Saturday, 18 March 2017

Model Pembelajaran Outbound



Model Pembelajaran Outbound
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

“Pendidikan melalui kegiatan alam terbuka mulai dilakukan tahun 1821 pada saat didirikannya Round Hill School” (Djamaludin Ancok, 2002, hlm. 1). Secara sistematis pendidikan melalui kegiatan outbound dimulai tahun 1941 di Inggris. Lembaga pendidikan outbound  pertama dibangun oleh seorang pendidik berkebangsaan Jerman bernama Kurt Hahn dan bekerja sama dengan pedagang Inggris bernama Lawrence Holt. Pendidikan berdasarkan petualangan atau yang dikenal dengan istilah adventure based education tersebut dilakukan dengan menggunakan kapal layar kecil dengan tim penyelamat untuk mendidik para pemuda di zaman perang. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran di kalangan kaum muda bahwa tindakan mereka membawa konsekuensi dan menumbuhkan rasa kebersamaan dan kasih sayang di antara mereka. Hal inilah yang menjadi cikal bakal outbound yang kita kenal saat ini.
Outbound berarti proses mencari pengalaman melakukan kegiatan di alam terbuka. Menurut Agustinus Susanta (2010, hlm. 18) menjelaskan bahwa “outbound dapat diartikan out of boundary, dapat diterjemahkan secara bebas sebagai keluar dari lingkungan hidup, batas, atau kebiasaan”.
Maka dapat disimpulkan bahwa outbound merupakan kegiatan di luar ruangan yang bersifat petualangan dan penuh tantangan. Outbound dilakukan sebagai pembelajaran untuk menemukan dan mengenali potensi-potensi peserta didik, sehingga mereka dapat mengenali dirinya sendiri. Kegiatan outbound juga kegiatan belajar sambil bermain. “Permainan ini memiliki peranan langsung terhadap perkembangan kognisi seorang anak dan berperan penting dalam perkembangan sosial dan emosi anak” (Mayke S. Tedjasaputra, 2001, hlm. 10).
David Kolb (dalam Erwin Widiasworo, 2017, hlm. 137) mengemukakan bahwa “outbound dimulai dengan lakukan (do), refleksikan (reflect), kemudian terapkan (apply)”. Selanjutnya, Uwes (dalam Erwin Widiasworo, 2017, hlm. 137-138) menjabarkan lebih lanjut, sebagai berikut:
1. Experience, artinya biarkan peserta didik kita mengalami dengan melakukan hal tertentu (perform and do it!).
2. Share, artinya setelah semua peserta didik mengalami dengan cara melakukan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses sharing atau berbagi rasa.
3. Process, artinya tahap ini adalah tindak lanjut dari tahap kedua, yakni proses menganalisis berbagai hal terkait apa, mengapa, dan bagaimana.
4. Generalize, artinya menyimpulkan hasil analisis sebelumnya.
5. Apply, artinya langkah ini merupakan level penguasaan yang ditingkatkan ke hal baru yang lebih tinggi.
Erwin Widiasworo (2017, hlm. 139-140) mengemukakan tahap-tahap outbound yang dapat dilakukan, sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Menentukan tujuan diadakannya outbound.
b. Menentukan bentuk kegiatan atau materi yang akan dilaksanakan, tentunya materi atau kegiatan harus disesuaikan dengan tujuan.
c. Membuat perencanaan, meliputi waktu pelaksanaan dan lokasi yang akan digunakan serta pembentukan panitia pelaksana.
d. Survei lokasi yang akan digunakan.
e. Mempersiapkan peralatan dan perelengkapan yang akan digunakan berikut lokasinya.
f. Menjelaskan kegiatan outbound yang akan dilaksanakan kepada peserta didik, sehingga mereka dapat melakukan persiapan.
2. Tahap pelaksanaan
a. Penjelasan prosedur permainan atau kegiatan outbound.
b. Pembagian peserta didik dalam kelompok-kelompok.
c. Peserta didik melaksanakan kegiatan dengan bimbingan guru.
d. Mengontrol serta mencermati peserta didik dalam melakukan kegiatan agar lebih tertib dan sesuai dengan perencanaan dan aturan main.
e. Mendampingi peserta didik dalam setiap aktivitas.
f. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kecelakaan atau menemui kendala maka segera berkoordinasi dengan panitia atau guru lain, sehingga permasalahan dapat segera teratasi.
3. Tahap penyelesaian
a. Mengemasi dan mengembalikan semua peralatan yang telah digunakan.
b. Membersihkan lokasi yang telah digunakan untuk kegiatan outbound.
c. Peserta didik diminta membuat laporan kegiatan.
d. Mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilakukan dalam outbound.
Kelebihan kegiatan outbound menurut Erwin Widiasworo (2017, hlm. 140-141), sebagai berikut:
1. Mengembangkan sikap kerja sama, gotong royong, dan rasa kekeluargaan.
2. Menumbuhkan sportifitas di kalangan peserta didik.
3. Memupuk rasa percaya diri, tanggung jawab, dan rasa empati.
4. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan, keberanian, dan melatih tanggung jawab.
5. Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi sulit secara cepat dan akurat.
6. Mengembangkan kemampuan apresiasi serta kreativitas.
7. Menumbuhkan sikap menghargai orang lain.
Adapun kekurangan dari kegiatan outbound menurut Erwin Widiasworo (2017, hlm. 141), sebagai berikut:
1. Membutuhkan lokasi yang memadai.
2. Membutuhkan perlengkapan yang banyak dan bermacam-macam.
3. Sering mengalami kesulitan dalam menyesuaikan bentuk permainan dengan materi pelajaran yang sedang peserta didik pelajari di kelas.
4. Butuh pendampingan yang lebih dari guru dalam setiap aktivitas peserta didik.

Model Pembelajaran Outbound



Model Pembelajaran Outbound



Model Pembelajaran Outbound

Kegiatan Outbound

Referensi
Ancok, D. (2002). Outbound Management Training. Yogyakarta: Pusat Outbound H-READ UII.
Susanta, A. (2010). Outbound Profesional. Yogyakarya: Andi Offset.
Tedjasaputra, M. S. (2001). Bermain Mainan dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo.
Widiasworo, E. (2017). Strategi & Metode Mengajar Siswa di Luar Kelas (Outdoor Learning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, & Komunikatif. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.


EmoticonEmoticon