Thursday, 18 May 2017

Prinsip Pengelolaan Kelas



Prinsip Pengelolaan Kelas
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Prinsip Pengelolaan Kelas

Seorang guru sering kurang menyadari mengenai banyaknya kejadian yang melingkupi kehidupan kelas. Kelas bukanlah sekedar sekumpulan anak yang melakukan kegiatan belajar di bawah tanggung jawab guru dan semata-mata dibatasi oleh dinding/tembok pembatas. Kelas sesungguhnya merupakan lingkungan yang kompleks dan berbagai peristiwa bisa terjadi. Berikut merupakan aspek-aspek kehidupan kelas menurut Doyle (dalam Thomas L. Good dan Jere E. Brophy, 1991, hlm. 2) yang patut dipelajari guru terutama untuk bertindak:
1. Multidimensionality (terdapat tugas yang berbeda dan berbagai peristiwa muncul di kelas)
Laporan kegiatan belajar dan jadwal penyelesaian siswa mesti dapat dikendalikan oleh guru. Saat siswa belajar harus terkontrol. Pekerjaannya harus dapat dikumpulkan dan dievaluasi. Satu peristiwa tertentu sering membawa berbagai akibat. Saat guru menunggu seorang siswa untuk menjawab satu pertanyaan saja, pertanyaan lain dari anak lainnya dapat muncul. Hal itu dapat memberi pengaruh positif tetapi tidak mustahil memberi pengaruh negatif, sehingga kegiatan belajar siswa berlangsung lambat sampai waktunya istirahat.
2. Simultaneity (berbagai kejadian secara bersamaan sering muncul di dalam kelas)
Saat suatu diskusi berlangsung, seorang guru tidak hanya mendengarkan dan membantu siswa memberikan jawaban tetapi juga guru dituntut untuk memperhatikan siswa lainnya yang tidak memberikan respon agar suasana kelas tetap terkendali dan berlangsung kondusif serta efektif.
3. Immediacy (langkah dari berbagai peristiwa yang terjadi di kelas sesungguhnya berlangsung cepat)
Setiap siswa umumnya menghendaki respon yang cepat atas kebutuhan belajarnya. Mengevaluasi keterlibatan siswa dalam proses pengajaran, dalam satu jam saja, guru sangat mungkin harus melakukannya beberapa kali. Tuntutan untuk memperhatikan kegiatan belajar anak secara individual dan beralih pada kegiatan siswa secara kelompok/klasikal, akan terus silih berganti dalam frekuensi yang tinggi dan berlangsung cepat.
4. Unpredictable and public classroom climate (Berbagai peristiwa sering muncul di dalam kelas melalui cara yang tidak terduga oleh guru)
Apa yang terjadi pada diri siswa tertentu sering dapat dilihat dengan cepat oleh siswa yang lain, tetapi tidak dengan cepat dapat dipelajari guru. Siswa sering pula dapat menangkap apa yang guru rasakan menyangkut tindakannya atas siswa lain, dan mereka memberi respon yang tidak terduga terhadap gurunya. Interaksi ini sering membentuk suatu iklim kelas yang kurang menyenangkan dan tidak kondusif bagi proses pembelajaran.
5. History (setelah suatu penyelenggaraan pengajaran berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan, norma-norma yang berlaku umum di kelas terbentuk dan berbagai pengertian berkembang)
Peristiwa yang muncul di awal tahun menjadi pembuka (bisa positif atau negatif) bagi terjadinya peristiwa-peristiwa berikutnya. Selanjutnya, hal tersebut berpengaruh atas fungsi kelas di akhir tahun.
Mengingat hal tersebut, maka kelas sepantasnya dipandang sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembangnya semua potensi anak. Karena itu, kelas sepantasnya dikelola dengan baik, sehingga nyaman dan menyenangkan bagi kegiatan belajar siswa. Kelas sepatutnya rapi, bersih, sehat, tidak lembab, cukup cahaya, adanya sirkulasi udara, perabotnya tertata baik, dan jumlah siswanya tidak terlalu banyak.
Untuk menunjang kenyamanan dan rasa senang siswa dalam belajar, selain berbagai aspek kehidupan di kelas harus dipahami guru, juga beberapa hal berikut tidak boleh luput dari perhatian, seperti tata ruang kelas dan perabot, papan tulis dan penghapusnya, meja kursi guru, meja kursi siswa, lemari kelas, jadwal pelajaran, papan absensi, daftar piket kelas, kalender pendidikan, gambar-gambar, tempat cuci tangan dan lap tangan, tempat sampah, sapu lidi, sapu ijuk, sapu moceng, pajangan pekerjaan siswa, kapur, dan lain sebagainya.
Misi utama yang dikembangkan untuk mengelola kelas yang efektif adalah (1) tersedianya lingkungan belajar yang mendukung gairah proses belajar dan (2) banyaknya keterlibatan (waktu yang dihabiskan) siswa dalam aktivitas belajar sehingga mendukung pencapaian prestasi belajar yang tinggi.
Adapun tujuan pengelolaan kelas dikemukakan Dirjen PAUD dan Dirjen Dikdasmen (dalam Maman Rachman, 1998, hlm. 15), sebagai berikut:
1. Mewujudkan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar ataupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan berkembangnya kemampuan masing-masing siswa.
2. Menghilangkan berbagai hambatan merintangi interaksi belajar yang efektif.
3. Menyediakan fasilitas atau peralatan dan mengaturnya hingga kondusif bagi kegiatan belajar siswa yang sesuai dengan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan sosial, emosional, dan intelektual.
4. Membina perilaku siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan keindividualannya.
Asumsi tentang prinsip-prinsip umum pengelolaan kelas dikembangkan oleh Thomas L. Good dan Jere E. Brophy (1991, hlm. 199), yakni:
1. Siswa suka mengikuti aturan karena memang mereka itu mengerti dan menerimanya.
2. Masalah disiplin kelas dapat dikurangi manakala siswa terlibat secara teratur dalam aktivitas belajar yang bermakna, mendorong minat dan sikap siswa.
3. Manajemen atau pengelolaan kelas hendaklah lebih didekati dari tujuan memaksimalkan atau menghabiskan banyaknya waktu siswa untuk terlibat dalam kegiatan produktif, daripada mendasarkan pada sudut pandangan yang negatif menekankan pengawasan atas perilaku siswa yang menyimpang.
4. Tujuan guru adalah mengembangkan self control dalam diri siswa dan bukan semata-mata melakukan pengawasan yang menekan atas diri mereka.
Prinsip lainnya dikembangkan oleh John I. Bolla (1985, hlm. 5-6), yakni:
1. Di dalam setiap kegiatan pengelolaan kelas, antusias dan kehangatan guru harus ditunjukkan.
2. Setiap tutur kata, tindakan dan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa menantang, tidak menimbulkan kebosanan tetapi justru menimbulkan gairah belajar yang produktif.
3. Penggunaan variasi dalam alat, media, metode, dan gaya berinteraksi adalah kunci sukses pengelolaan kelas.
4. Kewaspadaan akan jalannya proses kegiatan belajar-mengajar dari kemungkinan terjadinya berbagai gangguan mengharukan guru bersikap dan bertindak luwes.
5. Biasakanlah pemusatan pikiran secara positif dan menghindar pada hal-hal yang negatif.
6. Pengelolaan kelas tidak bisa lepas dari kepentingan anak untuk berdisiplin atas dirinya sendiri. Karena itu guru sepantasnya berdisiplin pada dirinya sendiri agar dihadapan siswa menjadi teladan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, dapat dikembangkan prinsip-prinsip pengelolaan kelas, sebagai berikut:
1. Setiap aturan dan prosedur yang mengikat serta ditempuh haruslah direncanakan terlebih dahulu sebelum hal tersebut dapat dilangsungkan.
2. Aturan-aturan yang ditetapkan dan prosedur yang ditempuh itu harus jelas dan dibutuhkan.
3. Biarkan siswa mengasumsikan tanggung jawabnya secara independent.
4. Kurangi gangguan dan keterlambatan atau penundaan.
5. Rencanakan kegiatan belajar yang independent atau individual dan kegiatan belajar kelompok secara efektif.

Referensi
Bolla, J. I. (1985). Keterampilan Mengelola Kelas Jakarta: Depdikbud. Ditjen. Dikti. Proyek Pengembangan LPTK.
Good, T. L., & Brophy, J. E. (1991). Looking in Classroom: Fifth Edition. New York: Harper Collins Publishers.
Rachman, M. (1998). Manajemen Kelas. Jakarta: Depdikbud. Ditjen. Dikti. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.


EmoticonEmoticon