Saturday, 1 April 2017

Filsafat Pendidikan Scholastisisme



Filsafat Pendidikan Scholastisisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Filsafat Pendidikan Scholastisisme

Filsafat pendidikan scholastisisme berasal dari masa kejayaan Gereja Katolik Roma. Ahmad Syadali dan Muzakir (2004, hlm. 81) mengemukakan bahwa “scholastisisme berasal dari kata Latin schuler yang bermakna sekolah atau ajaran, sedangkan kata isme menunjukkan suatu paham atau aliran”. Jadi, scholastisisme merupakan aliran mengenai sekolah.
Filsafat pendidikan scholastisisme ini memberikan pengetahuan dan bekal bagi manusia tentang bagaimana konsepsi-konsepsi sekolah. Sekolah telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia masa kini dan hampir selalu mempengaruhi bagaimana nasib manusia di masa yang akan datang.
Ada dua tokoh terkenal dalam filsafat pendidikan scholastisisme, yakni Peter Aberald seorang filsuf asal Perancis yang lahir pada tahun 1079 dan Thomas Aquinas. Peter Aberald dalam salah satu pemikirannya mengemukakan bahwa peranan akal dapat menundukan iman, iman harus mau didahulukan oleh akal. Hal ini menjadi dasar bahwa berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan berada di luar iman. Selanjutnya, Jalaluddin dan Abdullah (2002, hlm. 91) mengemukakan bahwa “Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan, kemudian lahir apa yang disebut dengan scholastisisme”.
Dalam kaitannya dengan kenyataan, dikenal dua kenyataan dalam filsafat pendidikan scholastisisme, yakni bentuk dan materi. Kenyataan yang tersusun secara hierarkis dari Tuhan sebagai kenyataan tertinggi dan materi sebagai kenyataan terendah. Tuhan sebagai kenyataan tertinggi, karena Tuhan-lah yang menciptakan dan memberikan kemampuan kepada manusia.
Manusia diciptakan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan adalah Maha Bijaksana dan Maha Baik. Menurut filsafat pendidikan scholastisisme Tuhan menciptakan manusia untuk suatu tujuan, yakni kebahagiaan. Manusia terdiri atas tubuh dan jiwa, bersatu dalam kesatuan yang hakiki. Manusia bukanlah jiwa yang berpikir, tapi seorang pribadi. Jiwa manusia adalah immaterial, rohaniah yang secara insting atau secara sewajarnya bergantung pada materi, karena harus bersatu dengan tubuh untuk membentuk satu kesatuan. Manusia memiliki intelek, karena itu dapat memahami, membuat pertimbangan, dan menyimpulkan. Manusia mempunyai kemauan bebas, yakni menentukan suatu pilihan. Manusia merupakan pribadi yang rasional, dapat berpikir dan berkemauan. Manusia hanya bisa dihancurkan oleh Tuhan sendiri, karena manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah.
Filsafat pendidikan scholastisime memandang bahwa pengetahuan memiliki dua tingkatan, yakni
1. Pengetahuan tentang alam yang diketahui melalui rasio.
2. Pengetahuan tentang kebenaran di luar alam yang diperoleh melalui percaya berdasarkan intuisi. Pengetahuan berdasarkan kepercayaan ini terus berlaku apabila ada perbedaan dengan yang diperoleh melalui rasio.
Filsafat pendidikan scholastisisme memandang hakikat nilai, sebagai berikut:
1. Manusia harus mengetahui kebaikan agar mau berbuat baik.
2. Kebaikan yang tertinggi atau kebajikan adalah kebahagiaan dan cinta kasih Tuhan.
3. Ada dua macam kebajikan, yakni:
a. Kebajikan teologis yang berkenaan dengan keimanan, harapan, dan kemurahan hati.
b. Kebajikan kardinal berkenaan dengan kesucian, keberanian, kesederhanaan, dan keadilan.
4. Cara-cara utama dalam mencapai kebahagiaan adalah kesehatan, kemakmuran, dan persaudaraan.
Redja Mudyahardjo (2008, hlm. 232-234) menjelaskan mengenai konsep-konsep pendidikan dalam filsafat pendidikan scholastisisme, sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan secara umum adalah menjauhkan manusia dari keterbelakangan pengetahuan dan menjadikan manusia yang memiliki banyak pengetahuan untuk kebahagiaan hidupnya di masa mendatang. Pada filsafat pendidikan scholastisisme terdapat 2 hal penting mengenai tujuan pendidikan ini, yakni:
a. Pendidikan tidak semata-mata ditujukan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia, tetapi terutama untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dalam pengenalan jiwa dengan Tuhan.
b. Untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan harus tertuju pada pengembangan keseluruhan potensi manusia yang mencakup intelektual, fisik (jasmaniah), volitional (kemauan), dan vokasional (bekerja).
2. Isi pendidikan atau kurikulum
Mengenai hal ini, ada dua hal penting yakni:
a. Isi pendidikan harus mencakup agama dan humaniora sebagai bagian pendidikan liberal atau pendidikan umum.
b. Pendidikan liberal tersebut, terdiri atas:
1) Mata-mata pelajaran fundamental yang berhubungan dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan.
2) Mata-mata pelajaran instrumental yang berhubungan dengan pengembangan vokasional dan penunjang bagi mata-mata pelajaran fundamental.
Kurikulum pada filsafat pendidikan scholastisisme tentu harus mencakup agama karena sebagaimana yang diketahui bahwa scholastisisme mengarah kepada agama itu sendiri. Menurut Ahmad Syadali dan Mudzakir (2004, hlm. 81) “secara garis besar filsafat abad pertengahan (masa scholastik) dapat dibagi dua periode, yakni: (1) periode scholastik islam dan (2) periode scholastik kristen”.
3. Metode-metode pendidikan
Pada pendidikan pasti akan ditemui megenai bagaimana metode pendidikan tersebut disampaikan, sehingga akan dapat diprediksi bagaimana hasil akhir dari metode-metode yang digunakan tersebut. Namun, prediksi tersebut tidak bersifat mutlak karena sifatnya lebih ke arah prasangkan atau dugaan. Menurut Redja Mudyahardjo (2008, hlm. 233) ada dua macam cara pemerolehan pengetahuan, yakni:
a. Melalui penemuan atau rasio alami sendiri yang tertuju pada pengetahuan yang tidak diketahui.
b. Melalui intruksi atau latihan, yakni orang lain memberi bantuan kepada rasio alami untuk teruju pada pengetahuan yang tidak diketahui. Bantuan tersebut disebut pengajaran.
Adapun metode-metode pendidikan yang digunakan dalam filsafat pendidikan scholastisisme, yakni:
a. Metode dialektik.
b. Metode ceramah.
c. Metode debat, diskusi, atau tanya jawab.
4. Peranan peserta didik dan pendidik
Peranan peserta didik dan pendidik pada filsafat pendidikan scholastisisme, antara lain:
a. Pengajaran berpusat pada guru yang diberikan melalui ceramah, latihan yang teratur dan terarah, serta tanya jawab.
b. Tidak seorang pun dapat mengajar dengan berhasil tanpa kebajikan dari cahaya pikiran oleh Tuhan. Dengan demikian, Tuhan mengajar manusia dalam dirinya berupa memberikan potensi-potensi berpikir. Tuhan adalah guru bathiniyah manusia.
c. Guru memberikan teladan yang baik.
d. Peserta didik berperan pasif. Peranan pasif yang dimaksud bukan berarti peserta didik sama sekali tidak boleh aktif, melainkan dalam pembelajaran, penyampaian yang bersifat aktif adalah guru, karena guru yang mengajarkan mata pelajaran.

Referensi
Jalaluddin & Abdullah (2002). Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat, dan Pendidikan). Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mudyahardjo, R. (2008). Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syadali, A., & Mudzakir (2004). Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.


EmoticonEmoticon