Thursday, 27 April 2017

Metode Audio Visual



Metode Audio Visual
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Audio Visual

Metode audio visual merupakan suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menggunakan alat-alat media pengajaran yang dapat memperagakan bahan pelajaran tersebut sehingga siswa dapat menyaksikan secara langsung dan mengamati secara cermat.
Metode audio visual dikenal dengan keharusan penggunaan audio visual aids atau audio visual material. Istilah-istilah tersebut sama-sama menekankan kepada pemberian pengalaman secara nyata kepada anak didik dengan melihat langsung dan mendengar tentang hal-hal yang dipelajari.
Jadi, inti pengajaran metode audio visual  ini dapat dipergunakan beberapa alat atau bahan media pengajaran, antara lain: melalui film strip, radio, TV, priningan hitam, tape recorder, gambar-gambar peta, dan sebagainya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode pengajaran, diantaranya “tujuan pengajaran yang ingin dicapai, ketepatgunaan, kondisi siswa, ketersediaan perangkat keras dan perangkat lunak, mutu, teknis, dan biaya” (Usman Basyiruddin, 2002, hlm. 15). Berikut penjabarannya lebih lanjut menurut Arsyad (2002, hlm. 72):
1. Metode dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan ini dapat digambarkan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan atau dipetunjukkan siswa seperti menghafal, melakukan kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik dan pemikiran prinsip-prinsip seperti sebab akibat, melakukan tugas yang melibatkan pemahaman konsep-konsep atau hubungan-hubungan perubahan dan mengerjakan tugas yang melibatkan pemikiran tingkat tinggi.
2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip yang generalisasi agar dapat membantu proses pengajaran secera efektif, metode harus selaras dan menunjang tujuan pengajaran yang telah ditetapkan serta sesuai dengan kebutuhan tugas pengajaran dan kemampuan mental siswa.
3. Aspek materi yang menjadi pertimbangan dianggap penting dalam memilih metode. Sesuai atau tidaknya antara materi dengan metode yang digunakan berdampak pada hasil pengajaran siswa.
4. Ketersediaan media di sekolah atau memungkinkan guru mendesain sendiri media yang akan digunakan merupakan hal yang perlu menjadi pertimbangan bagi guru dalam pemilihan metode pengajaran.
5. Pengelompokkan sasaran, metode yang efektif digunakan untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan.
6. Mutu teknis pengembangan visual, baik gambar maupun foto harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Misalnya, visual pada slide harus jelas dan informasi pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen yang berupa latar belakang.
Dengan adanya gambaran tersebut, pemilihan metode audio visual menurut Sadiman (2002, hlm. 194) memiliki kriteria sifat-sifat yang harus dipraktikkan oleh guru, kriteria tersebut, antara lain:
1. Ketersediaan sumber setempat, artinya bila alat yang digunakan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada, maka harus dibeli atau dibuat sendiri.
2. Efektifitas biaya perlu diperhatikan.
3. Harus luwes, kepraktisan, dan ketahanlamaan alat yang bersangkutan untuk waktu yang lama. Artinya bisa digunakan dimana pun dengan peralatan yang ada di sekitar dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dengan metode audio visual, diantaranya:
1. Benda yang asli perlu diperagakan di depan kelas jika memungkinkan.
2. Benda juga dapat disajikan dalam ukuran kecil atau miniatur.
3. Bisa juga berupa foto dari suatu benda, bentuk-bentuk gambar, atau guru menggambarkan benda tersebut di papan tulis.
4. Jika ketiga hal di atas tidak dapat diusahakan, maka guru dapat menjelaskan bentuk bendanya, sifat-sifatnya dengan cara mendemonstrasikan melalui gerakan tangan, kata-kata, atau mimik tertentu, sehingga menarik perhatian siswa.
Adapun manfaat penggunaan metode audio visual, diantaranya:
1. Membantu memberikan konsep pertama atau kesan yang benar.
2. Mendorong minat belajar siswa.
3. Meningkatkan pengertian yang lebih baik.
4. Melengkapi sumber belajar yang lain.
5. Menambah variasi metode pembelajaran.
6. Menghemat waktu.
7. Meningkatkan keingintahuan intelektual.
8. Cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak perlu.
9. Membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama.
10. Dapat memberikan konsep baru dari sesuatu di luar pengalaman biasa.
Beberapa perangkat lunak audio visual yang dapat dimanfaatkan oleh guru, antara lain:
1. Ulead Video Studio
Metode Audio Visual
Ulead Video Studio merupakan program aplikasi komputer yang digunakan untuk keperluan editing video. Program ini dirancang untuk dapat digunakan pada komputer dengan Sistem Operasi Window XP, 7, dan Vista. Ulead Video Studio dapat mengedit video-video yang dihasilkan dari divicam, kamera digital, handphone, atau perangkat lainnya. Pada aplikasi ini, kita juga dapat menggabungkan video dengan gambar, musik, dan suara.
Ulead Video Studio dapat dibilang memiliki fasilitas pengeditan yang cukup lengkap, seperti adanya efek transisi, title, memotong video, menggabungkan video dengan gambar dan musik, dan sebagainya. Aplikasi ini sangat cocok untuk digunakan bagi kalangan pemula yang ingin belajar editing video.
2. Windows Movie Maker

Metode Audio Visual

Windows Movie Maker adalah program editing video sederhana yang didesain untuk membuat video rumahan. Dengan aplikasi ini, kita dapat mengedit video sederhana dan memainkannya melalui Windows Media Player. Kemudian kita juga bisa mengkopi ke CD.
Keistimewaan Windows Movie Maker ini yakni mampu bekerja dengan baik pada video kamera digital maupun analog. Windows Movie Maker mampu menjadi program video editing yang handal. Hal ini tidak terlepas dari kemudahan dalam penggunaannya, baik bagi pemula dan menengah, dikarenakan dukungan dari Microsoft yang menyediakan update dan fitur tambahan di website mereka.
Kelebihan penggunaan metode audio visual, antara lain:
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam kata-kata, tertulis, maupun lisan).
2. Mengatasi perbatasan ruang, waktu, dan daya indera, seperti:
a. Obyek yang terlalu besar diganti dengan realitas, gambar, film bingkai, film, atau model.
b. Obyek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar.
c. Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan time lapse atau high speed photograph.
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bias ditampilkan, melalui rekaman video, film bingkai, foto maupun secara verbal.
e. Obyek yang terlalu kompleks (mesin-mesin) dapat disajikan dengan diagram dan gambar.
f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, film bingkat, gambar, dan sebagainya.
3. Metode audio visual dapat berperan dalam pembelajaran tutorial.
Adapun kelemahan penggunaan metode audio visual, diantaranya:
1. Terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangannya dan tetap memandang materi audio visual sebagai alat bantu guru dalam proses pembelajaran.
2. Metode audio visual cenderung menggunakan model komunikasi satu arah.
3. Metode audio visual tidak dapat digunakan dimana saja dan kapan saja, karena penggunaan metode audio visual cenderung tetap di tempat.
4. Budaya menulis lama-lama menjadi berkurang atau hilang.

Referensi
Arsyad, A. (2012). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Basyiruddin, U. (2002). Metodologi Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Press.


EmoticonEmoticon