Monday, 13 March 2017

Research and Development Pendidikan



Research and Development Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Research and Development Pendidikan
Pada dasarnya terdapat perbedaan esensial antara pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif dalam penelitian. Pendekatan kuantitatif memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang memiliki karakteristik tertentu dalam kehidupan manusia yang biasa dinamakan variabel, sedangkan pendekatan kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada di kehidupan sosial manusia.
Pendekatan kuantitatif membahas tentang hakekat hubungan antar variabel yang dianalisis dengan menggunakan teori obyektif, sedangkan dalam pendekatan kualitatif yang dianalisis bukanlah variabel-variabel, melainkan prinsip-prinsip umum yang paling mendasar dan menjadi landasan perwujudan satuan-satuan gejala tersebut, yang selanjutnya dianalisis dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip umum atau satuan-satuan gejala dengan seperangkat teori yang berlaku.
Terdapat pendekatan penelitian yang berusaha menggabungkan kedua pendekatan penelitian tersebut, yakni research and development atau penelitian dan pengembangan. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 407) “metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut”. Untuk dapat menghasilkan produk tersebut digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan (digunakan pendekatan kualitatif) dan untuk menguji keefektifan produk tersebut agar dapat berfungsi luas di masyarakat, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut (digunakan pendekatan kuantitatif).
Lebih lanjut Borg dan Gall (dalam Sugiyono, 2009, hlm. 11) menyatakan bahwa “untuk penelitian analisis kebutuhan sehingga mampu dihasilkan produk yang bersifat hipotetik sering digunakan metode penelitian dasar (basic research). Selanjutnya untuk menguji produk yang masih bersifat hipotetik tersebut, digunakan eksperimen atau action research”. Setelah produk teruji, maka dapat diaplikasikan. Proses pengujian produk dengan eksperimen tersebut dinamakan penelitian terapan (applied research). Penelitian dan pengembangan bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, dan memvalidasi suatu produk. Maka, penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal (bertahap atau bertahun-tahun).
Produk yang ditemukan bisa berupa model, pola, prosedur, atau sistem. Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan melalui penelitian researh and development diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan, yakni lulusan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan.
Produk-produk pendidikan yang dihasilkan dapat berupa kurikulum yang spesifik untuk keperluan pendidikan tertentu, metode mengajar, media pendidikan, buku ajar, modul, kompetensi tenaga kependidikan, sistem evaluasi, model uji kompetensi, penataan ruang kelas untuk model pembelajaran tertentu, model unit produksi, model manajemen, sistem pembinaan pegawai, sistem penggajian, dan sebagainya. Sukmadinata (2008, hlm. 190) mengemukakan penelitian dan pengembangan merupakan “pendekatan penelitian untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada”. Research and develepmont berbeda dengan penelitian biasa yang hanya menghasilkan saran-saran bagi perbaikan, namun reserch and development menghasilkan produk yang langsung dapat digunakan.
Borg dan Gall (1983, hlm. 775) mengembangkan 10 tahapan research and development, diantaranya:
1. Research and information collecting
Langkah ini merupakan studi literatur berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian.
2. Planning
Pada langkah ini yang dilakukan adalah menyusun rencana penelitian meliputi merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah-langkah penelitian, dan melaksanakan studi kelayakan khusus secara terbatas.
3. Develop preliminary form of product
Tahap ini mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan. Termasuk dalam langkah ini, yakni persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, serta melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung. Misalnya pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi.
4. Preliminary field testing
Pada tahap ini dilakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6 sampai 12 subyek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau angket.
5. Main product revision
Pada tahap ini dilakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil uji coba awal. Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali, sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas, sehingga diperoleh draft produk utama yang siap diuji coba lebih luas.
6. Main field testing
Biasanya disebut juga dengan uji coba utama yang melibatkan khalayak lebih luas, yakni 5 sampai 15 sekolah dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif, tertutama dilakukan terhadap kinerja sebelum dan sesudah penerapan uji coba. Hasil yang diperoleh dari uji coba ini dalam bentuk evaluasi terhadap pencapaian hasil uji coba yang dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dengan demikian, pada umumnya langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen.
7. Operational product revision
Pada tahap ini dilakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi.
8. Operational field testing
Tahap ini merupakan langkah uji coba validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan. Dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah melibatkan 40 sampai dengan 200 subyek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, observasi, dan analisis hasilnya. Tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah suatu model yang dikembangkan benar-benar siap dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model.
