Saturday, 11 March 2017

Keterampilan Memberikan Penguatan



Keterampilan Memberikan Penguatan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Keterampilan Memberikan Penguatan

Penguatan merupakan salah satu keterampilan mengajar yang perlu dimiliki oleh seorang pendidik, sehingga dapat memberikan suatu dorongan kepada peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Penguatan yang diberikan oleh pendidik harus dapat tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga dapat menjadi pemicu bagi peserta didik secara keseluruhan dalam kelas, baik yang menjadi sasaran maupun bagi teman-temannya.
Keterampilan memberikan penguatan atau dalam bahasa Inggris reinforcement, secara garis besar dapat dimaknai sebagai kemampuan pendidik memberikan respon terhadap perilaku peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, agar peserta didik dapat meningkatkan perilaku positif dalam belajar.
Pemberian penguatan oleh pendidik terhadap perilaku peserta didik akan mendorong peserta didik tersebut termotivasi untuk belajar lebih baik lagi. Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1999, hlm. 272) menyatakan bahwa “memberi penguatan atau reinforcement adalah suatu tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut  di saat yang lain”. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Marno dan Idris (2010, hlm. 132) mendefinisikan “ penguatan sebagai respon positif yang diberikan guru kepada siswa atas perilaku positif yang dicapai dalam proses belajarnya, dengan tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut.
Menurut Barnawi dan Muhammad Arifin (2012, hlm. 208) “penguatan adalah respon positif dalam pembelajaran yang diberikan guru terhadap perilaku peserta didik yang positif dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut”. Sedangkan J. J. Hasibuan dan Sulthoni (2000, hlm. 53) berpendapat bahwa “penguatan merupakan tingkah laku guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut muncul kembali”. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hamid Darmadi (2010, hlm. 2) yang menyatakan bahwa “penguatan adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku tersebut”.
Syaiful Bahri Djamarah (2010, hlm. 118) mendefinisikan “pemberian penguatan sebagai respon dalam proses interaksi edukatif berupa respon positif dan respon negatif”. Respon positif ialah respon yang diberikan melalui hadiah atau pujian, sedangkan respon negatif diberikan melalui hukuman. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mengubah tingkah laku siswa (behavior modification) yang dilakukan melalui pemberian penguatan dalam rangka meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Jeanne Ellis Ormrod (2008, hlm. 433) mengatakan bahwa “penguatan setiap konsekuensi yang meningkatkan frekuensi perilaku tersebut atau tindakan mengikuti sebuah respon tertentu dengan sebuah penguat”. Selanjutnya Moh. Uzer Usman (2013, hlm. 80) menyatakan
“penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon, baik verbal maupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tidak dorongan ataupun koreksi”.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat ditarik garis besar bahwa penguatan atau reinforcement merupakan salah satu bentuk penciptaan suasana belajar yang menyenangkan yang diberikan kepada siswa dengan tujuan utama agar frekuensi tingkah laku positif siswa dapat meningkat. Pemberian penguatan sangat penting dilakukan oleh guru kepada siswa untuk meningkatkan minat dan perhatian siswa pada suatu materi pelajaran.
Pemberian penguatan hendaknya selalu mengacu pada prestasi yang ditunjukkan peserta didik, baik sewaktu proses pembelajaran berlangsung maupun atas hasil belajar yang dicapai peserta didik. Pemberian penguatan tentunya memiliki tujuan tertentu yang mengacu pada peningkatan kemampuan belajar peserta didik saat mengikuti pelajaran.
Gino, dkk. (2000, hlm. 55) mengemukakan bahwa “pemberian penguatan dalam kelas akan mendorong pembelajar (siswa) meningkatkan usahanya dalam kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan hasil belajarnya”.
Hasibuan (1992, hlm. 58) mengemukakan tujuan penguatan kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, yakni:
1. Meningkatkan perhatian murid.
2. Melancarkan atau memudahkan proses belajar.
3. Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
4. Mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu ke arah tingkah laku belajar yang produktif.
5. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar.
6. Mengarahkan kepada cara berpikir yang baik.
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa. Menurut Moh. Uzer Usman (2013, hlm. 81), penguatan memiliki pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar dan bertujuan, sebagai berikut:
1. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
2. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
3. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Marno dan M. Idris (2014, hlm. 130-131) mengemukakan beberapa tujuan pemberian penguatan, yakni:
1. Meningkatkan perhatian siswa dalam proses belajar.
2. Membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi belajar.
3. Mengarahkan pengembangan berpikir siswa ke arah berpikir yang baik atau divergen.
4. Mengatur dan mengembangkan diri anak dalam proses belajar.
5. Mengendalikan serta memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang positif dan mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.
