Wednesday, 17 May 2017

Filsafat Pendidikan Progresivisme



Filsafat Pendidikan Progresivisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Filsafat Pendidikan Progresivisme

Redja Mudyahardjo (2006, hlm. 142) mengemukakan “progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru (teacher centered) atau bahan pelajaran (subject centered). Sedangkan, Zuhairini (1994, hlm. 20) berpendapat bahwa “aliran progresivisme merupakan suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke-20 ini. Pengaruh itu terasa di seluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme ini”.
Biasanya aliran progresivisme dihubungkan dengan pandangan hidup liberal. Maksudnya adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat, yakni fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), curios (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka).
Progresivisme menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif. Tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekontruksi pengalaman yang terus menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian sesuai tuntutan dari lingkungan.
Progresivisme dianggap sebagai aliran pikiran yang baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke-19, akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh ke belakang sampai pada zaman Yunani purba, seperti Hiraclitus (554-484 SM), Socrates (468-399 SM), dan Protagoas (480-410 SM). Mereka pernah mengemukakan pendapat yang dapat dianggap sebagai unsur-unsur yang ikut menyebabkan sikap jiwa yang disebut pragmatisme-progresivisme.
Heraclitus mengemukakan bahwa sifat yang utama dari realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini, semuanya berubah-ubah, kecuali asa perubahan itu sendiri. Socrates berusaha mempersatukan epistemologi dan aksiologi. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kunci untuk kebajikan. Yang baik dapat dipelajari dengan kekuatan intelek, dan pengetahuan yang baik menjadi pedoman bagi manusia untuk melakukan kebajikan. Ia percaya bahwa manusia sanggup melakukan baik. Protagoras mengajarkan bahwa kebenaran dan norma atau nilai tidak bersifat mutlak, melainkan relatif, yaitu bergantung pada waktu dan tempat.
Kemudian sejak abad ke-16, Francis Bacon, John Locke, Rousseau, Kant, dan Hegel dapat disebut sebagai penyumbang pikiran-pikiran munculnya aliran Progresivisme. Francis Bacon memberikan sumbangan dengan usahanya memperbaiki dan memperhalus metode ilmiah dalam pengetahuan alam. John Locke dengan ajarannya tentang kebebasan politik. Rousseau dengan keyakinannya bahwa kebaikan berada di dalam manusia karena kodrat yang baik dari pada manusia. Kant memuliakan manusia, menjunjung tinggi akan kepribadian manusia, memberi martabat manusia suatu kedudukan yang tinggi. Hegel mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan bergerak, dalam proses perubahan dan penyesuaian yang tak ada hentinya.
Pada abad ke-19 dan ke-20, tokoh-tokoh progresivisme banyak terdapat di Amerika Serikat. Thomas Paine dan Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada progresivisme karena kepercayaan mereka pada demokrasi dan penolakan terhadap sikap yang dogmatis, terutama dalam agama. Charles S. Peirce mengemukakan teori tentang pikiran dan hal berpikir. Pikiran ini hanya berguna bagi manusia apabila membiasakan manusia untuk berbuat, perasaan, dan gerak jasmaniah adalah manifestasi dari aktifitas manusia dan keduanya itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan berpikir.
Dasar filosofis dari aliran progresivisme adalah realisme spiritualistik dan humanisme baru. Realisme spiritualistik berkeyakinan bahwa gerakan pendidikan progresif bersumber dari prinsip-prinsip spiritualistik dan kreatif dari Froebel dan Montessori serta ilmu baru tentang perkembangan anak. Sedangkan humanisme baru menekankan pada penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai individu.
Tujuan keseluruhan pendidikan adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. Agar dapat bekerja siswa diharapkan memiliki keterampilan, alat dan pengalaman sosial, serta memiliki pengalaman problem solving.
Kalangan progresif menempatkan subyek didik pada titik sumbu sekolah (child centered). Mereka lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subyek didik. Jadi, ketertarikan anak adalah titik tolak bagi pengalaman belajar. Imam Barnadib (1997, hlm. 36) menyatakan bahwa “kurikulum progresivisme adalah kurikulum yang tidak beku dan dapat direvisi, sehingga yang cocok adalah kurikulum yang berpusat pada pengalaman.
Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Di sini guru menggunakan ketertarikan alamiah anak untuk membantunya belajar berbagai keterampilan yang akan mendukung anak menemukan kebutuhan dan keinginan terbarunya. Akhirnya, ini akan “membantu anak (subyek didik) mengembangkan keterampilan-keterampilan pemecahan masalah dan membangun kognitif informasi yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sosial” (Uyoh Sadulloh, 2003, hlm. 148).
Metode pendidikan yang biasanya dipergunakan oleh aliran progresivisme, diantaranya: (1) metode pendidikan aktif, pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya, (2) metode memonitor kegiatan belajar, mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut, (3) metode penelitian ilmiah, pendidikan progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep, (4) pemerintahan pelajar, pendidikan progresif memperkenalkan pemerintah pelajar dalam kehidupan sekolah dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah, (5) kerja sama sekolah dengan keluarga, pendidikan progresif mengupayakan adanya kerja sama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak, dan (6) sekolah sebagai laboratorium pembaharuan pendidikan, sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperan pula sebagai laboratorium dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
Kaum progresif menganggap subyek-subyek didik adalah aktif, bukan pasif, sekolah adalah dunia kecil (miniatur) masyarakat besar, aktifitas ruang kelas difokuskan pada praktik pemecahan masalah, serta atmosfer sekolah diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis. Mereka menganut prinsip pendidikan berpusat pada anak (child centered). Mereka menganggap bahwa anak itu unik. Anak adalah orang yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak mempunyai alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan, dan kecemasan sendiri yang berbeda dari orang dewasa.
Guru dalam pandangan progresivisme memiliki peranan sebagai: (1) fasilitator, orang yang menyediakan diri untuk memberikan jalan kelancaran proses belajar sendiri siswa, (2) motivator, orang yang mampu membangkitkan minat siswa untuk terus giat belajar sendiri, (3) konselor, orang yang membantu siswa menemukan dan mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapi oleh setiap siswa. Dengan demikian guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, serta kecintaan pada anak agar dapat menjalankan peranannya dengan baik.

Referensi
Barnadib, I. (1997). Filsafat Pendidikan Sistem & Metode. Yogyakarta: Andi Offset.
Mudyahardjo, R. (2006). Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sadulloh, U. (2003). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Zuhairini (1994). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon