Wednesday, 8 March 2017

Seisi Dunia sebagai Sumber Belajar



Seisi Dunia sebagai Sumber Belajar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Seisi Dunia sebagai Sumber Belajar

Segala hal yang ada di sekitar kita pasti memiliki manfaat. Sampah yang seharusnya dibuang sekalipun, tidak menutup kemungkinan memiliki manfaat bagi manusia. Tuhan menciptakan segala seuatu yang ada di dunia dengan berbagai manfaat dan fungsi tertentu. Dasar pemikiran ini yang memunculkan gagasan bahwa segala isi dunia dapat digunakan sebagai sumber belajar. Artinya, kita dapat melakukan kegiatan pembelajaran di mana pun dan dengan sumber belajar apa pun.
Menurut Yeni Hendriani (2010) “lingkungan tertentu mempunyai fenomena, keunikan, dan batas-batas sendiri”. Pengenalan dari fenomena, keunikan, dan batas-batas tersebut dapat memberikan rasa aman dan tenteram bagi peserta didik. Melalui penambahan pengetahuan mengenai berbagai keadaan, tempat, dan peranan secara keseluruhan dalam suatu lingkungan, dapat membuat peserta didik memperoleh kecakapan baru dalam dunia nyata. Lingkungan memberi bahan-bahan yang konkret mengenai kehidupan sehari-hari untuk dijadikan bahan pelajaran.
Marzono dan Lloyd (dalam Suyanto dan Asep Jihad, 2013) menyatakan bahwa “semuanya tersedia di sekitar anda”. Hal ini berarti guru dapat mengubah segala sesuatu yang ada di sekitar kita menjadi pengalaman belajar. Sesuai dengan gagasan Gordon Dryden dan Dr. Jeanette Vos (dalam Suyanto dan Asep Jihad, 2013) mengenai Revolusi Cara Belajar, sebagai berikut:
1. Belajar tentang berbagai bentuk
Bentuk lingkaran dapat dilihat pada roda, balon, matahari, bulan, kacamata, mangkok, piring, dan uang logam. Bentuk persegi panjang dapat dilihat dari pintu, jendela, buku, dan kasur. Bujur sangkar atau persegi dapat dilihat pada layar komputer, televisi, kotak tisu, sapu tangan, dan taplak meja. Segitiga dapat dilihat dari pohon cemara, rumah, gunung, dan tenda.
2. Belanja di supermarket menjadi petualangan belajar
Sebelum belanja, peserta didik diminta untuk mengecek lemari, kulkas, dan seluruh isi rumah, kira-kira apa saja yang dibutuhkan mereka dan seluruh anggota keluarga. Kemudian dibuat perlombaan sewaktu berada di supermarket. Siapa yang paling cepat dan paling banyak menemukan barang yang dibutuhkna, dialah pemenangnya.
3. Belajar menghitung benda-benda nyata
Hal tersebut dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk menghitung benda-benda yang dapat disentuhnya dengan memancing melalui pertanyaan, seperti “kamu punya satu hidung dan berapa mata?”, atau “berapa jarimu?”. Libatkan juga peserta didik ketika guru menyiapkan peralatan yang dibutuhkan.
4. Belajar mengategorikan sesuatu
Otak menyimpan informasi melalui asosiasi (keterkaitan) dan penggolongan (kategori) dan guru bisa menciptakan kegiatan bermain peserta didik sambil belajar. Misalnya, guru hendak membersihkan alat peraga, peserta didik diminta memilah-milah berdasarkan warna.
Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yang efektif juga dinyatakan oleh Suyanto dan Asep Jihad (2013, hlm. ) dengan mengklasifikasikan lingkungan yang harus diperhatikan oleh guru, sebagai berikut:
1. Lingkungan sosial, yakni kondisi masyarakat tempat peserta didik berada.
2. Lingkungan alam, yakni segala sesuatu yang tersedia dan terjadi di alam.
3. Lingkungan budaya, yakni hasil-hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan masyarakat.
Haryono (2013) mengungkapkan hal yang senada bahwa “sumber belajar dapat juga diperoleh dari lingkungan sekitar kita, misalnya dengan menugaskan peserta didik untuk membawa benda-benda tertentu (dapat berupa barang bekas ke sekolah)”. Di sisi lain, lingkungan juga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Banyak benda, makhluk hidup atau fenomena-fenomena alam yang menarik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar. Namun, permasalahannya guru belum terbiasa menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2010) menjelaskan banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar, diantaranya:
1. Kegiatan lebih menarik dan tidak membosankan, karena peserta didik tidak duduk berjam-jam, sehingga motivasi belajar peserta didik akan lebih tinggi.
2. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab peserta didik dihadapkan pada situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
3. Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya akurat.
4. Kegiatan belajar peserta didik lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan sebagainya.
5. Sumber belajar lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam, seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.
6. Peserta didik dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungan, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan sekitar serta dapat memupuk cinta lingkungan.
Lingkungan kaya akan sumber belajar. Di samping itu, lingkungan juga dapat memberikan inspirasi tersendiri karena mampu memberikan pengalaman bermakna. Suasana yang menyegarkan akan dapat menghilangkan segala kejenuhan akibat kegiatan pembelajaran yang terus menerus dalam ruangan. Peserta didik akan lebih bersemangat, aktif, dan bergairah dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Kompetensi yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran pun lebih mudah dikuasai peserta didik karena materi pelajaran yang cenderung konkret akan memudahkan peserta didik memahami dan menguasai pelajaran tersebut.
Menurut Husamah (2013), “media-media yang terdapat di lingkungan sekitar, berupa benda-benda atau peristiwa, langsung dapat kita pergunakan sebagai sumber belajar”. Di sisi lain, ada pula benda-benda tertentu yang harus kita buat terlebih dahulu sebelum kita pergunakan dalam pembelajaran. Media yang perlu dibuat biasanya berupa alat peraga sederhana dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan.
Erwin Widiasworo (2017, hlm. 87) mengemukakan ada beberapa prinsip pembuatan media yang perlu kita perhatikan. Prinsip tersebut, diantaranya:
1. Media harus sesuai dengan tujuan dan fungsi penggunaan.
2. Dapat membantu memberikan pemahaman terhadap konsep tertentu, terutama konsep yang abstrak.
3. Dapat mendorong kreativitas peserta didik serta memberikan kesempatan peserta didik untuk bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri).
4. Media yang dibuat harus mempertimbangkan faktor keamanan dan tidak mengandung unsur yang membahayakan peserta didik.
5. Dapat digunakan secara individual, kelompok, dan klasikal.
6. Usahakan memenuhi unsur kebenaran, substansial, dan kemenarikan.
7. Media belajar hendaknya mudah digunakan, baik oleh guru maupun peserta didik.
8. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat media belajar hendaknya dipilih agar mudah diperoleh di lingkungan sekitar dengan biaya yang relatif murah.
9. Jenis media yang dibuat harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
Pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, dibutuhkan persiapan dan perencanaan yang matang. Hal ini sebagi modal dasar kesuksesan aktivitas belajar di luar ruangan. Persiapan dan perencanaan yang matang akan mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran menjadi semakin lancar. Guru perlu bekerja ekstra dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran, sehingga pada saat pelaksanaan tidak terjadi kekacauan. Belajar di alam bebas, membutuhkan pengelolaan peserta didik yang maksimal, sehingga tujuan belajar dapat dicapai dengan baik.
Untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, Yeni Hendriani (2010) mengungkapkan beberapa tahapan yang harus dilakukan guru. Tahapan tersebut, sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan, guru terlebih dahulu harus merumuskan tujuan yang ingin dicapai dari penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dan menentukan konsep yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Selanjutnya, dilakukan survei ke tempat yang akan dituju. Lakukan penjelajahan di tempat tersebut dengan teliti. Catat benda-benda, makhluk hidup, atau fenomena-fenomena alam yang diperkirakan akan menarik minat peserta didik dan dapat digunakan sebagai sumber belajar. Kemudian, dari hasil survei itu buatlah Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan tujuan dan konsep yang akan ditanamkan pada peserta didik. Jika pada tempat yang akan dituju itu peserta didik tidak melakukan kegiatan eksperimen, namun hanya menggali pengetahuan dan mencatat data-data yang ada, buatlah instrumen yang sesuai. Misalnya, berupa lembar pengamatan, pedoman wawancara, atau kuisioner. Setelah LKS atau instrumen yang diperlukan selesai dibuat, siapkan alat dan bahan atau fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk studi lapagan tersebut.
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, guru hendaknya membimbing peserta didik untuk melakukan kegiatan sesuai dengan LKS atau instrumen yang dibuat. Ciptakan suasana yang mendukung agar peserta didik tertarik dan tertantang untuk melakukan kegiatan dengan sebaik-baiknya.
3. Tahap pasca kegiatan
Sekembalinya peserta didik dari lapangan, mereka harus membuat laporan tentang apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana hasilnya. Sistematika laporan sebaiknya diberikan oleh guru untuk memudahkan peserta didik dalam menyusun laporan. Laporan yang dibuat peserta didik hendaknya memuat data yang dapat digunakan guru untuk membimbing peserta didik agar memahami suatu konsep. Mintalah peserta didik untuk mempresentasikan hasil kegiatannya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing peserta didik untuk memahami suatu konsep sesuai dengan kegiatan yang telah mereka lakukan. Setelah pembelajaran selesai, mintalah kepada peserta didik untuk menempelkan hasil laporannya sebagai pajangan di kelas masing-masing.

Referensi
Haryono (2013). Pengembangan IPA yang Menarik dan Mengasyikan Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Kepel Press.
Hendriani, Y. (2010). Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar. Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam.
Husamah (2013). Pembelajaran Luar Kelas Outdoor Learning. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Sudjana, N., & Rivai, A. (2010). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Suyanto & Jihad, A. (2013). Menjadi Guru Profesional Strategi Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global. Jakarta: Esensi.
Widiasworo, E. (2017). Strategi & Metode Mengajar Siswa di Luar Kelas (Outdoor Learning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, & Komunikatif). Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.


EmoticonEmoticon