Monday, 27 February 2017

Anak Berbakat



Anak Berbakat
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Anak Berbakat


Anak berbakat secara umum adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan unggul dan memberikan prestasi yang tinggi. Anak berbakat memiliki kemampuan-kemampuan unggul atau anak yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata anak normal. Daniel P. Hallahan dan James M. Kauffman (1982, hlm. 376) mengemukakan “besides the word gifted a variety of other terms have be an used to describe individuals who are superior in some way: talented, creative, genius, and precocious”. Artinya, selain kata berbakat, berbagai istilah lain digunakan untuk menggambarkan individu yang unggul dalam beberapa cara, seperti berbakat, kreatif, jenius, dan dewasa sebelum waktunya.
Martison (dalam Utami Munandar, 1982, hlm. 7) memberikan batasan, yakni
“anak berbakat ialah mereka yang diidentifikasi oleh orang-orang profesional memiliki kemampuan yang sangat menonjol, sehingga memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah yang biasa, agar dapat mewujudkan sumbangannya terhadap diri sendiri maupun terhadap masyarakat”.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak berbakat disamping memiliki  kemampuan intelektual tinggi, juga menunjukkan kecakapan khusus yang bidangnya berbeda-beda antara anak satu dengan anak lainnya. Anak ini disebut juga dengan istilah gifted and talented yang berarti berbakat intelektual. Kita harus membedakan antara bakat sebagai potensi bawaan dan bakat yang telah terwujud dalam prestasi yang tinggi. Semua anak berbakat memiliki potensi yang unggul, tetapi tidak semuanya telah berhasil mewujudkan potensi unggul tersebut secara optimal.
Keterbakatan dipengaruhi oleh berbagai unsur kebudayaan. Menurut Conny Semiawan (1994, hlm. 40) ada dua petunjuk kunci untuk mengamati dan mengerti keterbakatan tersebut, yaitu:
1. Keterbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir maupun yang merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan.
2. Keterbakatan itu ikut ditentukan oleh kebutuhan maupun kecenderungan kebudayaan dimana seseorang yang berbakat itu hidup.
Anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, seperti dikemukakan oleh Sutratinah Tirtonegoro (1984, hlm. 29) yakni “genius, gifted dan superior”. Penjalasan lebih lanjutnya, sebagai berikut:
1. Genius
Genius adalah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga dapat menciptakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya. Intelligence Quotient (IQ) anak ini berkisar antara 140 sampai 200. Anak genius memiliki kemampuan seperti daya abstraksi yang baik sekali, memiliki banyak ide, sangat kritis, sangat kreatif, suka menganalisis, dan sebagainya. Di samping itu, anak genius juga memiliki kecenderungan hanya mementingkan diri sendiri (egois), tempramennya tinggi sehingga cepat bereaksi (emosional), tidak mudah bergaul, senang menyendiri, dan tidak mudah menerima pendapat orang lain.
2. Gifted
Gifted atau dikenal juga dengan istilah gifted and talented adalah anak yang tingkat kecerdasannya (IQ) antara 125 sampai 140. Di samping memiliki IQ tinggi, bakatnya sangat menonjol, seperti bakat musik, drama, ahli memimpin masyarakat, dan sebagainya. Anak gifted memiliki karakteristik mempunyai perhatian terhadap sains, serba ingin tahu, imajinasinya kuat, senang membaca, dan senang akan koleksi.
3. Superior
Anak superior tingkat kecerdasannya (IQ) berkisar antara  110 sampai 125 sehingga prestasi belajarnya cukup tinggi. Anak ini memiliki karakteristik dapat berbicara lebih dini, dapat membaca lebih awal, dapat mengerjakan pekerjaan sekolah dengan mudah, dan dapat perhatian dari teman-temannya.
Anak berbakat memiliki karakteristik belajar yang berbeda dengan anak normal. “Mereka cenderung memiliki kelebihan menonjol dalam kosakata dan menggunakannya secara luwes, memiliki informasi yang kaya, cepat dalam menguasai bahan pelajaran, cepat dalam memahami hubungan antar fakta, mudah memahami dalil-dalil dan formula-formula, tajam kemampuan analisisnya, membaca banyak bahan bacaan, peka terhadap situasi yang terjadi di sekeliling, kritis, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar” (Renzulli, Fahrle, dkk. dalam Dedi Supriadi, 1992, hlm. 9).
