Saturday, 27 May 2017

Populasi dalam Penelitian



Populasi dalam Penelitian
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Populasi dalam Penelitian
Populasi adalah keseluruhan obyek/subyek yang akan diteliti. Populasi biasa dikenal juga dengan istilah universe. Sugiyono (2001, hlm. 55) menyatakan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Jadi, populasi bukan hanya orang, melainkan juga benda-benda. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang diteliti, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek/subyek tersebut.
Margono (2004, hlm. 118) menyatakan bahwa “populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita (peneliti) dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita (peneliti) tentukan”. Maka, populasi berhubungan dengan data. Jika setiap orang memberikan suatu data, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya orang. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2006, hlm. 108) bahwa “populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”.
Kerlinger (dalam Furchan, 2004, hlm. 193) menyatakan “populasi merupakan semua anggota kelompok orang, kejadian, atau obyek yang telah dirumuskan secara jelas”. Selanjutnya Nazir (2005, hlm. 271) berpendapat bahwa “populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan”. Kualitas atau ciri ini dinamakan variabel.
Sebuah populasi dengan jumlah individu tertentu dinamakan populasi finit, misalnya jumlah murid sekolah, jumlah karyawan pabrik, dan sebagainya. Sedangkan jika jumlah individu dalam kelompok tidak memiliki jumlah yang tetap ataupun jumlahnya tidak terhingga disebut populasi infinit, misalnya penduduk suatu negara karena setiap waktu terus berubah jumlahnya. Namun, apabila penduduk tersebut dibatasi dalam waktu dan tempat, maka populasi yang infinit dapat berubah menjadi populasi yang finit. Misalnya penduduk kota Tasikmalaya pada tahun 2016 (1 Januari s/d 31 Desember 2016) dapat diketahui jumlahnya. Umumnya populasi yang infinit hanyalah teori, sedangkan kenyataan dalam praktiknya, semua benda hidup dianggap populasi yang finit.
Pengertian lain mengenai populasi, diungkapkan oleh Nawawi (dalam Margono, 2014, hlm. 118) bahwa  “populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber daya yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian”. Kaitannya dengan batasan tertentu, populasi dapat dibedakan, sebagai berikut:
1. Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Misalnya 30 orang siswa SD Negeri Sukasuka, masa kerja 5 tahun, dan lain sebagainya.
2. Populasi tidak terbatas atau populasi tidak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya, siswa di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak siswa pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang. Dalam keadaan ini jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan suatu jumlah obyek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum, yakni orang-orang, dahulu, sekarang, dan yang akan menjadi siswa. Populasi seperti ini disebut juga parameter.
Selain itu, Margono (2004, hlm. 119) populasi dapat dibedakan, sebagai berikut:
1. Populasi teoritis (teoritical population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka ditetapkan batasan, Misalnya guru yang berusia 25 sampai 40 tahun.
2. Populasi yang tersedia (accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara kuantitatif dapat dinyatakan secara tegas. Misalnya, guru sebanyak 100 di kota Tasikmalaya terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan pada populasi teoritis.
Margono (2004, hlm. 119-120) juga menyatakan bahwa persoalan populasi penelitian harus dibedakan ke dalam sifat berikut:
1. Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter tersebut tidak perlu mengambil satu botol darah, karena setetes dan sebotol darah, hasilnya akan tetap sama.
2. Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang obyeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia akan menghadapi populasi yang bersifat heterogen.

Referensi
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Furchan, A. (2004). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Margono (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nazir (2005). Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sugiyono (2001). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.


EmoticonEmoticon