Thursday, 20 April 2017

Alat Musik Tradisional Karinding



Alat Musik Tradisional Karinding
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Karinding adalah alat musik tradisional (waditra), terbuat dari bambu atau pelepah nira yang dapat menirukan suara-suara binatang atau serangga di desa.  Di Kampung Naga, meskipun karinding baru diungkap kembali pada tahun 2004, dan alatnya mulai banyak diproduksi pada tahun 2006, namun alat musik ini memiliki makna tersendiri. Karinding di Kampung Naga mulai diungkap karena sebuah kejadian. Ada seorang wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Kampung Naga dan bertanya mengenai sebuah alat musik tradisional dari bambu, bentuknya kecil, dimainkan atau dibunyikan dengan lambey (mulut), dipukul, dan suaranya aneh.

Alat Musik Tradisional Karinding
Karinding

Maka sejak itu pula, historis karinding kembali diungkap di Kampung Naga. Karena Kampung Naga dikenal dengan istilah pareumeun obor (tidak tahu asal-usulnya) maka karinding ini pula diasumsikan sebagai salah satu alat musik yang dulunya memang pernah ada di Kampung Naga. Kini Petani Kampung Naga terbiasa menjadikan karinding sebagai pengantar ketika akan menanam padi dan memanen padi. 

Alat Musik Tradisional Karinding
Kampung Naga

Secara historis kebiasaan menjadikan karinding sebagai pengantar ketika akan menanam padi tersebut, tidak jauh dari seluk beluk adanya karinding. Pada zaman dahulu karinding digunakan oleh petani saat menunggui sawahnya dari serangan atau wabah hama. Suara atau bunyi yang dihasilkan karinding terdengar aneh di telinga, ada yang berdenging, ada juga yang bergetar. Suara-suara tersebutlah yang disinyalir membuat serangga gelisah dan tidak kuat untuk mendengarnya, kemudian terbang atau pindah ke tempat lain atau bahkan mati.
Pada kamus ensiklopedia kesundaan, dijelaskan pula historis lahirnya karinding bahwa karinding terlahir bukan hanya sekedar alat musik yang digunakan untuk mengusir hama, melainkan alat ini juga dicipta disebabkan oleh “cinta.”
Pada zaman dahulu ada seorang pemuda bernama Kalamanda yang jatuh hati pada seorang puteri menak (pejabat) bernama Sekarwati. Sekarwati adalah seorang putri yang terjaga, dipingit, dan jarang keluar rumah, sehingga Kalamanda gelisah karena sulit bertemu dengannya. Terbetik dalam benak Kalamanda untuk membuat sebuah alat komunikasi, dimana ia memainkan alat itu ia bisa mengobati rasa gelisahnya. Dari pelepah nira atau kawung Kalamanda membuat sebuah waditra (instrumen musik tradisional), kemudian ia beri nama “karinding.” Ia beri nama demikian karena pada saat itu di daerahnya terdapat binatang sawah bernama “kakarindingan”, masyarakat sangat menyukai binatang tersebut karena bentuknya yang lucu. Begitu pula dengan Sekarwati.  Kemudian dengan spontan Kalamanda menyebut alat musik yang dibuatnya dengan karinding. Alunan suara yang keluar dari hasil getaran sembilu nira atau kawung yang pipih itu, mampu membuat sukma Sekarwati jatuh hati. Akhirnya Kalamanda dan Sekarwati bisa bersanding.
Karinding sebuah alat musik tradisional Sunda yang dapat digunakan untuk menarik hati lawan jenis. Bukan unsur magis atau supranatural sehingga membuat yang mendengar tergila-gila, namun karena seseorang yang bisa memainkan alat ini sangat dihargai. Hal ini mengindikasi betapa populernya karinding pada masa lalu. Para gadis akan lebih menyukai seorang pemuda yang piawai memainkan karinding, karena seorang yang dapat memainkan karinding adalah pemuda yang memiliki budi pekerti yang baik dan menarik. Konon katanya karinding ini digunakan oleh kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai, dan jika keterangan ini benar maka kita dapat menduga bahwa karinding pada saat itu adalah alat yang paling populer seperti hal nya gitar, piano atau biola pada saat ini, sehingga para gadis pun memberi nilai lebih pada jajaka (pemuda) yang piawai memainkan karinding.

Alat Musik Tradisional Karinding
Memainkan Karinding

Selain itu, waditra ini pun dapat dijadikan musik untuk menolak bala. Dalam kepercayaan Kampung Naga jika terjadi gerhana bulan itu adalah pertanda kurang baik. Maka, untuk mengusirnya dibunyikan karinding saat gerhana bulan terjadi. Hal ini dimaksudkan agar gerhana segera berlalu dan bumi kembali terang benderang.
Karinding bisa dimainkan secara berkelompok atau sendiri. Zaman dahulu alat musik ini biasa dimainkan secara solitaire (sendiri) di tempat-tempat sepi oleh laki-laki atau perempuan untuk menghibur diri. Misalnya oleh seorang pengembala, pengelana, atau seseorang yang sedang jatuh cinta.
Makna filosofis dari sebuah karinding dengan berbagai cerita dan hikmahnya ini yang mulai dilupakan, sehingga anak muda sekarang sudah tidak mengenal seni karinding, apalagi makna filosofinya. Bahkan untuk tahu namanya saja pun terdengar asing. Karinding Kampung Naga, memiliki makna-makna yang dalam, namun kedalaman makna tersebut akan hilang jika tidak diungkapkan. Walau demikian terlepas dari bagaimana pelestariannya, makna filosofis karinding tidak akan hilang atau berubah sekalipun ia dimainkan dengan dikolaborasikan dengan alat musik lain.
Seperti kita ketahui mata pencaharian masyarakat Kampung Naga adalah bertani. Hampir 100% masyarakatnya memiliki sawah atau menggarap sawah. Telah disinggung sebelumnya bahwa karinding memiliki makna tersendiri dalam bidang pertanian masyarakat Kampung Naga. Dalam hal ini karinding berfungsi sebagai sarana ritual yang bersifat sakral saat menanam dan memanen padi. Kesakralan ini lebih pada menghargai dan menghormat tanaman padi. Tanaman padi adalah hal yang amat penting untuk kehidupan masyarakat, karena padi adalah tanaman pokok masyarakat, sebagai sumber penghasilan utama. Ada dua bunyi  karinding pada upacara adat tatanen tersebut:
1. Suara karinding seperti bancet (katak sawah) adalah tanda harapan, jika suara karinding dibunyikan maka sawah akan selalu dialiri air, sebagaimana lazimnya katak sawah hanya akan berbunyi jika ia terendam air. 
2. Suara karinding seperti ga’ang (tonggeret) adalah sebagai tanda ungkapan sukacita, ketika disawah berbunyi tonggeret itu tandanya sawah selalu lembab sehingga hasil panen berlimpah, tidak ada hama, tikus, dan gangguan lainnya.
Karinding dibunyikan dua waktu, yakni waktu menanam dan juga waktu memanen. Bunyi karinding yang low decibel sangat diyakini sangat ampuh untuk merusak konsentrasi hama saat menanam, juga setelah memanen. Sehingga siklus menanam padi akan terus berlangsung, artinya lahan siap digarap kembali.
Sebagai sebuah alat musik, pada saat pelaksanaan adat tatanen di Kampung Naga karinding akan dimainkan bersamaan dengan celempung dan seruling. Tukang kendang dan tukang celempung akan mengikuti suara atau bunyi karinding. Karena karinding berfungsi sebagai melodi atau pembawa alur lagu.
Zaman dahulu suara karinding yang digunakan untuk memulai menanam ini disertai teks rajah atau doa pendek berbahasa arab. Fungsi ritual ini, secara garis besar adalah untuk pengharapan sawah selalu tercukupi air, terhindar dari wabah hama, dan panen padi yang melimpah.
Fungsi seni karinding dalam adat tatanen di Kampung Naga juga sebagai musik sakral yang digunakan untuk keperluan ritual. Ritual ini mengandung banyak maksud. Selain maksud agar terhindar dari hama dan hasil padi yang melimpah, juga ritual ini dikhususkan untuk menghargai dan mendoakan para leluhur Kampung Naga. Sebelum acara digelar ada doa yang dikhususkan untuk para karuhun Kampung Naga, penghormatan tersebut untuk menghargai atas jasa-jasanya para karuhun. Selain itu, upacara ini juga dapat dijadikan sebagai hiburan atau hajatan selamatan masyarakat di Kampung Naga.
Karinding memiliki nilai-nilai budaya yang berguna untuk keseharian masyarakat. Bunyi atau suara karinding yang rendah dan ringan pun memiliki pesan nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan, bahwa bunyi yang rendah tersebut mampu membuat sebuah irama yang indah yang berguna untuk mengusir serangga, hal tersebut mengindikasikan bahwa dari hal-hal yang sederhana dan kecil sebuah keindahan mampu terwujud serta memiliki daya guna.
Di Kampung Naga sendiri, ditemukan banyak sekali nilai-nilai yang dapat kita ambil. Nilai-nilai tersebut berada pada tahap mulai dari pembuatan karinding, cara memaninkan karinding, sampai cara menyimpannya. Dari proses pembuatan karinding, adalah dimulai dari pemilihan bahan, proses membuat, dan persyaratan membuat karinding. Nilai-nilai dari cara memainkannya, dimulai dari bagaimana memegang karinding, memukul karinding, dan memainkan tenggorokan atau pernapasan. Kemudian nilai-nilai kehidupan dari bagaimana cara menyimpan karinding meliputi, bahan pelindung karinding, cara merawat karinding dan sarungnya, serta cara-cara agar karinding bisa tahan lama.
Karinding terbuat dari bambu atau pelepah nira/kawung. Sedangkan bambu adalah tumbuhan purba yang sampai saat ini masih ada dan berperan penting dalam kehidupan manusia. Di India bambu dikenal sebagai “the wood of the poor” (kayu untuk orang miskin), di Cina di kena dengan “the friend of the people” (kawan bagi manusia), dan di Vietnam dikenal sebagai “the brother” (saudara). Dengan dipilihnya bambu atau pelepah nira sebagai bahan, ini mengandung nilai bahwa bambu merupakan sahabat orang Sunda, yang memiliki nilai guna tinggi, bahkan untuk alat musik sekecil karinding, ia memiliki guna besar. Bambu yang dipilihpun tidak sembarang bambu. Bambu yang digunakan untuk membuat karnding adalah bambu gombong (awi surat). Bambu ini adalah bambu yang memiliki serat atau urat yang bagus. Dalam hal ini mengandung nilai, bahwa untuk membuat hal yang indah dan sempurna maka diperlukan bahan dan persiapan yang terbaik.  Bambu yang akan dijadikan bahan karinding harus benar-benar kering agar keringnya 100% dan bisa dibuat dengan mudah dan menghasilkan bunyi yang maksimal, lentur dan tidak seuseut (macet), maka diperlukan proses yang lama, yakni 3 tahun 6 bulan.

