Saturday, 25 February 2017

Media Pembelajaran Diorama



Media Pembelajaran Diorama
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Diorama merupakan media pembelajaran tiga dimensi yang menggambarkan suatu kejadian, baik kejadian bernilai sejarah atau tidak. Menurut Rayandra Asyhar (2012, hlm. 47) “media tiga dimensi merupakan media yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai dimensi panjang, lebar, dan tebal”. Kebanyakan media tiga dimensi merupakan obyek sesungguhnya atau miniatur obyek. Diorama ini termasuk media yang disajikan dalam bentuk miniatur atau sering disebut juga dengan media serba aneka.
Menurut Susanto (2012, hlm. 106) diorama adalah “gambaran adegan yang dituangkan dalam bentuk seni patung”. Secara umum diorama diartikan sebagai pengadaan sebuah pemandangan dalam ukuran kecil yang dibuat seperti aslinya. Menurut Sheperd Paine (1980, hlm. 1) “diorama adalah adegan yang menceritakan suatu cerita”. Hal ini sependapat dengan Ray Anderson (1988, hlm. 4) yang berpendapat bahwa “diorama adalah bentuk seni model yang dibuat awet tidak hanya obyeknya tetapi seluruh gambaran atau suatu keadaan tertentu”.
Daryanto (2013, hlm. 29) berpendapat bahwa “media diorama merupakan salah satu media tanpa proyeksi yang disajikan secara visual tiga dimensional berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya”. Selanjutnya Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipta (2013, hlm. 50) berpendapat bahwa “diorama adalah gambaran kejadian baik yang mempunyai nilai sejarah atau tidak yang disajikan dalam bentuk mini atau kecil”. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa diorama memberikan informasi berupa peristiwa yang disajikan dalam bentuk tiruan lebih kecil dari aslinya.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002, hlm. 170) mendifinisikan diorama sebagai “pemandangan tiga dimensi mini bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya”. Diorama terdiri dari bentuk-bentuk atau obyek-obyek yang ditempatkan di suatu tempat yang berlatar belakang lukisan sesuai dengan penyajian. Definisi lebih konkret diungkapkan oleh Yudhi Munadi (2013, hlm. 109) bahwa media diorama adalah “pemandangan tiga dimensi dalam ukuran kecil untuk memperagakan atau menjelaskan suatu keadaan atau fenomena yang menunjukkan aktivitas”. Hal ini sejalan dengan pendapat I Nyoman Sudana Degeng, dkk. (1993, hlm. 77) yang mendefinisikan diorama sebagai “kotak yang melukiskan suatu pemandangan yang mempunyai latar belakang dengan perspektif sebenarnya, sehingga menggambarkan suatu suasana yang sebenarnya”.
Dari beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa diorama merupakan gabungan antara model (tiga dimensi) dengan gambar perspektif (dua dimensi) dalam suatu penampilan utuh yang menggambarkan suasana sebenarnya.
Tujuan penggunaan media tiga dimensi (benda tiuran) menurut Daryanto (2010, hlm. 30-31) antara lain:
1. Mengatasi kesulitan yang muncul ketika mempelajari obyek yang terlalu besar.
2. Untuk mempelajari obyek yang telah menjadi sejarah di masa lampau.
3. Untuk mempelajari obyek yang tak terjangkau secara fisik.
4. Untuk mempelajari obyek yang mudah dijangkau tetapi tidak memberikan keterangan yang memadai.
5. Untuk mempelajari konstruksi-konstruksi yang abstrak.
6. Untuk memperlihatkan proses dari obyek yang luas.
Diorama sebagai media pembelajaran dijelaskan oleh Hujair AH Sanaky (2013, hlm. 133) terutama berfungsi untuk “mata pelajaran ilmu bumi (IPA), ilmu hayat, sejarah, bahkan diusahakan untuk berbagai mata pelajaran lainnya”. Sehingga diorama dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk berbagai mata pelajaran.
Selanjutnya Hujair AH Sanaky mengungkapkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media diorama, yakni:
1. Diorama sebaiknya tidak terlalu ramai tetapi jelas sasarannya atau tujuannya dan memiliki daya tarik.
2. Diorama harus dikaitkan dengan pelajaran yang sedang dipelajari.
Menurut Ray Anderson (1988, hlm. 3) “sebuah kotak diorama adalah paket lengkap yang menggabungkan patung, mewarnai, seni keterampilan, dan pencahayaan dalam unit itu sendiri”.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Susanto (2012, hlm. 296) patung atau seni patung adalah “sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya dibuat dengan metode subtraktif (mengurangi bahan seperti memotong, menatah dan lain-lain) atau aditif (membuat modelling terlebih dahulu, seperti mengecor dan mencentak)”. Dalam hal ini adalah patung yang lebih dikhususkan sebagai figur tokoh yang melakukan adegan dalam diorama dengan setting cerita yang ditampilkan.
Mewarnai yang dimaksud adalah bagaimana seseorang bisa mewarnai figur, latar, dan tambahan gambar dengan menggunakan beberapa teknik mewarna, agar hasil diorama yang dibuat dapat terlihat alami dan mirip dengan aslinya, serta bisa juga untuk menambah kesan realistik dan dramatis.
Seni kerajinan yang dibahas adalah bagaimana membuat latar (ground) keadaan seperti membuat pohon, tebing, bebatuan, lautan, dan lainnya beserta beberapa benda miniatur pelengkap lain yang ada pada saat adegan itu berlangsung. Teknik yang bisa digunakan dengan teknik konstruksi, modeling atau penggabungan antara kedua teknik tersebut.
Pencahayaan dapat ditambahkan sebagai pelengkap diorama agar dapat menampilkan arah cahaya dan juga dapat menambah kesan tinggi rendahnya sebuah latar yang dibuat, bisa juga menambah kesan dramatisasi dalam cerita yang ditampilkan berupa penggambaran waktu yang dialami saat kejadian tersebut.
Menurut Ray Anderson (1988, hlm. 7) prinsip-prinsip diorama yang baik, diantaranya:
1. Sebuah diorama harus menceritakan sebuah cerita sederhana, kesimpulan dapat diserahkan kepada imajinasi penonton. Kita dapat menarik perhatian penonton selama satu atau dua menit, jadi petunjuk untuk cerita kita harus sederhana dan jelas. Pada setiap diorama memiliki latar belakang cerita. Cerita yang disuguhkan dalam bentuk diorama itu harus jelas dan mudah dipahami para penonton. Maka dari itu, sebisa mungkin diorama itu dibuat dengan latar cerita yang sederhana dan memberikan kesan yang mendalam kepada penonton agar penonton dapat mengerti dan berimajinasi secara langsung ke dalam adegan cerita yang ditampilkan.
2. Potongan harus sekecil mungkin untuk menciptakan pribadi dan perasaan yang mendalam. Tokoh harus sebagai pusat perhatian, bukan hanya sebagai patung. Maksudnya figur replika tokoh harus terlihat hidup karena tokoh dalam sebuah diorama itu mempunyai peran yang sangat penting dalam memperagakan sebuah adegan cerita yang diusung. Jadi peran miniatur tokoh itu tidak dibuat seperti patung yang kaku dan tanpa cerita.
3. Adegan harus seperti di sekeliling penonton, membuatnya merasa menjadi bagian dari aksi, bukannya jauh dari aksi tersebut. Diorama dibuat sebaik mungkin agar para penonton merasa terhanyut ke dalam adegan cerita yang dibawakan, dan dapat membuat penonton seolah menjadi bagian dari adegan tersebut.
4. Setting interior bangunan umumnya lebih efektif daripada pengaturan luar. Pada bagian diorama, latar interior biasanya lebih menarik dari latar yang yang lain selain interior, karena sebuah interior biasanya dibuat lebih detail dan lebih banyak menggunakan miniatur benda daripada latar lain yang biasanya hanya menampilkan latar seperti tebing, hutan, dan lain-lain.
5. Harus ada beberapa waktu untuk melihat detailnya. Diorama yang bagus mempunyai pusat perhatian pada detail yang ditampilkan, baik dari efek yang dibuat sampai dengan miniatur figur tokoh yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya dan memperhatikan detail dari tiap karakter tokoh.
6. Pencahayaan harus langsung, datang dari samping untuk memberikan bantuan bayangan relief. Pencahayaan ini dapat ditambahkan dalam diorama untuk menampilkan kesan yang lebih realistik dan menarik sesuai dengan lingkungan aslinya.
7. Kebanyakan adegan lebih efektif tanpa tambahan yang berlebihan. Beberapa figur dapat ditampilkan sebagai pelengkap cerita, namun tidak dibuat dengan detail agar adegan tokoh utama masih bisa dimunculkan.
8. Detail kostum adalah pusat perhatian yang besar dari kerumunan yang besar. Bagian yang paling menarik dari sebuah diorama adalah ditampilkannya detail baik dari tokoh yang dibuat maupun setting latar.
9. Keseimbangan yang tepat saat menyusun adalah sekitar 50 persen untuk adegan dan latar belakang, 20 sampai 30 persen masing-masing untuk tokoh dan benda lain. Komposisi tersebut dibuat dengan 50 persen untuk latar agar terlihat jelas keadaan sekitar tokoh dan menampilkan kesan ruang. Sedangkan 20 sampai 30 persen masing-masing sisanya diisi oleh tokoh utama cerita dan juga benda-benda lain sebagai pelengkap cerita.
10. Efek keseluruhan dari diorama harus diciptakan selama periode yang sama. Selain dibuat detail diorama yang baik juga harus menampilkan keadaan waktu yang sama dengan aslinya melalui pemberian efek maupun ornamen penjelas yang ada pada waktu adegan aslinya.
Secara umum, media diorama termasuk ke dalam media tiga dimensi. Muedjiono (dalam Daryanto, 2010, hlm. 29) mengungkapkan bahwa kelebihan media tiga dimensi, diantaranya:
1. Memberikan pengalaman secara langsung.
2. Penyajian secara konkret dan menghindari verbalisme.
3. Dapat menunjukkan obyek secara utuh baik konstruksi maupun cara kerjanya.
4. Dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas.
5. Dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas.
Kelebihan yang dimiliki media tiga dimensi tersebut tentunya dimiliki juga pada media diorama. Selain kelebihan yang telah disebutkan, Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipta (2013, hlm. 50) menambahkan bahwa “diorama lebih menekankan kepada isi dari gambaran visual atau tokoh dan lebih hidup”. Hal ini didukung oleh I Nyoman Sudana Degeng, dkk. (1993, hlm. 77) yang mengemukakan bahwa “dengan diorama, kesan visual yang diperoleh siswa lebih hidup”.
Di sisi lain, beberapa kelemahan diorama adalah tidak bisa menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar, penyimpanan memerlukan ruang yang besar dan perawatan rutin. Namun kekurangan tersebut dapat diatasi dengan membuat diorama dalam ukuran yang besar sehingga dapat diamati oleh seisi kelas dan sebagai solusi perawatan rutin, diorama dapat dibuat model tertutup sehingga tidak mudah kotor.
Berikut beberapa contoh media pembelajaran diorama:

Media Pembelajaran Diorama

Media Pembelajaran Diorama

Media Pembelajaran Diorama

Media Pembelajaran Diorama

Media Pembelajaran Diorama

Referensi
Anderson, R. (1988). The Art of Diorama. Milwaukee: Kalmbach Publising Co.
Asyhar, R. (2012). Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Referensi.
Daryanto (2010). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Degeng, I N. S., dkk. (1993). Proses Belajar Mengajar II (Media Pendidikan). Malang: Depdikbud.
Kustandi, C. & Sutjipto, B. (2013). Media Pembelajaran. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Munadi, Y. (2013). Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: GP Press.
Paine, S. (1980). How to Build Diorama. Milwaukee: Kalmbach Publishing Co.
Sanaky, H. AH (2013). Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.
Sudjana, N. & Rivai, A. (2002). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Susanto, A. (2012). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.


EmoticonEmoticon