Sedangkan menurut Saidiman (dalam Hamzah B. Uno, 2010, hlm. 65) keterampilan memberikan penguatan bertujuan untuk:
1. Meningkatkan perhatian siswa.
2. Melancarkan atau memudahkan proses belajar.
3. Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
4. Mengontrol atau mengubah sikap yang menganggu ke arah tingkah laku belajar yang produktif.
5. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar.
6. Mengarahkan cara berpikir yang baik/divergen dan inisiatif pribadi.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, tujuan akhir dari pemberian penguatan adalah agar anak didik dapat lebih meningkatkan perhatiannya terhadap pelajaran sekaligus membina tingkah laku yang produktif dalam melakukan aktivitas belajar. Pemberian penguatan yang diberikan oleh guru, baik secara simbolik, materi maupun dalam bentuk penguatan akan dapat merangsang peserta didik untuk lebih meningkatkan keaktifannya dalam belajar sekaligus berupaya membina tingkah lakunya ke arah yang lebih positif.
Pemberian penguatan merupakan pola berkesinambungan sekaligus pola sebagian-sebagian. Penguatan yang berkesinambungan adalah penguatan yang dibutuhkan bagi tingkah laku kelas tertentu. Penguatan ini akan tepat, apabila diberikan pada saat memulai pelajaran baru, namun biasanya jarang sekali bisa dilakukan. Sedangkan penguatan yang sebagian-sebagian adalah penguatan yang diberikan terhadap suatu respon tertentu tetapi tidak keseluruhan. Pemberian ini ada yang dapat diperhitungkan dan ada yang tidak dapat diperhitungkan. Pemberian yang dapat diperhitungkan, maksudnya adalah pemberian penguatan setelah ada sejumlah respon tertentu atau setelah waktu tertentu.
Pada proses pembelajaran di kelas, seorang guru harus dapat memberikan penguatan secara tepat sesuai dengan kondisi siswa dalam menerima pelajaran. Guru harus mengetahui berbagai cara menggunakan penguatan agar tujuan pembelajaran tercapat. Moh. Uzer Usman (2013, hlm. 83) mengemukakan beberapa cara menggunakan penguatan, diantaranya:
1. Penguatan kepada pribadi tertentu
Penguatan harus jelas kepada siapa ditujukan sebab jika tidak, akan kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebutkan nama siswa yang bersangkutan sambil menatap ke arah siswa tersebut.
2. Penguatan kepada kelompok
Penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya apabila salah satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas, guru memperbolehkan kelas itu istirahat lebih dulu.
3. Pemberian penguatan dengan segera
Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncul tingkah laku atau respon siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberiannya, cenderung kurang efektif.
4. Variasi dalam penguatan
Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja karena hal ini akan menimbulkan kejenuhan dan lama-kelamaan kurang efektif.
Moh. Uzer Usman (2013, hlm. 74) menyatakan bahwa terdapat tiga prinsip pemberian penguatan, sebagai berikut:
1. Kehangatan dan keantusiasan
Sikap dan gaya guru, termasuk suara, mimik, dan gerak badan, akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. Dengan demikian, tidak terjadi kesan bahwa guru tidak tulus dalam memberikan penguatan karena tidak disertai dengan kehangatan dan keantusiasan.
2. Kebermaknaan
Penguatan hendaknya diberikan sesuai dengan tingkah laku dan penampilan peserta didik, sehingga ia mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penghargaan. Jadi, penguatan itu bermakna bagi dirinya.
3. Menghindari penggunaan respon negatif
Teguran atau sanksi masih dapat digunakan, namun respon negatif yang dimaksud adalah berupa komentar, bercanda menghina, dan ejekan yang kasar. Hal ini perlu dihindari karena akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya. Misalnya, jika anak tidak dapat memberikan jawaban yang diharapkan, guru tidak langsung menyalahkan siswa, namun dapat melontarkan pertanyaan kepada siswa lain.
Penggunaan komponen keterampilan di kelas harus bersifat selektif, hati-hati, dan disesuaikan dengan usia siwa, tingkat kemampuan, kebutuhan, serta latar belakang, tujuan, dan sifat tugas. Pemberian penguatan harus bermakna bagi siswa. Menurut Barnawi dan Mohammad Arifin (2012, hlm. 209-211), beberapa komponen keterampilan memberi penguatan, sebagai berikut:
1. Penguatan verbal
Tanggapan guru yang berupa kata-kata pujian, dukungan, dan pengakuan dapat digunakan untuk memberikan penguatan atas kinerja peserta didik. Peserta didik yang telah mendapatkan penguatan akan merasa bangga dan termotivasi untuk meningkatkan kembali prestasi belajarnya.
Penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yakni melalui kata-kata dan melalui kalimat. Penguatan dalam bentuk kata-kata dapat berupa kata “bagus”, “benar”, “tepat”, “bagus sekali”, “ya”, “baik”, “mengagumkan”, “setuju”, “cerdas”, dan lain sebagainya. Sedangkan penguatan dalam bentuk kalimat dapat berupa kalimat:
a. “Wah pekerjaanmu baik sekali”.
b. “Ibu/bapa puas dengan jawabanmu”.
c. “Nilaimu semakin lama semakin baik”.
d. “Contoh yang kamu berikan tepat sekali”.
e. “Jawaban kamu lengkap”.
2. Penguatan non verbal
Penguatan non verbal dapat dilakukan dengan banyak cara, diantaranya:
a. Penguatan berupa mimik dan gerakan badan (gestur)
Pemberian penguatan ini berupa gerak tubuh atau mimik muka yang memberi kesan baik kepada peserta didik. Penguatan mimik dan gerak badan dapat berupa senyuman, anggukan kepala, acungan jempol, tepuk tangan, dan sebagainya.
b. Penguatan dengan cara mendekati
Peserta didik apabila didekati oleh guru akan memberikan kesan diperhatikan. Contohnya, guru dapat mendekati peserta didik yang sedang mengerjakan tugas. Cara ini dapat menimbulkan kesan dukungan terhadap aktivitas yang sedang dikerjakan oleh peserta didik.
Beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru dalam memberikan penguatan ini, yakni berdiri di samping siswa, berjalan menuju siswa, duduk dekat dengan seorang siswa atau kelompok siswa, berjalan di sisi siswa, dan sebagainya. Penguatan dengan cara mendekati juga dapat dilakukan ketika peserta didik menjawab pertanyaan, bertanya, berdiskusi, atau aktivitas lainnya.
c. Penguatan dengan sentuhan
Sentuhan dapat dilakukan dengan cara berjabat tangan, menepuk bahu, dan mengangkat tangan peserta didik saat menang lomba yang semuanya ditujukan untuk penghargaan penampilan, tingkah laku, atau kerja siswa. Akan tetapi, harus diperhatikan ketika memberi sentuhan, yakni jenis kelamin, budaya, umur, dan latar belakang. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi perbedaan pandangan terhadap arti sentuhan.
d. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
Untuk meningkatkan motivasi belajar, guru dapat memilih kegiatan-kegiatan belajar yang disukai siswa. Karena tiap-tiap siswa memiliki kesukaan masing-masing, guru perlu menyediakan berbagai alternatif pilihan yang sesuai dengan kesukaan siswa. Kegiatan yang menyenangkan bisa dalam bentuk kegiatan bernyanyi bersama. Misalnya, di sebuah kelas telah menyelesaikan pelajaran, tetapi waktu pelajaran masih tersisa. Guru dapat mengisi waktu luang tersebut dengan kegiatan bernyanyi bersama sebelum pulang sekolah. Bisa juga penguatan yang diberikan karena prestasi baik yang ditunjukkan siswa. Misalnya, siswa yang berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai pemimpin kelompok belajar. Penguatan dengan kegiatan ini juga dapat ditunjukkan dengan pulang terlebih dahulu, diberi waktu istirahat lebih, dan lain-lain.
e. Penguatan berupa simbol atau benda
Penguatan dalam bentuk simbol dapat berupa tindakan guru memberi tanda paraf pada hasil pekerjaan peserta didik atau guru memberikan komentar secara tertulis terhadap hasil pekerjaan peserta didik. Misalnya, memberi benda-benda yang tidak seberapa harganya, seperti stiker, bintang plastik, piagam, lencana, pulpen, pensil, buku tulis, pengapus, dan sebagainya. Pemberian penguatan berupa benda hendaknya jangan terlalu sering agar tujuan penguatan tidak menyimpang.
f. Penguatan tidak penuh dan penuh
Bila peserta didik hanya memberikan jawaban sebagian benar, sebaiknya guru memberikan penguatan tidak penuh dengan menyatakan “ya, jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu disempurnakan”, sehinga peserta didik tesebut mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah dan ia mendapat dorongan untuk menyempurnakannya.
Menurut pendapat Jeanne Ellis Ormrod (2008, hlm. 435-439), komponen penguatan tidak hanya terdiri dari komponen verbal dan non verbal, tetapi terdapat penguatan positif dan negatif. Penjelasan lebih lanjut dipaparkan, sebagai berikut:
1. Penguatan positif
Penguatan positif berupa pemberian ganjaran untuk merespon perilaku peserta didik yang sesuai dengan harapan guru, sehingga ia tetap merasa senang mengikuti pelajaran di kelas. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif. Penguatan positif dapat berupa pujian, simbol bintang, penambahan poin, dan sebagainya.
2. Penguatan negatif
Penguatan negatif berupa penghentian keadaan yang kurang menyenangkan, sehingga peserta didik merasa terbebas dari keadaan tersebut. Penguatan negatif menyebabkan peningkatan suatu perilaku melalui penghilangan sebuah stimulus, alih-alih menambah suatu stimulus. Misalnya, seorang guru berkata kepada peserta didiknya, “jika kamu telah selesai mengerjakan soal ini, kamu boleh pulang” atau “jika kalian menjawab minimal lima pertanyaan yang diberikan, kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah (PR)”. Dari contoh tersebut boleh pulang lebih awal dan PR merupakan penguatan yang berupa pelarian dari stimulus-stimulus yang tidak menyenangkan atau penguatan negatif.
Penguatan negatif ini berbeda dengan hukuman. Menurut Ratna Wilis Dahar (2011, hlm. 21) “hukuman merupakan konsekuensi-konsekuensi yang tidak memperkuat perilaku yang bertujuan untuk mengurangi perilaku dengan menghadapkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan”. Sedangkan penguatan negatif memperkuat perilaku yang diinginkan dengan menghilangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan.
Rusman (2012, hlm. 109), menjelaskan bahwa implikasi penguatan bagi guru, berwujud perilaku-perilaku, sebagai berikut:
1. Memberikan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara salah maupun benar.
2. Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan.
3. Memberikan catatan lapangan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, kliping pekeraan rumah) berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja pembelajaran.
4. Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan bagi siswa.
5. Mengumumkan dan menginformasikan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
6. Memberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7. Memberikan hadiah/ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelasaikan tugas.
Selanjutnya menurut Sunaryo (1989, hlm. 12) pemberian penguatan dapat dilakukan pada saat:
1. Siswa memperhatikan guru, kepada kawan lainnya, dan benda yang menjadi tujuan diskusi. Pada saat kondisi siswa itulah guru sebaiknya dengan segera memberikan penguatan.
2. Siswa sedang belajar, mengerjakan tugas dari buku, membaca, dan bekerja menulis.
3. Menyelesaikan hasil kerja (selesai penuh, atau menyelesaikan format).
4. Bekerja dengan kualitas kerja yang baik (kerapian, ketelitian, keindahan, dan mutu isi).
5. Perbaikan pekerjaan (dalam kualitas, hasil, atau penampilan).
6. Ada kategori tingkah laku (tepat, tidak tepat, vebal, fisik, dan tertulis).
7. Tugas mandiri (perkembangan pada pengarahan diri sendiri, mengelola tingkah laku sendiri, dan mengambil inisiatif kesiatan sendiri).
Akhirnya, implikasi keterampilan memberikan penguatan dapat diberikan kepada siswa atau sekelompok siswa saat diskusi, saat pengumuman hasil belajar, saat menjawab pertanyaan dengan tepat, ketika peserta didik mengemukakan pendapat, peserta didik berani maju ke depan kelas, peserta didik bertingkah laku baik, dan sebagainya. Penguatan dapat diberikan secala verbal maupun non verbal, baik individual ataupun kelompok. Guru harus menentukan bentuk, cara, serta kapan penguatan itu harus diberikan kepada siswa.

Referensi
Barnawi, & Arifin, M. (2012). Etika dan Profesi Kependidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Dahar, R. W. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Erlangga.
Darmadi, H. (2010). Kemampuan Dasar Mengajar (Landasan dan Konsep Implementasi). Bandung: Alfabeta.
Djamarah, S. B. (2010). Guru dana Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Gino, H. J., dkk. (2000). Belajar dan Pembelajaran. Surakarta: UNY Press.
Hasibuan (1992). Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasibuan, J. J., & Sulthoni (2000). Kemampuan Dasar Mengajar. Yogyakarta: UNY Press.
Marno, & Idris, M. (2014). Strategi, Metode, dan Teknik Mengajar. Yogyakarya: Ar-Ruzz Media.
Ormrod, J. E. (2008). Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta: Erlangga.
Rusman (2012). Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.
Sumantri, M., & Permana, J. (1999). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendiddikan Tinggi.
Uno, H. B. (2010). Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Usman, M. U. (2013). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon