Sunday, 22 January 2017

Sanitasi Sekolah Dasar



Sanitasi Sekolah Dasar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat menjelaskan bahwa “sanitasi adalah kondisi ketika suatu komunitas tidak membuang air besar (BAB) sembarangan, mencuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengolah sampah dengan benar, dan mengelola limbah dengan aman. Selanjutnya Bagja Waluya (2009, hlm. 45) berpendapat bahwa “sanitasi lingkungan sebagai aktivitas yang diarahkan untuk meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi lingkungan yang mendasar, dimana hal tersebut mempengaruhi kesejahteraan manusia”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa standar kondisi lingkungan tersebut terdiri dari:
1. Persediaan air bersih dan aman.
2. Pembuangan limbah, baik hewan, manusia, maupun limbah industri.
3. Makanan sehat.
4. Udara yang bersih dan aman.
5. Rumah yang bersih dan untuk ditinggali.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat ditarik garis besar bahwa sanitasi lingkungan ditujukan untuk memenuhi persyaratan lingkungan yang sehat dan nyaman. Lingkungan yang sanitasinya buruk dapat menjadi sumber berbagai penyakit yang dapat menganggu kesahatan manusia. Maka dari itu, upaya sanitasi lingkungan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah menyebutkan fasilitas sanitasi sekolah termasuk Sekolah Dasar terdiri dari “air bersih, toilet, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan sarana pembuangan sampah. Hal tersebut dijabarkan secara terperinci, sebagai berikut:
1. Air bersih
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 461/MENKES/Per/IX/1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air menjelaskan “air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak”. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Kesahatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah menjelaskan standar air bersih di sekolah (termasuk Sekolah Dasar), sebagai berikut:
a. Tersedia air bersih 15 liter/orang/hari.
b. Kualitas air memenuhi syarat kesehatan yang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 416 tahun 1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
c. Jarak sumur/sarana air bersih dengan sumber pencemaran (sarana pembuangan air limbah, tangki, tempat pembuangan sampah akhir, dan lain-lain) minimal 10 meter.
Di samping itu, penyedia air bersih harus memenuhi persyaratan kesehatan yang telah dibuat oleh Departemen Kesehatan. Berikut merupakan persyaratan teknis kesehatan dari sumber penyedia air bersih menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (dalam Eka Irtdianty, 2011, hlm. 16-18), sebagai berikut:
1) Sumur gali

sanitasi sekolah dasar
a) Lokasi
Jarak minimal 10 meter dari sumber pencemaran seperti jamban, penampungan air kotor, tempat pembuangan sampah, atau kandang ternak.
b) Lantai
Lantai harus kedap air minimal 1 meter dari tepi/dinding sumur, tidak retak/bocor, mudah dibersihkan, dan tidak tergenang air (kemiringan minimal 1-5 %).
c) Bibir sumur
Tinggi bibir sumur sekitar 80 cm dari lantai, terbuat dari bahan yang kuat dan rapat air.
d) Dinding sumur
Dinding sumur minimal sedalam 3 meter dari lantai, terbuat dari bahan kedap air dan kuat (tidak mudah retak/longsor).
e) Tutup sumur
Jika pengambilan air dengan pompa listrik harus ditutup rapat. Jika pengambilan air dengan ember harus ada ember khusus dengan tali timbanya.
2) Sumur pompa tangan (SPT)

sanitasi sekolah dasar
a) Lokasi
Jarak SPT minimal 10 meter dari sumber tercemar misalnya jamban, tempat penampungan air kotor, tempat pembuangan sampah, atau kandang ternak.
b) Lantai
Lantai harus kedap air minimal 1 meter dari tepi/dinding sumur, tidak retak/bocor, mudah dibersihkan, dan tidak tergenang air (kemiringan minimal 1-5 %).
c) Pipa pelindung
Pipa penghisap bagian atas minimal sedalam 3 meter dari lantai dan dilindungi pipa pelindung (casing) dan atau cor rapat air (concreat seal).
d) Pipa saringan
Ujung bawah pipa saringan diberi kerikil sebesar biji jagung (corn gravel) lebih kurang 2,5 meter.
3) Penampungan air hujan (PAH)

sanitasi sekolah dasar
a) Talang air
Talang air yang masuk ke bak PAH harus dapat dipindahkan/dialihkan agar air hujan pada menit pertama tidak masuk ke dalam bak.
b) Bak saringan
Tinggi bak saringan minimal 20 cm. Volume nya sebesar orang dapat masuk untuk membersihkan dan terbuat dari bahan yang kuat dan rapat nyamuk. Susunan saringan terdiri dari kerikil, ijuk, dan pasir.
c) Pipa peluap
Pipa peluap (over flow) harus dipasang kawat kasa rapat nyamuk.
d) Bak resapan
Susunan batu dan pasir pada bak resapan minimal 0,6 meter dari lantai.
e) Kemiringan lantai bak
Kemiringan lantai bak mengarah ke pipa penguras dan mudah dibersihkan (tidak terdapat sudut mati).
4) Pelindung mata air (PMA)

sanitasi sekolah dasar
a) Sumber air
Sumber air harus berasal dari mata air yang memenuhi syarat bukan dari saluran yang berasal dari mata air yang kemungkinan telah tercemar.
b) Lokasi
Lokasi sumur air PMA minimal 10 meter dari sumber pencemaran seperti jamban, penampungan air kotor, tempat pembuangan sampah, atau kandang hewan.
c) Bak pelindung
Tutup bak pelindung dan dinding bak rapat air pada bagian atas/belakang, bak pelindung dibuatkan saluran air yang arahnya keluar dari bak agar tidak mencemari air yang masuk ke bak. Lantai bak harus rapat air dan mudah dibersihkan kemiringan lantai mengarah pada pipa penguras dan kemiringan 2%.
5) Perpipaan (PP)

sanitasi sekolah dasar
a) Sumber air/air baku
Air baku harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum didistribusikan. Kalau air baku memenuhi persyaratan air minum langsung dapat dimanfaatkan sebagai sumber air.
b) Pipa
Pipa yang digunakan tidak melarutkan atau mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Angka kebocoran pipa tidak lebih dari 5 %. Pemasangan pipa tidak boleh terendam air kotor atau air sungai.
c) Bak penampungan
Bak penampung harus rapat air dan tidak dicemari oleh sumber pencemar.
d) Pengambilan air
Pengambilan air dari sarana perpipaan harus dilakukan melalui kran air.
Adapun syarat kualitas air bersih meliputi persyaratan fisik, mikrobiologis, kimia, dan radioaktif yang memenuhi syarat kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 461/MENKES/Per/IX/1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Penjabarannya sebagai berikut:
a. Parameter fisik
Air yang memenuhi parameter fisik adalah air yang tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna, tidak keruh atau jernih, dan dengan suhu sebaiknya di bawah suhu udara sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa nyaman dan jumlah zat terlarut yang rendah.
b. Parameter mikrobiologis
Sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri. Jumlah dan jenis bakteri berbeda sesuai dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya, Oleh karena itu, air yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari harus bebas dari bakteri patogen. Bakteri golongan coli tidak merupakan bakteri golongan patogen, namun bakteri ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen.
c. Parameter kimia
Dari segi kimia, air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan seperti air raksa (Hg), Alumunium (Al), Arsen (As), Barium (Ba), besi (Fe), Flourida (F), Kalsium (Ca), derajat keasaman (pH), dan zat kimia lainnya. Air sebaiknya tidak asam dan tidak basa (netral) untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air. pH yang dianjurkan untuk air bersih berkisar 6,5-9.
d. Parameter radioaktif
Apapun bentuk radioaktif efeknya adalah sama, yakni menimbulkan kerusakan pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian dan perubahan komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali apabila sel dapat beregenarasi dan apabila tidak seluruh sel akan mati. Perubahan genetis dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi. Maka, air harus bebas dari radioaktif.
2. Toilet atau jamban

sanitasi sekolah dasar

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat menjelaskan “jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit”. Selanjutnya Pemendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah Pendidikan menyatakan bahwa “jamban adalah ruang untuk buang air besar dan/atau kecil”. Selanjutnya dijelaskan pula standar jamban SD/MI, sebagai berikut:
a. Jamban berfungsi sebagai tempat buang air besar dan/atau kecil.
b. Minimum terdapat 1 unit jamban untuk setiap 60 peserta didik pria, 1 unit jamban untuk setiap 50 orang peserta didik wanita, dan 1 unit jamban untuk guru.
c. Luas minimum 1 unit jamban yakni 2 meter persegi.
d. Jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan.
e. Tersedia air bersih di setiap unit jamban.
f. Jamban dilengkapi sarana seperti kloset jongkok, tempat air, gayung, gantungan pakaian, dan tempat sampah.
Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah terkait fasilitas sanitasi sekolah menjelaskan bahwa, persyaratan toilet sekolah, sebagai berikut:
a. Letak toilet harus terpisah dari kelas, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), ruang guru, perpustakaan, dan ruang bimbingan dan konseling.
b. Tersedia toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
c. Proporsi jumlah toilet adalah 1 toilet untuk setiap 40 siswa laki-laki dan 1 toilet untuk setiap 25 siswa perempuan.
d. Toilet harus selalu dalam keadaan bersih.
e. Lantai toilet tidak ada genangan air.
f. Tersedia lubang penghawaan yang langsung berhubungan dengan udara luar.
g. Bak penampung air harus tidak menjadi perindukan nyamuk.
3. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

sanitasi sekolah dasar

“Saluran pembuangan air limbah atau disingkat SPAL adalah perlengkapan pengelolaan air limbah berupa saluran perpipaan maupun yang lainnya yang dapat dipergunakan untuk membuang air buangan dari sumbernya sampai ke tempat pengelolaan atau tempat buangan air limbah” (Eka Irdianty, 2011, hlm. 19). Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah menjelaskan sarana pembuangan air limbah sekolah, sebagai berikut:
a. Tersedia saluran pembuangan air limbah yang terpisah dengan saluran penuntasan air hujan.
b. Saluran pembuangan air limbah harus terbuat dari bahan kedap air dan tertutup.
c. Keberadaan SPAL tidak mencemari lingkungan.
d. Tersedia saluran pembuangan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan kedap air, tertutup dan airnya dapat mengalir dengan lancar.
e. Air limbah dibuang melalui tangki dan kemudian diresapkan ke dalam tanah.
f. Pembuangan air limbah dari laboratorium, dapur, dan toilet harus memenuhi syarat kesehatan kedap air, tertutup, dan diberi bak kontrol pada jarak tertentu agar mudah dibersihkan bila terjadi penyumbatan sehingga dapat mengalir dengan lancar.
4. Sarana pembuangan sampah

sanitasi sekolah dasar

Eka Irdianty (2011, hlm. 20) menyatakan bahwa “sampah dapat didefinisikan sebagai limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan sekitarnya”.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah menjelaskan standar sarana pembuangan sampah, sebagai berikut:
a. Di setiap ruangan harus tersedia tempat sampah yang dilengkapi dengan tutup.
b. Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara (TPS) dari seluruh ruangan untuk memudahkan pengangkutan atau pemusnahan.
c. Peletakkan tempat pembuangan/pengumpulan sampah sementara dengan ruang kelas berjarak minimal 10 meter.
Menurut Nasih Widya Yuwono (2010, hlm. 2-3) pengelolaan sampah sekolah “pertama dengan melakukan pemilahan”. Pemilahan adalah memisahkan menjadi kelompok sampah organik dan anorganik  dan ditempatkan dalam wadah yang berbeda. “Kedua, pengolahan dengan menerapkan konsep 3-R”. 3-R yakni reuse (penggunaan kembali), reduce (pengurangan), dan recycle (daur ulang). “Ketiga, untuk sampah yang tidak dapat ditangani oleh lingkup sekolah, dikumpulkan ke tempat pembuangan sementara (TPS) untuk kemudian diangkut oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan akhir (TPA)”.
Sampah yang dibuang ke TPS ditempatkan berdasarkan pemilahan sampah yang telah dilakukan yakni organik dan anorganik. Hal tersebut dikarenakan sampah organik dapat dengan mudah membusuk sementara sampah anorganik membutuhkan perlakuan khusus. TPS yang dibuat sekolah berupa lubang yang dilengkapi dengan sistem penutup sehingga tikus, serangga, dan hewan-hewan tertentu tidak masuk ke dalamnya dan juga untuk menghindari bau dari sampah yang mengganggu.
5. Cuci tangan
sanitasi sekolah dasar

Cuci tangan dalah salah satu komponen sanitasi dasar. Cuci tangan yang baik akan menghilangkan kuman yang menempel pada tangan sehingga dapat mencegah penyakit karena tangan bagian tubuh yang paling cepat menularkan penyakit. Eka Irdianty (2011, hlm. 24) menjelaskan bahwa tempat cuci tangan dilengkapi, sebagai berikut:
a. Kran dengan air bersih.
b. Saluran pembuangan air yang tertutup.
c. Terdapat bak penampungan air.
d. Tersedia sabun.
e. Lap untuk mengeringkan tangan dengan sekali pakai.
f. Jumlah tempat cuci tangan sesuai dengan rasio pencuci tangan. Satu tempat cuci tangan untuk setiap 10 orang.
g. Tempat cuci tangan diletakkan pada tempat yang dapat dilihat dan mudah dijangkau.

Referensi
Irdianty, E. (2011). Studi Deskriptif Sanitasi Dasar di Tempat Pelelangan Ikan Lempasing Teluk Bentung Bandar Lampung. (Skripsi). Jakarta: Universitas Indonesia.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 461/MENKES/Per/IX/1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
Waluya, B. (2009). Bab 4 Sanitasi. [Online]. Diakses dari: http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121_BAGJA_WALUYA/Pengelolaan_Lingkungan_Hidup_untuk_Tk_SMA/BAB_4_SANITASI_LINGKUNGAN.pdf.
Yuwono, N. W. (2010). Makalah: Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan di Sekolah. Yogyakarta: LPPM UGM.


EmoticonEmoticon