Keterbakatan bersifat multidimensional, kriterianya tidak hanya inteligensi, melainkan kreativitas, kepemimpinan, komitmen pada tugas, prestasi akademik, motivasi, dan sebagainya. Renzulli, dkk. (dalam Dedi Supriadi, 1992, hlm. 10) mengembangkan “skala yang disebut Scales for Rating Behavioral Charasteristices of Superior Students (SRBCSS) yang mencakup sepuluh karakteristik, yakni belajar, motivasi, kreativitas, kepemimpinan, artistik, musik, drama, komunikasi, komunikasi ekspresif, dan perencanaan”.
Renzulli (dalam Conny Semiawan, 1994, hlm. 117-122) mengungkapkan 6 langkah identifikasi bagi anak berbakat, sebagai berikut:
1. Beranjak dari penjaringan berdasarkan skor tes, tetapi mereka yang belum terjaring tidak seluruhnya ditinggalkan, karena ingin menjangkau kurang lebih 15% dari populasi. Semua anak yang skornya di atas persentil ke 85 biasanya akan terjaring melalui tes inteligensi yang telah terstandarisasikan. Untuk memberi peluang pada kelompok yang lebih luas, kita membagi pool keberbakatan menjadi dua bagian dan semua siswa yang skornya di atas persentil ke 92 (menurut norma lokal) pada umumnya sudah otomatis termasuk pool tersebut dan biasanya terdiri dari 50% jumlah populasi sampel. Skor tes yang dimaksud biasanya suatu tes inteligensi atau tes hasil belajar atau tes bakat tunggal yang memberi peluang pada seseorang yang baik dalam bidang tertentu, tetapi mungkin tidak baik pada bidang lainnya, untuk dapat masuk dalam pool tersebut. Citi utama keberbakatan, yakni di atas rata-rata keterletakan pada tugas dan kreativitas dapat dijaring melalui aspek psikometrik, aspek perkembangan, aspek kinerja, dan aspek sosiometrik dengan berbagai alat.
2. Langkah kedua merupakan nominasi guru yang bagaimanapun juga harus dihargai sama dengan hasil skor tes. Dalam nominasi ini digunakan skala penilaian (rating scale) untuk memperoleh gambaran tentang profil kemampuan anak.
3. Langkah ketiga adalah cara alternatif lain, yang bisa merupakan nominasi teman sebaya, nominasi orang tua atau nominasi diri, maupun tes kreativitas. Jika pada skor tes yang tinggi nominasi itu secara otomatis dapat diterima, pada langkah ketiga ini perlu melalui suatu panitia peneliti terlebih dahulu.
4. Langkah keempat adalah nominasi khusus yang merupakan review terakhir dari mereka yang sebelumnya tak terlibat dalam nominasi-nominasi tersebut. Mereka memperoleh seluruh daftar nominasi hasil langkah ke satu sampai langkah ketiga dan boleh menambah nominasi orang lain, bahkan juga boleh mengusulkan untuk membatalkan nominasi tertentu berdasarkan pengalaman tertentu dengan anak tertentu.
5. Langkah kelima adalah nominasi informasi tindakan, proses ini terjadi bila guru setelah memperoleh penataran dalam pendidikan anak berbakat, dapat melakukan interaksi yang dinamis, sehingga meningkatkan motivasi dan keinginan anak untuk suatu topik atau bidang tertentu di sekolah ataupun di luar sekolah.
6. Langkah keenam adalah penjaringan melalui tes dan menjadi cara yang populer. Potensi-potensi yang terjaring dari seluruh populasi sekolah telah memberi peluang pada anak lain yang bukan karena kemampuan umumnya, melainkan mungkin karena sebab lain yang biasanya tidak terjaring oleh skor tes, untuk tetap diperhatikan dan dimasukkan dalam pool anak berbakat sekolah tersebut.
Alat yang dapat dipergunakan dalam melakukan identifikasi anak berbakat, diantaranya:
1. Kemampuan intelektual umum
Galton (dalam Conny Semiawan, 1994, hlm. 124) mengemukakan bahwa “pengukuran intelektual umum diperoleh melalui pengukuran kekuatan otot, kecakapan gerak, sensitivitas terhadap rasa sakit, kecermatan dalam pendengaran dan penglihatan, perbedaan dalam ingatan, dan lainnya yang disebut tes mental”.
2. Tes inteligensi umum
Salah satu perkembangan yang amat penting dalam pengembangan pengukuran inteligensi adalah timbulnya skala Wechsler dalam mengukur inteligensi orang dewasa dengan menggunakan norma tes bagi perhitungan IQ yang menyimpang.
3. Tes kelompok kontra tes individual
Tes kelompok lebih banyak digunakan dalam sistem pendidikan, pelayanan pegawai, industri, dan militer. Tes kelompok dirancang untuk sekelompok tertentu, biasanya tes kelompok menyediakan lembar jawaban dan kunci-kunci tes. Bentuk tes kelompok berbeda dari tes individual dalam menyusun item dan kebanyakan menggunakan item pilihan ganda.
4. Pengukuran hasil belajar
Tes ini mengukur hasil belajar setelah mengikuti proses pendidikan. Tes hasil belajar ini berbeda dengan tes bakat dan tes inteligensi. Tes hasil belajar pada umumnya merupakan evaluasi terminal untuk menentukan kedudukan individu setelah menyelesaikan suatu latihan utau pendidikan tertentu. Penekanannya terutama pada apa yang dapat dilakukan individu setelah saat itu mendapatkan pendidikan tertentu.
5. Tes hasil belajar individual
Pada umumnya tes hasil belajar adalah tes kelompok yang bermaksud membandingkan kemajuan belajar antar individu sebaya, namun di sini hasil belajar individu saja.
Selain masalah kriteria dan prosedur identifikasi, perhatian khusus kepada anak berbakat melibatkan beberapa dimensi lain, seperti dikemukakan oleh Dedi Supriadi (1992, hlm. 11) yakni, “perancangan kurikulum, penyediaan sarana pembelajarannya, model perlakuannya, kerjasama dengan keluarga, dan pihak luar, serta model bimbingan dan konselingnya”. Berikut penjabarannya.
1. Kurikulum
Kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat mengacu pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitasnya serta mencakup berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi. Dilihat dari kebutuhan perkembangan anak berbakat, maka kurikulum berdiferensiasi memperhatikan perbedaan kualitatif individu berbakat dari individu lainnya. Dalam kurikulum berdiferensiasi terjadi penggemukan materi, artinya materi kurikulum diperluas atau diperdalam tanpa menjadi lebih banyak. Secara kualitatif materi pelajaran berubah dalam penggemukan beberapa konsep esensial dari kurikulum umum sesuai dengan tuntutan bakat, perilaku, keterampilan, dan pengetahuan serta sifat luar biasa anak berbakat.
Dengan demikian, kurikulum pendidikan seyogyanya bisa mengakomodasi dimensi vertikal maupun horisontal pendidikan anak. Secara verikal anak-anak berbakat harus diberi kemungkinan untuk menyelesaikan pendidikannya lebih cepat. Secara horisontal, disediakan program pengayaan (enrichment), dimana siswa berbakat diberi kemungkinan untuk menerima materi tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan.
2. Model pembelajaran
Untuk pendidikan terhadap anak berbakat ini ada beberapa model yang dapat digunakan, yakni pengayaan, percepatan, dan segregasi. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Philip E. Veron, G. Adamson, dan Dorothy F. Vernon (1979, hlm. 142), yakni “enrichment, acceleration, and segregation”. Penjelasan dari model-model tersebut secara terperinci, sebagai berikut:
a. Pengayaan (enrichment)
Dalam model ini anak mendapatkan pelajaran tambahan sebaga pengayaan. Pengayaan ini dapat dilakukan melalui dua cara, yakni:
1) Secara vertikal
Cara ini untuk memperdalam salah satu atau sekelompok mata pelajaran tertentu. Anak diberi kesempatan untuk aktif memperdalam ilmu pengetahuan yang disenangi, sehingga menguasi materi pelajaran secara luas dan mendalam.
2) Secara horisontal
Anak diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan dengan tambahan atau pengayaan yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang dipelajari.
b. Percepatan (acceleration)
Dalam percepatan ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:
1) Masuk sekolah lebih awal/sebelum waktunya (early admission), misalnya sebelum usia 6 tahun, dengan catatan bahwa anak sudah matang untuk masuk Sekolah Dasar (SD).
2) Loncat kelas (grade skipping atau skipping class), misalnya karena kemampuannya luar biasa pada salah satu kelas, maka langsung dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi satu tingkat.
3) Penambahan pelajaran dari tingkatan di atasnya, sehingga dapat menyelesaikan materi pelajaran lebih awal.
4) Maju berkelanjutan tanpa adanya tingkatan kelas. Dalam hal ini sekolah tidak mengenal tingkatan, tetapi menggunakan sistem kredit. Ini berarti anak berbakat dapat maju terus sesuai dengan kemampuannya tanpa menunggu teman-teman lainnya.
c. Segregasi (segregation)
Anak-anak berbakat dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang disebut ability grouping dan diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya.
Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan anak berbakat menyangkut bagaimana anak-anak diperlakukan di sekolah melalui sistem pengelompokkan. Sistem pengelompokkan bermacam-macam, tetapi intinya ada dua, yakni pengelompokkan homogen dan heterogen. Dasar pengelompokkan bisa berupa jenis kelamin, tingkat kemampuan belajar, atau minat-minat khusus pada mata pelajaran tertentu.
Fahrle, Duffi, dan Schulz (dalam Dedi Supriadi, 1992, hlm. 23) mengemukakan bahwa “program pendidikan untuk anak-anak berbakat harus memberikan kepada anak dua macam pengalaman yang bernilai sosial”. Pertama, mereka harus memiliki kesempatan untuk bergaul secara luas dan  wajar dengan teman sebayanya. Kedua, program pendidikan untuk anak-anak berbakat harus menyediakan peluang kepada peserta didik untuk secara intelektual tumbuh bersama rekan sebayanya.
Sistem manapun yang dipilih, penyelenggara harus tetap berpegang pada prinsip bahwa pendidikan itu tidak boleh mengorbankan fungsi sosialisasi, nilai-nilai budaya (toleransi, solidaritas kerjasama) kepada anak. Program pendidikan untuk anak-anak berbakat tidak identik dengan perlakuan yang eksklusif, melainkan semata-mata agar memberikan peluang kepada anak untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
3. Model penilaian
Penerapan penilaian mencakup ciri-ciri belajar yang berkenaan dengan tingkat berpikir tinggi. Biasanya anak berbakat mampu menilai hasil kinerjanya sendiri secara kritis. Selain itu, “setiap anak tersebut harus memperoleh umpan balik tentang hasil kinerjanya secara terbuka” (Conny Semiawan, 1994, hlm. 273).
Biasanya penilaian yang menunjuk pada suatu asesmen dilakukan oleh guru yang bukan saja mengenal muridnya, melainkan juga melatih, mendidik, dan mengamatinya sehari-hari. Asesmen ini adalah langkah dalam proses penyerahan dan penempatan tertentu serta merupakan rangkaian upaya perolehan informasi dan bukan semata-mata hasil proses tersebut.
Tujuan pengukuran pada dasarnya berbeda-beda, bila hendak membandingkan anak tertentu, maka gunakan pengukuran acuan norma dengan:
a. Membandingkan anak berbakat dengan seluruh populasi.
b. Membandingkan anak berbakat dengan teman sebaya.
c. Membandingkan anak berbakat dengan populasi anak berbakat lagi.
d. Membandingkan anak berbakat dengan dirinya sendiri.
Sedangkan proses dan produk belajar yang mengacu pada ketuntasan belajar menggunakan instrumen dan prosedur yang merupakan:
a. Pengejawantahan dari kekhususan layanan pendidikan anak berbakat.
b. Hasil umpan balik untuk keperluan tertentu.
c. Pemantulan tingkat kemantapan penguasaan suatu materi sesuai sifat, keterampilan, kemampuan, maupun kecepatan belajar seseorang.
4. Guru anak berbakat
Untuk menangani anak berbakat di SD, tentunya membutuhkan guru-guru yang memiliki kemampuan khusus. Dalam hal ini David G. Armstrong dan Tom V. Savage (1983, hlm. 334) mengutip pendapat James O. Shnur (1980), sebagai berikut “most descriptions of capable teachers of the gifted and talented”. Deskripsi kemampuan guru yang dimaksud, yakni:
a. Memiliki kematangan dan keamanan.
b. Memiliki kreativitas dan fleksibilitas.
c. Memiliki kemampuan mengindividualisasikan materi pelajaran.
d. Memiliki kedalaman pemahaman terhadap pengajaran.
Akhirnya, agar anak-anak berbakat dapat mengembangkan potensinya secara maksimal, hendaknya guru-guru SD beserta orang tua memahami ciri-ciri dan karakteristik anak berbakat dalam belajar, selanjutnya diharapkan para guru selalu memperhatikan anak didiknya pada saat belajar. Jika guru menemukan anak yang memiliki ciri-ciri dan karakteristik anak berbakat, maka guru harus melakukan identifikasi secara dini, sehingga peserta didik tersebut dapat ditangani lebih dini dan potensi yang dimiliki anak bisa berkembang secara maksimal.

Referensi
Armstrong, D. G, & Savage, T. V. (1983). Secondary Education: An Introduction. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.
Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M. (1982). Exceptional Children Introduction to Special Education. New York: Prentice-Hall, Inc.
Munandar, U. (1982). Pemanduan Anak Berbakat. Jakarta: CV Rajawali.
Semiawan, C. (1994). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan.
Supriadi, D. (1992). Perspektif Psikologis dan Sosial Pendidikan Anak-anak Berbakat. Bandung: Makalah Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II IKIP Bandung.
Tirtonegoro, S. (1984). Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Veron, P. E., Adamson, G., & Vernon, D. F. (1979). The Psychology and Education of Gifted Children. London: Methuen & Co. Ltd.


EmoticonEmoticon