Saturday, 22 April 2017

Filsafat Pendidikan Perenialisme



Filsafat Pendidikan Perenialisme
Karya: Rizki Sidddiq Nugraha

Filsafat Pendidikan Perenialisme
Secara etimologis, “perenialisme diambil dara kata perenial yang berasal dari bahasa Latin, yakni perennis yang berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi” (Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, 2003, hlm. 39). Sedangkan “isme mengandung pengertian aliran atau paham” (Adi Gunawan, Tanpa Tahun, hlm. 175). Dalam “Oxford Advanced Learner’s Dictianary of Current English perenialisme diartikan sebagai continuing throughout the whole year atau lasting for a very long time yang berarti kekal atau abadi. Jadi perenialisme didefinisikan sebagai aliran atau paham kekekalan” (Zuhairi, 1991, hlm. 27).
Istilah filsafat keabadian atau philosophia perennis digunakan untuk pertama kalinya di dunia Barat oleh Augustinus Steuchus sebagai judul karyanya De Perenni Philosophia yang diterbitkan pada tahun 1540. “Istilah tersebut kembali dikenalkan oleh Leibniz dalam sepucuk surat yang ditulis pada 1715 yang menegaskan pencarian jejak-jejak kebenaran di kalangan para filosof kuno dan tentang pemisahan yang terang dari yang gelap, sebenarnya itulah yang dimaksud dengan filsafat perenial” (Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyudin Nafis, 2003, hlm. 40).
Sebagaimana diungkap oleh Leibniz, filsafat perenial merupakan metafisika yang mengakui realitas ilahi yang substansial bagi dunia benda-benda, hidup, dan pikiran. Filsafat ini merupakan psikologi yang menemukan sesuatu yang sama di dalam jiwa dan bahkan identik dengan realitas ilahi. “Unsur-unsur filsafat perenial dapat ditemukan pada tradisi bangsa primitif dalam setiap agama dunia dan pada bentuk-bentuk yang berkembang secara penuh  pada setiap hal dari agama-agama yang lebih tinggi” (Arqom Kuswanjono, 2006, hlm. 10).
Istilah perenial biasanya muncul dalam wacana filsafat agama dimana yang dibicarakan adalah pertama, tentang Tuhan, wujud yang absolut, sumber dari segala sesuatu. Kedua, membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif. Ketiga, berusaha menelusuri akar-akar religiusitas seseorang atau kelompok melalui simbol-simbol serta pengalaman keberagamaan.
Ada perbedaan pandangan diantara para tokoh berkenaan dengan awal kemunculan filsafat perenial. Salah satu pendapat mengatakan bahwa istilah filsafat perenial berasal dari Leibniz, karena istilah itu digunakan dalam surat untuk temannya Remundo pada tanggal 26 Agustus 1714, meskipun demikian Leibniz tidak pernah menerapkan istilah tersebut sebagai nama sistem filsafat.
Kemudian pada “pertengahan tahun 1948, Adolf Huxley mempopulerkan istilah filsafat perenial tersebut dengan menulis buku yang berjudul The Perennial Philosophi” (Aldous Huxley, 2001, hlm. 4). Pandangan lain yangg menyangkal pendapat ini telah menunjukkan bukti bahwa jauh sebelum tanggal tersebut, Augustino Steucho telah menerbitkan sebuah buku yang diberi judul De Perenni Philosophia pada tahun 1540. Buku tersebut merupakan upaya untuk mensintesiskan antara filsafat, agama, dan sejarah berangkat dari sebuah tradisi filsafat yang sudah mapan. Karya ini telah mempengaruhi banyak orang, antara lain Ficino dan Pico. Bagi Ficino, filsafat perenial disebutnya sebagai filsafat kuno yang antik (philosophia priscorium) atau prisca theologi yang berarti filsafat atau teologi kuno yang terhormat.
Filsafat perenial dikatakan juga sebagai filsafat keabadian, sebagaimana dikatakan oleh Frithjof Schoun (dalam Arqom Kuswanjono, 2006, hlm. 10) “philosophi perennis is the universal gnosis wich always has existed and always be exist”. Artinya, filsafat perenial adalah suatu pengetahuan mistis universal yang telah ada dan akan selalu ada selamanya.
“Filsafat perenial sebagai suatu wacana intelektual yang secara populer muncul beberapa dekade ini, sepenuhnya bukanlah istilah yang baru” (Ali Maksum, 2003, hlm. 131). Filsafat perenial cenderung dipengaruhi oleh nuansa spiritual yang kental. Hal ini disebabkan oleh tema yang diusungnya, yakni hikmah keabadian yang bermakna dan mempunyai kekuatan ketika ia dibicarakan oleh agama.
Pada tahun 1948 Adolf Huxley mempopulerkan istilah filsafat perenial dengan menulis buku yang berjudul The Perennial Philosophi. Ia menyebutkan bahwa filsafat perennial mengandung tiga pokok pemikiran, yakni: “(1) metafisika yang memperlihatkan sesuatu hakikat kenyataan ilahi dalam segala sesuatu, (2) suatu psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu yang ada dalam jiwa manusia, dan (3) etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan yang bersifat transenden”. (Aldous Huxley, 2001, hlm. 4).
Menurut Zuhairini (1991, hlm. 28) filsafat perenial memiliki asas yang bersumber pada filsafat kebudayaan yang berkiblat pada dua arah, yakni:
1. Perenial religius
Bernaung pada supremasi gereja katolik dengan orientasi ajaran Thomas Aquinas. Perenialisme dipahami membimbing individu kepada kebenaran utama (doktrin, etika, dan penyelamatan religius). Dalam hal ini memakai metode trial and error untuk memperoleh pengetahuan proporsional.
2. Perenial sekunder
Berpegang pada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles. Asas ini mempromosikan pendekatan literasi dalam belajar serta pemakaian seminar dan diskusi sebagai cara yang tepat untuk mengkaji hal-hal yang terbaik bagi dunia atau disebut socratic method. Disini, individu dibimbing untuk membaca materi pengetahuan secara langsung dari buku-buku sumber yang asli sekaligus teks modern. Pembimbing berfungsi memformulasikan masalah yang kemudian didiskusikan dan disimpulkan oleh kelas. Sehingga, iklim kritis dan demokratis yang dibangun dalam kultur ini, individu dapat mengetahui pendapatnya sendiri sekaligus menghargai perbedaan pemikiran yang ada.
Teori pendidikan perenialisme dilatar belakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai bapak idealisme klasik, filsafat Aristoteles sebagai bapak realisme klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada kala itu. Sedangkan menurut Mohammad Noor Syam (1998, hlm. 325-328) teori dasar dalam belajar menurut perenialsme, yakni:
1. Mental disiplin sebagai teori dasar
Disiplin mental merupakan konsepsi Plato yang ditekankan secara berlebihan di sekolah-sekolah abad pertengahan. Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar. Karena itu teori dari program pendidikan pada umumnya dipusatkan pada pembinaan kemampuan berpikir. Latihan dan disiplin mental bila dihubungkan dengan teori belajar Aristoteles menduduki tingkatan tertinggi atau puncak.
2. Rasionalitas dan asas kemerdekaan
Perenialisme menekankan prinsip utama bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya yang tidak dapat dibedakan dengan sains melainkan dengan berpikir spekulatif, dengan filsafat. Perwujudan dan fungsi rasionalitas manusia adalah self-evident bahwa seseorang tidak mungkin lagi melawan eksistensi rasio tanpa menggunakan rasio itu sendiri.
Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan, otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Makna kemerdekaan adalah pendidikan yang membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri yang berbeda dengan orang lain.
Sifat rasional pada manusia melahirkan konsep dasar tentang kebebasan. Bahwa dengan rasionya manusia dapat mencapai kebebasan dari belenggu kebodohan. Atas dasar pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar itu pada hakikatnya adalah belajar untuk berpikir.
3. Learning to reason (belajar untuk berpikir)
Perenialisme percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak, kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan landasan dasar. Berdasarkan itu, learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
4. Belajar sebagai persiapan hidup
Belajar untuk mampu berpikir bukanlah semata-mata tujuan kebajikan moral dan kebajikan intelektual dalam rangka aktualitas sebagai filosofis. Belajar untuk berpikir berarti pula guna memenuhi fungsi practical philosophi baik etika, sosial politik, ilmu, dan seni.
5. Learning trough teaching
Fungsi guru menurut perenialisme adalah sebagai perantara antara bahan atau materi ajar dengan anak yang melakukan penyerapan. Menurut perenialisme bukanlah perantara antara dunia dan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai siswa yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self-discovery dan ia melakukan otoritas moral atas siswa-siswanya.
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad-20. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresifisme. Perenialisme menentang pandangan progresifisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dewasa ini penuh kekacauan, ketidak pastian, dan ketidak teraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme karena dengan ilmu pengetahuan seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalah.
Aliran perenialisme merupakan paham filsafat pendidikan yang menempatkan nilai pada supremasi kebenaran tertinggi yang bersumber pada Tuhan. Dengan menempatkan kebenaran supernatural sebagai sumber tertinggi, maka nilai dalam pandangan aliran perenialisme selalu bersifat teoritis. Ketika manusia mampu mencapai nilai-nilai yang dirujukan pada kekuasaan Tuhan, maka ia akan sampai pada nilai universal. Nilai universal bersifat tetap dan kebenarannya diakui oleh semua manusia, dimanapun, dan kapanpun. Karena itu, penyadaran nilai dalam pendidikan harus didasarkan pada nilai kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari wahyu dan hal itu dilakukan melalui proses penanaman nilai pada peserta didik.
Dalam konteks pendidikan sekolah, tujuan pendidikan yang ditekankan adalah membantu anak untuk dapat menyingkap dan menginterpretasi kebenaran hakiki. Karena kebenaran hakiki ini bersifat universal dan konstan, maka hal ini menjadi tujuan murni pendidikan.
Kebenaran hakiki dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, latihan intelektual (intellecual exercise) secara cermat untuk melatih kemampuan pikir. Kedua, latihan karakter (character exercise) untuk mengembangkan kemampuan spiritual.
Prinsip-prinsip pendidikan perenialisme, antara lain:
1. Konsep pendidikan bersifat abadi, karena hakikat manusia tidak pernah berubah.
2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan manusia yang unik, yakni kemampuan berpikir.
3. Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.
4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
5. Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar.
Kurikulum yang digunakan pada pendidikan perenialisme berorientasi pada mata pelajaran (subjeck centered). Materi atau isi pendidikan adalah beberapa disiplin ilmu, seperti kesusasteraan, matematika, bahasa ilmu sosial (humaniora), dan sejarah. Metode pendidikan yang dianjurkan dengan menggunakan metode dalam bentuk diskusi untuk menganalisa buku-buku yang tergolong karya besar. Metode ini dikembangkan berdasarkan keyakinan bahwa akal pikiran mempunyai analisis induktif dan sintesis deduktif.
Perenialisme memandang peserta didik sebagai makhluk rasional sehingga pendidik mempunyai posisi dominan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di kelas dan membimbing diskusi yang memudahkan peserta didik menyimpulkan kebenaran-kebenaran secara tepat. Untuk melaksanakan tugas seperti itu, maka pendidik haruslah orang yang ahli di bidangnya, punya kemampuan di bidang keguruan, tidak suka mencela atau menyalahkan pemilik kewenangan, sebagai pendisiplin mental, dan pemimpin moral serta spiritual.
Dalam proses belajar, lingkungan sekolah juga memiliki peran penting menurut perenialisme. Sekolah merupakan wahana pelatihan intelektual, wahana alih intelektual, dan kebenaran kepada generasi penerus, serta wahana penyiapan siswa untuk hidup.

Referensi
Gunawan, A. (Tanpa Tahun). Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Kartika.
Hidayat, K., & Nafis, M. W. (2003). Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Huxley, A. (2001). Filsafat Perennial. Yogyakarta: Qolam.
Kuswanjono, A. (2006). Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perenial: Refleksi Pluralisme Agama di Indonesia. Yogyakarta: Badan Penerbitan Filsafat UGM.
Maksum, A. (2003). Tasawuf sebagai Pembebasan Manusia Modern: Telaah Signifikansi Konsep Tradisionalisme Islam Sayyed Hossein Nasr. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syam, M. N. (1998). Filsafat Kependidikan dan Filsafat Kependidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional.
Zuhairi (1991). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon