Friday, 3 February 2017

Faktor Penghambat Inovasi Pendidikan Indonesia



Faktor Penghambat Inovasi Pendidikan Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Faktor Penghambat Inovasi Pendidikan Indonesia
Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan potensi suatu bangsa agar mampu berbicara banyak pada tataran global. Hanson dan Brembeck (dalam Hafi Anshari, 1983, hlm. 29) menyatakan bahwa
“pendidikan perlu dimantapkan sehingga dapat difungsikan sebagai penelitian, menemukan dan memupuk bakat, meningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan dan mengubah kesempatan kerja dalam rangka pertumbuhan ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keterampilan dan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk masa yang akan datang”.
Berdasarkan kajian peranan strategis pendidikan bagi suatu bangsa, maka tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia untuk senantiasa meningkatkan kualitas pendidikan. Perbaikan kualitas pendidikan tidak hanya berbicara tentang peningkatan sarana dan prasarana, perubahan kurikulum atau meningkatkan kualifikasi masukan dari sistem pendidikan tanpa memperhatikan kualitas dan nasib atau kesejahteraan guru. “Perbaikan sarana dan prasarana, kurikulum telah banyak dilakukan, namun demikian, masih sedikit yang dilakukan dengan menyentuh kebutuhan atau nasib guru secara utuh” (E. Mulyasa, 2002, hlm. 21). Maka, sebagai salah satu sub komponen penting dalam sistem pendidikan nasional, perbaikan kebutuhan dan nasib guru untuk dewasa ini perlu diintensifkan.
Di samping itu, perlu adanya inovasi pendidikan pada segala komponen pendidikan. Suatu perbaikan kualitas, diawali oleh suatu perubahan. Perubahan dalam konteks ini, yakni suatu inovasi pendidikan. Namun, suatu inovasi pendidikan tentunya tidak selalu berjalan dengan lancar. Untuk itu, terdapat faktor-faktor penghambat inovasi pendidikan yang perlu kita pahami.
Setidaknya terdapat enam faktor penghambat inovasi pendidikan, dijabarkan sebagai berikut:
1. Perkiraan yang tidak tepat mengenai inovasi
Faktor ini merupakan faktor yang peling penting dan kompleks sebagai hambatan bagi inovasi pendidikan. Hambatan yang disebabkan kurang tepatnya perencanaan atau estimasi (under estimate) dalam inovasi pendidikan yakni tidak tepatnya peritmbangan tentang implementasi inovasi, kurang adanya hubungan antar anggota kelompok pelaksana inovasi, dan kurang adanya kesamaan pendapat tentang tujuan yang akan dicapai atau kurang adanya kerjasama yang baik.
Hal ini terjadi pada pelaksanaan inovasi pendidikan di Indonesia. Secara terperinci beberapa hal yang berkenaan dengan ketidaktepatan estimasi inovasi pendidikan di Indonesia, antara lain: (1) tidak adanya koordinasi antar petugas yang berlainan di bidang garapan, (2) tidak jelas struktur pengambilan keputusan, (3) kurang adanya komunikasi yang baik dengan pimpinan struktural, (4) perlu sentralisasi data penentuan kebijakan, (5) terlalu banyak undang-undang dan peraturan yang harus diikuti, (6) keputusan formal untuk memulai kegiatan inovasi terhambat, (7) tidak tepatnya pertimbangan untuk menghadapi masalah penerapan inovasi, dan (8) tekanan dari pimpinan untuk mempercepat inovasi dalam waktu yang singkat.
2. Konflik dan motivasi
Hambatan ini muncul karena adanya masalah-masalah pribadi seperti pertentangan anggota kelompok pelaksana, kurang motivasi untuk bekerja, dan berbagai macam sikap pribadi yang dapat mengganggu proses inovasi.
Secara terperinci beberapa hal yang berkenaan dengan konflik dan motifasi pada penerapan inovasi pendidikan di Indonesia, antara lain: (1) adanya pertentangan antar anggota kelompok, (2) antara beberapa anggota kurang adanya saling pengertian serta saling merasa iri antara satu dengan yang lain, (3) orang yang memiliki peranan penting dalam proyek justru tidak menunjukkan semangat dan ketekunan kerja, (4) beberapa orang penting dalam proyek terlalu kaku dan berpandangan sempit tentang proyek, (5) orang yang memegang jabatan penting dalam proyek tidak bersikap terbuka untuk menerima inovasi, dan (6) kurang adanya penghargaan terhadap orang yang telah menerima atau menerapkan inovasi.
3. Lemahnya berbagai faktor penunjang inovasi
Hal-hal berkaitan dengan lemahnya faktor penunjang inovasi, seperti rendahnya penghasilan per kapita, kurang adanya pertukaran inovasi, tidak mengetahui adanya potensi alam, jarak yang terlalu jauh, iklim yang tidak menunjang, kurang sarana komunikasi, kurang perhatian dari pemerintah, dan sistem pendidikan yang kurang sesuai dengan kebutuhan.
Secara terperinci beberapa hal yang berkenaan dengan lemahnya berbagai faktor penunjang inovasi pendidikan di Indonesia, antara lain: (1) lambatnya pengiriman material yang diperlukan, (2) material tidak siap tepat waktu, (3) perencanaan dana tidak tepat, (4) sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, (5) orang yang telah dilatih untuk menangani proyek tidak mau ditempatkan sesuai kebutuhan proyek, (6) terjadi inflasi, (7) peraturan yang tidak sesuai, (8) jauhnya jarak antar tempat, (9) tenaga pelaksana kurang mampu menangani proyek sesuai dengan perencanaan, dan (10) terlalu cepat terjadi perubahan penempatan orang-orang penting dalam proyek sehingga dapat mengganggu kontinuitas.
4. Keuangan (financial) yang tidak terpenuhi
Tentang bantuan dana untuk suatu proyek inovasi sering terjadi adanya peraturan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan bila masyarakat setempat (daerah) memiliki dana sendiri (swasembada). Daerah tidak memiliki dana, maka pemerintah tidak membantu atau masyarakat tidak mau mengusahakan dana karena tidak ada bantuan dari pemerintah.
Secara terperinci beberapa hal yang berkenaan dengan keuangan pada penerapan inovasi pendidikan di Indonesia, antara lain: (1) tidak memadainya bantuan finansial dari daerah, (2) tidak memadainya bantuan finansial dari luar daerah, (3) kondisi ekonomi daerah secara keseluruhan, (4) prioritas ekonomi secara nasional lebih banyak pada bidang lain daripada bidan pendidikan, dan (5) ada penundaan dalam penyampaian dana.
5. Penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi
Faktor ini berupa penolakan dari kelompok inovasi penentu atau kelompok elit dalam suatu sistem sosial. Penolakan ini berbeda dengan keberatan karena kurang dana atau masalah personal. Namun, penolakan ini memang ada kecenderungan muncul dari kelompok penentu.
Secara terperinci beberapa hal yang berkenaan dengan penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi pendidikan di Indonesia, antara lain: (1) kelompok elit yang memiliki kewenangan dalam masyarakat tradisional menentang inovasi atau perluasan inovasi, (2) terdapat pertentangan ideologi mengenai inovasi, (3) proyek inovasi dilaksanakan sangat lambat, dan (4) keberatan terhadap inovasi karena sebab kepentingan kelompok.
6. Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi
Faktor ini berkaitan dengan hubungan antar kelompok dan hubungan dengan orang di luar kelompok.
Secara terperinci beberapa hal yang berkenaan dengan kurang adanya hubungan sosial dan publikasi pada penerapan inovasi pendidikan di Indonesia, antara lain: (1) ada masalah dalam hubungan sosial antar kelompok, (2) ada ketidakharmonisan antar anggota kelompok proyek, dan (3) kurangnya suasana yang memungkinkan terjadi pertukaran pikiran yang terbuka.
Apabila disimpulkan, ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau sekolah, sebagai berikut:
1. Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan, dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut. Sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah yang berkaitan.
2. Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat ini, karena sistem atau metode tersebut sudan mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu, sistem yang mereka miliki dianggap memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka.
3. Inovasi baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa.
4. Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finansial sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru untuk melaksanakan keinginan pusat yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan situasi sekolah.
Upaya menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas, memunculkan faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan, antara lain:
1. Guru
Guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan. Dengan kata lain, guru adalah stakeholder yang sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar. Guru harus pandai membawa siswa kepada tujuan yang hendak dicapai.
Begitu pula dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasi terhadap inovasi, guru memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan guru, maka sangat mungkin guru akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini telah diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan. Dengan demikian, dalam suatu inovasi pendidikan, guru memiliki peran yang utama dan pertama terlibat karena memiliki peran yang luas di dunia pendidikan.
2. Siswa
Sebagai obyek sekaligus subyek utama dalam pendidikan terutama pada proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensi, daya motorik, pengalaman, kemauan, dan komitmen yang timbul dari dalam diri tanpa ada paksaan. Hal ini dapat terjadi apabila siswa dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari inovasi, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan. Sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen.
Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah penting, karena siswa bisa berperan sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran, petunjuk, dan bahkan sebagai guru bagi sesamanya. Oleh karena itu, siswa perlu diajak atau dilabatkan dalam proses inovasi pendidikan, sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, melainkan mengurangi penolakan terhadap inovasi.
3. Kurikulum
Kurikulum pendidikan merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk itu, kurikulum dianggap sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses belajar mengajar. Sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa sejalannya inovasi pendidikan terhadap kurikulum, maka inovasi tersebut tidak akan berjalan optimal. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, inovasi hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan adanya inovasi, sehingga kedua hal tersebut berjalan secara beriringan.
4. Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana merupakan indikator yang tidak dapat diabaikan dalam keberlansungan proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, tentu saja sarana dan prasarana merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya sarana dan prasarana, maka pelaksanaan inovasi pendidikan tidak dapat berjalan dengan optimal.
5. Lingkup sosial masyarakat
Dalam penerapan inovasi pendidikan, terhadap hal yang secara tidak langsung terlibat dalam perubahan. Peran tersebut ada pada lingkungan masyarakat. Masyarakat secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak disengaja akan terlibat dalam pendidikan. Sebab, pada dasarnya apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat dimana peserta didik itu berada. Tanpa melibatkan masyarakat sekitar, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan akan ditolak apabila masyarakat tidak diberitahu atau dilibatkan.

Referensi
Anshari, H. (1983). Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Mulyasa, E. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon