Monday, 17 April 2017

Metode Drill atau Latihan



Metode Drill atau Latihan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Drill atau Latihan

Guru pada proses pembelajaran perlu memantapkan dan memperkuat penguasaan siswa terhadap suatu materi pelajaran. Guru dapat memberikan suatu latihan kepada siswa dan menggunakan suatu metode pembelajaran, yakni metode latihan. Metode latihan sering disebut juga dengan istilah drill.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1996, hlm. 108) “metode latihan disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang digunakan untuk memperoleh ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan. Selanjutnya, Roestiyah (1985, hlm. 125) berpendapat bahwa metode latihan adalah “suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar siswa melakukan kegiatan latihan, siswa memiliki ketangkasan dan keterampilan lebih tinggi dari apa yang dipelajari”. Hal ini sejalan dengan pendapat Zuhairini, dkk. (1983, hlm. 106) bahwa metode latihan merupakan “suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan”. Sedangkan Shalahuddin (1987, hlm. 100) mengemukakan bahwa metode latihan adalah “suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen”. Kemudian Nana Sudjana (1991, hlm. 6) berpendapat “metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk menyempurnakan suatu keterampilan agar menjadi permanen. Ciri khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari satu hal yang sama”. Pendapat tersebut juga sejalan dengan Winarno Surakhmad (1994, hlm. 76) yang mengemukakan bahwa “metode drill disebut juga latihan yang dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan dan keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiapsiagakan”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat ditarik garis besar bahwa metode drill atau latihan merupakan praktik yang dilakukan berulang kali secara berkelanjutan untuk mendapatkan keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. Pada pelaksanaanya, siswa terlebih dahulu telah dibekali dengan pengetahuan secara teori. Kemudian dengan bimbingan guru, siswa diminta mempraktikkan secara berulang, sehingga menjadi mahir dan terampil.
Menurut Muhaimin Abdul Mujib (1993, hlm. 226-228) metode drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, sebagai berikut:
1. Teknik kerja kelompok
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok siswa untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.
2. Teknik micro teaching
Digunakan untuk mempersiapkan diri siswa sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai pengetahuan, kecakapan, dan sikap sebagai guru.
3. Teknik modul belajar
Digunakan dengan cara mengajar siswa melalui paket belajar.
4. Teknik belajar mandiri
Dilakukan dengan cara meminta siswa agar belajar sendiri dan tetap dalam bimbingan guru, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
Penggunaan metode drill bertujuan agar siswa:
1. Memiliki kemampuan menghafalkan kata-kata, menulis, dan mempergunakan alat.
2. Mengembangkan kecakapan intelektual.
3. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.
4. Untuk memperoleh suatu ketangkasan dan keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan melakukan secara praktis pengetahuan yang telah ia pelajari.
Winarno Surakhmad (1994, hlm. 92) mengemukakan bahwa ada beberapa yang harus diperhatikan bagi seorang guru dalam menggunakan metode drill, diantaranya:
1. Tujuan harus dijelaskan kepada siswa, sehingga selesai latihan mereka dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan.
2. Tentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatihkan, sehingga siswa mengetahui apa yang harus dikerjakan.
3. Lama latihan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
4. Selingilah latihan agar tidak membosankan.
5. Perhatikan kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan.
Guru perlu memperhatikan nilai dari latihan itu sendiri serta kaitannya dengan keseluruhan pembelajaran di sekolah. Dalam persiapan sebelum memasuki latihan, guru harus memberikan pengertian dan perumusan tujuan yang jelas kepada siswa, sehingga mereka mengetahui tujuan latihan yang akan diterimanya. Persiapan yang baik sebelum latihan dapat memotivasi siswa agar menjadi aktif dalam melaksanakan pembelajaran.
Adapun kelebihan dari penggunaan metode drill, antara lain:
1. Mengkokohkan daya ingatan siswa, karena seluruh pikiran, perasaan, dan kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang dilatihkan.
2. Siswa dapat menggunakan daya pikirnya dengan baik.
3. Adanya pengawasan, bimbingan, dan koreksi yang segera serta langsung dari guru.
4. Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.
5. Guru bisa lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan mana siswa yang disiplin dan yang tidak.
6. Pemanfaatan kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi dalam pelaksanaan serta dapat membentuk kebiasaan yang baik.
7. Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan metode drill, diantaranya:
1. Latihan yang dilakukan di bawah pengawasan yang ketat dan suasana serius mudah sekali menimbulkan kebosanan.
2. Latihan yang selalu diberikan di bawah bimbingan guru dapat melemahkan inisiatif maupun kreatifitas siswa.
3. Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode drill ada baiknya memahami karakteristik metode tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1996, hlm. 108-109) mengemukakan ada beberapa cara untuk mengatasi kelemahan penggunaan metode drill, sebagai berikut:
1. Jangan menuntut siswa suatu respon yang sempurna.
2. Jika terdapat kesulitan pada siswa, hendaknya guru segera meneliti penyebabnya.
3. Berikan segera penjelasan-penjelasan, baik respon yang benar ataupun salah.
4. Usahakan siswa memiliki ketepatan merespon baru kemudian kecepatan merespon.
5. Istilah-istilah baik berupa kata maupun kalimat yang digunakan dalam latihan hendaknya dimengerti oleh siswa.

Referensi
Djamarah, S. B., & Zain, A. (1996). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mujib, M. A. (1993). Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya.
Roestiyah, N. K. (1985). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Shalahuddin (1987). Metodologi Pengajaran Agama. Surabaya: Bina Ilmu.
Sudjana, N. (1991). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Surakhmad, W. (1994). Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito.
Zuhairini, dkk. (1983). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional.


EmoticonEmoticon