Saturday, 20 May 2017

Metode Insersi (Sisipan atau Lampiran)



Metode Insersi (Sisipan atau Lampiran)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Insersi (Sisipan atau Lampiran)

Metode pembelajaran insersi (sisipan atau lampiran), merupakan metode yang belum dikenal secara luas. Sehingga metode ini belum begitu populer, tetapi telah sering terlaksana secara tidak langsung dalam aktivitas pembelajaran. Metode insersi merupakan cara menyajikan bahan/materi pelajaran dengan menyisipkan intisari ajaran agama/emosi religius di dalam mata pelajaran umum.
Sifat penyisipan intisari agama ke dalam mata pelajaran umum, hendaknya disajikan secara halus, sehingga hampir tidak terasa, bahwa sesungguhnya siswa telah mendapat asupan rohaniah (agama).
Pelaksanaan pengajaran melalui metode insersi ini tidaklah terlalu memakan banyak waktu, sebab metode ini berupa sisipan yang berlangsungnya pada saat berakhirnya pelajaran umum lalu dihubungkan sebentar (2 atau 3 menit) dengan hal-hal yang mengandung nilai agama, baik dengan melalui prolog, melalui cerita singkat maupun melalui penguatan dalil logika, yang menggugah semangat dan perhatian dari siswa.
Di dalam penggunaan metode insersi, guru dapat merencanakan persiapan mengajar sebaik-baiknya, sebab tujuan pokok guru adalah mengajarkan pelajaran umum. Sedangkan pelajaran agama hanya bersifat sisipan/selipan saja.
Kelebihan penggunaan metode pembelajaran insersi, diantaranya:
1. Pelaksanaan metode insersi tidak banyak memakan waktu, sebab dengan cara menyisipkan secara halus intisari agama dalam pelajaran umum, untuk itu guru hanya memerlukan waktu 2 sampai 3 menit.
2. Siswa tanpa disadari telah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman berupa intisari agama atau asupan rohaniah.
3. Metode ini merupakan selingan yang bermanfaat.
4. Tidak memerlukan peralatan tambahan.
Adapun kelemahan penggunaan metode pembelajaran insersi, antara lain:
1. Penyajian pelajaran agama tidak mendalam, karena materi pelajaran agama hanya diberikan sepintas berupa selipan.
2. Dapat mengaburkan persepsi anak terhadap agama, bila guru kurang pandai membawa siswa kepada pengertian yang jelas, sebab guru tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama.
3. Memerlukan kemahiran dan kejelian dalam membaca situasi kelas.
4. Memerlukan perencanaan yang matang. Hal ini merupakan tantangan bagi guru-guru umum, agar dapat memberi nafas agama pada saat mengajar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran insersi, sebagai berikut:
1. Sebelum pelajaran disajikan guru perlu menyiapkan pembelajaran secara matang dan membuat suasana kelas yang serasi untuk menyisipkan intisari agama dengan materi pelajaran pokok.
2. Penyajian bahan pelajaran agama tersebut disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan pemikiran siswa.
3. Memerlukan kesungguhan dan penghayatan agama yang tinggi dari guru yang memegang mata pelajaran umum.


EmoticonEmoticon