Thursday, 4 May 2017

Metode Herbart



Metode Herbart
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Herbart

Metode Herbart digagas oleh Johan Frederich Herbart (1776-1841), seorang ahli matematika yang berasal dari Jerman. Metode Herbart merupakan “suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan jalan menghubungkan antara tanggapan lama dengan tanggapan baru sehingga menimbulkan berbagai tanggapan dari siswa” (Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, 1995, hlm. 92). Pada penggunaan metode ini, guru harus merencanakan bahan-bahan pengajaran secara teliti, sehingga siswa benar-benar menguasai berbagai pemikiran baru secara bertahap dan akan mampu mengerjakan tugas-tugas baru yang diberikan. Di samping itu, siswa harus benar-benar dibimbing oleh guru melalui tugas-tugas yang diberikan, sehingga akan terbentuk pemikiran-pemikiran baru pada diri siswa.
Metode Herbart ini biasa dikenal juga dengan metode membahas. Tujuan metode ini adalah “memimpin siswa untuk mendapat kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang umum dengan cara membahas dan menyelidiki sehingga dapat menyimpulkan” (Mahmud Yunus, 1990, hlm. 85).
Pada dasarnya metode Herbart bersumber pada teori belajar yang berlandaskan kepada ilmu jiwa asosiasi. Pada teori ini, siswa melakukan lebih banyak daripada sekedar mengemati suatu benda, namun siswa juga mengapersepsikannya. “Mengapersepsikan berarti bahwa seorang siswa bukan saja memiliki konsep mengenai suatu obyek tertentu, melainkan juga memiliki konsep tersebut dalam hubungannya dengan konsep lain yang sudah tersimpan dalam ingatannya” (Muhaimin, dkk., 1996, hlm. 87).
Apersepsi juga berarti suatu penafsiran buah pikiran, yaitu menyatu padukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dan pengalaman yang telah dimiliki. Menurut Rohani (2004, hlm. 27) “apersepsi sering disebut juga batu loncatan”. Apersepsi sebagai salah satu fenomena psikis yang dialami individu tatkala ada suatu kesan baru yang masuk dalam kesadaran serta berasosiasi dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas.
Pengajaran yang baik akan memberikan tanggapan yang sejelas-jelasnya kepada siswa. Tanggapan yang jelas akan bisa membuat hubungan atau asosiasi antara tanggapan yang erat. Asosiasi yang baru akan membentuk pengetahuan yang baru pula. Karena itu, ilmu jiwa asosiasi Herbart sering pula disebut ilmu jiwa tanggapan.
Tanggapan adalah unsur atau struktur jiwa yang paling sederhana atau terkecil. Artinya, jiwa manusia berisi tanggapan-tanggapan yang disadari atau tidak disadari. Tanggapan yang tidak disadari bukan berarti lenyap begitu saja, melainkan masih mempunyai kekuatan untuk timbul kembali ke alam sadar dalam kondisi tertentu.
Menurut Herbart,
“kekuatan tanggapan tergantung kepada dua hal, yaitu pertama: jelas atau tidaknya ketika pertama kali diterima oleh manusia, yang berarti semakin jelas makin besar kekuatannya, begitu juga sebaliknya, kedua: frekuensi atau sering tidaknya tanggapan itu masuk ke dalam kesadaran. Semakin sering tanggapan itu masuk ke dalam kesadaran, maka akan semakin bertambah kekuatannya, demikian pula sebaliknya” (Muhaimin, dkk., 1996, hlm. 25).
Dasar pokok metode Herbart terletak pada minat. Minat adalah bahan pengajaran pertama dan pengetahuan yang diperoleh melalui minat kuatlah yang benar-benar menjadi milik siswa. “Belajar hendaklah dimulai dari yang diketahui menuju kepada yang belum diketahui dan meluas kepada pengetahuan yang baru diperoleh dengan mengasimilasikan pengetahuan yang dipelajari dengan yang diketahui siswa” (Zakiah Daradjat, 1996, hlm. 41).
Herbart (dalam Samuel Smith, 1986, hlm. 223) mengatakan bahwa
“seorang individu akan berpikir menggunakan pemikiran-pemikiran masa lalu dan berbagai pengalaman yang akhirnya digabungkan menjadi suatu pemikiran, pengetahuan atau keberadaan baru. Oleh karena itu, bahan-bahan yang akan dipelajari di sekolh harus diberikan dalam suatu rangka yang teratur”.
Dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah diketahui soerang siswa, berarti guru akan membangkitkan minatnya terhadap suatu pemikiran baru dan akan memungkinkannya untuk mengabungkan pemikiran-pemikiran tersebut dengan pemikiran-pemikiran yang pernah diperolehnya.
Konsep Herbart tentang apersepsi dan penggabungan pengetahuan dijadikan dasar-dasar pedoman metode Herbart. Menurut Herbart pelajaran-pelajaran yang diolah berdasarkan apersepsi kita akan memperoleh dan memperkaya pengertian siswa, menambah minatnya, serta membantu untuk mengingat pemikiran-pemikiran baru yang diperolehnya. Oleh karena itu, pengajaran harus dibangun melalui pengetahuan, sikap, dan skill yang telah ada.
Herbart mengemukakan bahwa yang diketahui digunakan untuk memahami sesuatu yang belum diketahui. Apersepsi membangkitkan minat dan perhatian untuk sesuatu. Karena itu, pelajaran harus selalu dibangun atas pengetahuan yang ada. Berdasarkan prinsip tersebut, Herbart (dalam Nasution, 1995, hlm. 158) mengimplementasikannya dengan meneruskan menjadi satu metode yang sistematis dengan empat langkah, yakni:
1. Kejelasan
Sesuatu diperlihatkan untuk memperdalam pengertian. Disini guru yang terutama aktif (memberi) dan mudah pasif (menerima).
2. Asosiasi
Siswa diberi pengetian untuk menghubungkan pengertian baru dengan pengalaman-pengalaman lama. Siswa disini berperan lebih aktif.
3. Sistem
Disini bahan baru diterapkan dalam hubungannya dengan hal-hal lain.
4. Metode
Siswa mendapat tugas untuk dikerjakan. Guru memperbaiki dengan memberi petunjuk di kala perlu.
Selanjutnya, pengikut Herbart, yakni Ziller (dalam Muh. Said dan Juimar Affan, 1987, hlm. 222) mengubahnya dan menggantikannya dengan lima langkah, sebagai berikut:
1. Analisis
Apersepsi anak dibangkitkan dan ditunjukkan dengan bahan baru.
2. Sintesis
Bendanya diperlihatkan dan dijelaskan untuk memperdalam pengertian.
3. Asosiasi
Bahan baru dihubungkan dengan bahan lama, lalu ditetapkan hal-hal yang umum serta pengertian-pengertiannya.
4. Sistem
Pengertian-pengertian yang beraturan disatukan menjadi pengetahuan.
5. Metode
Diberi latihan tentang hal-hal yang baru agar dapat dipergunakan siswa.
Kemudian, yang lebih terkenal ialah yang dikembangkan oleh pengikut Herbart, yakni Rein (dalam Nursid Sumaatmadja, 1997, hlm. 108), tahapannya sebagai berikut:
1. Persiapan (preparation)
Guru mengetengahkan pemikiran-pemikiran yang dapat menggugah kesadaran siswa terhadap pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki mereka. Dengan kata lain, guru membangkitkan ingatan siswa tentang hal-hal yang telah diketahui.
2. Penyajian (presentation)
Langkah berikutnya guru mulai memberikan mata pelajaran dengan dimulai dari hal-hal yang konkret kepada yang abstrak, dari yang mudah atau sederhana menuju kepada yang sukar. Sehingga pelajaran dapat diberikan secara berurutan dan sistematis.
3. Asosiasi (association)
Langkah ini dinamakan juga komparasi dan abstraksi yang merupakan langkah penting. Pada tahap asosiasi ini guru membimbing siswa melalui proses analisis dan perbandingan untuk membedakan mereka antara hal-hal yang bersamaan dengan hal-hal yang berbeda mengenai pelajaran yang telah diberikan, sehingga pelajaran memiliki hubungan stimulan.
4. Generalisasi (generalization)
Proses generalisasi ini disebut juga pengorganisasian bahan. Dari proses perbandingan, abstraksi, dan asosiasi tentang unsur-unsur umum dari fakta, gejala, dan masalah yang diketahui dan dipelajari siswa, siswa akan menarik suatu kesimpulan sebagai suatu prinsip umum untuk suatu generalisasi.
5. Penerapan (application)
Sebagai langkah akhir, guru memberikan soal-soal, latihan-latihan, dan mempraktikkan hasil pelajaran yang telah diberikan.
Sebagaimana metode lainnya, metode Herbart tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun yang menjadi kelebihan metode Herbart menurut Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar (1995, hlm. 93-94), sebagai berikut:
1. Pelajaran disajikan secara berurutan atau sistematis.
2. Pengetahuan siswa menjadi utuh dan fungsional.
3. Siswa dapat mengetahui hubungan dan kaitan dari masing-masing mata pelajaran sehingga dapat menentukan urutan pelajaran tersebut.
4. Pelajaran bernilai praktis dan dapat diaplikasikan tidak hanya berbentuk teori.
Adapun kekurangan metode Herbart menurut Mahmud Yunus (1990, hlm. 89), diantaranya:
1. Pelajaran biasanya cenderung dipaksakan.
2. Pengajaran bersifat mekanik dan terlalu menganggap siswa sebagai mesin yang siap dibawa dan digerakkan.
3. Guru yang banyak bekerja dan mengatur segala-galanya.
4. Fleksibilitas kurikulum kurang diperhatikan.
5. Untuk menyusun rencana pembelajaran perlu waktu yang relatif panjang.

Referensi
Daradjat, Z. (1996). Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Muhaimin, dkk. (1996). Strategi Belajar Mengajar (Penerapan dalam Pembelajaran Pendidikan Agama). Surabaya: Citra Media.
Nasution (1995). Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Smith, S. (1986). Gagasan-gagasan Besar Tokoh-tokoh dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Yunus, M. (1990). Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran. Jakarta: Hidakarya Agung.
Yusuf, T., & Anwar, S. (1995). Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


EmoticonEmoticon