Monday, 15 May 2017

Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)



Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)

Miftahul Huda (2012, hlm. 130) berpendapat bahwa “pada dasarnya numbered heads together (NHT) merupakan varian dari diskusi kelompok, teknik pelaksanaannya hampir sama dengan diskusi kelompok”. Sedangkan menurut Muslimin Ibrahim, dkk. (2000, hlm. 28) “model pembelajaran NHT adalah suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas”.
Model pembelajaran NHT “dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak peserta didik dalam menelaah materi yang mencakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut” (Trianto, 2009, hlm. 82). Selanjutnya, Miftahul Huda (2012, hlm. 87) berpendapat bahwa “pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan peserta didik dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran”.
Model pembelajaran NHT dapat meningkatkan keaktifan belajar lebih baik dan sikap tolong menolong dalam beberapa perilaku sosial. Pada saat belajar, guru harus berusaha menanamkan sikap demokrasi untuk siswanya, maksudnya suasana harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan kepribadian siswa yang demokratis dan diharapkan suasana yang terbuka serta kebiasaan-kebiasaan kerja sama, terutama dalam memecahkan permasalahan.
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran menggunakan model NHT, sebagai berikut:
1. Hasil belajar akademik struktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan sosial
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, dan bekerja dalam kelompok.
Ciri khas dari model pembelajaran NHT, diantaranya:
1. Kelompok heterogen.
2. Setiap anggota kelompok memiliki nomor kepala yang berbeda-beda.
3. Berpikir bersama (heads together).
Model pembelajaran NHT menempatkan peserta didik belajar dalam kelompok (4-6) orang dengan tingkat kemampuan atau jenis kelamin atau latar belakang yang beragam. Di dalam belajar kelompok, masing-masing siswa diberi nomor pin, setelah mereka selesai berdiskusi dalam menjawab pertanyaan guru, guru akan memanggil salah satu nomor dan peserta didik yang disebutkan nomornya oleh guru harus mewakili masing-masing kelompoknya untuk menyampaikan hasil diskusi kepada semua temannya. Oleh sebab itu, melalui penggunaan model pembelajaran NHT ini peserta didik lebih aktif karena mereka harus benar-benar siap dalam menjawab pertanyaan, karena mereka belum tahu siapa yang akan mewakili setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya tersebut.
Miftahul Huda (2012, hlm. 245) mengemukakan langkah-langkah yang dilakukan dalam penerapan model pembelajaran NHT, sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada peserta didik sesuai kompetensi dasar yang hendak akan dicapai.
2. Guru memberikan kuis secara individual kepada peserta didik untuk mendapatkan skor dasar atau awal.
3. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 peserta didik, setiap anggota kelompok diberi nomor pin.
4. Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
5. Guru mengecek pemahaman peserta didik dengan memanggil salah satu nomor anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu peserta didik yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.
6. Guru memfasilitasi peserta didik dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
7. Guru memberikan tes kepada peserta didik secara individual.
8. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok melalui penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individu dari skor dasar ke skor tes berikutnya.
Dengan demikian, menurut Trianto (2009, hlm. 82) sintaks dari model pembelajaran NHT tersaji pada tabel berikut:
Fase
Kegiatan Guru dan Peserta Didik
Fase 1
Penomoran
Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok 4-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5.
Fase 2
Pengajuan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada peserta didik. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.
Fase 3
Berpikir bersama
Peserta didik menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tersebut.
Fase 4
Menjawab
Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian peserta didik yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Referensi
Huda, M. (2012). Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ibrahim, M., dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA Press.
Trianto (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Prenada Nadia Group.


EmoticonEmoticon