Saturday, 7 January 2017

Tahap Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget



Tahap Perkembangan Anak
Menurut Jean Piaget
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
Tahap Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget
Sesuai dengan pandangan Jean Piaget (dalam Santrock, 2002) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Untuk itu, informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman. Dalam pandangan Piaget, dua proses yanng mendasari perkembangan dunia individu ialah pengorganisasian dan penyesuaian, setiap individu menyesuaikan diri dengan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Piaget berpikir bahwa asimilasi dan akomodasi berlangsung sejak kehidupan bayi yang masih sangat kecil. Bayi yang baru lahir secara refleks mengisap segala sesuatu yang menyentuh bibirnya (asimilasi), tetapi setelah beberapa bulan pengalaman, mereka membangun pemahaman mereka tentang dunia secara berbeda. Beberapa obyek, seperti jari dan susu ibu, dapat diisap, dan obyek lain seperti selimut sebaiknya tidak diisap (akomodasi).
Piaget memiliki keyakinan bahwa manusia melampaui empat tahapan dalam memahami dunia, yaitu tahap sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Berikut akan dipaparkan secara lebih mendalam mengenai ke-empat tahapan tersebut.
1.  Tahap sensorimotor
Tahap ini berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik. Pada permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki sedikit lebih banyak pola-pola refleks. Pada akhir tahap, anak berusia 2 tahun memiliki pola-pola sensorimotor yang kompleks dan mulai beroperasi dengan simbol-simbol primitif.
Sesuai pandangan Piaget (dalam Dariyo, 2007) masa sensori-motorik merupakan suatu proses yang berlangsung melalui 6 tahapan, yakni skema reflektif, reaksi sirkular primer, reaksi sirkuler sekunder, koordinasi reaksi sirkular sekunder, reaksi sirkular tersier, representasi mental.
a. Skema reflektif
Setelah lahir bayi belum dapat melakukan suatu aktivitas yang terencana, sehingga otak (syaraf pusat) belum berfungsi dengan baik karena belum mencapai kematangan. Jadi seluruh aktivitas yang dilakukan dapat terjadi karena faktor gerakan refleks yang bersifat otomatis. Apapun yang bayi lakukan lebih banyak didorong oleh faktor kebutuhan fisiologis, seperti makan (lapar), minum (haus), menangis (sakit, panas, dingin, terkejut).
b.   Reaksi sirkuler primer
Pada tahap ini, bayi mulai dapat belajar untuk melakukan aktivitas penyesuaian diri yang pertama, yang ditandai dengan pola aktivitas yang berulang-ulang untuk memperoleh kepuasan hatinya. Maka saat ini, seorang bayi akan mengembangkan kebiasaan perilaku motorik yang bersifat sederhana, seperti membuka dan menutup tangan, mengepal tangan, menggerakan jari-jari kaki/ tangan. Selain itu ketika merasa haus, bayi akan segera membuka mulutnya untuk merespon puting susu ibu yang telah berada didekatnya.
c.    Reaksi sirkuler sekunder
Pada masa ini seorang bayi telah mampu melakukan keterampilan motorik guna berhubungan dengan lingkungan hidupnya. Ia telah mampu melakukan reaksi terhadap obyek-obyek benda yang ada di sekitarnya, misalnya berusaha meraih, memegang boneka mainan, mobil-mobilan. Namun kadang-kadang, anak melakukan aktivitas gerakan manipulatif, artinya menggerakan tangan untuk meraih sesuatu, padahal didepannya tak ada obyek benda-benda. Perlu diketahui bahwa anak belum mampu melakukan gerakan/ perilaku tiruan terhadap perilaku yang dikenali maupun perilaku yang sulit dikenali.
Reaksi sirkuler sekunder ditandai dengan kemampuan melakukan sesuatu kegiatan yang bermanfaat untuk mencapai satu tujuan tertentu, sehingga dapat memberi pengalaman baru bagi bayi. Bayi melakukan kegiatan yang berhubungan dengan menggunakan suatu obyek benda tertentu.
d.   Koordinasi reaksi sirkular sekunder
Pada masa ini, anak secara sadar telah mampu melakukan koordinasi gerakan untuk memperoleh tujuan yang diinginkannya. Ia mampu mengenal benda dengan baik yang terlihat maupun itu disembunyikan, dan ada upaya untuk mencari bendaitu. Dengan demikian, anak telah mencapai permanensi obyek, yakni kemampuan untuk memahami letak posisi semula dan tidak dipindahkan ke tempat lain. Bila benda tersebut dipindahkan ke tempat lain, kemungkinan besar anak akan sering melakukan kesalahan dalam mencarinya. Hal inilah, oleh Piaget, disebut AB search error, yakni kesalahan yang dilakukan oleh anak dalam mencari obyek benda yang dipindahkan oleh orang lain ke tempat lain. Hal ini terjadi karena anak belum mampu membayangkan letak benda.
Hal yang paling menonjol dalam masa ini, ialah kemampuan bayi untuk melakukan proses peniruan terhadap suatu perilaku yang dilihatnya, baik suara/ucapan, perilaku. Disini, anak mulai aktif belajar untuk menambah kemampuan/pengalaman dengan proses imitasi yang dilakukan secara aktif
e.   Reaksi sirkular tersier
Reaksi ini merupakan kemampuan anak untuk melakukan suatu kegiatan yang berdampak pada satu atau beberapa akibat tertentu. Kemampuan ini dimiliki oleh anak, setelah melalui pengalaman reaksi sekunder. Pada masa ini, anak maju satu lankah dengan masa sebelumnya. Bila masa sebelumnya, anak tak mampu mencari benda yang dipindahkan, maka kini ia telah mampu mencarinya sampai berhasil. Selain itu, anak telah memiliki kemampuan inisiatif untuk melakukan koordinasi suatu kegiatan. Ia ingin mencoba mencipta (berkreasi) suatu aktivitas baik yang telah dikenali maupun perilaku yang belum dikenali.
Dengan bekal pengalaman kemampuan reaksi sirkular sekunder, maka daya imajinasi anak berkembang dengan cepat. Anak tidak hanya mampu membayangkan satu kegiatan yang berdampak pada akibat-akibat tertentu, tetapi ia juga mulai membayangkan suatu kegiatan yang mungkin memiliki dampak berbeda-beda.
f.    Representasi mental
Representasi mental adalah kemampuan untuk menghadirkan suatu pengalaman-pengalaman diri sendiri maupun orang lain dalam konteks interaksi sosial sehingga dapat dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Seorang anak telah mampu mengembangkan kapasitas kognitifnya dengan membayangkan suatu obyek benda walaupun benda itu tidak ada di depannya. Dengan kemam[puan representasi mental, seorang anak akan dapat melakukansuatu proses imajinasi terhadap pengalaman-pengalaman perilaku masa lalu maupun rencana pengalaman perilaku di masa yang akan datang. Selain itu, anak juga dapat melakukan imitasi pengalaman perilaku orang lain.
Bentuk perilaku representasi mental ditandai dengan kemampuan untuk menirukan kembali bentuk-bentuk perilaku pengalaman sendiri di masa lalu amaupun menirukan pengalaman dari orang lain yang pernah diobservasinya.
2.   Tahap operasional
Berlangsung kira-kira dari usia 2 hingga 7 tahun, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampaui hubungan sederhana antara informasi sensor dan tindakan fisik. Akan tetapi walaupun anak dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget, mereka belum mampu untuk melaksanakan apa yang Piaget sebut “operasi” tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik.
Pada tahap ini konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian lemah, serta keyakinan terhadap hal yang magis terbentuk. pemikiran praoperasional ialah awal kemampuan untuk merekonstruksi pada tingkat pemikiran apa yang telah dilakukan di dalam perilaku. Pemikiran praoperasional juga mencakup peralihan penggunaan simbol dari yang primitif kepada yang lebih canggih. Pemikiran praoperasional dibagi ke dalam dua subtahap; sub tahap fungsi simbolis dan sub tahap pemikiran intuitif.
a.   Sub tahap fungsi simbolis
Sub tahap fungsi simbolis ialah sub tahap pertama pemikiran praoperasional yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun. pada sub tahap ini anak-anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu obyek yang tidak ada. Kemampuan untuk berpikir simbolis semacam itu disebut “fungsi simbolis” dan kemampuan itu mengembangkan secara cepat dunia mental anak. anak-anak kecil menggunakan desain coret-coret untuk menggambarkan manusia, rumah, mobil, awan dan lain-lain.
b.   Sub tahap fungsi intuitif
Sub tahap intuitif terjadi pada usia 4 sampai 7 tahun. anak-anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semua bentuk pertanyaan. Piaget mengemukakan bahwa anak pada tahap ini begitu yakin tentang pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi belum sadar bagaimana mereka tahu apa yang mereka ketahui itu. Maksudnya, mereka mengatakan mengetahui sesuatu, tetapi mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional. Suatu contoh kemampuan anak kecil ialah kesulitan menaruh benda-benda ke dalam kategori yang tepat. Dihadapkan pada sekumpulan obyek acak yang dapat dikelompokan bersama atas dasar dua atau lebih sifat, anak-anak praoperasional jarang dapat menggunakan sifat ini secara konsisten untuk menyortir obyek ke dalam kelompok-kelompok yang tepat. Hal tersebut menunjukan karakteristik pemikiran praoperasional yang disebut dengan centration, yaitu pemusatan perhatian terhadap satu karakteristik yang mengesampingkan semua karakteristik yang lain. Centration terbukti pada anak-anak kecil yang kekurangan conservation, suatu keyakinan akan keabadian atribut obyek atau situasi tertentu terlepas dari perubahan yang bersifat dangkal.
Karakteristik lain anak-anak praoperasional ialah mereka menanyakan serentetan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan anak-anak yang paling awal tampak kira-kira pada usia 3 tahun. pertanyaan-pertanyaan mereka memberi petunjuk akan perkembangan mental mereka dan mencerminkan rasa ingin tahu intelektual. Pertanyaan-pertanyaan ini menandai munculnya minat anak-anak akan penalaran dan penggambaran mengapa sesuatu seperti itu.
3.  Tahap operasional konkret
Tahap ini berlangsung kira-kira dari usia 7 hingga 11 tahun, pada tahap ini anak-anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis menggunakan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik dan konkret. Misalnya, pemikir operasional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu persamaan aljabar, yang terlalu abstrak untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
4.  Operasional formal
Tahap ini tampak dari usia 11-15 tahun. pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari pemikiran yang lebih abstrak, anak-anak remaja mengembangkan gambaran keadaaan yang ideal. Dalam memecahkan masalah, pemikir operasional formal ini lebih sistematis, mengembangkan hipotesis tentang mengapa sesuatu terjadi seperti itu, kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif.

Referensi
Dariyo, A. (2007). Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung: PT Refika Aditama.
Santrock, J. W. (2002). Life Span Development. Jakarta: Erlangga.


EmoticonEmoticon