Saturday, 15 April 2017

Model Pembelajaran Induktif



Model Pembelajaran Induktif
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Model Pembelajaran Induktif

“Pendekatan induktif pada awalnya dikemukakan oleh filosof Inggris, Prancis Bacon (1561) yang menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkret sebanyak mungkin” (Syaiful Sagala, 2005, hlm. 6). Adapun yang dimaksud dengan berpikir induktif adalah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari hal yang bersifat khusus menuju hal yang lebih umum. Kemudian pada tahun 1966 Hilda Taba memperkenalkan suatu model pembelajaran yang didasarkan atas cara berpikir induktif yaitu model pembelajaran induktif. “Model pembelajaran induktif menurut Hilda Taba juga dikembangkan atas dasar konsep proses mental siswa dengan memperhatikan proses berpikir siswa untuk menangani informasi dan menyelesaikannya” (Bruce Joyce dan Marsha Weil, 1972, hlm. 123).
Menurut Eko S. Warimun (1997, hlm. 20) model pembelajaran induktif memiliki karakteristik, sebagai berikut:
1. Digunakan untuk mengajarkan konsep dengan menggeneralisasi.
2. Efektif untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran.
3. Menumbuhkan minat siswa karena partisipasi siswa dalam melakukan observasi sangat mendapat penekanan dan siswa secara maksimal diberi kesempatan untuk aktif.
4. Mengembangkan keterampilan proses siswa dalam belajar.
5. Mengembangkan sikap positif terhadap obyek.
Hilda Taba mengembangkan model pembelajaran induktif melalui strategi belajar mengajar yang didesain untuk membangun proses induktif serta membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam mengkategorikan dan menangani informasi. Jadi, pada dasarnya model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan cara berpikir induktif, yakni menarik kesimpulan dari suatu masalah atau fenomena berdasarkan informasi atau data yang diperoleh. Atas dasar cara berpikir induktif tersebut, model pembelajaran ini menekankan pengalaman lapangan seperti mengamati gejala atau mencoba suatu proses kemudian mengambil kesimpulan.
Dalam model pembelajaran induktif ini salah satu ciri khasnya adalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir. Sejumlah pertanyaan disajikan pada siswa dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menuntun siswa untuk menyelesaikan masalah mereka secara induktif. Proses berpikir yang dapat dibangun melalui model pembelajaran induktif menurut Hilda Taba (dalam Bruce Joyce dan Marsha Weil, 1972, hlm. 131), yakni:
1. Proses berpikir dapat dipelajari
Mengajar menurut Hilda Taba berarti membantu siswa menyelesaikan latihan untuk membangun kemampuan berpikir induktis.
2. Proses berpikir adalah transaksi aktif antara individu dan data
Proses interaksi dalam kelas, guru memberikan bahan-bahan pelajaran sehingga siswa menampilkan kegiatan kognitif tertentu, mengorganisasikan fakta-fakta dalam konsep-konsep dan menarik kesimpulan dari hipotesa, memprediksi, dan menjelaskan fenomena. Operasi-operasi mental ini tidak dapat diajarkan langsung tanpa melalui bahan-bahan pelajaran, sedangkan guru dapat membantu siswa dalam hal internalisasi dan konseptualisasi proses mental.
3. Proses berpikir berkembang secara bertahap dan tahap ini tidak dapat dibalik
Strategi pembelajaran induktif memperhatikan tahapan-tahapan tertentu dan harus diberikan pada waktu yang tepat, yaitu siswa secara intelektual berada pada rasa ingin tahunya.
Berdasarkan hal tersebut Hilda Taba (dalam Bruce Joyce dan Marsha Weil, 1972, hlm. 124) mengembangkan tiga tahapan model dari strategi mengajar yang menjadi sintaks model pembelajaran induktif, sebagai berikut:
1. Tahap I: pembentukan konsep (concept formation), meliputi:
a. Menyebutkan dan membuat data yang relevan dengan masalah.
b. Mengelompokkan.
c. Memberi nama.
2. Tahap II: interpretasi data (data interpretation), meliputi:
a. Mengidentifikasi hubungan antar variabel.
b. Menjelaskan hubungan antar vatiabel.
c. Menyimpulkan.
3. Tahap III: aplikasi prinsip (application of prinsiples), meliputi:
a. Membuat prediksi atau hipotesis.
b. Menjelaskan prediksi atau hipotesis.
c. Menguji prediksi atau hipotesis.
Tujuan tahap I, pembentukan konsep adalah mengajak siswa untuk membentuk dan mengembangkan konsep yang dapat digunakan siswa untuk memproses informasi selanjutnya. Tahap I ini terdiri dari tiga fase. Pada fase pertama, siswa diminta untuk melakukan sesuatu terhadap data, yaitu menyebutkan data-data yang relevan dengan masalah. Setelah siswa menyebutkan semua data yang diperolehnya, selanjutnya fase kedua siswa diminta untuk mengelompokkan data-data tersebut ke dalam kategori berdasarkan persamaan-persamaan yang kemudian pada fase ketiga diminta untuk memberi nama atau label pada tiap kategori yang dibentuk tersebut.
Pada tahap II, interpretasi data, juga terdiri dari tiga fase. Pada fase pertama, siswa diminta untuk mengidentifikasi data atau butir-butir informasi yang telah dikelompokkan dan diberi nama pada tahap I. Selanjutnya pada fase kedua, siswa diminta untuk menjelaskan atau menerangkan butir-butir informasi yang telah diidentifikasi tersebut misalnya dengan meminta siswa untuk menghubungkan hal yang satu dengan yang lain atau menentukan hubungan sebab-akibat dari hubungan tersebut. Sedangkan fase ketiga, siswa diminta untuk membuat kesimpulan dari hasil yang diperoleh pada fase-fase sebelumnya.
Seperti halnya pada tahap I dan II, pada tahap III juga terdiri dari tiga fase. Pada fase pertama siswa diminta untuk memprediksikan pengaruh atau akibat yang akan terjadi, menjelaskan data-data yang lebih luas, atau membuat hipotesis. Pada fase kedua, siswa mencoba untuk menjelaskan hipotesis yang telah mereka buat dan pada fase ketiga, siswa diminta untuk membuat kesimpulan secara menyeluruh dari tahap pertama sampai pada tahap terakhir.
Ketika siswa mengalami proses informasi pada semua tahap, terdapat kegiatan-kegiatan yang dapat diamati dan sejumlah operasi mental yang tidak dapat diamati. Misalnya, seorang siswa dapat menyebutkan pengertian energi. Kegiatan siswa dalam menyebutkan suatu pengertian energi dapat diamati. Sedangkan tahap proses mental siswa, sehingga dapat menyebutkan pengertian energi tidak dapat diamati.
Untuk memunculkan kegiatan siswa dapat teramati dan operasi mental siswa yang tidak dapat teramati. Hilda Taba (dalam Bruce Joyce dan Marsha Weil, 1972, hlm. 126) mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan oleh guru selama proses pembelajaran, sebagai berikut:
Hubungan antara kegiatan yang teramati dan operasi mental yang tidak teramati pada tahap pembentukan konsep
No.
Kegiatan yang teramati
Operasi mental yang tidak teramati
Pertanyaan yang dapat dikemukakan oleh guru
1.
Menyebutkan dan membuat daftar
Membedakan
Apa yang kamu lihat/dengar/catat?
2.
Mengelompokkan
Mengidentifikasi sifat-sifat yang sama
Apa yang sama? Apa kriterianya?
3.
Membuat nama dan mengkategorikan
Menentukan urutan secara hierarki dari butir-butir informasi
Bagaimana kita menyebutkan kelompok itu?

Hubungan antara kegiatan yang teramati dan operasi mental yang tidak teramati pada tahap interpretasi data
No.
Kegiatan yang teramati
Operasi mental yang tidak teramati
Pertanyaan yang dapat dikemukakan oleh guru
1.
Mengidentifikasi butir-butir informasi
Membedakan
Apa yang kamu amati/perhatikan/
temukan?
2.
Menerangkan butir-butir informasi yang telah diidentifikasi
Menghubungkan kategori yang satu dengan yang lain, menentukan sebab dan akibat dari hubungan tersebut
Mengapa hal itu terjadi?
3.
Membuat kesimpulan
Menentukan implikasi dan meramalkan
Apa artinya? Apa gambaran yang tecipta dalam pikira kamu? Apa kesimpulannya?

Hubungan antara kegiatan yang teramati dan operasi mental yang tidak teramati pada tahap aplikasi prinsip
No.
Kegiatan yang teramati
Operasi mental yang tidak teramati
Pertanyaan yang dapat dikemukakan oleh guru
1.
Menganalisis masalah, menjelaskan fenomena, dan menyusun hipotesis
Menganalisis masalah atau keadaan, mendapatkan kembali pengetahuan yang relevan
Apa yang akan tejadi jika...?
2.
Menjelaskan dan/atau mendukung prediksi atau hipotesis
Menentukan hubungan sebab-akibat untuk membuat prediksi atau hipotesis
Mengapa kamu berpikir atau berpendapat hal itu akan terjadi?
3.
Menguji prediksi/hipotesis
Menggunakan prinsip yang logis atau ilmu pengetahuan untuk menentukan kondisi yang sesuai dan dibutuhkan
Apa yang dapat kamu generalisasikan atau dianggap benar?

Melalui proses bertanya, guru dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir atau aspek kognitif  siswa. Dalam hal ini guru berperan sebagai pemonitor cara-cara siswa mengalami proses informasi, menentukan siswa untuk menerima pengalaman, serta meningkatkan kemampuan siswa dalam memproses data ke dalam susunan yang lebih sistematis. Dalam perannya tersebut, guru dapat menggunakan berbagai cara, tidak hanya melalui mengajukan pertanyaan, tetapi dapat juga memberi komentar atau tanggapan, membimbing diskusi kelas, dan mendengarkan penjelasan siswa. Jelas bahwa dalam model pembelajaran induktif, siswa secara aktif terlibat dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Melalui bimbingan guru, siswa dituntun untuk dapat menemukan kesimpulan sebagai penerapan hasil belajar melalui tahapan pembentukan konsep, interpretasi data, dan aplikasi prinsip.
Adapun kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh model pembelajaran induktif menurut Warimun (dalam National Science Teacher Association, 2007, hlm. 116), sebagai berikut:
1. Kelebihan
a. Dapat mengembangkan keterampilan berpikir siswa karena siswa selalu dipancing dengan pertanyaan.
b. Dapat menguasai secara tuntas topik-topik yang dibicarakan karena adanya tukar pendapat antara siswa sehingga didapatkan suatu kesimpulan akhir.
c. Mengajarkan siswa berpikir kritis karena selalu dipancing untuk mengeluarkan ide-ide.
d. Melatih siswa belajar bekerja sistematis.
e. Memotivasi siswa dalam kegiatan belajar karena melalui model pembelajaran induktif siswa diberikan tantangan untuk menafsirkan data eksperimen.
2. Kekurangan
a. Membutuhkan banyak waktu.
b. Sukar menentukan pendapat yang sama karena setiap siswa mempunyai gagasan yang berbeda-beda.

Referensi
Sagala, S. (2005). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Joyce, B., & Weil, M. (1972). Model of Teaching. New Jersey: Prentice-Hall.
National Science Teacher Association (NSTA). (2007). The Many Faces of Inductive Teaching and Learning. International Journal of Inductive Teaching and Learning. 36 (5), hlm. 116.
Warimun, E. S. (1997). Efektivitas Model Pembelajaran Induktif dalam Meningkatkan Prestasi Belajar, Motivasi Brespestasi, dan Sikap Siswa terhadap Perlajaran Fisika. (Tesis). Bandung: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

2 comments

sama-sama, terima kasih juga sudah berkunjung ^-^


EmoticonEmoticon