Sunday, 9 April 2017

Kecerdasan Emosional



Kecerdasan Emosional
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan adalah kecakapan untuk menemui situasi-situasi baru atau belajar melakukan dengan tanggapan menyesuaikan diri yang baru. Istilah kecerdasan emosional mulai muncul secara luas pada pertengahan tahun 1990-an. Gardner (dalam Daniel Goleman, 2000, hlm. 50) mengatakan bahwa “bukan hanya satu jenis kecerdasan yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan”. Salah satunya adalah kecerdasan emosional.
Daniel Goleman (2009, hlm. 45) menyatakan ”kecerdasan emosi merupakan kemampuan emosi yang meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri, memiliki daya tahan ketika menghadapi suatu masalah, mampu mengendalikan impuls, memotivasi diri, mampu mengatur suasana hati, kemampuan berempati, dan membina hubungan dengan orang lain”. Selanjutnya Davies (dalam Casmini, 2007, hlm. 17) menjelaskan bahwa “kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan lainnya, dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntut proses berpikir dan berperilaku seseorang”.
Mayer dan Salovey (dalam Makmun Mubayidh 2006, hlm. 15) mendefinisikan bahwa “kecerdasan emosi sebagai suatu kecerdasan sosial yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam memantau baik emosi dirinya maupun emosi orang lain, dan juga kemampuannya dalam membedakan emosi dirinya dengan emosi orang lain, dimana kemampuan ini digunakan untuk mengarahkan pola pikir dan perilakunya”. Sejalan dengan itu, Robert dan Cooper (dalam Ary Ginanjar Agustian, 2001, hlm. 44) mengungkapkan bahwa “kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, emosi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.” Individu yang mampu memahami emosi individu lain, dapat bersikap dan mengambil keputusan dengan tepat tanpa menimbulkan dampak yang merugikan kedua belah pihak. Emosi dapat timbul setiap kali individu mendapatkan rangsangan yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa dan menimbulkan gejolak dari dalam. Emosi yang dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan dalam berbagai bidang karena pada waktu emosi muncul, individu memiliki energi lebih dan mampu mempengaruhi individu lain. Segala sesuatu yang dihasilkan emosi tersebut bila dimanfaatkan dengan benar dapat diterapkan sebagai sumber energi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, mempengaruhi orang lain, dan menciptakan hal-hal baru.
Selanjutnya menurut Shapiro (2001, hlm. 5) mendefinisikan “kecerdasan emosional sebagai himpunan suatu fungsi jiwa yang melibatkan kemampuan memantau intensitas perasaan atau emosi, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain”. Individu memiliki kecerdasan emosional tinggi memiliki keyakinan tentang dirinya sendiri, penuh antusias, padai memilah semuanya, dan menggunakan informasi sehingga dapat membimbing pikiran atau tindakan.
Kecerdasan emosi dapat menempatkan emosi seseorang pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya.
Daniel Goleman (2005, hlm. 58-59) menjelaskan aspek-aspek kecerdasan emosi, diantaranya:
1. Mengenali emosi diri
Mengenali emosi diri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Aspek mengenali emosi diri terjadi dari kesadaran diri, penilaian diri, dan percaya diri. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosi, para ahli psikologi menyebutkan bahwa kesadaran diri merupakan kesadaran seseorang akan emosinya sendiri.
2. Mengelola emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu.
3. Memotivasi diri sendiri
Dalam mengerjakan sesuatu, memotivasi diri sendiri adalah salah satu kunci keberhasilan. Mampu menata emosi guna mencapai tujuan yang diinginkan. Kendali diri secara emosi, menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan di segala bidang.
4. Mengenali emosi orang lain
Kemampuan mengenali emosi orang lain sangat bergantung pada kesadaran diri emosi. Empati merupakan salah satu kemampuan mengenali emosi orang lain, dengan ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi dan mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan oleh orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
5. Membina hubungan dengan orang lain