9. Final product revision
Tahap ini merupakan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir.
10. Dissemination and implementation
Pada langkah ini disebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas, terutama dalam kancah pendidikan. Langkah pokok dalam fase ini adalah mengomunikasikan dan mensosialisasikan temuan/model, baik dalam bentuk seminar hasil penelitian, publikasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada stakeholder yang terkait dengan temuan penelitian.
Research and development juga dikemukakan oleh Hoge, Tondora, dan Marrelli (2005, hlm. 533-561). Terdapat 7 langkah yang harus dilalui, sebagai berikut:
1. Defining the obyectives (menetapkan tujuan)
Pada langkah ini dilakukan penentuan tujuan penyusunan model, alat untuk menganalisa model, siapa yang akan mengaplikasikan model, dan apakah model tersebut cocok untuk dilaksanakan saat ini.
2. Obtain the support of a sponsor (mencari dukungan sponsor)
Kegiatan ini menyangkut masalah pendanaan dalam rangka penyusunan model, selain itu juga mencari orang-orang yang akan terlibat dalam penyusunan dan pengembangan model.
3. Develop and implement a communication and education plan (mengembangkan dan mengimplementasikan komunikasi serta rencana pendidikan)
Pada tahap ini dikembangkan komunikasi dengan berbagai pihak yang akan terlibat dalam penyusunan dan merencanakan pengetahuan tentang model melalui studi teori dan studi model yang telah dikembangkan.
4. Plan the methodology (perencanaan metode)
Pada langkah ini dilakukan penyusunan metode yang akan digunakan untuk menyusun model.
5. Identify the model and create the model (mengidentifikasi model dan menyusun model)
Tahap ini mencakup pengumpulan data yang diperlukan dalam penyusunan model dengan terlebih dahulu mengidentifikasi unsur, prosedur, dan tujuan akhir dari penyusunan model.
6. Apply the model (mengaplikasikan model)
Tujuan pada tahap ini, yakni menguji model yang sudah disusun, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan.
7. Evaluate and uptodate the model (evaluasi dan memperbaiki model)
Berdasarkan hasil pengaplikasian model, perlu dinilai apakah model yang sudah dikembangkan dapat diaplikasikan, dan mungkin perlu ada penambahan dan pengurangan agar model lebih baik, dan jika sudah diidentikasi kekurangan dan kelebihannya, maka model perlu diperbaiki sebagai produk akhir.
Menurut Draganidis, Fotis, dan Gregoris Mentzas (2006, hlm. 51-64) research and development memiliki 9 langkah, yakni:
1. Creation of Model Sistems Team (membentuk tim penyusun model)
Tim ini terdiri dari orang-orang yang akan mendalami bagaimana dalamnya suatu pekerjaan yang ada dalam model tersebut, biasanya terdiri dari eksekutif, manajer, dan pemilik yang bertanggungjawab secara keseluruhan.
2. Identification of performance metrics and validation sample (identifikasi metrik kinerja dan memvalidasi sampel)
Pada tahap ini ditentukan skala untuk menentukan tingkat superior, menegah, dan terbatas untuk pekerjaan dalam model.
3. Development of tentative needs list (mengembangkan daftar kebutuhan tentatif)
Pada langkah ini dikembangkan daftar kompetensi awal yang akan digunakan sebagai dasar membentuk model, pengembangan daftar kebutuhan akan sukses dengan mempertimbangkan organisasi lain yang sudah membuat dan dipadukan rencana strategi organisasi.
4. Definition of models and process indicators (menentukan kompetensi dan indikator perilaku)
Pada tahap ini dikumpulkan informasi tentang komponen model yang dibutuhkan untuk menyusun model dengan diskusi kelompok atau survey lapangan.
5. Development of an initial model (mengembangkan inisial model)
Pada tahap ini dikembangkan initial kebutuhan model berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan telah dianalisis secara kuantitatif dan analisis isi sesuai dengan topik interview dan hasil diskusi kelompok.
6. Cross-check of initial model (mengadakan pengecekan pada inisial model)
Sangat perlu untuk mengadakan pengecekan ulang dengan mewawancarai pelaksana atau membuat tambahan kelompok diskusi dengan orang yang tidak terlibat pada model yang telah dilaksanakan sebelumnya.
7. Model refinement (pensortiran model)
Melalui analisis yang sama yang telah digunakan pada tahap pengembangan inisial model digunakan pula untuk menyeleksi model.
8. Validation of the model (validasi model)
Pada tahap ini dilaksanakan validasi model yang telah dikembangkan untuk mendapat pengukuhan.
9. Finalize the model (menyempurnakan model)
Tahap ini menyingkirkan sejumlah komponen dan proses yang tidak ada hubungannya dengan tujuan model.
Metode penelitian dan pengembangan telah banyak digunakan pada bidang-bidang ilmu alam dan teknik. Hampir seluruh produk teknologi, seperti alat-alat elektronik, kendaraan bermotor, pesawat terbang, senjata, obat-obatan, alat-alat kedokteran, bangunan gedung bertingkat, dan alat-alat rumah tangga yang modern diproduk dan dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan. Namun demikian, metode penelitian dapat juga digunakan dalam bidang ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi, sosiologi, manajemen, dan pendidikan. Pada judul penelitian pendidikan yang menggunakan research and development harus mencerminkan produk yang akan dihasilkan.

Referensi
Borg, W. R., & Gall, M. D. (1983). Educational Research: An Introduction. New York: Longman.
Draganidis, Foris, & Mentzas, G. (2006). Competency Based Management: A Review of Systems and Approaches. Information Management & Computer Security. Vol. 14 (1), hlm. 51-64.
Hoge, A., Tondora, J., & Marelli, A. F. (2005). Strategies for Developing Competency Models. Administration and Policy in Mental Health. Vol. 32 (5), hlm. 533-561).
Sugiyono (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon