Sunday, 30 April 2017

Layang-layang Tradisional Indonesia



Layang-layang Tradisional Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Layang-layang atau layangan merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan dihubungkan oleh tali atau benang. Layang-layang menggunakan kekuatan hembusan angin sebagai daya angkatnya. Layang-layang termasuk permainan tradisional yang dikenal luas hampir di seluruh dunia.
Layang-layang awalnya diciptakan oleh filsuf Cina bernama Mozi dan Gongshu Ban pada abad ke 5 Sebelum Masehi (SM). Layang-layang pada saat itu digunakan untuk mengukur jarak, menguji arah angin, dan komunikasi militer. Pada awalnya layang-layang Cina dikenal dengan bentuk desain datar dan berbentuk persegi panjang. Kemudian layang-layang berekor muncul untuk menstabilkan kekuatan layang-layang ketika terbang. Layang-layang Cina dihiasi dengan motif mitologi dan tokoh legendaris.
Dari Cina, penggunaan layang-layang kemudian menyebar ke Korea, Jepang, dan India, lalu ke negara-negara kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ada pula pendapat yang sama sekali berbeda, yakni menyebutkan bahwa layang-layang pertama kali dikenal di Indonesia, kemudian menyusuri arah sebaliknya dari pendapat pertama. Pendapat ini mendasarkan argumennya pada penemuan sebuah lukisan gua di daerah Sulawesi Tenggara, di Pulau Muna. Ada yang menduga lukisan yang menggambarkan orang sedang bermain layang-layang itu dibuat sekitar 6000 tahun yang lalu.
Walaupun asal muasal layang-layang ini belum jelas, namun kini hampir di seluruh kawasan di Indonesia, permainan tradisional ini masih digemari oleh seluruh kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Di Indonesia terdapat berbagai ragam layang-layang tradisional Indonesia, sebagai berikut:

1. Kleung

Layang-layang Tradisional Indonesia

Kleung yang artinya elang. Dinamakan demikian karena dilihat dari ketinggian, layang-layang ini mirip dengan seekor burung elang yang sedang terbang.  Kleung berasal dari Aceh yang merupakan alat hiburan bagi masyatakat Aceh yang dimainkan setelah mereka selesai panen atau musim ujung barat. Biasanya layangan kleung diadu di lapangan atau pesawahan, setelah seluruh anggota masyarakat telah membersihkan sawah dari tumpukan padi dan padi disimpan di lumbung padi.
Layangan kleung memiliki lebar sayap terbentang mulai dari 2 meter sampai 2,7 meter, dengan ketinggian kepala sampai ujung kipas ekornya kurang-lebih 2 meter. Bagian kepala tingginya 22 cm, bagian sayap dekat ekor 55 cm, dan lebar ekor sekitar 45 cm. Untuk membuat layangan ini biasanya memerlukan waktu selama 3 bulan.

2. Siger

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang siger berasal dari Lampung dan digunakan sebagai alat bantu memancing ikan. Layangan ini awalnya terbuat dari daun loko-loko, cara menerbangkannya yaitu diikatkan pada rangka dari bambu, diterbangkan untuk membawa umpan lebih jauh dari kapal. Pada umumnya layangan ini berukuran panjang 1 meter dan lebar 1,5 meter.

3. Kajanglako

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang kajanglako berasal dari daerah Jambi. Pada layang-layang ini terdapat gambar perahu yang ditumpangi oleh seorang raja dan permaisuri yang berasal dari Jambi. Dahulu, layang-layang ini digunakan sebagai alat perang untuk memberi tanda adanya musuh.

4. Koangan

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang yang berasal dari ibu kota Jakarta ini dapat mengeluarkan suara dengung, karena memiliki alat bunyi yang dapat mengeluarkan suara. Layang-layang ini memiliki panjang sekitar 1,2 meter dan lebar sekitar 1 meter.

5. Tapean

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang tapean merupakan salah satu layang-layang tradisional pertama pada masyarakat Jawa Timur. Layang-layang tapean diperkenalkan pertama kali oleh bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit Pringgo Kusumo, pada tahun 1773. Untuk kerangka batangnya, layang-layang ini menggunakan batang kayu pinang yang diraut halus, sedangkan untuk sayapnya digunakan bambu. Untuk penahan anginnya digunakan kain ketapas atau kertas singkong. Layang-layang ini lazimnya diberi gambar burung bersisik melik. Layang-layang tapean biasa digunakan para petani untuk mengusir burung-burung yang menganggu padi pada musim panen tiba.

6. Mancungan

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang berbentuk oval ini berasal dari Yogyakarta. Layang-layang yang bagian ujung atasnya lancip ini dapat kita temui terutama di daerah Srandakan, Galur, dan Nanggulan. Bagian bawah layang-layang berbentuk beberapa bulatan. Layang-layang ini diberi nama mancungan karena bentuknya menyerupai bunga buah kelapa.

7. Pepetangan

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang pepetangan pada bagian tengahnya terdapat gambar Cepot yang merupakan tokoh wayang golek terkenal dan juga merupakan simbol dari daerah Jawa Barat. Pada umumnya, masyarakat Jawa Barat memainkan layang-layang sebagai pengisi waktu senggang, apalagi udara cerah dan angin bertiup dengan bagus, meskipun begitu ada juga yang memanfaatkan layang-layang untuk melakukan kegiatan praktis, seperti menangkap kelelawar.
Kegiatan menangkap kelelawar pada masa lalu sering dilakukan oleh penduduk sekitar pantai. Untuk menangkap kelelawar, layang-layang akan dinaikan pada senja hari atau menjelang malam. Pada benang layang-layang akan dipasang beberapa mata kail, dimulai dari arah tali yang masing-masing berjarak sekitar 20 cm. Kadang, pada satu benang bisa dipasang 15 mata kail. Layang-layang akan dinaikkan dengan ketinggan sekitar 100 meter. Benang yang digunakan adalah benang plastik atau kenur.

8. Janggan

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang janggan merupakan layang-layang yang paling terkenal di daerah Bali, ekornya sangat panjang, yakni dapat mencapai 250 meter. Untuk menaikkan layang-layang dibutuhkan 15 orang untuk menerbangkannya. Layang-layang janggan berasosiasi pada ular atau naga yang ceritanya banyak tersebar di tengah masyarakat Bali. Layang-layang ini memiliki kepala berbentuk ular atau naga dan bagian bawahnya berbentuk segitiga. Dominan warna pada layang-layang ini merupakan warna dari kain khas Bali.

9. Perisai

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang perisai berasal dari Kalimantan Barat. Layang-layang ini mengambil bentuk dari salah satu perlengkapan perang yang terbuat dari kayu yang dipergunakan suku Dayak pedalaman Kalimantan Barat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

10. Burung Enggang

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang burung enggang menjadi maskot dari daerah Kalimantan Timur. Layang-layang ini berbentuk seperti burung enggang, yakni burung yang dilestarikan keberadaannya di hutan belantara Kalimantan.

11. Dandang Laki dan Dandang Bini

Layang-layang Tradisional Indonesia

Di daerah Kalimantan Selatan, khususnya di Rantau, Kabupaten Tapin dikenal layang-layang tradisional yang disebut layang-layang dandang. Layang-layang ini diciptakan sepasang, yakni dandang laki dan dandang bini. Bentuknya terinspirasi dari wujud salah satu jenus burung yang hidup di Kalimantan Selatan, yakni burung enggang. Untuk mendekati wujud asli dari burung enggang, layang-layang dandang dilengkapi dengan alat bunyi, yang disebut dengan dengung dan dipasang di atas pundak kanan dan kiri layang-layang. Bunyinya mirip dengan suara burung enggang. Namun, dengung ini hanya dipasang pada layang-layang dandang laki.
Dengung merupakan bagian integral dari layang-layang dandang laki, bukan sekedar aksesoris. Karena itu, cara pembuatannya sangat diperhatikan. Bahkan, untuk membuat dengung yang baik dibutuhkan waktu sekitar empat tahun.

12. Kaghati

Layang-layang Tradisional Indonesia

Layang-layang kaghati merupakan layang-layang tradisional tertua di Indonesia. Usianya diperkirakan mencapai 4000 tahun. Layang-layang ini berasal dari Sulawesi Tenggara. Layang-layang ini dibuat dari daun dan disebut dengan istilah kaghati. Keistimewaaan dari layang-layang ini adalah cara pembuatannya. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat layang-layang kaghati, yakni bambu, serat daun nanas, serat kulit batang kalolonda, daun ubi hutan, agel, dan rotan.


EmoticonEmoticon