Kemampuan membina hubungan sebagian besar merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang yang dapat membina hubungan dengan orang lain akan sukses dalam bidang apa pun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain.
Menurut Daniel Goleman (2005, hlm. 274) ada tujuh unsur kemampuan anak yang berkaitan erat dengan kecerdasan emosi, diantaranya:
1. Keyakinan
Perasaan kendali dan penguasaan seseorang terhadap tubuh, perilaku, dan dunia perasaan anak bahwa ia lebih cenderung berhasil daripada tidak dalam apa yang dikerjakannya.
2. Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu merupakan perasaan bahwa menyelidiki sesuati itu bersifat positif dan menyenangkan.
3. Niat
Niat adalah hasrat dan kemampuan untuk berhasil dan untuk bertindak berdasarkan niat itu dengan tekun, ini berkaitan dengan perasaan terampil dan perasaan efektif.
4. Kendali diri
Kendali diri merupakan kemampuan untuk menyesuaikan dan mengendalikan tindakan dengan pola yang sesuai dengan usia, suatu rasa kendali batiniah.
5. Keterkaitan
Keterkaitan merupakan kemampuan untuk melibatkan diri dengan orang lain berdasarkan pada perasaan saling memahami.
6. Kecakapan komunikasi
Keyakinan dan kemampuan verbal untuk bertukar gagasan, perasaan, dan konsep dengan orang lain. Ini ada kaitannya dengan rasa percaya pada orang lain dan kenikmatan terlibat dengan orang lain, termasuk orang dewasa.
7. Koperatif
Koperatif merupakan kemampuan untuk menyeimbangkan kebutuhannya sendiri dengan kebutuhan orang lain.
Kecerdasan emosi juga akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting penunjang. Menurut Goleman (dalam Casmini, 2007, hlm. 23-24) mengemukakan faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional, yakni:
1. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri seseorang. Setiap manusia akan memiliki otak emosional yang di dalamnya terdapat sistem saraf pengatur emosi atau lebih dikenal dengan otak emosional.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor pengaruh yang berasal dari luar diri seseorang. Faktor eksternal kecerdasan emosi adalah faktor yang datang dari luar dan mempengaruhi perubahan sikap. Pengaruh tersebut dapat berupa perorangan atau secara kelompok. Perorangan mempengaruhi kelompok atau kelompok mempengaruhi perorangan. Hal ini berkaitan dengan lingkungan.
Kecerdasan emosi seseorang dapat pula dikategorikan seperti halnya kecerdasan inteligensi. Tetapi kategori tersebut hanya dapat diketahui setelah seseorang melakukan tes kecerdasan emosi. Tes ini juga akan mengetahui anak yang memiliki kecerdasan emosi tinggi, rendah, maupun sedang. Kategorisasi kecerdasan emosi akan diketahui pada skor tertentu, tergantung pada jenis kecerdasan emosinya.
Adapun ciri-ciri seseorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi apabila ia secara sosial mantap, mudah bergaul, dan jenaka. Tidak mudah takut atau gelisah, mampu menyesuaikan diri dengan beban stres. Memiliki kemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang-orang atau permasalahan, untuk mengambil tanggung jawab dan memiliki pandangan moral. Kehidupan emosional mereka kaya, tetapi wajar, memiliki rasa nyaman terhadap diri sendiri, orang lain serta lingkungannya.
Seseorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi rendah apabila seseorang tersebut tidak memiliki keseimbangan emosi, bersifat egois, berorientasi pada kepentingan sendiri. Tidak dapat menyesuaikan diri dengan beban yang sedang dihadapi, selalu gelisah. Keegoisan menyebabkan seseorang kurang mampu bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Tidak memiliki penguasaan diri, cenderung menjadi budak nafsu dan amarah. Mudah putus asa dan tenggelam dalam kemurungan.

Referensi
Agustian, A. A. (2001). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual (ESQ). Jakarta: Penerbit Arya.
Casmini (2007). Emotional Parenting. Yogyakarta: Nuansa Aksara.
Goleman, D. (2000). Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Goleman, D. (2005). Kecerdasan Emosi: untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Goleman, D. (2009). Emotional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EL Lebih Penting daripada IQ. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Mubayidh, M. (2006). Kecerdasan dan Kesehatan Emosional Anak. Jakarta: PT Al-Kautsar.
Shapiro, E. L. (2001). Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


EmoticonEmoticon