Thursday, 2 March 2017

Kelereng



Kelereng
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kelereng merupakan salah satu jenis permainan tradisional yang banyak digemari oleh anak-anak. Kelereng berbentuk bola kecil yang terbuat dari tanah liat, marmer, atau kaca. Umumnya ukuran kelereng berdiamter 1,25 cm.
Kelereng
Kelereng

Sejak abad ke-15 permainan kelereng sudah ada dan sering dimainkan oleh kalangan aristokrat atau bangsawan. Kemudian permainan sejenis kelereng ini berkembang di Perancis dengan sebutan permainan petanque. Petanque memerlukan dua jenis bola yang mempunyai ukuran cukup besar yang terbuat dari kayu jati atau baja. Petanque pertama kali diperkenalkan oleh suku Gaule (Perancis Kuno). Setelah itu, permainan ini menyebar ke wilayah lain, seperti Yunani dan Mesir melalui orang-orang Romawi. Petanque pada masa itu dimainkan dengan tujuan untuk mengisi waktu luang.
Pada zaman Renaissance atau pencerahan, petanque menjadi mainan di kalangan aristokrat atau bangsawan dan bahkan dianggap sebagai olahraga yang cukup elit pada masa itu. Orang yang boleh memainkan permainan ini hanya orang tertentu saja.
Sejak tahun 1850, sebuah organisasi sosial bernama Clos Jouve memperkenalkan kembali petanque yang semakin hari kian dilupakan masyarakat. Pada abad ke-20 permainan ini mulai dipatenkan seiring dengan semakin banyaknya bermunculan komunitas-komunitas petanque sebagai pelestari kebudayaan tradisional.

Petanque
 
Teknologi pembuatan kelereng kaca mulai dikembangkan di Jerman sejak tahun 1864. Kelereng yang semula memiliki satu warna, menjadi berwarna-warni. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa, Amerika, Asia, dan akhirnya sampai ke Indonesia.
Di Indonesia permainan kelereng ini memiliki banyak nama sebutan lain, seperti gundu, keneker, kelici, dan guli. Permainan kelereng tidak memerlukan peralatan khusus untuk dimainkan. Pemain hanya memerlukan lapangan kosong (biasanya di halaman rumah atau sekolah) sebagai arena permainan kelereng dan kapur atau tongkat untuk membuat garis permainan.
Untuk memainkan permainan kelereng, pertama lapangan arena bermain yang cocok harus dibuat. Biasanya halaman bermain berpasir atau daerah pinggiran lapangan yang dapat digunakan sebagai area permainan kelereng. Setelah arena permainan dibuat, semua pemain perlu memberikan kontribusi sejumlah kelereng ke tengah lingkaran permainan. Kelereng ini disusun secara acak.
Selanjutnya, penembak pertama dapat memposisikan kelereng di mana saja di sekeliling luar lingkaran. Tujuan permainan kelereng ini untuk mengeluarkan kelereng yang disusun acak atau kelereng pemain lawan keluar dari lingkaran arena tanpa mengirim kelereng yang ditembakkan sendiri di luar batas. Penembak pertama umumnya bertujuan ke susunan pusat kelereng dan menempatkan penembak di sebuah celah yang dibentuk dengan menyelipkan ibu jari di belakang buku jari keduanya atau jari telunjuk. Jari telunjuk memegang jempol dalam ketegangan sambil mengambil ancang-ancang untuk menembak.
Selama penembak terus mengirimkan kelereng keluar dari lingkaran arena tanpa kehilangan posisi atau selalu kena, maka giliran bisa terus belanjut. Jika penembak gagal, maka gilirannya dianggap selesai. Sebuah permainan kelereng berakhir ketika semua kelereng telah tersingkir dari lingkaran arena. Pemain menghitung jumlah kelereng yang telah mereka kumpulkan dan kelereng yang paling banyak dinyatakan sebagai pemenang.

Kelereng
kelereng
kelereng
Bermain Kelereng

Manfaat yang dapat diperoleh anak dalam bermain kelereng, diantaranya:
1. Melatih kemampuan motorik
Kegiatan-kegiatan pada permainan ini, seperti melempar dan menyentil kelereng dapat melatih keterampilan motorik halus dan kasar dari anak. Semakin mahir anak menembakkan kelereng, maka kemampuan motorik, koordinasi visual, dan konsentrasi anak pastinya semakin terlatih.
2. Melatih kemampuan berpikir
Kemampuan berpikir anak ikut terlatih dalam permainan kelereng. Jika ia ingin memenangkan permainan, maka harus memecahkan masalah dan menggunakan strategi dengan menggunakan cara-cara tertentu.
3. Mengatur emosi
Bermain kelereng sangat menyenangkan bagi anak. Kesenangan inilah yang memunculkan unsur santai yang membantu anak keluar dari rutinitas dan anak dapat lebih mengatur emosinya.
4. Mengembangkan Kemampuan sosial
Unsur penting dalam permainan kelereng adalah bagaimana anak mampu menjalin pertemanan dengan teman sebayanya. Secara tidak langsung anak belajar mengatasi konflik ketika bermain kelereng dengan temannya.
5. Kemampuan berkompetisi
Keberhasilan anak memenangkan permainan kelereng lantas memperoleh tanggapan dari para lawan yang merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Adanya rasa bersaing pada diri anak sangat penting untuk membentuk rasa percaya diri.
6. Bersikap jujur
Anak juga berkesempatan mengembangkan karakter dan kepribadian yang positif ketika bermain. Salah satunya sikap jujur dan sportif. Sikap jujur dan sportivitas merupakan landasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
7. Melatih ketelitian dan kecermatan
Permainan kelereng melatih otak anak menjadi lebih cermat dalam bertindak dan menjadi lebih teliti dengan hal-hal yang ia lakukan atau yang ia akan kerjakan dengan cara memikirkan langkah-langkah yang harus diambil dengan kondisi yang sedang ia alami saat bermain.


EmoticonEmoticon