Tuesday, 9 May 2017

Karakteristik Anak Tunanetra



Karakteristik Anak Tunanetra
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Karakteristik Anak Tunanetra

Daniel P. Hallahan, James M. Kauffman, dan Paigne C. Pullen (2009, hlm. 380) mengemukakan “legacy blind is a person who has visual acuity of 20/200 or less in the better eye even with correction (e.g., eyeglasses) or has a field of vision so narrow that its widest diameter subtends an angular distance no greater than 20 degrees”. Artinya, anak buta adalah seseorang yang memiliki ketajaman visual 20/200 atau kurang pada mata/penglihatan yang lebih baik setelah dilakukan koreski (menggunakan kacamata) atau memiliki bidang penglihatan begitu sempit dengan diameter terlebar memiliki jarak sudut pandang tidak lebih dari 20 derajat. Selanjutnya, menurut Barraga (dalam Wardani, dkk., 2007, hlm. 4-5)
“anak yang mengalami ketidakmampuan melihat adalah anak yang mempunyai gangguan atau kerusakan dalam penglihatannya sehingga menghambat prestasi belajar secara optimal, kecuali bila dilakukan penyesuaian dalam pendekatan-pendekatan penyajian pengalaman belajar, sifat-sifat bahan yang digunakan, dan/atau lingkungan belajar”.
Beberapa pendapat tersebut memberikan pemahaman bahwa perlu adanya penyesuaian terhadap seseorang yang mengalami keterbatasan melihat atau anak tunanetra yang memiliki kekhasan dan cara tersendiri untuk mencapai tahapan yang sama dalam perkembangannya. Jadi, anak tunanetra adalah anak yang mengalami keterbatasan penglihatan secara keseluruhan (the blind) atau secara sebagian (low vision) yang menghambat dalam memperoleh informasi secara visual, sehingga dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan prestasi belajar.
Anak tunanetra memiliki karakteristik atau ciri khas tertentu. Menurut Sari Rudiyati (2002, hlm. 34-38) mengemukakan karakteristik anak tunanetra, yakni: (1) rasa curiga terhadap orang lain, (2) perasaan mudah tersinggung, (3) verbalisme, (4) perasaan rendah diri, (5) adatan, (6) suka berfantasi, (7) berpikir kritis, dan (8) pemberani. Karakteristik anak tunanetra tersebut dipaparkan lebih lanjut, sebagai berikut:
1. Rasa curiga terhadap orang lain
Tidak berfungsinya indera penglihatan berpengaruh terhadap penerima informasi visual saat berkomunikasi dan berinteraksi. Anak tunanetra tidak memahami ekspresi wajah dari teman bicaranya atau hanya dapat mendengar suara saja. Hal ini mempengaruhi saat teman berbicara dengan orang lain secara berbisik-bisik atau kurang jelas, sehingga dapat mengakibatkan hilangnya rasa aman dan cepat curiga terhadap orang lain. Anak tunanetra perlu dikenalkan dengan orang-orang di sekitar lingkungannya, terutama anggota keluarga, tetangga, masyarakat sekitar rumah, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
2. Perasaan mudah tersinggung
Perasaan mudah tersinggung dipengaruhi oleh keterbatasan yang diperoleh melalui pendengaran. Bercanda dan saling membicarakan agar saat berinteraksi dapat membuat anak tunanetra tersinggung. Perasaan mudah tersinggung perlu diatasi dengan memperkenalkan anak tunanetra dengan lingkungan sekitar. Hal ini untuk memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki karakteristik dalam bersikap, bertutur kata, dan cara berteman.
3. Verbalisme
Pengalaman dan pengetahuan anak tunanetra pada konsep abstrak mengalami keterbatasan. Hal ini dikarenakan konsep yang bersifat abstrak seperti fatamorgana, pelangi, dan lain sebagainya terhadap bagian-bagian yang tidak dapat dibuat media konkret yang dapat menjelaskan secara detail tentang konsep tersebut, sehingga hanya dapat dijelaskan melalui verbal. Anak tunanetra yang mengalami keterbatasan dalam pengalaman dan pengetahuan konsep abstrak akan memiliki verbalisme, sehingga pemahaman anak tunanetra hanya berdasarkan kata-kata saja (secara verbal) pada konsep abstrak yang sulit dibuat media konkret yang dapat menyerupai.
4. Perasaan rendah diri
Keterbatasan yang dimiliki anak tunanetra berimplikasi pada konsep dirinya. Implikasi keterbatasan penglihatan yaitu perasaan rendah diri untuk bergaul dan berkompetisi dengan orang lain. Hal ini disebabkan bahwa penglihatan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam memperoleh infomasi. Perasaan rendah diri dalam bergaul ini terutama dengan anak normal. Perasaan tersebut akan sangat dirasakan apabila teman sepermainannya menolak untuk bermain bersama.
5. Adatan
Adatan merupakan upaya rangsang bagi anak tunanetra melalui indera non-visual. Bentuk adatan tersebut, misalnya gerakan mengayunkan badan ke depan ke belakang silih berganti, gerakan menggerakan kaki saat duduk, menggeleng-gelengkan kepala, dan lain sebagainya. Adatan dilakukan oleh anak tunanetra sebagai pengganti apabila pada kondisi tertentu anak tidak memiliki rangsangan karena keterbatasan indera penglihatan.
6. Suka berfantasi
Implikasi dan keterbatasan penglihatan pada anak tunanetra salah satunya suka berfantasi. Hal ini bila dibandingkan dengan anak normal dapat melakukan kegiatan memandang, sekedar melihat-lihat, dan mencari informasi pada saat-saat tertentu. Kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan oleh anak tunanetra, sehingga anak tunanetra hanya dapat berfantasi saja.
7. Berpikir kritis
Keterbatasan informasi visual dapat memotivasi anak tunanetra dalam berpikir kritis terhadap suatu permasalahan. Hal ini dibandingkan dengan anak normal dalam mengatasi permasalahan memiliki banyak informasi dari luar yang dapat mempengaruhi terutama melalui informasi visual. Anak tunanetra akan memecahkan permasalahan secara fokus dan kritis berdasarkan informasi yang ia peroleh sebelumnya serta terhindar dari pengaruh visual yang dapat dialami oleh anak normal.
8. Pemberani
Pada anak tunanetra yang telah memiliki konsep diri yang baik, maka ia memiliki sikap berani dalam meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan pengalamannya. Sikap pemberani tersebut merupakan konsep diri yang harus dilatih sejak dini agar dapat mandiri dan menerima keadaan dirinya serta mau berusaha dalam mencapai cita-cita.
Menurut Lowenfeld (dalam Juang Sunanto, 2005, hlm. 47) mengemukakan bahwa kehilangan penglihatan mengakibatkan tiga keterbatasan serius, yakni:
1. Variasi dan jenis pengalaman
Anak tunanetra memperoleh pengalaman melalui perabaan dan pendengaran, sedangkan anak normal mendapat pengalaman melalui visual dalam memperoleh informasi secara lebih lengkap dan rinci, sehingga hal ini berpengaruh pada variasi dan jenis pengalaman anak yang membutuhkan strategi dan kemampuan anak dalam memahami informasi tersebut.
2. Kemampuan untuk bergerak
Keterbatasan penglihatan sangat mempengaruhi kemampuan untuk bergerak (mobilitas) dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan untuk bergerak pada anak tunanetra memerlukan latihan yang mengakomodasi indera non-visual dalam bergerak secara mandiri.
3. Berinteraksi dengan lingkungan (sosial dan emosi)
Anak tunanetra mengalami permasalahan dalam intraksi dengan lingkungan yang dipengaruhi oleh sikap orang tua, keluarga, dan masyarakat terhadapnya, yakni kurang adanya penerimaan dan komunikasi yang baik. Keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan dipengaruhi oleh faktor kurangnya rangsangan indera penglihatan dan kurangnya sosial atau bergaul dengan masyarakat.

Referensi
Hallahan, D. P., Kauffman, J. M., & Pullen, P. C. (2009). Exceptional Learner an Introduction to Special Education. United States of Amerika: PEARSON.
Rudiyati, S. (2002). Pendidikan Anak Tunanetra. Yogyakarta: Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Yogyakarta.
Sunanto, J. (2005). Mengembangkan Potensi Anak Berkelainan Penglihatan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Wardani, dkk. (2007). Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Universitas Terbuka.


EmoticonEmoticon