Monday, 22 May 2017

Perkembangan Kepribadian Anak dalam Tri Pusat Pendidikan

Perkembangan Kepribadian Anak dalam Tri Pusat Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Perkembangan adalah suatu perubahan menjadi bertambah sempurna dalam hal pikiran, pengetahuan dan lainnya. Perkembangan kepribadian mempengaruhi pendidikan karena kepribadian akan mempengaruhi pencapaian seseorang dalam pendidikan. Kepribadian seseorang juga dapat menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang. Pendidikan memiliki peran penting dalam perkembangan kepribadian anak, dalam pendidikan tidak hanya dijabarkan bagaimana cara individu memahami suatu materi pelajaran, tetapi juga pembentukan karakter. Untuk membentuk kepribadian yang baik dalam diri individu maka pendidikan sangatlah dibutuhkan, dan dalam hal ini pendidikan yang dimaksud bukan pendidikan formal saja melainkan semua bentuk pendidikan baik pendidikan formal, informal, maupun norformal.
Perkembangan yang dikemukakan oleh Libert, Paulus, dan Strauss (dalam Gunarsa Singgih, 1990, hlm. 31) bahwa “perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu ssebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan”. Istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang menampak. Perkembangan dapat juga dilukiskan dengan “suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar” (Monks, Kneers, dan Haditomo 1984, hlm. 2).
Tugas perkembangan dapat dikaitkan dengan fungsi belajar, karena pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai upaya untuk mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar ia mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik dan di dalam kehidupan nyata. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, diantaranya:
1. Pembawaan, pada waktu lahir anak membawa kemungkinan untuk merealisasi potensi yang ada pada anak.
2. Lingkungan, alam sekitar tempat manusia hidup dan dalam hubungannya dengan alam sekitar tersebut orang yang bersangkutan menunjukkan reaksi.
3. Ego, baru mengambil peranan pada suatu taraf perkembangan tertentu, bila yang bersangkutan telah mengetahui perbedaan antara baik dan buruk.
4. Takdir/nasib, kejadian penting yang dialami pada suatu ketika turut menentukan perkembangan hidup seseorang.
Kepribadian adalah keadaan manusia sebagai perseorangan atau keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak-watak seseorang. Kepribadian terdapat berbagai istilah, seperti “motif, sifat, dan temperamen, yang menunjuk kekhasan permanen pada perseorangan” (Berry, John, dkk. 1999, hlm. 141).
Kepribadian dapat dilihat dari  kenyataan diantaranya:
1. Kenyataan yang bersifat biologis.
2. Kenyataan psikologis.
3. Kenyataan sosial.
Ketiga pernyataan ini menjadi satu kesatuan yang disebut dengan kepribadian.
Faktor lain yang besar pengaruhnya terhadap kepribadian adalah hasil hubungan kita dengan lingkungan, atau pengalaman. Terdapat dua macam pengalaman yang mempengaruhi kepribadian manusia, yaitu:
1. Pengalaman umum, yaitu pengalaman yang dihayati oleh hampir semua anggota masyarakat atau oleh semua manusia. Pengalaman ini manjadi bagian diri seseorang yang sama dengan banyak orang lain di sekitarnya.
2. Pengalaman unik, Setiap orang mempunyai pengalaman-pengalaman yang hanya pernah dialami oleh dirinya sendiri karena sejak lahir seseorang anak sudah membawa ciri-ciri tertentu serta kecenderungan-kecenderungan tertentu, maka reaksinya terhadap lingkungan bersifat khas. Pengalaman unik ini menentukan bagian darinya yang bersifat khas, unik, dan tidak ada duanya.
Pribadi manusia itu dapat berubah, artinya bahwa pribadi manusia itu mudah atau dapat dipengaruhi oleh sesuatu. Karena itu, ada usaha mandidik pribadi, membentuk pribadi, membentuk watak, atau mendidik watak anak.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Manusia selama hidupnya selalu mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tri pusat pendidikan. Dengan kata lain, proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada diluar lingkungan formal.
Tri pusat Pendidikan adalah lingkungan pendidikan yang sangat berperan penting dalam pendidikan manusia, diantaranya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Semua lingkungan tersebut mempunyai fungsi atau peran dan tanggung jawab masing-masing dalam pendidikan manusia.
Dilihat dari tempat berlangsungnya, pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga dengan tri pusat pendidikan, yakni pendidikan dalam keluarga (pendidikan informal), pendidikan dalam sekolah (pendidikan formal), dan pendidikan di dalam masyarakat (pendidikan non formal). Semua lingkungan pendidikan tersebut mempunyai hubungan timbal balik antara satu dengan lainnya.
Hubungan timbal balik tersebu yang bisa membuat pendidikan berjalan dengan baik. Istilah tri pusat pendidikan berasal dari istilah yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantara, dalam memberdayakan semua unsur masyarakat untuk membangun pendidikan. Tri pusat pendidikan berarti setiap pribadi manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini secara bertahap dan mengemban tanggung jawab pendidikan bagi generasi muda.
Kemudian tri pusat pendidikan ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Orientasi kelembagaan tri pusat pendidikan ini bersifat alamiah sesuai dengan kenyataan dalam tata kebudayaan manusia.
Dilihat  dari jenis dan jenjang pendidikan, Undang-Undang  RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa satuan pendidikan adalah kelompok layanan   pendidikan   yang   menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan   yang   akan dicapai,   dan   kemampuan yang dikembangkan sedangkan jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
       Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pen didikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Berikut paparan lebih lanjut mengenai tri pusat pendidikan:

1. Keluarga
Perkembangan Kepribadian Anak dalam Tri Pusat Pendidikan

Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti (ayah, ibu, dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (disamping inti ada orang lain, seperti kakek, nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam keluarga inilah anak pertama mendapatkan didikan dan bimbingan. Lingkungan keluarga juga dapat dikatakan lingkungan yang utama karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga. Sehingga pendidikan yang  paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Keluarga adalah lembaga sosial yang terbentuk setelah adanya suatu perkawinan. Keluarga mempunyai otonom melaksanakan pendidikan. Orang tua mau tidak mau, berkeahlian atau tidak, berkewajiban secara kodrati untuk  menyelenggarkan pendidikan terhadap anak-anaknya.
Pendidikan yang terjadi di lingkungan keluarga berlangsung secara alamiah dan wajar sehingga disebut pendidikan informal yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak yang mana kegiatan pendidikannya dilaksanakan tanpa suatu organisasi yang ketat dan  tanpa adanya program waktu.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati. Orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga berfungsi:
a. Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak.
b. Menjamin kehidupan emosional anak.
c. Menanamkan dasar pendidikan moral.
d. Memberikan dasar pendidikan sosial.
e. Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.
Secara khusus terdapat dasar-dasar tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, meliputi:
a. Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan anak.
b. Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap anaknya.
c. Tanggung jawab sosial awalnya merupakan bagian dari keluarga yang pada gilirannya akan menjadi tanggung jawab masyarakat, bangsa dan negara.
d. Memelihara dan membesarkan anaknya.
e. Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan anak kelak.
Hal tersebut memberikan pengertian bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya, dalam keadaan penuh ketergantungan dengan orang lain, tidak mampu berbuat apa-apa bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri.
Pendidikan dalam keluarga dilaksanakan atas dasar rasa cinta dan kasih sayang yang kodrati, rasa kasih sayang yang murni, rasa cinta dan kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Rasa cinta dan kasih sayang inilah yang menjadi sumber kekuatan yang tidak kunjung padam pada orang tua untuk tidak jemu-jemunya memberikan bimbingan dan pertolongan yang dibutuhkan oleh anak.
Seorang anak perlu bantuan orang tua untuk mengembangkan kepribadian. Untuk memastikan bahwa seorang anak dapat percaya diri dan bersikap positif maka ada beberapa hal yang tidak dilakukan oleh orang tua dalam mendidik, diantaranya sikap yang otoriter, menekan anak secara berlebihan, selalu menghukum anak saat berbuat kesalahan, mengkritik anak, dan membandingkan anak dengan orang lain. Dari semua faktor yang berkonstribusi, dalam perkembangan kepribadian anak orang tualah yang mempunyai pengaruh besar terhadap hal itu.

2. Sekolah
Perkembangan Kepribadian Anak dalam Tri Pusat Pendidikan

Sekolah sebagai lembaga pendidikan telah ada sejak beberapa abad yang lalu, yaitu pada zaman Yunani Kuno. Kata sekolah berasal dari bahasa yunani schola yang berarti waktu menganggur atau waktu senggang.
Bangsa Yunani Kuno mempunyai kebiasaan berdiskusi guna menambah ilmu dan mencerdaskan akal. Lambat laun usaha diselenggarakan secara teratur dan berencana (secara formal), sehingga akhirnya timbullah sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang bertugas untuk menambah ilmu pengetahuan dan kecerdasan akal.
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu anak dikirimkan ke sekolah. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, sekolah telah mencapai posisi yang sangat sentral dalam pendidikan. Pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat.
Sekolah sebagai pusat pendidikan formal merupakan perangkat masyarakat yang diserahi kewajiban pemberian pendidikan dengan organisasi yang tersusun rapi, mulai dari tujuan, penjenjangan, kurikulum, administrasi dan pengelolaannya. Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak, karena di sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian anak.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua setelah keluarga, yang bersifat formal namun tidak kodrati, tetapi banyak orang tua yang menyerahkan tanggung jawab pendidikan terhadap sekolah. Dari kenyataan-kenyataan tersebut maka sifat-sifat dari pendidikan sekolah tersebut, diantaranya: tumbuh sesudah keluarga dan lembaga pendidikan formal. Dinamakan lembaga pendidikan formal, karena sekolah memilki bentuk yang jelas, dalam arti memiliki program yang telah direncanakan dengan teratur dan ditetapkan dengan resmi. Lembaga pendidikan didirikan tidak atas hubungan darah antara guru dan murid seperti halnya di keluarga, tetapi berdasarkan hubungan yang bersifat kedinasan.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu fungsi sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, sebagai berikut:
a. Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik. 
b. Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah. 
c. Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan, seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain yang sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan. 
d. Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
Di sekolah anak tidak mempunyai hak-hak istimewa seperti hal nya dalam keluarga di rumah. Semua anak mempunyai hak yang sama, kewajiban yang sama, dan diperlakukan sama. Di sinilah anak diperkenalkan dengan prinsip-prinsip kehidupan demokratis. Di sekolah anak-anak belajar berbagai macam pengetahuan dan keterampilan, yang akan  dijadikan bekal untuk kehidupannya nanti di masyarakat dan inilah tugas utama dari sekolah.

3. Masyarakat
Perkembangan Kepribadian Anak dalam Tri Pusat Pendidikan

Masyarakat juga dapat diartikan sebagai satu bentuk tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya sendiri. Dalam arti ini masyarakat adalah wadah dan wahana pendidikan kehidupan manusia yang majemuk (plural, suku, agama, ekonomi, dan lain sebagainya). Dalam pembahasan ini masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam pendidikan. Pendidikan masyarakat tersebut telah mulai sejak anak lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar pendidikan sekolah.
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan-lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertian-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
Pengaruh dari masyarakat ada yang bersifat positif terhadap anak dan juga bersifat negatif. Pengaruh yang bersifat positif adalah segala sesuatu yang membawa pengaruh baik terhadap pendidikan dan perkembangan anak, yaitu pengaruh yang menuju kepada hal-hal yang baik dan berguna bagi anak maupun bagi kehidupan bersama. Pengaruh negatif adalah segala sesuatu yang membawa pengaruh buruk terhadap pendidikan dan perkembangan anak .
Dengan demikian, yang dimaksud dengan anak berada di dalam lingkungan masyarakat, apabila anak itu tidak berada di bawah pengawasan orang tua atau anggota keluarga yang lain, dan tidak berada di bawah pengawasan guru atau petugas sekolah yang lain. Pengawasan tingkah laku perbuatan anak dalam lingkungan masyarakat ialah oleh petugas-petugas hukum di dalam masyarakat, atau juga orang-orang lain yang berada dalam masyarakat.

Referensi
Berry, John, W., dkk. (1999). Psikologi Lintas-Budaya Riset dan Aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Monks, F. J., Kneers, & Haditomo (1984). Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagian. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Singgih, G. (1990). Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.


EmoticonEmoticon