Saturday, 25 March 2017

Metode Penemuan



Metode Penemuan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Penemuan


Sund (dalam Suryosubroto, 2002, hlm. 193) menyatakan bahwa metode penemuan merupakan “proses mental dimana siswa mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip”. Proses mental tersebut dapat berupa mengamati, mengelompokkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Herman Hudojo (2003, hlm. 123) berpendapat bahwa metode penemuan merupakan "suatu cara penyampaian topik-topik, sedemikian hingga proses belajar memungkinkan siswa menemukan sendiri pola-pola atau struktur-struktur melalui serentetan pengalaman-pengalaman belajar lampau”. Hal ini sejalan dengan pendapat Johnson (dalam Wasty Soemanto, 2003, hlm. 228) yang menyatakan bahwa metode penemuan adalah
“usaha untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang lebih dalam”. Untuk itu, pada penyampaian materi pelajaran, siswa tidak diberitahukan sebelumnya, sehingga sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode penemuan sengaja dirancang untuk meningkatkan keaktifan siswa yang lebih besar, berorientasi pada proses, untuk menemukan sendiri informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran menggunakan metode penemuan, menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran, guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk mengatur jalannya pembelajaran. Proses pembelajaran yang demikian membawa dampak positif pada pengembangan kreativitas berpikir siswa. Menurut Bruce Joyce dan Marsha Weil (1992, hlm. 199) “keuntungan metode penemuan adalah akan membantu siswa mengembangkan disiplin intelektual dan kebutuhan keterampilan untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan mencari jawaban dari keingintahuannya”.
Trowbridge dan Bybee (1990, hlm. 212) membagi metode penemuan menjadi dua jenis, yakni “(1) penemuan terbimbing (guide inquiry) dan (2) penemuan bebas (free inquiry)”. Dalam penemuan terbimbing, guru menyediakan data dan siswa diberi pertanyaan atau masalah untuk membantu mereka mencari jawaban, kesimpulan generalisasi, dan solusi. Sedangkan pada penemuan bebas siswa merencanakan solusi, mengumpulkan data dan selebihnya sama dengan penemuan terbimbing.
Pada metode pembelajaran penemuan, guru menyediakan masalah dan mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah tersebut secara mandiri maupun kelompok dengan alternatif cara yang tidak biasa. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, membantu siswa agar mempergunakan konsep, ide-ide, dan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya untuk memperoleh pengetahuan baru. Bimbingan ini merupakan pengarahan yang dapat bebentuk pertanyaan-pertanyaan, baik secara lisan ataupun tulisan yang dituangkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas dan siswa menemukan pengetahuan yang baru. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama, jika siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan mengonstruksi konsep atau prinsip pengetahuan tersebut.
Kegiatan pembelajaran penemuan menekankan pada pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan penyelidikan, menemukan konsep, dan kemudian menerapkan konsep yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kegiatan belajar yang berorientasi pada keterampilan proses menekankan pada pengalaman belajar langsung, keterlibatan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk berpikir kritis, menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan konsep atau prinsip umum berdasarkan bahan/data yang telah disediakan guru.
Pada penerapan metode penemuan, guru hendaknya mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kompetensi dasar yang dimiliki siswa. Berikut ini merupakan tabel langkah-langkah penerapan metode penemuan, sebagai berikut:

Tahap
Tingkah Laku Guru
Tingkah Laku Siswa
Tahap 1
Observasi untuk menemukan masalah
Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah.
Siswa mengembangkan keterampilan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi.
Tahap 2
Merumuskan masalah
Guru membimbing siswa merumuskan masalah berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikan.
Siswa merumuskan masalah yang akan membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.
Tahap 3
Mengajukan hipotesis
Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan.
Siswa menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis.
Tahap 4
Merencanakan pemecahan masalah
Guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan masalah, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat.
Siswa mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab permasalahan/hipotesis.
Tahap 5
Melaksanakan eksperimen
Selama siswa bekerja, guru membimbing dan memfasilitasi.
Siswa menguji kebenaran jawaban sementara, dugaan jawaban ini tentu didasarkan pada data yang diperoleh.
Tahap 6
Melakukan pengamatan dan pengumpulan data
Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan serta mengorganisasi data.
Siswa mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, misalnya dengan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan sebagainya.
Tahap 7
Analisis data
Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep.
Siswa menganalisis data untuk menemukan sesuatu konsep.
Tahap 8
Penarikan kesimpulan atau penemuan
Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang dipelajari.
Secara berkelompok siswa menarik kesimpulan, merumuskan kaidah, prinsip, ide, generalisasi, atau konsep berdasarkan data yang diperoleh.

Adapun kelebihan penggunaan metode penemuan menurut Markaban (2006, hlm. 17), diantaranya:
1. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
2. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap mencari-temukan.
3. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
4. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar.
5. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukan.
Di sisi lain, kelemahan penggunaan metode penemuan menurut Markaban (2006, hlm 17-18), antara lain:
1. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
2. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan metode penemuan.
3. Beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan metode ceramah.
4. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan metode penemuan.

Referensi
Hudojo, H. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Jurusan Matematika FMIPA UNM.
Joyce, B., & Weil, M. (1992). Models of Teaching. New Jersey:  Allyn and Bacon.
Markaban (2006). Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing. Yogyakarta: PPPG Matematika.
Soemanto, W. (2003). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryosubroto (2002). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Trowbridge, L. W., & Bybee (1990). Becoming a Secondary School Science Teacher. Ohio: Merril Publishing Company.


EmoticonEmoticon