No
Proses
Lama
1
Direndam (dikeu’eum)
3 bulan
2
Dijemur (dipoe/diibun) tidak boleh diangkat-angkat
3 bulan
3
Diuap (Diunun dina para seuneu)
 3 tahun

Persiapan bahan yang lama ini, memberikan nilai kehidupan yang amat penting bahwa sesuatu diberi nilai tinggi karena proses yang lama. Sebuah karinding diberi harga Rp 50.000,00/buah  padahal wujudnya kecil, hal ini sangat pantas karena persiapan bahannya pun sangat lama. Belum lagi pembuatannya yang rumit.
Proses membuat karinding dimulai dari memotong sebilah bambu, bambu yang dipotong dengan panjang kira-kira 20 cm atau 15 cm, lebarnya 2 cm, lalu diberi ruas (menjadi 3 ruas) gergaji. Ruas pertama untuk mengetuk atau memukul atau meng-tap karinding yang nantinya menimbulkan getaran di ruas tengah. Ruas kedua atau ruas tengah nantinya ada bagian yang dipotong untuk membuat jarum yang akan bergetar. Ruas ketiga (paling kiri) adalah ruas yang diguakan untuk pangcepengan (fungsi untuk pegangan).
Bambu yang telah dibagi menjadi 3 ruas tersebut kemudian diraut dengan hati-hati, jika tebal tipisnya sudah cukup dibuatlah lubang-lubang di permukaan, serta lidah-lidah (jarum) yang nantinya akan dijadikan sebagai sumber bunyi (yang bergetar).
Berdasarkan nada yang dihasilkan karinding terbagi dari 3 jenis:
1. Nada tinggi, adalah karinding yang diraut hingga tipis bagian kiri dan kanannya.
2. Nada sedang, adalah karinding yang diraut tipis bagian kirinya (atau kanannya) dan diraut tebal bagian lainnya.
3. Nada rendah, adalah karinding yang diraut tebal.
Satu set karinding terdiri dari 3 buah, terdiri dari karinding bernada tinggi, sedang, dan rendah. Sedangkan berdasarkan bahan dan bentuknya, karinding terbagi jadi 2, yaitu:
1. Karinding untuk laki-laki. Bentuknya lebih pendek daripada karinding untuk perempuan, terbuat dari pelepah nira. Biasanya laki-laki menyimpannya ditempat tembakau.
2. Karinding untuk perempuan. Bentuknya panjang dan lancip seperti susuk sanggul. Biasanya ibu-ibu menggunakannya dengan ditancapkan disanggul.
Karinding bisa dihasilkan dalam sehari tergantung pembuatnya. Jika pembuatnya tekun dan tidak kehilangan mood (mood hilang jika bambu yang diraut uratnya tidak teratur) maka dalam sehari (dikurangi waktu makan dan ibadah) bisa membuat 5-10 bahkan lebih, karinding bernada bagus. Namun jika mood tidak baik, maka satu karinding pun sulit dihasilkan.
Diketahui di Kampung Naga yang bisa membuat karinding hanya sedikit orang, hal ini mengindikasikan tidak sembarang orang dapat membuat karinding. Prosesnya yang detail menuntut seseorang ulet dan tekun melakukannya. Secara lahir (wujud) semua orang bisa membuatnya, namun tidak semua karinding yang dihasilkan memiliki suara atau bunyi nada yang bagus, dan bisa dimainkan. Selain seseorang itu haruslah memiliki jiwa seni, terdapat syarat yang harus dipenuhi, sebagai berikut:
1. Mahir memainkan pisau. Seorang pembuat karinding adalah yang lihai menggunakan pisau. Pisau yang digunakan bervariasi, mulai dari yang besar sampai yang terkecil berjumlah 5 buah.
2. Memiliki tikar putih. Ini adalah persayaratan yang mulai luntur saat ini. Tikar putih ini dugunakan, saat duduk meraut bambu atau pelepah nira. Jika seseorang telah duduk di atas tikar putih, maka ia akan berkonsentrasi dan tidak boleh diganggu.
3. Dikerjakan di tempat sepi. Ini juga persyaratan yang mulai luntur. Dahulu seseorang yang membuat karinding, harus menghindari keramaian, karena itu akan sangat menggganggu konsentrasi, khawatir karinding yang dihasilkannya pun tidak bernada, atau nadanya sumbang.
Memainkan karinding memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Ada tiga tahapan dalam memainkan alat musik ini:
1. Memegang dengan yakin. Karinding yang akan dimainkan harus dipegang dengan keyakinan yang mantap, tidak longgar juga tidak terlalu kuat sehingga tangan menjadi tegang. Hal ini memberi nilai kehidupan, bahwa dalam setiap perkara harus dimulai dengan niat mantap dan melakukannya dalam kadar menengah.
2. Memukul atau meng-tap dengan sabar. Dalam memukul karinding harus dilakukan dengan sabar, memukul alat kecil ini bukanlah hal yang mudah karena memerlukan latihan yang banyak. Karena salah-salah jarum yang berada diruas tengah bukannya bergetar malah patah. Pukulan yang mengenai ruas pertama harus bisa dirasakan, lambat tapi penuh dengan keyakinan, sehingga jatuhnya  pas dan bisa membuat jarum di ruas dua bergetar. Memukul karinding adalah bagaimana mengolah perasaan. Kita harus sabar dalam melakukannya, terus-terusan berlatih, lembut dalam bertindak namun penuh dengan kemantapan hati.
3. Mengatur pernafasan untuk membunyikan karinding dengan sadar. Setiap orang mungkin jika berlatih akan bisa membunyikan karinding, namun sedikit yang bisa membunyikannya dalam nada yang bervariasi. Ini adalah teknik mengatur pernafasan. Dalam memainkan karinding (mengatur pernafasan) ada 6 nada dasar di lebet baham (dalam mulutt, tenggorokan), yakni:
a. Dikewungnkeun ageung. Menarik dan mengeluarkan nafas ke dalam dan keluar melalui mulut. Posisi mulut terbuka, sehingga tenggorokan terbuka lebar, suara yang dihasilkan pun ngebas, besar, gung…gong….
b. Tengggorokan dibuka dan ditutup, ke atas ke bawah dan ke samping, besar kecil. Suara yang dihasilkan unik berbunyi tungtongtungtong….
c. Seperti orang yang sendawa, saat akan berhenti disedot kelebet (disedot ke dalam mulut). Bunyi yang dihasilkan panjang dan diakhiri dengan suara unik, terdengar tenggggggg twet… tengngggg twet….
d. Keluar nafas yang paling kecil, saharimumu (kebul). Suara yang dihasilkan berbunyi kecil namun indah.
e. Dioyag-oyag (digoyangkan), suaranya mirip bunyi dalam film kartun, twoooowooow.
f. Dialitkeun pisan (tenggorokan ruangnya sangat dipersempit), bunyi yang dihasilkan terdengar seperti suara serangga di hutan tett..tett..tett.
Memainkan karinding dengan nada dasar tersebut adalah hal sulit terutama bagi pemula, perlu ketekunan. Satu nada dipelajari terus menerus hingga lancar. Jangan dulu berpindah ke nada dasar yang lainnya, hingga nada dasar yang satu terkuasai. Hal ini memberikan nilai kehidupan, ketika kita mempelajari dan mengerjakan suatu hal harus satu persatu, setelah yang satu lancar dan terkuasai baru beralih ke pekerjaan yang lainnya.
Bunyi yang dihasilkan karinding bukanlah bunyi dari manusia. Sebagai seorang manusia, kita hanya mengolah dan memainkan suara yang keluar dari alat tersebut. Kesadaran bahwa kita hanyalah memainkan dan bukan mencipta bunyi, hal tersebut menjadi nilai-nilai kehidupan, bahwa dalam kehidupan ini ada Yang Maha Pencipta, kita hanya memanfaatkan apa yang telah dicipta Nya.
Karinding biasanya dimainkan mengiringi sebuah syair lagu. Salah satu contoh syair lagu yang dapat ditembangkan seniman Kampung Naga:

Judul: Pepeling
Kadulur anu dilembur
Baraya anu di kota
Kawargi anu disisi
Lobakeun mieling diri
Lobakeun mieling maot
Da umur teh geus kolot
Tereh disampeur kumaot
Awak ge maju ka peot
Kur boeh jeung asiwung
Ditambah kai keur padung
Awaknu di ugung-ugung
Digugulung ku bilatung
Karunya atuh karunya
Solat ngaji teu kaduga
Jariah sodakoh lapur
Hanjakal mun beak umur

Dari syair di atas kita dapat mencermati makna yang terkandung dalam setiap katanya penuh dengan nilai kehidupan. Syair mengiringi karinding memberi pesan nilai-nilai yang berarti untuk orang-orang yang mendengarkannya.  Dalam syair di atas mengingatkan kita pada kematian dan untuk memanfaatkan kehidupan sebaik mungkin. Ada berbagai jenis lagu yang dapat diiringi, misalnya syair atau lagu perjuangan atau kepahlawanan.
Karinding disimpan dalam wadah khusus yang terbuat dari bambu  tamiang yang memiliki lubang udara. Bambu jenis ini adalah bambu yang juga digunakan untuk membuar suling. Alat khusus itu berfungsi untuk melindungi karinding. Karena karinding bentuknya kecil dan mudah patah, sehingga harus disimpan dalam wadah yang tertutup, sehingga ketika disimpan dimana pun akan tetap aman. Perawatan karinding pun cukup mudah, selesai dipakai baiknya tidak langsung disimpan melainkan dicuci terlebih dahulu. Jika ada dan tersedia, dicuci dengan minyak zaitun, kemudian dipanaskan dalam sinar matahari beberapa menit. Dari penyimpanan dan perawatan ini pun dapat diambil nilai kehidupannya, bahwa untuk hal kecil pun perlu perhatian yang cukup. Karinding harus diperlakukan dengan baik dan semestinya. Hal yang lemah dan rentan terhadap kerusakan harus dilindungi agar tetap berfungsi dan tahan lama. Seperti halnya kehidupan, kita harus memperhatikan detail dan hal-hal kecil. Karena barang siapa yang bisa menjaga hal-hal kecil, maka ia akan mampu menjaga hal-hal yang besar.

Alat Musik Tradisional Karinding
Wadah Karinding


EmoticonEmoticon