Friday, 9 June 2017

Metode Kerja Kelompok



Metode Kerja Kelompok
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Kerja Kelompok

Moedjiono (1992, hlm. 61) mengemukakan “metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitikberatkan kepada interaksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama”. Selanjutnya Robert L. Cilstrap (dalam Roestiyah, 1998, hlm. 15) menyatakan bahwa “kerja kelompok merupakan suatu kegiatan kelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode kerja kelompok merupakan suatu kegiatan belajar di mana siswa dalam satu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu. Sebagai suatu metode pembelajaran, kerja kelompok dapat digunakan untuk mencapai bermacam-macam tujuan pengajaran.
Metode kerja kelompok dalam penggunaannya memiliki sejumlah hal untuk dijadikan pertimbangan pengelompokan siswa, di antaranya:
1. Pengelompokan untuk mengatasi kekurangan alat-alat pelajaran
Agar penggunaan alat peraga dapat dimanfaatkan dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, maka siswa perlu dijadikan kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil tersebut dibagi atas jumlah fasilitas yang tersedia.
2. Pengelompokan berdasarkan kemampuan belajar
Pengelompokan ini juga diperlukan terutama pada waktu guru menghadapi komposisi keanggotaan kelompok yang sangat heterogen kecakapannya. Cara pengelompokan ini akan menghasilkan kelompok yang homogen kecakapannya atau kelompok yang heterogen kecakapannya.
3. Pengelompokan berdasarkan minat individu
Pengelompokan ini perlu diperhatikan mengingat bahwa setiap individu siswa memiliki minat yang dapat menjadi berbeda satu sama lain, sehingga memungkinkan dibentuknya kelompok-kelompok tersebut untuk dapat dikembangkan minat-minat tersebut.
4. Pengelompokan untuk memperbesar partisipasi siswa
Di dalam hal ini partisipasi siswa untuk memecahkan masalah kelompok sangat dibutuhkan, maka dari itu setiap kelompok diberi tugas yang sama sehingga dimungkinkan dengan pembagian tugas tersebut akan memperbesar partisipasi siswa untuk melaksanakan dan memecahkannya secara bersama-sama. Selain pemberian tugas yang sama pada setiap kelompok kecil (3-4 orang) sehingga dapat dipastikan siswa akan terlibat dalam melaksanakan kerja kelompok.
5. Pengelompokan berdasarkan pemberian tugas
Pengelompokan dilaksanakan karena adanya tugas yang akan diselesaikan oleh siswa. Setiap kelompok harus bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Namun, guru harus dapat memilih tugas yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
6. Pengelompokan berdasarkan kerja efektif
Sejumlah tugas yang diberikan oleh guru akan lebih efektif apabila dikerjakan secara berkelompok. Kerja merupakan hal utama dalam menjawab tugas-tugas yang hendak diselesaikan. Setiap siswa harus dapat menyesuaikan diri dengan kelompoknya, ia harus menyeimbangkan ide dan gagasan untuk kepentingan bersama dalam kelompok.
Moedjiono (1992, hlm. 66) mengemukakan prosedur pemakaian metode kerja kelompok, sebagai berikut:
1. Pemilihan topik atau tugas kerja kelompok
Pemilihan topik merupakan langkah awal penggunaan metode kerja kelompok. Hal ini dapat dilaksanakan dengan jalan:
a.Guru memilih dan menetapkan sendiri.
b. Guru memilih dan menetapkan bersama dengan siswa.
2. Pembentukan kelompok sesuai tujuan
Tahap ini merupakan kewajiban guru untuk membagi kelas menjadi kelompok-kelompok sesuai tujuan yang ingin dicapai melalui kerja kelompok.
3. Pembagian topik atau tugas yang harus dikerjakan kelompok
Tahap ini mengharuskan guru untuk memberitahukan topik atau tugas kepada tiap-tiap kelompok, di mana topik atau tugas tesebut harus jelas bagi kelompok agar kerja kelompok berjalan dengan lancar.
4. Proses kerja kelompok
Pada tahap ini setiap kelompok melaksanakan:
a. Penjajagan terhadap tugas atau topik yang diberikan oleh guru.
b. Pemahaman terhadap tugas atau topik kelompok.
c. Penyelesaian tugas kelompok.
5. Pelaporan hasil kerja kelompok
Setelah siswa menyelesaikan tugas, maka mereka berkewajiban untuk melaporkan hasil kerja mereka. Laporan ini dapat dilakukan secara lisan atau pun terulis.
6. Penilaian kerja kelompok
Guru perlu melakukan penilaian untuk menentukan keberhasilan pemakaian metode kerja kelompok.
Selanjutnya, Nana Sudjana (2002, hlm. 83) mengemukakan tentang petunjuk pelaksaaan bekerja dalam kelompok untuk mencapai hasil yang diharapkan, yakni:
1. Perlu adanya motif (dorongan) yang kuat bagi setiap anggota kelompok untuk bekerja
2. Pemecahan masalah dapat dipandang sebagai satu unit yang dipecahkan bersama-sama atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing-masing secara individual. Hal ini bergantung kepada kompleksitas masalah yang akan dipecahkan.
3. Situasi yang menyenangkan antara anggota kelompok banyak menentukan hasil dari kerja kelompok itu sendiri.
Roestiyah (1998, hlm. 17) menyebutkan sejumlah keuntungan dan kelemahan metode kerja kelompok. Keuntungannya, antara lain:
1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah.
3. Mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
4. Memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhan belajar siswa.
5. Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran dan lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
6. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati teman serta menghargai pendapat orang lain.
Sedangkan kelemahannya, ialah:
1. Kerja kelompok sering hanya melibatkan siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan kepada yang kurang.
2. Metode ini terkadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda dan gaya mengajar yang berbeda-beda.
3. Keberhasilan metode kerja kelompok bergantung pada kemampuan siswa memimpin kelompok atau bekerja dalam suatu kelompok.

Referensi
Moedjiono (1992). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rajawali Press.
Roestiyah, N. K. (1998). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, N. (2002). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.


EmoticonEmoticon