiran mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan berubah.
d. Kesalahan-kesalahan yang diperbuat.
3. Aspek situasi tempat pengukuran berlangsung mungkin berubah sejak pengukuran pertama dan kedua. Hal-hal seperti waktu, tempat berlangsungnya pengukuran, orang-orang yang berada dekat di sekitar yang mungkin mempengaruhi respon mereka dan sebagaimana mungkin berbeda.
4. Pertanyaan-pertanyaan mungkin dapat ditafsirkan secara berbeda pada saat pengisian kuisioner yang berbeda.
5. Pengkode dan/atau pengamat mungkin membuat penafsiran sendiri.
6. Apa yang nampak seperti satu teknik ekuivalen sebenarnya tidak demikian karena pemilihan perbandingan yang kurang baik.
7. Terjadi kekeliruan dalam mencatat hasil pengamatan atau memberi kode.
8. Kombinasi dari beberapa penyebab di atas.

Referensi
Aiken, L. R. (1987). Psychological Testing and Asessment. Seventh edition. Boston: Allyn and Bacon.
Echols, J. M., & Shadily, H. (2003). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Feldt, L. S., & Brennan, R. L. (1989). Educational Measurement. New York: American Council on Education.
Popham, W. (1995). Classroom Asessment What Teacher Need to Know. Boston: Simon & Schuster Company.
Suryabrata, S. (2004). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


EmoticonEmoticon